Vermillion

Vermillion
Chapter 3 : Gua Mangroves



Tok! Tok! Selene tengah menangkis serangan bertubi-tubi yang dilontarkan oleh Rein.


“Pergerakanmu sudah lumayan meningkat.”


Rein tersenyum setelah mendengar perkataan teman kecilnya itu. Tok!


“Aw ...” ringis Rein setelah menerima hantaman kayu yang mendarat mulus di sebelah bahunya.


“Jangan langsung senang saat mendengar pujian dari lawanmu, Rein. Itu adalah salah satu taktik tingkat bawah yang bisa saja menjatuhkanmu,” jelas Selene.


Rein mengelus-elus bahunya. “Taktik tingkat bawah?”


“Hm. Taktik itu memang sering digunakan sih ... tapi, tentu saja tidak akan ada yang jatuh ke dalam taktik semacam itu. Taktik ini mudah tertebak, hanya untuk mengelabui lawanmu. Mudah sekali terbaca.”


“Benarkah?”


“Tidak juga. Mungkin pengecualian untukmu.”


“H-hei!”


“Ahaha ... anggap saja ini pelajaran baru untukmu. Kau harus lebih bisa waspada dan membaca pikiran lawanmu. Mungkin ada yang memang ingin memuji, tapi kita tidak akan tau kalau itu juga trik kotor dari lawanmu, bukan?”


“Ya-ya ..., terserah. Jadi tadi itu kau memujiku atau ingin mengetes taktikmu itu?” tanya Rein kesal.


“Ahaha ... hm ..., mungkin aku ingin mengetes kemampuan kuda-kudamu.”


Rein memutar bola matanya kesal saat mendengar tawa pecah Selene. “Maaf-maaf .... Aku bercanda. Kau memang sedikit lebih baik dari kemarin,” ujar Selene.


“Hm.”


“Ahaha ... kau tidak perlu cemberut seperti itu. Baiklah, mari kita ulangi lagi.”


“Selene, aku jadi teringat akan sesuatu.”


“Apa itu?” tanya Selene penasaran.


“Apa kau pernah mendengar tentang Gua Mangroves?”


Ekspresi wajah Selene berubah. “Kenapa kau bertanya soal itu?”


“Hutan Enteria. Apa benar gua itu ada di dalam sana?”


Selene melipat kedua tangannya. “Ya. Itu memang benar. Siapa yang mengatakannya padamu?”


“Itu tidak penting. Aku berniat untuk kesana sehabis latihan ini.”


“Yang benar saja!” seru Selene membuat Rein sedikit kaget.


“Jangan gegabah! Untuk apa juga kau kesana?!”


“Aku dengar kalau ... kita bisa mengetes seberapa kuat kekuatan kita di sana,” jelas Rein pelan.


“Omong kosong!” Rein menatap teman kecilnya itu dengan tatapan heran.


“S-selene?”


“Tidak! Kau tidak perlu kesana! Kau pikir kaum Orc di sana akan menyambut kedatanganmu dengan hormat?”


“H-hah?”


Selene menepuk jidatnya. “Kau tidak tau, ya? Dulu ayah dan pamanmu hampir membantai seluruh kaum mereka! Perang pun terjadi selama 200 tahun antara kaum kita dan mereka! Dan kau tau alasan apa yang dikatakan oleh ayah dan pamanmu saat ditanyai oleh para penasehat?!”


Rein tanpa sadar menggelengkan kepalanya. “Mereka melakukan itu tanpa disengaja! Mereka kelepasan saat ingin mengetahui seberapa jauh perkembangan latihan mereka!”


“Lalu apa yang terjadi?” tanya Rein dengan polosnya.


“Perang tetap berlanjut, hingga akhirnya kaum Orc mengakui kekalahan mereka.”


Rein terdiam. Selene menghela nafas pasrah. “Aku harap setelah kau mendengar penjelasan panjang lebarku ini kau akan lebih mengerti. Aku yakin mereka pasti masih menaruh dendam pada kaum kita.”


“Aku masih tidak percaya. Ayahku—“


“Kita anggap saja kalau dulu ayahmu masih terlalu muda dan belum memasuki masa bijaknya. Lupakan permasalahan ini, kita akan lanjut latihan!” sela Selene sembari berada dalam posisi kuda-kuda.


Selene memandangi Rein yang kini tampak tidak fokus. Hal ini cukup membuat Selene kesal dan mempererat genggaman pada stik kayunya. “Aku datang!” serunya dan langsung meluncurkan beberapa pukulan pada Rein.


Rein yang sedari tadi hanyut dalam pikirannya, akhirnya tersadar. Dengan sigap, Rein berusaha menangkis serangan bertubi-tubi layaknya kilat yang diluncurkan oleh teman kecilnya itu.


“S-selene!” panggil Rein saat merasa teman kecilnya ini mungkin sudah kehilangan kontrol akan dirinya.


Tidak ada sahutan. Selene semakin memperkuat ayunannya. Tok! Tok!


“Selene!!”


Rein berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan pukulan akhir mematikan yang diluncurkan Selene. Crakk! Stik kayu milik mereka patah dan terbelah menjadi dua.


Selene melemparkan stik rusak miliknya itu dan berjalan pergi dengan tersengal-sengal. “Selene! Kau ingin membunuhku?!” teriak Rein, seketika menghentikan pergerakan teman kecilnya itu.


Selene berbalik dan tersenyum tipis. “Tidak. Aku hanya ingin mengetes seberapa jauh tingkat menangkismu. Kau sudah mengalami peningkatan yang sangat bagus. Kita istirahat saja dulu.” Selene kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.


Rein menggelengkan kepalanya. “Kekuatan macam apa itu barusan?”


***


Sorenya, di dalam ruangan High Priest Dunan. Rein masih menunggu jawaban dari hasil pengamatan pria tua dihadapannya itu.


“Bagus. Hari ini Pangeran mengalami peningkatan yang cukup baik, walaupun masih payah dalam memanah, berkuda, dan bela diri. Tapi, dalam hal menangkis dan membaca pikiran lawan, Pangeran mengalami peningkatan yang cukup drastis dari sebelumnya. Mungkin besok, kita sudah bisa memulai dengan pedang sungguhan dibandingkan stik kayu, bagaimana menurut Pangeran?”


“Ah ... aku tidak keberatan akan hal itu.”


“Apa mungkin senjata andalan Pangeran adalah sebuah pedang? Karena jika kubandingkan dengan busur dan panah ataupun tanpa menggunakan senjata apapun, Pangeran tidak mengalami peningkatan sama sekali.”


“Aku rasa begitu.”


“Selene? Dia?”


“Ah ... dia pulang lebih awal.”


“Oh ... aku mengerti. Terima kasih untuk hari ini. Aku pamit pulang.”


“Baiklah.”


***


Di depan gerbang kerajaan, terlihat seorang pria bertubuh tegap dan berambut klimis yang menyambut kepulangan Rein.


“Rein!”


“Ah ..., Paman.”


“Bagaimana dengan latihanmu hari ini?”


“Ah ... aku mengalami peningkatan yang cukup drastis. High Priest mengatakan kalau mungkin aku lebih bisa mengandalkan pedang dibandingkan senjata lainnya.”


“Hm ..., begitu rupanya. Kau mewarisi kemampuan berpedang ayahmu, ya?”


Rein mengangkat sebelah alis matanya. Paman Olver merangkul bahu Reinford. “Kemarilah, ada sesuatu yang ingin Paman berikan padamu.”


Reinford hanya mengangguk dan mengikuti pamannya. Setibanya di gudang persenjataan di belakang halaman kerajaan. Paman Olver menyuruh Rein untuk menunggunya di luar.


“Aku penasaran, kenapa paman mengajakku kemari?” renung Rein.


Beberapa menit kemudian, pintu gudang itu terbuka. Paman Olver berjalan keluar dan menyerahkan sebuah kotak tua pada Rein.


“A-apa ini, Paman?” tanya Rein heran setelah menerima kotak tua itu.


“Bukalah.”


Rein menatap pamannya sekilas, lalu perlahan meletakkan kotak tua itu dan membukanya. Sebuah pedang tipis mengkilap memantulkan cahaya biru langit malam setelah Rein mengangkatnya tinggi-tinggi.


“Pedang ini ...”


“Milikmu,” sambung Paman Olver sembari tersenyum puas.


Rein membalas senyuman pamannya itu. “Terima kasih, Paman.”


“Tak perlu repot-repot. Itu adalah pedang milikku saat aku masih semuda dirimu.”


“Ah ... kalau begitu, aku tidak bisa menerimanya. Bukankah lebih baik kalau Paman menyimpannya untuk anak Paman kelak?” Rein menyerahkan pedang itu kembali pada pamannya, namun pamannya menolak.


“Tidak. Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri. Terimalah.”


Rein menatap pedang tipis itu dengan lekat. “Terima kasih ..., terima kasih, Paman.”


“Hm. Paman senang kau menyukainya.” Paman Olver mengacak-acak rambut Rein. “Kalau begitu bersenang-senanglah dengan pedang barumu itu. Paman akan kembali ke dalam dan membantu ibumu.”


Paman Olver menepuk bahu Rein pelan dan beranjak pergi. Rein masih terpana dengan pedang tipis yang dipegangnya itu. Tanpa sadar, sebuah makhluk pendek yang sedari tadi memantaunya dibalik semak-semak kini dengan cepat berjalan menghampirinya.


“H-hei!” teriak Rein saat menyadari kehadiran makhluk pendek itu.


“Ke-hehe ....” Makhluk pendek bertubuh hijau itu membawa pergi kotak pedang milik Rein.


“K-kotakku! Kembalikan padaku, Pencuri!” teriak Rein seraya mengejarnya.


***


Karena terus berusaha untuk menyamai kecepatan berlari makhluk pendek itu, tanpa Rein sadari kini dirinya sudah dibawa ke dalam sebuah hutan oleh mahkluk pendek itu.


“Sial! Aku harus mendapatkannya!” gerutu Rein dalam hati seraya mempercepat larinya.


Makhluk pendek itu berlari ke dalam gua. Tanpa berpikir panjang, Rein juga langsung melangkah masuk.


“Gelap sekali.” Rein telah kehilangan jejak makhluk pendek itu. “Aku sudah mengejarnya sejauh ini. Tidak ada gunanya untuk berbalik.”


Tiba-tiba terlihat sepercik cahaya yang jelas-jelas baru dihidupkan oleh seseorang. “Apa ... pencuri itu yang menghidupkannya?” Rein terus melangkah mengikuti cahaya itu, hingga tiba-tiba penglihatannya menjadi silau saat begitu banyak percikan cahaya yang meneranginya.


“A-apa-apaan!” seru Rein dalam hati saat melihat begitu banyak makhluk bertubuh besar yang mengelilinginya.


“VERMILLION!” seru seorang makhluk bertubuh besar itu.


Rein spontan menatapnya. Namun, tidak mengeluarkan suara ataupun bergerak sedikitpun dari posisi itu.


“VERMILLION!!” serunya lagi.


“Sial. Apa jangan-jangan, sekarang ini ... aku sudah berada di Gua Mangroves?” pikir Rein sedikit menegang.


“VERMILLION!!!” serunya seraya mengangkat sebuah senjata besar dari batu yang sedari tadi bertumpu dibahunya itu.


“B-bukan!” jawab Rein langsung.


Makhluk-makhluk besar itu menatapnya dengan serius. “A-aku bukan Vermillion,” tambah Rein.


Tiba-tiba Rein merasakan sesuatu yang mengendus-endusnya dari belakang. “A-apa yang kau lakukan?”


“DIA VERMILLION!” teriak si pengendus.


“KAU BERBOHONG!” teriak makhluk besar yang mungkin bisa dikatakan ketua rombongan itu, karena hanya dia yang memegangi senjata.


Rein kini berada dalam posisi kuda-kuda, seraya memegangi pedang tipis pemberian pamannya barusan. “Cih. Aku tidak berbohong. Aku memang bukan Vermillion. Aku Reinford Vermillion.”


“ARRGGGH!!!” teriak makhluk-makhluk besar itu kompak.


“Baiklah. Mari kita buktikan seberapa kuat diriku selama dua hari pelatihan ini,” ujar Reinford sebelum akhirnya bergerak maju melawan segerombolan makhluk-makhluk besar dihadapannya yang tak lain adalah kaum Orc.