
“Apa?” tanya Jessie ketus pada seorang siswi yang satu tingkat di bawahnya itu.
“Anu, maaf, Kak. Apa aku mengganggu jam Kakak?” tanya siswi berkepang dua itu sopan.
“Langsung aja ke topiknya. Ada apa?”
“Itu, Klein, Kak.”
“Kenapa dengan Klein?!” tanya Jessie cepat. Raut ekspresi wajahnya pun berubah drastis.
“Beberapa siswa menarik paksa dia ke atas. Tadi, tiba-tiba-“ Jessie langsung beranjak pergi, tidak memperdulikan kelanjutan ucapan siswi berkepang dua itu. Setelah Jessie menghilang dari hadapannya, siswi berkepang dua itu akhirnya menyeringai puas.
***
“Klein?!” panggil Jessie setelah membuka pintu besi pembatas area atap sekolah itu.
Sekelompok siswa yang ada disana spontan menatap Jessie. Pria yang bernama Klein itu langsung keluar dari kelompoknya dan menghampiri Jessie.
“Ada apa, Kak?” tanya Klein nyaris berbisik.
“Kau ... tidak apa-apa?” tanya Jessie heran.
Klein menggeleng. “Aku tidak apa-apa, Kak. Memangnya kenapa?”
“Oh ... tadi ada yang bilang kalau kau ditarik paksa ke atas sini oleh beberapa orang siswa! Makanya aku langsung buru-buru kemari!” jelas Jessie.
Klein tertawa pelan. “Tidak. Tidak ada yang menarikku, Kak. Salah satu dari temanku yang mengusulkan untuk makan bersama disini. Kakak mau bergabung?” tawar Klein.
“Ah ... tidak usah. Terima kasih ya, tapi aku harus segera kembali ke kelas. Sampai jumpa!” pamit Jessie seraya bergegas menuruni tangga. “Sial! Anak itu! Berani beraninya dia menipuku!” batin Jessie.
“Cie, cie, Klein. Dicariin lagi sama ceweknya?” ledek seorang siswa.
“Ah! Enggaklah, Kak Jessie itu udah aku anggap seperti kakakku sendiri.”
“Cie, cie, ngaku aja, Klein. Semua juga udah pada tau kok kalau kalian berdua itu dekat.”
Klein hanya tersenyum tipis. “Dekatkan. Bukan berarti harus pacaran.”
“Oh~” goda teman-temannya.
***
Jessie menarik kerah siswi berkepang dua itu dan memojokkannya pada dinding kelasnya. Siswa-siswi yang awalnya hanya lewat pun akhirnya memutuskan untuk mengerumuni mereka.
“Apa maksudmu, hah?!”
“A-apanya ... Kak?” tanya siswi itu balik dengan polos.
“Apanya?! Kau bilang ada yang menarik Klein ke atas!”
“A-aku ... tidak mengerti maksud, Kakak ....”
“Kau!”
“Jessie!” seru Bu Guru yang kebetulan lewat.
“I-ibu ...” lirih siswi berkepang dua itu.
“Kau pandai juga ya bersandiwara ...” bisik Jessie ditelinganya. Perlahan Jessie melepaskan cengkeramannya dan siswi itu pun terjatuh.
Bu Guru langsung menghampiri siswi berkepang dua itu yang kini tengah berbatuk. “Jessie! Kamu ikut Ibu ke ruang bk sekarang juga!”
Jessie tak mengatakan sepatah katapun, namun langsung berjalan pergi menerobos kerumunan.
“Jessie! Jessie! Astaga, anak itu!” gerutu Bu Guru seraya membantu siswi berkepang dua itu berdiri. “Kamu gak kenapa-napa, kan?”
Siswi berkepang dua itu mengangguk pelan. “Yang sekelas sama dia, ada disini?” tanya Bu Guru pada kerumunan.
Beberapa siswi langsung menghampiri Bu Guru. “Tolong bantu Ibu bawa temannya kembali ke kelas ya! Jangan lupa beri dia minum dulu.” Setelah siswi-siswi itu mengangguk pelan, Bu Guru akhirnya bergegas pergi.
***
“Oi, Jess. Kenapa mukanya kusam kayak gitu?” ledek Hein saat menyadari kehadiran teman mereka yang satu-satunya berjenis kelamin wanita itu.
“Gak ada. Cuma mau ingetin kalian aja. Siap-siap, bentar lagi bakal ada yang manggil dari mic.”
Kedua temannya itu saling berpandang heran. Lalu kembali memandangi teman wanita mereka itu.
“Dipanggil Jessie Reivel untuk segera ke ruang bk sekarang juga!”
“Nah, itu dia maksudku!” ujar Jessie santai.
“Itu bukannya nama Jessie kelas kita?” tanya siswi yang masih berkumpul di sekitar meja ketua kelas.
“Iya, ga salah lagi,” ujar Kayla kesal seraya bangkit dari bangkunya.
“Sekali lagi, dipanggil Jessie Reivel untuk segera ke ruang bk sekarang juga!”
“Jessie! Kau ga dengar namamu udah dipanggil berkali-kali?!” seru Kayla yang tengah berkacak pinggang di hadapan mereka bertiga.
“Iya, dengar kok. Terus kenapa memangnya?”
“Kau mau membuat reputasi kelas kita semakin jatuh, ya?! Cepat kesana atau aku akan menyeretmu secara paksa!”
“Coba saja kalau kau bisa,” tantang Jessie sembari tersenyum manis.
“Kau!” Kayla langsung menarik pergelangan tangan Jessie. Namun, Jessie tak bergeser sedikitpun dari bangkunya.
“Pftt, maaf. Aku tidak bisa menahannya,” ujar Hein yang kini tertawa pecah.
“Grr ... Ted! Bantu aku!” perintah Kayla.
“Maaf, aku tidak akan melakukannya. Sebagai teman terbaik Jess, aku tidak ingin dia diceramahi di dalam sana,” jawab Ted santai.
Jessie langsung memberikan sebuah jempol pada Ted. “Kau memang pengertian!”
“Kaliaaan!” teriak Kayla kesal.
“Jessiee!”
Kayla spontan melompat kaget dan melepaskan tangannya pada Jessie. Perlahan ia membalikkan tubuhnya dan mendapati Bu Guru yang tengah marah besar.
“I-ibu ...” panggil Kayla.
“Kayla! Kamu sebagai ketua kelas, kenapa tidak memberitahukan padanya, hah?! Kalian malah main-main seperti anak kelas satu SD!” ceramah Bu Guru.
Kayla hanya menundukkan kepalanya. “Iya, Bu. Maafkan saya.”
Jessie menghela nafas lalu bangkit berdiri. “Kayla tidak salah. Dia sudah memberitahuku bahkan ingin menyeretku secara paksa. Aku hanya suka mengganggunya. Tidak perlu marah padanya. Lagipula ini salahku.”
Kayla menatap Jessie dengan tatapan tak percaya, begitu juga dengan kedua temannya.
“Bagus kalau kamu tau kamu salah! Cepat ke ruang bk! Kamu jalan duluan! Cepat!” perintah Bu Guru.
Jessie pun berjalan terlebih dahulu, sementara Bu Guru mengekorinya dari belakang.
Kayla masih mengerjapkan matanya berkali-kali. Terdengar suara helaan nafas panjang dari Hein.
“Biar kutebak, ini pasti gara adik kelas itu lagi.”
Ted mengangguk. “Mereka selalu saja mencari masalah. Ujung-ujungnya Jessie yang menjadi sasaran para guru.”
Kayla membalikkan badannya dan memukul meja mereka. Kedua pria itu langsung terkejut bukan main.
“Kau ini kenapa sih, Ketua Kelas?! Kalau aku tiba-tiba jantungan disini, kau mau tanggung jawab?!” seru Hein kesal seraya mengusap-usap dadanya.
“Um ... Kayla, aku tau kau marah. Tapi jangan
melampiaskannya pada kami, ok? Kau bisa menunggu sampai Jessie selesai diceramahi,” tambah Ted yang juga mengelus elus dadanya.
“Bukan itu! Apa maksud kalian kalau adik-adik kelas yang mencari masalah pada Jess? Kupikir Jess yang suka melabrak mereka!”
Kedua pria itu saling bertatapan, lalu kembali menatap Kayla.
“Ehem. Jadi begini ...” ucap Hein pelan, namun terkesan misterius.
Kayla pun menarik bangku Jessie dan duduk disana. Memandangi Hein dengan serius. Sementara siswi-siswi yang masih duduk di sekitar mejanya mulai memandangi si ketua kelas dengan heran.
“Kayla kenapa, ya?”
“Iya? Kenapa dia malah duduk disana?”