Vermillion

Vermillion
Chapter 43 : Tentang Selene



Menerima semua kekuatan itu tidak segampang yang


kupikirkan. Aku tak sadarkan diri dalam beberapa bulan. Setelah terbangun dari


tidur panjangku, aku merasa seperti terlahir kembali ... dengan tubuh yang baru


dan kuat, tentunya.


Aku bisa mendeteksi keberadaan Rein dengan mudah,


mengikutinya dan melihat setiap gerak-geriknya bersama dengan wanita itu di


apartemennya. Rein tidak pernah berubah, dia tidak akan peduli lagi dengan


sekitarnya saat sudah memandangi langit biru di malam hari. Dia bahkan tidak


menyadari keberadaanku yang hanya berjarak beberapa kilometer dari hadapannya.


“Reinford Vermillion ... di sini kau rupanya ....”


***


Hari itu ... aku benar-benar tidak menyangka keduanya


akan melakukan hal itu. Untuk pertama kalinya aku melihat Rein berciuman dengan


seorang wanita. Rein polos dan lugu yang kukenal. Dia benar-benar sudah


memasuki usia dewasa seperti yang seharusnya. Tapi, kenapa harus di saat dia


tiba di planet ini? Kenapa dia tidak bisa berpikir dewasa saat di tempat


asalnya?


“Selene, Sayang. Rein menuliskan sebuah surat untukmu,


kau tidak mau membacanya?”


“Surat apa, Ibu?” tanya Selene kecil seraya mengelap


wajahnya.


“Astaga, Sayang. Kau harus lebih sering mengikuti arahan


Ibu! Kau itu anak perempuan, Sayang. Tidak akan ada laki-laki yang akan


melihatmu kalau kau sering bermain dengan benda-benda tajam itu.”


“Oh ... ayolah, Ibu. Ini memang hobiku, lagipula aku juga


melakukan semua yang ibu perintahkan.”


“Baiklah, baiklah. Ini ...” Ibu Selene menyerahkan sebuah


surat yang sudah tak tersegel pada putrinya.


Selene menerima surat itu. Setelah menyadari surat itu


sudah terbuka, Selene spontan memandangi ibunya dengan datar.


“Un—untuk apa tatapan itu, Sayang?”


“Ibu sudah membacanya?!” seru Selene.


“Eh ... Ibu ... um ...” Ibu Selene tak melanjutkan


perkataannya.


“Ibu?! Bukankah Ibu sendiri yang bilang kalau hal itu


tidak sopan?!”


“Yah ... Ibu tau. Oke, maafkan Ibu, Sayang. Tapi, Ibu


tidak membacanya sendirian, oke? Ibu Rein juga terlihat sangat antusias dengan


surat anaknya ...” jelas Ibu Selene gemas.


“Apa?! Bagaimana bis Ibu dan Tante sampai melakukannya?!”


“Aw ... kami kan penasaran, Sayang. Apalagi, kata Reina,


Rein menulisnya dengan susah payah. Ah ... Ibu jadi gemas sekali saat Reina


bilang Rein menghabiskan begitu banyak kertas hanya untuk menulis surat ini.”


“Ibu! Sekarang aku jadi tidak penasaran lagi dengan


isinya!” seru Selene seraya meletakkan surat itu di meja dan beranjak ke kamarnya.


“Eh?! Selene! Sayang! Kau melupakan suratnya!”


***


dapur untuk mengambil air. Setelah selesai minum, ia pun kembali berjalan


menuju tangga. Namun, langkahnya terhenti saat melihat surat itu. Surat itu tak


berpindah sedikitpun di tempat terakhir kali ia menaruhnya.


Selene menghela nafas pelan. Perlahan, ia menghampiri


meja itu dan mengambil surat pemberian Rein. Matanya tertuju pada sebuah


catatan kecil yang ditinggalkan oleh Ibunya.


“Jangan marah, Sayang. Ibu akan membelikan sesuatu yang


bisa memperbagus moodmu, sampai jumpa besok, Sayang!”


“Baiklah ... kelihatannya ibu tidak akan pulang sampai


besok, yah ... aku ambil saja kalau begitu.” Selene pun membawa surat itu dan


bergegas ke kamarnya.


***


“Saat aku melihatmu melakukan gerakan itu ... aku


benar-benar tidak bisa berhenti mengerjapkan mataku. Tubuhmu seolah-olah menari


mengikuti setiap irama dan angin. Kau bergerak seperti kilat yang mampu


membelah langit dan membuatku menganga tanpa sadar. Aku benar-benar


menyukainya. Aku suka melihatmu seperti itu, tersenyum dan menikmatinya. Aku


juga berharap kau mau mengajarinya padaku. Kalau tidak juga, aku tidak akan


memaksa. Tapi, jangan salahkan aku kalau aku memasang ekspresi seperti itu


lagi, ya!”


***


Selene perlahan tertawa kecil, mengingat hal itu


membuatnya ingin kembali ke masa-masa indah itu. Perlahan, jari-jemarinya


mengusap lembut wajah Rein.


“Kita pernah berdebat hanya karena surat itu, Rein. Entah


kau masih ingat atau tidak. Hehe ....”


***


“Kau menulis surat cinta untukku?!”


“Su—surat apa?! Tentu saja tidak!”


“Kata Ibuku itu adalah surat cinta!”


“Ti—tidak! Aku hanya sedang mengulang pembelajaran yang


kuterima saja hari itu! Dan aku tidak tau harus membuatnya untuk siapa! Kata


guruku aku wajib membuat sebuah surat sesuai dengan materi pembelajarannya!”


“Alasan! Jujur saja!”


“A—aku sudah jujur! Itu bukan surat cinta! Percayalah


padaku!”


***


Rein perlahan menahan tangan Selene, spontan membuat


Selene sedikit melompat kaget.


“Jess ... Jessie ....”


Raut ekspresi Selene langsung berubah, perlahan ia mengawaskan


tangannya dan kembali memfokuskan pandangannya pada tubuh kosong di hadapannya


itu.


“Ini  semua jelas


kesalahanmu ... manusia.”