
Menerima semua kekuatan itu tidak segampang yang
kupikirkan. Aku tak sadarkan diri dalam beberapa bulan. Setelah terbangun dari
tidur panjangku, aku merasa seperti terlahir kembali ... dengan tubuh yang baru
dan kuat, tentunya.
Aku bisa mendeteksi keberadaan Rein dengan mudah,
mengikutinya dan melihat setiap gerak-geriknya bersama dengan wanita itu di
apartemennya. Rein tidak pernah berubah, dia tidak akan peduli lagi dengan
sekitarnya saat sudah memandangi langit biru di malam hari. Dia bahkan tidak
menyadari keberadaanku yang hanya berjarak beberapa kilometer dari hadapannya.
“Reinford Vermillion ... di sini kau rupanya ....”
***
Hari itu ... aku benar-benar tidak menyangka keduanya
akan melakukan hal itu. Untuk pertama kalinya aku melihat Rein berciuman dengan
seorang wanita. Rein polos dan lugu yang kukenal. Dia benar-benar sudah
memasuki usia dewasa seperti yang seharusnya. Tapi, kenapa harus di saat dia
tiba di planet ini? Kenapa dia tidak bisa berpikir dewasa saat di tempat
asalnya?
“Selene, Sayang. Rein menuliskan sebuah surat untukmu,
kau tidak mau membacanya?”
“Surat apa, Ibu?” tanya Selene kecil seraya mengelap
wajahnya.
“Astaga, Sayang. Kau harus lebih sering mengikuti arahan
Ibu! Kau itu anak perempuan, Sayang. Tidak akan ada laki-laki yang akan
melihatmu kalau kau sering bermain dengan benda-benda tajam itu.”
“Oh ... ayolah, Ibu. Ini memang hobiku, lagipula aku juga
melakukan semua yang ibu perintahkan.”
“Baiklah, baiklah. Ini ...” Ibu Selene menyerahkan sebuah
surat yang sudah tak tersegel pada putrinya.
Selene menerima surat itu. Setelah menyadari surat itu
sudah terbuka, Selene spontan memandangi ibunya dengan datar.
“Un—untuk apa tatapan itu, Sayang?”
“Ibu sudah membacanya?!” seru Selene.
“Eh ... Ibu ... um ...” Ibu Selene tak melanjutkan
perkataannya.
“Ibu?! Bukankah Ibu sendiri yang bilang kalau hal itu
tidak sopan?!”
“Yah ... Ibu tau. Oke, maafkan Ibu, Sayang. Tapi, Ibu
tidak membacanya sendirian, oke? Ibu Rein juga terlihat sangat antusias dengan
surat anaknya ...” jelas Ibu Selene gemas.
“Apa?! Bagaimana bis Ibu dan Tante sampai melakukannya?!”
“Aw ... kami kan penasaran, Sayang. Apalagi, kata Reina,
Rein menulisnya dengan susah payah. Ah ... Ibu jadi gemas sekali saat Reina
bilang Rein menghabiskan begitu banyak kertas hanya untuk menulis surat ini.”
“Ibu! Sekarang aku jadi tidak penasaran lagi dengan
isinya!” seru Selene seraya meletakkan surat itu di meja dan beranjak ke kamarnya.
“Eh?! Selene! Sayang! Kau melupakan suratnya!”
***
dapur untuk mengambil air. Setelah selesai minum, ia pun kembali berjalan
menuju tangga. Namun, langkahnya terhenti saat melihat surat itu. Surat itu tak
berpindah sedikitpun di tempat terakhir kali ia menaruhnya.
Selene menghela nafas pelan. Perlahan, ia menghampiri
meja itu dan mengambil surat pemberian Rein. Matanya tertuju pada sebuah
catatan kecil yang ditinggalkan oleh Ibunya.
“Jangan marah, Sayang. Ibu akan membelikan sesuatu yang
bisa memperbagus moodmu, sampai jumpa besok, Sayang!”
“Baiklah ... kelihatannya ibu tidak akan pulang sampai
besok, yah ... aku ambil saja kalau begitu.” Selene pun membawa surat itu dan
bergegas ke kamarnya.
***
“Saat aku melihatmu melakukan gerakan itu ... aku
benar-benar tidak bisa berhenti mengerjapkan mataku. Tubuhmu seolah-olah menari
mengikuti setiap irama dan angin. Kau bergerak seperti kilat yang mampu
membelah langit dan membuatku menganga tanpa sadar. Aku benar-benar
menyukainya. Aku suka melihatmu seperti itu, tersenyum dan menikmatinya. Aku
juga berharap kau mau mengajarinya padaku. Kalau tidak juga, aku tidak akan
memaksa. Tapi, jangan salahkan aku kalau aku memasang ekspresi seperti itu
lagi, ya!”
***
Selene perlahan tertawa kecil, mengingat hal itu
membuatnya ingin kembali ke masa-masa indah itu. Perlahan, jari-jemarinya
mengusap lembut wajah Rein.
“Kita pernah berdebat hanya karena surat itu, Rein. Entah
kau masih ingat atau tidak. Hehe ....”
***
“Kau menulis surat cinta untukku?!”
“Su—surat apa?! Tentu saja tidak!”
“Kata Ibuku itu adalah surat cinta!”
“Ti—tidak! Aku hanya sedang mengulang pembelajaran yang
kuterima saja hari itu! Dan aku tidak tau harus membuatnya untuk siapa! Kata
guruku aku wajib membuat sebuah surat sesuai dengan materi pembelajarannya!”
“Alasan! Jujur saja!”
“A—aku sudah jujur! Itu bukan surat cinta! Percayalah
padaku!”
***
Rein perlahan menahan tangan Selene, spontan membuat
Selene sedikit melompat kaget.
“Jess ... Jessie ....”
Raut ekspresi Selene langsung berubah, perlahan ia mengawaskan
tangannya dan kembali memfokuskan pandangannya pada tubuh kosong di hadapannya
itu.
“Ini semua jelas
kesalahanmu ... manusia.”