Vermillion

Vermillion
Chapter 37 : Keputusan



Pintu besi pembatas itu terbuka. Jessie, Ted, dan Hein


segera berlari masuk dan mendapati Rein yang terlentang memandangi langit.


“Rein!” panggil Jessie seraya menghampirinya.


Rein perlahan membangkitkan tubuhnya dan memandangi


ketiga orang yang sudah mengelilinginya.


“Apa yang terjadi padamu, Kawan?!” seru Ted kaget.


“Astaga, ini ... darah sungguhan?” tanya Hein tak


percaya, sesekali ia menggunakan jari telunjuknya untuk mencolek cairan pekat


itu.


“Rein ... apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Jessie


khawatir.


“Tidak. Tidak ada apa-apa ...” Rein menundukkan


kepalanya, menatapi lantai yang masih dihiasi oleh darah segar.


Jessie memegangi kedua wajah Rein, membuatnya menatapnya.


“Di mana Selene?”


“Dia ... dia sudah pergi.”


“Tunggu ... siapa yang pergi?” tanya Hein.


“Selene ...?” ulang Ted heran.


Jessie dapat melihat perubahan raut wajah Rein yang


menjadi sedih saat Ted menyebut nama wanita itu.


“Diamlah kalian,” tegur Jessie pada kedua sahabatnya itu.


Ted dan Hein spontan mengangguk-angguk pelan dan saling


menutupi mulut mereka dengan tangan mereka masing-masing.


“Rein ... maafkan aku, gara aku ...” Rein menggeleng


pelan dan tersenyum kecut, “Tidak. Jangan meminta maaf, kau tidak melakukan


kesalahan,” sela Rein.


“Apa kalian baru saja ... berkelahi?” tanya Jessie ragu,


takut membuat perasaan pria di hadapannya itu semakin hancur.


“Ah ... haha, jangan khawatir. Ini bukan pertama kalinya


kami berkelahi seperti ini. Jalan pemikiran kami memang jauh berbeda, ada


saatnya aku tidak bisa terus-terusan mengalah dan mengikutinya,” ucap Rein


lembut, namun Jessie bisa melihat raut penyesalan di wajahnya.


“Dia tidak ingin aku ikut, benar? Ada masalah apa sih dia


dengan manusia? Aku kan hanya ingin membantu—“


“Jess ... tolong ... jangan sekarang,” sela Rein.


Ted dan Hein kini saling berganti pandangan. Jessie


perlahan menghela nafas lelah.


“Baiklah, baiklah. Lebih baik kita segera pulang


sekarang. Ayo,” ucap Jessie seraya membantu Rein berdiri.


“Sebenarnya ada apa sih ini?” tanya Hein lagi, sementara


Ted hanya mengangguk-angguk setuju.


“Kalian ... bisa kan tolong bantu aku membersihkan


kerusuhan di sini? Aku harus mengantar Rein pulang, terima kasih banyak dan


sampai jumpa! Dadah! Sayang kalian!” Jessie pun segera membopong Rein dan


berlalu pergi.


Kedua orang itu hanya menatap punggung sahabat wanita mereka


itu dengan datar.


“Dia memang selalu saja tau cara untuk kabur,” gerutu


Hein.


“Benar. Tapi, mau bagaimanapun juga kita juga harus


segera mengepel tempat ini, kalau ada guru yang melihatnya, besok mungkin akan ada


pengumuman yang mengejutkan,” ucap Ted.


“Hehe ... mendengarmu mengatakannya, aku jadi ingin


membiarkannya saja,” ujar Hein seraya tertawa laknat.


“Kau kesurupan, Hein?” tanya Ted ngeri.


“Tidak. Tapi kan kita sebentar lagi akan perpisahan dan


kenapa kita tidak meninggalkan momen yang berkesan untuk angkatan kita,


benarkan?” ujar Hein.


“Hm ... aku setuju sih, tapi ... Jessie mungkin akan


menceramahi kita, lebih baik tidak usah, Hein.”


“Oh ... benar juga. Aku lupa kalau ada si mak lampir


itu.”


Ted spontan tertawa lepas. “Kalau Jessie mendengarnya,


mungkin dia akan melayangkan beberapa pukulan jitunya padamu, Hein.”


“Ahaha! Tapi, sekarangkan dia sedang dalam masa


bucin-bucinnya. Mana mungkin dia akan mengeluarkan sisi lelakinya lagi?”


“Hm, siapa yang tau? Rein itu pria yang polos, kalau


mereka benar-benar jadian ...” Ted memandangi Hein yang kini memandanginya


dengan horror, “Aku akan sangat kasihan pada Rein,” sambung Hein.


Keduanya pun tertawa lepas. “Sudah-sudah, lebih baik kita


segera mencari alat pel,” usul Ted.


sekitar sini oke? Jangan sampai ada guru dan siswa lain yang kemari,” ucap Hein


seraya membuka pintu besi itu.


“Siap, laksanakan!” jawab Ted.


Pintu besi pembatas itu tertutup. Ted kembali memandangi


sekeliling. “Walaupun terlihat polos, dilihat dari kekacauan yang ada di sini


... Rein mungkin tidak pernah berbohong soal dirinya yang bukan dari sini.”


Ted memandangi langit siang menjelang sore itu. “Aku


percaya dia pria yang baik dan kuat. Kalau Rein benar-benar bersama dengan


Jess, maka aku dan Hein tidak perlu terlalu khawatir lagi, bukan? Pria itu


memang sangat cocok untuk Jess, mereka saling melengkapi satu sama lain.” Ted


perlahan tersenyum puas.


***


“Kau yakin kau tidak lapar?”


Rein menggeleng pelan.


“Kau yakin tidak ingin mengejar Selene?”


Rein menundukkan kepalanya, memandangi kedua jari-jari tangannya.


“Tidak.”


“Huff ... tidurlah. Mungkin itu akan membuatmu terasa


lebih baik. Setelah semuanya sudah cukup tenang untukmu, aku harap kau mau


bercerita padaku. Jangan memendamnya sendirian, oke?”


Rein mengangguk pelan.


“Baiklah, tidurlah.” Jessie pun berjalan keluar dan


menutup pintu kamar Rein.


Rein memandangi pedang pemberian Selene yang terletak di


samping meja tidurnya. Sisi sarung pedang itu masih dihiasi oleh warna merah


pekat yang sudah mengering. Rein menghela nafas lelah dan memejamkan matanya.


***


Rein mengarahkan pedang itu tepat di depan leher Selene.


“Huff, huff, huff ... kau kalah, Selene.”


Selene menyeringai. Ia kembali menarik pedangnya dan memantulkan


kedua pedang mereka hingga terhempas.


Rein yang masih syok akan serangan yang tak diduga itu


akhirnya diterjang oleh Selene. Kini Selene duduk tepat di atas tubuhnya dan


mengunci kedua tangan Rein.


“Aku tidak menyangka kau akan mengalahkanku, Pangeran


Reinford.”


“Kau sudah kalah, Selene. Kau harus menerimanya dan ikut


bersamaku.”


“Tidak. Aku belum bilang akan setuju dengan permintaanmu,


bukan?”


“Apa?”


“Sepertinya ... jalan yang kita pilih mulai berbeda


sekarang, Rein ...” ucap Selene melembut.


“Huh?”


“Dari awal, seharusnya aku tidak ikut denganmu ... tidak,


seharusnya aku tidak membiarkanmu kemari.” Selene melepaskan kedua tangan Rein.


“Selene? Apa yang sedang kau bicarakan?”


Selene tak menjawab, perlahan ia bangkit dari tubuh Rein.


“Sampai jumpa.”


***


“Selene!” seru Rein seraya membuka kedua matanya. Perlahan,


Rein bangkit dari kasurnya dan membuka jendela.


“Sudah malam, ya?” Rein merasakan angin malam yang kini


menampar halus wajahnya.


‘Ting!’


Rein berjalan menuju meja tidurnya dan mengambil


ponselnya. “Dari Gerold?” Rein segera membuka pesan itu.


“Malam, Pangeran Rein. Kabar baik untuk pangeran. Pesawat


tempur milik Dunan sudah berhasilku perbaiki. Timku sudah mengetesnya dan


semuanya berjalan sempurna. Kapanpun Pangeran Rein ingin menggunakannya, segera


kabari aku.”


Rein menutup ponselnya dan menggenggamnya dengan erat. Perlahan,


ia menggigit bawah bibirnya dan tersenyum kecut. “Keputusan bodoh apa lagi yang


kali ini kubuat? Aku ... kalau saja aku mengikuti Selene, mungkin besok ...


tidak, lusa aku mungkin sudah bisa kembali dan ayahku mungkin akan segera


sadarkan diri.”


Rein meletakkan ponsel itu dan kembali memandang keluar


jendela. Ia meremas rambut kepalanya dengan erat. “Maafkan aku, ayah. Aku ...


aku memang tidak berguna. Kalau ... kalau sesuatu sampai terjadi pada ayah. Aku


... aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku.”