
Tak terasa 2 bulan telah berlalu sejak hari itu, Jessie
akhirnya mempercayaiku. Tak hanya itu, ia pun menyuruhku untuk tidak sungkan
bertanya padanya mengenai hal-hal di Bumi yang masih membuatku penasaran. Hari
ini, dia tiba-tiba menyuruhku untuk datang ke sekolahnya yang belum lama ini ia
tunjukkan padaku. Wanita itu ... selalu saja sulit untuk ditebak ... hahah ....
***
“Jadi seperti itu ...” gumam Kayla seraya
mengangguk-angguk.
“Ya ... sudah puas?” tanya Hein malas.
“Aku ... aku tidak tau kalau hal seperti itu terjadi
padanya,” ungkap Kayla sedih.
“Shh ... ini hanya rahasia kami dan para guru, tolong
jangan disebarluaskan ya,” ucap Ted.
“Oh! Ba—baik! Aku mengerti!” jawab Kayla seraya
menghormat.
Seisi kelas yang sedang beristirahat pun langsung
memandang ke arah mereka.
“Kau ini sengaja, ya?” tanya Hein kesal.
“Ti—tidak! Beneran!” jawab Kayla panik.
“Sudahlah, ngomong-ngomong tidak terasa, ya? Sekarang
sudah class-meeting dan kita hanya perlu menunggu pengumuman kelulusan kita,”
ujar Ted mengengahi mereka.
“Be—benar! Kalian setelah ini akan kuliah di mana?” tanya
Kayla.
Kedua pria yang ditanya hanya saling bertatapan, lalu
kembali menatap wanita itu.
“Tak tau,” jawab Hein singkat.
“Ah ... kami masih akan mendiskusikannya dengan Jess,”
tambah Ted.
“Aw ... kalian bertiga kompak sekali, aku jadi iri.”
“Kenapa iri? Bukannya kau tidak suka dengan kami?” timpal
Hein.
“Hein!” tegur Ted.
“Tak apa, Ted. Aku mengerti. Lagipula waktu itu aku
pernah mengatakan sesuatu yang tidak enak didengar pada kalian. Sekarang aku
sudah sadar dan sebagai seorang pemimpin, aku merasa sangat tidak patut untuk
dicontoh. Maafkan aku, Ted, Hein,” ucap Kayla seraya membungkuk pelan.
Seisi kelas kembali memandangi mereka.
“He—hei ... sudahlah, kau tidak perlu sampai begitu,”
ucap Hein.
“Be—benar, Kay. Kami tidak pernah menganggap serius
ucapan orang lain pada kami, santai saja,” tambah Ted.
Kayla mendongakkan kepalanya dan menatap kedua orang itu
dengan mata berkaca-kaca. Dan didetik berikutnya, wanita itu langsung menangis.
“Ka—kayla! Ka—kau kenapa?!” tanya Hein panik.
“Kay—kayla? Ada apa?” tanya Ted seraya
menggoyang-goyangkan bahunya.
“Huaa! Aku ... aku
terharu!”
Hein dan Ted saling bertatapan, lalu keduanya tersenyum
kecil.
“Kau ini ... ada-ada saja!” gerutu Hein seraya mengelus
pelan kepala Kayla, membuat wanita itu sontak terdiam dan melotot kaget
padanya.
“A—apa?” balas Hein heran.
“Ti—tidak ada apa-apa. Um ... ngomong-ngomong, di mana
Jessie? Aku tidak melihatnya sedari tadi,” ucap Kayla yang langsung mengalihkan
pandangannya pada Ted.
Ted perlahan menggaruk pipinya yang sebenarnya tidak
gatal. “Eh? Dia sedang menunggu seseorang. Tapi, kau yakin kau baik-baik saja,
Kay? Wajahmu ... kau seperti terserang demam?”
“Hah?! Y—yang benar?!” seru Hein seraya berlari dan
berdiri di samping Ted.
Kayla langsung menundukkan kepalanya dan meremas erat rok
sekolahnya.
“Kau demam?” tanya Hein.
Kayla hanya menggeleng.
“Kau ada riwayat penyakit langka?”
Kayla menggeleng cepat.
“Kau sedang sakit hati?”
“TENTU SAJA TIDAK!” jawab Kayla masih menundukkan
kepalanya.
Hein menyeringai. “Kau malu karena barusan ku-headpat?”
Kayla spontan mendongakkan kepalanya dan melototi Hein.
“Aw ... lihat wajah siapa yang sekarang semerah lobster?”
“Ti—tidak, ini efek karena aku menangis barusan!” bela
Kayla.
“Oh ... benarkah? Jujur saja, kau pasti suka padaku,
kan?” goda Hein.
“DALAM MIMPIMU!” seru Kayla seraya kembali ke bangkunya.
Hein spontan tertawa pecah. Ted pun menyikut lengan
sahabatnya itu.
“Tidak sopan, Hein. Kau pikir Kayla itu sama dengan Jess?
Bagaimana kalau dia baper beneran?”
“Halah, mana mungkin anak sekelas dia bakal baper sama
aku? Mustahil ... mending ga usah terlalu dipikirin, duduk dan makan aja, Ted.
Sebentar lagi, bestie anehmu itu bakal datang.”
“Ma—maksudmu, Rein?!”
Hein meminum minumannya dan mengangguk.
“Wah! Kenapa Jessie ga bilang-bilang?! Kalau gitu,
mending tadi aku suruh Mamaku buat bekal berlebih!”
Hein meletakkan kembali botol minumannya. “Ga usah ...
Jess juga udah siapin bekal khusus buat dia tuh,” tunjuk Hein pada sekantong
plastik berisi roti.
“Roti?”
Hein mengangguk mantap. “Katanya sih favoritnya,” bisik
Hein sembari terkekeh-kekeh pelan.
“Hah? Tumben Jessie tau kalau itu favoritnya Rein?”
“Yah begitulah ... namanya juga lagi suka, iya, kan?”
“Suka, ya?” ulang Ted sembari mengangguk-angguk pelan.
“SUKA!” teriak Ted tiba-tiba saat otak lemotnya berhasil
men-loading maksud perkataannya barusan.
Kayla sempat menoleh, saat netranya tertangkap basah oleh
Hein. Ia pun dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke buku yang sedang
dibacanya.
“Hehe ... menurutku sih, soalnya Jessie ga habis-habisnya
bercerita tentang Rein sejak hari aku masuk di rumah sakit itu—“
“Kau pernah masuk rumah sakit?!” seru Kayla yang
tiba-tiba sudah ada di hadapan mereka.
Hein mengelus-elus dadanya pelan. “Ka—kapan kau kemari,
hah?!”
“Ehem. Aku cuma mau mengembalikan penghapus yang waktu
itu kupinjam kok,” jawab Kayla seraya meletakkan penghapus berwarna pink itu di
meja Jessie.
“Bilangin makasih ke Jess, ya!” ucap Kayla kembali
meninggalkan meja mereka.
“Kenapa ga sendiri aja?” tanya Hein membuat Kayla
menghentikan langkah kakinya.
“Nanti aku bakal ucapin lagi kok.”
“Oh ... ok.”
Kayla kembali melangkahkan kakinya menuju bangkunya.
“Kay! Iya! Aku pernah masuk rumah sakit!”
Kayla perlahan tersenyum kecil, lalu ia kembali memasang
ekspresi sangarnya. “Ga ada yang nanya!”
“Eh? Tadi kan barusan nanya? Masa lupa?”
“Uh ....”
“Cie ... udah pikun nih ... cie ....”
Ted langsung menarik lengan Hein. “Udah dibilangin, balik
lagi ketopik!”
“Yang mana?” tanya Hein heran.
Ted memandangi sahabatnya itu dengan datar. “Maaf, maaf.
Tunggu, biarkan aku memutar kembali perkataanku barusan.”
“Itu loh! Yang bagian Jessie cerita-cerita tentang—“
“Tentang apa?!”
Kedua orang itu berbalik dan mendapati Jessie yang tengah
berkacak pinggang, tatapan dinginnya mampu membuat bulu kuduk siapapun yang
“Am—ampun, Jess! Aku sebenarnya ga berniat untuk cerita
ke Ted!”
“Ember!”
“A—aku lagi bosan aja dan ga ada topik,” bela Hein lagi.
“Mulut cewek!”
Hein langsung terdiam, ia merasakan dirinya yang
seolah-olah tengah ditusuk oleh ribuan panah, hingga ke hati, jiwa, dan raga.
“Haha! Bercanda!” ucap Jessie seraya menepuk bahu Hein
yang murung.
“Loh? Reinnya mana Jess?” tanya Ted heran karena sedari
tadi ia tak menemukan sosok yang dicarinya.
“Itu dia masalahnya. Aku takut dia malah tersesat.
Padahal aku kan sudah memberinya petunjuk yang benar, bahkan aku sudah
menulisnya diselembar kertas,” jelas Jessie seraya meraih ponselnya.
“Kau mau ke mana lagi, Jess?” tanya Hein saat Jessie
sudah berada di dekat pintu kelas.
“Mencarinya, lah! Dah!” Jessie pun hilang dari hadapan
mereka.
“Tuh, kan. Jessie dan Rein pasti ada apa-apanya ini,”
bisik Hein.
Ted tak menjawab, ia hanya mengangguk-angguk setuju.
***
“Eh? Itu bukannya Kak Jess?”
“Iya, kelihatannya Kak Jess ga bisa jauh ya dari Klein?”
“Eh, Kakak itu kan suka sama Klein!”
“Tapi, bukannya sebentar lagi udah lulus? Kenapa masih
ngejar Klein sih?”
“Ga tau, bisa aja nanti Kakak itu bakal sering kemari
cuma buat ngeliat wajah Klein.”
“Ih ... mengerikan.”
***
“Eh? Klein! Apa kabar!”
“Ah ... hai, Kak!”
“Udah lama ga jumpa, makin tingga juga ya kamu, Klein!”
“Haha ... cuma beberapa senti kok, Kak. Kakak lagi nunggu
seseorang?”
“Eh? Kok tau sih, Klein?”
“Haha ... itu, ponselnya getar-getar terus, Kak!”
“Eh?! Iya! Haha! Kakak duluan ya, Klein!”
“Ok, Kak! Hati-hati!”
“Ya!”
“Wajah Kak Jess kelihatan berseri-seri, apa karena orang
itu, ya?” batin Klein.
***
“Kau kenapa lama sekali sih, Rein?”
“Maaf, aku benar-benar masih tidak mengerti dengan cara
kerja uang lembar ini.”
Jessie spontan tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.
“Aku mungkin harus mengajarkanmu lagi nanti.”
Tiba-tiba beberapa kelompok siswi yang tengah
berbincang-bincang spontan memandangi mereka.
“Eh? Siapa pria yang bersama dengan Jessie?”
“Itu pria, kan?”
“Ada apa dengan warna rambutnya itu?”
“Kakak itu bukannya suka sama Klein kelas sebelah, ya?”
“Jangan-jangan Kakak itu cuma iseng lagi sama Klein?!”
“Kita harus segera memberitahukan ini pada Klein!”
“Wanita-wanita itu sedang membicarakanmu, Jess,” bisik
Rein.
“Aku tau, jangan pedulikan mereka,” timpal Jessie seraya
menggandeng lengan Rein dengan erat.
Tiba-tiba beberapa siswi tadi berteriak histeris, membuat
Rein semakin kebingungan.
“Kenapa dengan mereka?” tanya Rein heran.
Jessie menyeringai puas. “Udah ... biarin aja.”
Jessie dan Rein pun berlalu dari mereka dan melewati
kelas Klein. Pintu kelas itu terbuka dan terlihat beberapa siswi yang menarik
Klein keluar dari kelas.
“Itu, itu, Klein!”
“Aduh ... jangan tarik-tarik,” balas Klein risih.
“Lihat pria berambut merah itu, Klein! Dia bersama dengan
Kakak yang suka ngejar kamu itu!”
“Maksud kalian Kak Jess?”
“Iya! Siapa lagi!”
“Kakak itu jelas mempermainkanmu, Klein!”
“Aduh ... aku kan udah pernah bilang, Kak Jess itu udah
seperti kakak aku sendiri ... kalian aja sih yang sering salah nangkap,” jelas
Klein sembari berbalik dan masuk kembali ke kelasnya.
“Tapi, Klein!”
“Klein!”
Klein duduk di bangkunya dan tersenyum kecil.
Teman-temannya pun memandanginya dengan heran.
“Kau kenapa, Bro?”
“Iya, habis ditarik-tarik sama cewek-cewek itu, baliknya
langsung senyam-senyum. Ceritalah, Brother!”
“Apa sih rahasianya sampai bisa dikelilingi sama
cewek-cewek sekelas kayak gitu, haha!”
Klein hanya tertawa pelan dan mengangkat kedua tangannya.
“Ga tau, beneran. Mereka cuma mau nunjukkin sesuatu aja kok, ga ada lain.”
“Masa sih?”
“Iya ... kalau ga percaya nanya aja sendiri sama mereka.”
Teman-temannya hanya mengangguk-angguk ria dan masih
memasang wajah curiga.
Klein membalas tatapan curiga teman-temannya itu dengan
senyuman terbaiknya, lalu ia perlahan membuang muka keluar jendela.
“Kelihatannya kakakmu sudah menemukan seorang pria,
Teman. Baik atau buruknya pria itu, aku masih belum tau. Tapi, aku yakin kalau
itu adalah pilihan kak Jess, maka kita tak perlu khawatir, benar, kan, Jack?”
***
Pintu kelas mereka terbuka, Ted dan Hein yang tengah
sibuk memainkan ponsel mereka pun sontak bangkit berdiri dan mengaga.
“Je—jess? Kau benar-benar membawanya kemari?!” teriak
Hein tak percaya.
Jessie memandang sahabatnya itu dengan heran. Sembari
mengerjapkan matanya, ia mengangguk pelan. “Aku kan sudah bilang padamu, Hein.
Masa kau lupa?”
“A—aku tidak lupa! Aku pikir kau bercanda, Jess!”
“Aku mana pernah bercanda, Hein,” balas Jessie sembari
tertawa pelan.
"Yang benar saja?!" bantah Hein.
"Oke, oke. Aku memang suka bercanda, oke? Tapi, sekarang ini aku serius, Hein."
Ted tak menghiraukan pertengkaran kecil yang tak masuk akal dari kedua sahabatnya itu, ia langsung menghampiri Rein dan mengajaknya duduk di salah satu bangku.
“Ta—tapi, Jess! Ini kan masih lingkungan sekolah?!” ucap Hein
lagi.
“Memangnya kenapa kalau lingkungan sekolah? Lagipula kan
sekarang lagi class meeting, guru-guru juga sedang sibuk menghitung nilai kita,
mereka tidak akan sadar,” balas Jessie enteng.
“Mereka memang tidak akan sadar! Tapi, bagaimana dengan
orang-orang disekitar sini?! Menurutmu apa pemikiran orang-orang sekitar kalau
melihat seorang pria berambut merah dan gondrong?!”
Jessie dan Ted saling bertatapan heran.
“Aneh, kah?” jawab Ted tak yakin.
Jessie memandangi Rein sekilas, lalu mengangkat kedua bahunya.
Hein menepuk jidatnya. “Jess! Seharusnya kau tutupi
rambutnya itu dengan topi atau apapun. Mana ada zaman sekarang, pria berambut
gondrong lalu dicat dengan warna merah seperti itu. Berkeliaran lagi di siang
hari, orang-orang mungkin akan takut melihatnya.”
“Berkeliaran? Tunggu dulu! Kau mengatakan seolah-olah
Rein itu seperti seorang—“
“BANCI!”
“Tepat!” balas Hein cepat, namun ia baru sadar bahwa tiga
orang di hadapannya itu sama sekali belum membuka mulut.
Perlahan keempat orang itu memutar pandangan mereka pada
seorang wanita yang memasang ekspresi kaget dan mulut menganga.
“KAYLA!” seru ketiga orang itu syok.