Vermillion

Vermillion
Chapter 39 : Akhirnya bertemu!



Hampir sejam Jessie mengelilingi setiap lantai di gedung


pusat perbelanjaan itu.


“Ted! Hein! Kalian mendengarkanku?!” panggil Jessie


berulang-ulang kali.


“Sial ... ini tidak bagus. Apapun itu, aku harap mereka


berdua baik-baik saja,” gumam Jessie seraya kembali menekan ponselnya.


Tiba-tiba Jessie merasakan getaran yang amat kuat. Dengan


cepat, ia berlari dan bersembunyi di salah satu meja restoran di dekat sana.


Terlihat beberapa toko kosong yang sudah ditinggalkan mulai retak,


dinding-dinding hancur dan berserakan. Tak lama puing-puing gedung itu hancur


membentuk sebuah lubang besar.


Dari bawah meja, Jessie dapat melihat langit luar yang


tertutupi oleh gumpalan asap melalui lubang itu.


“Aku ... aku tidak bisa terus-terusan di sini. Aku harus


bergerak.”


Setelah tak merasakan adanya getaran susulan, Jessie


dengan cepat berlari dari zona aman itu dan segera menaiki eskalator.


***


Rein berusaha untuk mengambil nafas. Pasukan mayat hidup


ini lebih sulit dari yang diperkirakan olehnya. Membunuh mereka pun tidak ada


artinya ... mereka memang sudah mati.


“Mereka tetap akan bangkit. Aku ... aku harus memikirkan


cara lain,” batin Rein seraya melirik sekitarnya.


Pandangan Rein terfokuskan pada sekelompok pasukan mayat


hidup yang bergerak maju dengan tertib. Memang tidak ada yang aneh dari


pergerakan mereka. Namun, mereka tampak menghindari area yang dipenuhi oleh


kendaraan-kendaraan yang terbakar.


“Api ... benar! Mereka takut pada api!”


Tanpa berpikir panjang, Rein langsung berlari mendekati


sebuah kendaraan dengan api yang masih membara. Perlahan, Rein memasukkan


pedangnya ke dalam bara api itu.


Beberapa pasukan mayat hidup mulai bergerak menuju Rein. Mereka


memang tak melihat. Namun, indera pendengaran mereka amatlah tajam. Sedikit


suara saja yang kau hasilkan, maka mereka akan langsung memburumu.


Rein menarik pedangnya yang kini dilapisi oleh bara api.


Dengan cepat, Rein menancapkan pedang itu tepat ke dalam tubuh pasukan mayat


hidup yang mulai mengepungnya.


Perkiraan Rein akhirnya berjalan mulus, pasukan mayat


hidup yang sudah dicap oleh pedang api milik Rein perlahan terbakar hingga tak


bersisa.


Rein menyeringai puas. “Jadi, itu kelemahan kalian?


Kemari kalian semua!” serunya.


“Groooh!”


Pasukan-pasukan mayat hidup yang sedang bergerak menuju


sekte lainnya pun terpancing oleh suara Rein. Perlahan, mereka memutar haluan


dan mendatangi Rein.


Rein melemaskan otot lehernya. “Berterima kasihlah padaku


karena aku akan mengirim kalian semua kembali ke tempat kalian yang


seharusnya!” Rein langsung melompat dan menebaskan pedang api miliknya.


“Groooh!”


“Hm ... pertunjukkan yang menarik, Pangeran Rein.”


***


“Jessie? Jessie!”


Jessie mengalihkan pandangannya setelah mendengar


seseorang memanggilnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Hein yang


tengah berdiri di dalam sebuah ruangan kaca.


Jessie segera berlari menghampiri ruangan itu dan Hein


pun membukanya dengan cepat.


“Hein! Syukurlah kau baik-baik saja!” seru Jessie seraya


memeluk erat sahabatnya itu.


Setelah Hein melepaskan pelukan itu, ia langsung memegang


kedua bahu Jessie dengan kasar.


“He—hein?! Kau kenapa?!” seru Jessie kaget.


“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau kemari?!” bentak Hein.


“Apa maksudmu?! Tentu saja aku datang untuk menyelamatkan


kalian! Tunggu dulu ... di mana Ted?!”


“A—aku di bawah sini ....”


Jessie menepis kedua tangan Hein dan melewatinya,


perlahan ia menunduk dna mengintip ke kolong meja security itu.


Ted berusaha tersenyum saat netranya bertemu dengan netra


wanita itu. Namun, ia tetap tidak bisa menyembunyikan ketakutannya, tubuhnya


Jessie menarik Ted keluar dan memeluk tubuh sahabatnya


itu. Perlahan, ia mengusap punggungnya dan mengucapkan kata-kata yang


menenangkan.


“Jess ... kau tidak seharusnya kemari ...” lirih Hein.


Jessie melepaskan pelukannya dan mulai memandangi Hein.


“Setelah tau kalian dalam bahaya? Bagaimana bisa aku lari dan bersembunyi


sementara kalian sedang dalam bahaya di sini?!”


“Lalu apa? Kau mau mati juga bareng kami?!” balas Hein.


“Tentu saja tidak! Tidak akan ada yang mati hari ini!


Kita semua pasti selamat! Kita ... dan semua pengunjung di sini!” tegas Jessie.


“Jess ... di mana Rein?” tanya Ted pelan.


“Tenanglah, Ted. Rein sedang berjuang di bawah sana


melawan para pasukan mayat hidup dan—“


“Pasukan mayat hidup?! Kupikir kita hanya diserang oleh


naga mayat hidup?!” sela Hein.


“Aku tau ini memang terdengar aneh. Aku bahkan berharap


ini semua hanyalah mimpi. Tapi, kenyataannya ... kita semua memang di sini,


terperangkap dan hanya bisa mendoakan keberhasilan Rein.”


Ted memegangi pundak Jessie. “Aku percaya pada Rein. Dia


pasti bisa mengalahkan monster-monster itu.”


Jessie mengangguk setuju. Hein pun mengacak-acak


rambutnya dengan asal. “Baiklah, baiklah. Kalau kalian semua percaya padanya,


maka aku juga demikian.”


“Baik, kalau begitu kita akan segera turun dan berkumpul


dengan pengunjung lainnya,” usul Jessie.


Kedua sahabatnya pun mengangguk setuju dan mereka pun


segera meninggalkan lantai itu.


***


“Huff, huff, huff ... sudah selesai?” gumam Rein sembari


menarik keluar pedangnya dari salah satu tubuh mayat hidup yang tak lama


kemudian terbakar.


Setelah menarik nafas panjang. Rein kembali memfokuskan


pandangannya pada sesosok naga mayat hidup yang kini menatapnya dengan tatapan


menerkam.


“Sekarang ... mari kita selesaikan masalah kita, Makhluk


Bertubuh Besar,” ujar Rein sembari melangkahkan kakinya mendekati naga itu.


“Tidak. Targetmu bukan dia. Terbanglah dan hancurkan


lantai atas gedung itu ... targetmu sedang berusaha untuk kabur.”


Saat Rein sudah saling berhadapan dengan naga mayat hidup


itu, belum sempat Rein mengayunkan pedangnya, naga itu sudah mengepakkan


sayapnya dan pergi meninggalkan Rein.


“A—apa?! Hei! Mau lari ke mana kau!” seru Rein.


Kedua mata Rein membulat kaget saat melihat ke arah mana


naga itu pergi. Jessie! Rein langsung


berlari secepat mungkin untuk mengejar naga itu.


Tiba-tiba dari bawah aspal yang sudah retak itu, keluar


para pasukan mayat hidup lainnya. Rein tak bisa melanjutkan pengejarannya,


jalannya telah diblokir oleh pasukan mayat hidup itu.


“Sial ... apa maksud dari semua ini?!” geram Rein seraya


menggenggam erat pedangnya yang sudah tidak dilapisi oleh bara api.


“Groooh!”


“Tenang, tetap fokus, Rein. Aku yakin Jessie dan yang


lainnya pasti baik-baik saja. Sekarang lebih baik aku mencari api terdekat!”


***


“Kau sempat bertemu dengan para pengunjung lainnya?!”


tanya Hein tak menghentikan langkahnya.


“Ya! Mereka ada di lantai 2, setidaknya di sana lebih


aman dibandingkan di atas sini,” balas Jessie.


“Teman-teman, hati-hati di sebelah kalian!” seru Ted.


Toko-toko kosong yang berada di dekat mereka tiba-tiba


hancur. Pintu, kaca, bahkan barang-barang yang ada di dalamnya pun berserak dan


ada yang terlempar keluar.


Hein dengan cepat mendorong tubuh kedua sahabatnya


menjauh dari sana. Ketiga orang itu mendapati pemandangan yang amat mengerikan


dan memompa adrenalin.


Puing-puing bangunan yang roboh itu kembali


memperlihatkan sebuah lubang besar. Namun, kini bukanlah pemandangan langit


luar yang dapat dilihat oleh mereka, melainkan seekor naga mengerikan yang


sudah siap untuk mencabik-cabik mereka.