
Hampir sejam Jessie mengelilingi setiap lantai di gedung
pusat perbelanjaan itu.
“Ted! Hein! Kalian mendengarkanku?!” panggil Jessie
berulang-ulang kali.
“Sial ... ini tidak bagus. Apapun itu, aku harap mereka
berdua baik-baik saja,” gumam Jessie seraya kembali menekan ponselnya.
Tiba-tiba Jessie merasakan getaran yang amat kuat. Dengan
cepat, ia berlari dan bersembunyi di salah satu meja restoran di dekat sana.
Terlihat beberapa toko kosong yang sudah ditinggalkan mulai retak,
dinding-dinding hancur dan berserakan. Tak lama puing-puing gedung itu hancur
membentuk sebuah lubang besar.
Dari bawah meja, Jessie dapat melihat langit luar yang
tertutupi oleh gumpalan asap melalui lubang itu.
“Aku ... aku tidak bisa terus-terusan di sini. Aku harus
bergerak.”
Setelah tak merasakan adanya getaran susulan, Jessie
dengan cepat berlari dari zona aman itu dan segera menaiki eskalator.
***
Rein berusaha untuk mengambil nafas. Pasukan mayat hidup
ini lebih sulit dari yang diperkirakan olehnya. Membunuh mereka pun tidak ada
artinya ... mereka memang sudah mati.
“Mereka tetap akan bangkit. Aku ... aku harus memikirkan
cara lain,” batin Rein seraya melirik sekitarnya.
Pandangan Rein terfokuskan pada sekelompok pasukan mayat
hidup yang bergerak maju dengan tertib. Memang tidak ada yang aneh dari
pergerakan mereka. Namun, mereka tampak menghindari area yang dipenuhi oleh
kendaraan-kendaraan yang terbakar.
“Api ... benar! Mereka takut pada api!”
Tanpa berpikir panjang, Rein langsung berlari mendekati
sebuah kendaraan dengan api yang masih membara. Perlahan, Rein memasukkan
pedangnya ke dalam bara api itu.
Beberapa pasukan mayat hidup mulai bergerak menuju Rein. Mereka
memang tak melihat. Namun, indera pendengaran mereka amatlah tajam. Sedikit
suara saja yang kau hasilkan, maka mereka akan langsung memburumu.
Rein menarik pedangnya yang kini dilapisi oleh bara api.
Dengan cepat, Rein menancapkan pedang itu tepat ke dalam tubuh pasukan mayat
hidup yang mulai mengepungnya.
Perkiraan Rein akhirnya berjalan mulus, pasukan mayat
hidup yang sudah dicap oleh pedang api milik Rein perlahan terbakar hingga tak
bersisa.
Rein menyeringai puas. “Jadi, itu kelemahan kalian?
Kemari kalian semua!” serunya.
“Groooh!”
Pasukan-pasukan mayat hidup yang sedang bergerak menuju
sekte lainnya pun terpancing oleh suara Rein. Perlahan, mereka memutar haluan
dan mendatangi Rein.
Rein melemaskan otot lehernya. “Berterima kasihlah padaku
karena aku akan mengirim kalian semua kembali ke tempat kalian yang
seharusnya!” Rein langsung melompat dan menebaskan pedang api miliknya.
“Groooh!”
“Hm ... pertunjukkan yang menarik, Pangeran Rein.”
***
“Jessie? Jessie!”
Jessie mengalihkan pandangannya setelah mendengar
seseorang memanggilnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat Hein yang
tengah berdiri di dalam sebuah ruangan kaca.
Jessie segera berlari menghampiri ruangan itu dan Hein
pun membukanya dengan cepat.
“Hein! Syukurlah kau baik-baik saja!” seru Jessie seraya
memeluk erat sahabatnya itu.
Setelah Hein melepaskan pelukan itu, ia langsung memegang
kedua bahu Jessie dengan kasar.
“He—hein?! Kau kenapa?!” seru Jessie kaget.
“Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau kemari?!” bentak Hein.
“Apa maksudmu?! Tentu saja aku datang untuk menyelamatkan
kalian! Tunggu dulu ... di mana Ted?!”
“A—aku di bawah sini ....”
Jessie menepis kedua tangan Hein dan melewatinya,
perlahan ia menunduk dna mengintip ke kolong meja security itu.
Ted berusaha tersenyum saat netranya bertemu dengan netra
wanita itu. Namun, ia tetap tidak bisa menyembunyikan ketakutannya, tubuhnya
Jessie menarik Ted keluar dan memeluk tubuh sahabatnya
itu. Perlahan, ia mengusap punggungnya dan mengucapkan kata-kata yang
menenangkan.
“Jess ... kau tidak seharusnya kemari ...” lirih Hein.
Jessie melepaskan pelukannya dan mulai memandangi Hein.
“Setelah tau kalian dalam bahaya? Bagaimana bisa aku lari dan bersembunyi
sementara kalian sedang dalam bahaya di sini?!”
“Lalu apa? Kau mau mati juga bareng kami?!” balas Hein.
“Tentu saja tidak! Tidak akan ada yang mati hari ini!
Kita semua pasti selamat! Kita ... dan semua pengunjung di sini!” tegas Jessie.
“Jess ... di mana Rein?” tanya Ted pelan.
“Tenanglah, Ted. Rein sedang berjuang di bawah sana
melawan para pasukan mayat hidup dan—“
“Pasukan mayat hidup?! Kupikir kita hanya diserang oleh
naga mayat hidup?!” sela Hein.
“Aku tau ini memang terdengar aneh. Aku bahkan berharap
ini semua hanyalah mimpi. Tapi, kenyataannya ... kita semua memang di sini,
terperangkap dan hanya bisa mendoakan keberhasilan Rein.”
Ted memegangi pundak Jessie. “Aku percaya pada Rein. Dia
pasti bisa mengalahkan monster-monster itu.”
Jessie mengangguk setuju. Hein pun mengacak-acak
rambutnya dengan asal. “Baiklah, baiklah. Kalau kalian semua percaya padanya,
maka aku juga demikian.”
“Baik, kalau begitu kita akan segera turun dan berkumpul
dengan pengunjung lainnya,” usul Jessie.
Kedua sahabatnya pun mengangguk setuju dan mereka pun
segera meninggalkan lantai itu.
***
“Huff, huff, huff ... sudah selesai?” gumam Rein sembari
menarik keluar pedangnya dari salah satu tubuh mayat hidup yang tak lama
kemudian terbakar.
Setelah menarik nafas panjang. Rein kembali memfokuskan
pandangannya pada sesosok naga mayat hidup yang kini menatapnya dengan tatapan
menerkam.
“Sekarang ... mari kita selesaikan masalah kita, Makhluk
Bertubuh Besar,” ujar Rein sembari melangkahkan kakinya mendekati naga itu.
“Tidak. Targetmu bukan dia. Terbanglah dan hancurkan
lantai atas gedung itu ... targetmu sedang berusaha untuk kabur.”
Saat Rein sudah saling berhadapan dengan naga mayat hidup
itu, belum sempat Rein mengayunkan pedangnya, naga itu sudah mengepakkan
sayapnya dan pergi meninggalkan Rein.
“A—apa?! Hei! Mau lari ke mana kau!” seru Rein.
Kedua mata Rein membulat kaget saat melihat ke arah mana
naga itu pergi. Jessie! Rein langsung
berlari secepat mungkin untuk mengejar naga itu.
Tiba-tiba dari bawah aspal yang sudah retak itu, keluar
para pasukan mayat hidup lainnya. Rein tak bisa melanjutkan pengejarannya,
jalannya telah diblokir oleh pasukan mayat hidup itu.
“Sial ... apa maksud dari semua ini?!” geram Rein seraya
menggenggam erat pedangnya yang sudah tidak dilapisi oleh bara api.
“Groooh!”
“Tenang, tetap fokus, Rein. Aku yakin Jessie dan yang
lainnya pasti baik-baik saja. Sekarang lebih baik aku mencari api terdekat!”
***
“Kau sempat bertemu dengan para pengunjung lainnya?!”
tanya Hein tak menghentikan langkahnya.
“Ya! Mereka ada di lantai 2, setidaknya di sana lebih
aman dibandingkan di atas sini,” balas Jessie.
“Teman-teman, hati-hati di sebelah kalian!” seru Ted.
Toko-toko kosong yang berada di dekat mereka tiba-tiba
hancur. Pintu, kaca, bahkan barang-barang yang ada di dalamnya pun berserak dan
ada yang terlempar keluar.
Hein dengan cepat mendorong tubuh kedua sahabatnya
menjauh dari sana. Ketiga orang itu mendapati pemandangan yang amat mengerikan
dan memompa adrenalin.
Puing-puing bangunan yang roboh itu kembali
memperlihatkan sebuah lubang besar. Namun, kini bukanlah pemandangan langit
luar yang dapat dilihat oleh mereka, melainkan seekor naga mengerikan yang
sudah siap untuk mencabik-cabik mereka.