Vermillion

Vermillion
Chapter 16 : Perasaan



Setelah selesai mengisi perut kosong mereka. Jessie menatap jam dindingnya yang baru menunjukkan pukul 7.30.


“Nah, Rein. Bagaimana menurutmu suasana luar barusan?”


“Menyenangkan. Langit pagi disini begitu indah.”


“Owh. Kau mau jalan-jalan? Aku rasa tidak ada salahnya aku memperkenalkan lingkungan sekitar sini padamu! Ayo!” Jessie kembali menarik paksa lengan Rein.


***


“Disana, tempat aku bekerja,” ucap Jessie seraya menunjuk toko tempat ia bekerja.


Rein mengangguk.


“Tak jauhkan dari apartemenku?”


Rein kembali mengangguk.


“Biasa aku membeli semua keperluan sehari-hariku disana! Seperti telur, sayur, kopi, sabun pembersih, yah ... banyaklah! Kau juga bisa membeli makanan ringan disana! Kau mau coba melihat-lihat ke dalam?”


“Um, boleh.”


“Baik! Ayoo!”


Di dalam toko kelontong. Ibu pemilik toko langsung menyambut Jessie dengan senyuman pagi.


“Eh, Jessie. Tumben datang pagi-pagi sekali?” Mata ibu pemilik toko itu kini berganti memandangi Rein.


Jessie menyadari perpindahan bola mata ibu pemilik toko tersebut. “D-dia Rein, Bu! Teman baru Jessie. Hari ini Jessie sedang memperkenalkan lingkungan sekitar sini padanya.”


“Oh, salam kenal kalau begitu. Kau baru kemari ya?”


Rein membalas dengan membungkukkan badannya. “Iya.”


“Haha, oh! Rambutnya?”


“Ah, cat, ibunya pemilik salah satu salon ternama. Ibunya memilihnya sebagai model, benarkan? Haha!”


“Ah ... benar.”


“Oh! Iya, iya, iya. Keren ya! Ibu juga sebenarnya mau mewarnai rambut Ibu, hanya saja suami Ibu melarang Ibu melakukannya. Menyebalkan sekali, bukan?”


“Haha ... mungkin, um ... ah! Suami Ibu takut ada pria lain yang melirik,” ujar Jessie, spontan mengundang tawa pecah ibu pemilik toko.


“Ahaha ... Jessie bisa saja. Ibukan jadi malu.”


“Nah, kau coba lihat-lihat saja ke sana! Kalau ada yang menarik perhatianmu, bawa saja, oke?!”


Rein mengangguk dan mulai mengelilingi setiap rak yang ada disana. Sementara Jessie kembali berbincang-bincang dengan ibu pemilik toko.


Setelah beberapa menit berlalu, Rein kembali menghampiri Jessie dengan tangan kosong. Jessie mengangkat sebelah alis matanya. “Kau tidak tertarik pada satu barangpun?”


Rein mengangguk pelan. “Tapi, aku senang kau sudah mengajakku kemari.”


Jessie spontan merona, lalu dengan cepat ia memalingkan wajahnya. “I-ibu! Aku permisi dulu! Aku akan kembali nanti siang!” seru Jessie.


“Iya! Hati-hatilah!” Terdengar seruan ibu pemilik toko yang berasal dari lantai atas.


“Ayo, masih ada 5 jam lagi sebelum aku masuk kerja.”


“Baik!”


***


Setelah 2 jam berkeliling, Jessie memutuskan untuk mengistirahatkan kakinya. Mereka berdua duduk di sebuah bangku yang berada di tengah lapangan bermain.


“Ah ... ngomong-ngomong, Ted dan Hein, mereka tidak tinggal di daerah sini?”


“Hm? Tidak, maksudku dulunya sih iya, tapi sekarang sudah tidak lagi.”


“Kau sudah berapa lama tinggal disini?”


“Um, cukup lama, mungkin sudah 15 tahun.”


“Oh ... kenapa mereka pergi dari sini? Lingkungan disini sudah sangat nyaman menurutku.”


“Um, Hein pindah karena memang keputusan orangtuanya yang ingin tinggal di pusat kota. Sementara Ted, dia pindah karena masalah ekonomi. Mereka bisa dibilang keluarga yang cukup besar. Biaya hidup mereka tentunya bakal lebih besar lagi. Dan jika suatu hari keluarga besar itu ditawarkan sebuah rumah gratis, apa menurutmu mereka akan menolak?”


“Tidak.”


Jessie tersenyum tipis. “Ya, begitulah. Mau tak mau kami harus terpisah, tapi itu bukan berarti kami tidak bisa bertemu lagi, kan? Hein selalu mengajak Ted kemari dengan mengayuh sepeda pemberian ayahnya. Jadi setiap sore, kami akan selalu bermain disini.”


“Haha, kau sendiri? Kau bilang kau punya teman kecil juga, kan? Siapa namanya? Sel? Sel apa?”


“Selene ... ibu Selene dan ibuku berteman baik. Jadi, mau tak mau setiap hari kami jadi sering bertemu. Pada akhirnya hubungan kami juga sama seperti hubungan kedua ibu kami.”


Jessie mengangguk-angguk pelan. “Maaf ya, aku yakin kau pasti akan bertemu lagi dengan teman kecilmu itu.”


“Iya, aku yakin Selene akan baik-baik saja. Dia adalah wanita paling kuat yang pernah kutemui.”


Jessie masih memandangi wajah Rein dari samping. “Hm ... begitu ya? Aku jadi penasaran dengan temanmu ini ....”


“Aku yakin Selene juga akan senang bertemu denganmu. Kalian berdua hampir mirip menurutku.”


Jessie mengerjapkan matanya berkali-kali. “Maksudmu?”


“Ah ... caramu memperlakukan Hein dan Ted, haha ... terkadang Selene juga melakukan hal yang sama seperti itu padaku.”


“Owh ... haha ... begitu ya.”


“Oh iya. Ke mana kedua orangtuamu?”


Kedua netra Jessie membulat kaget. Rein sedikit memiringkan kepalanya.


“Jess?”


“Ah ... aku sudah tidak capek! Ayo, kita lanjut lagi!” Jessie langsung bangkit berdiri dan berjalan pergi.


“H-hei, J-jess!”


***


Di depan apartemen Jessie.


“Huff ... kau masuklah, aku harus ke tempat kerjaku sekarang.”


“Kau tidak mau duduk sebentar? Minum sesuatu mungkin? Kita juga baru sampai, kan?”


“Tidak, tak usah. Kalau kau lapar, kau sudah bisa menggoreng telur sendiri, kan? Hehe ... di rice cooker masih ada sisa nasi semalam, kau panaskan saja terlebih dahulu.”


“B-baiklah.”


“Kalau begitu, dadah!” Jessie langsung mengunci pintu dari luar.


“Aku rasa dia memang tidak ingin membahas soal keluarganya. Aku harus meminta maaf padanya. Huff ... aku harap pertanyaanku barusan tidak mengganggu pikirannya atau bahkan mengundang kenangan buruk kembali padanya.”


***


Jam menunjukkan pukul 15.30, Jessie masih termenung di meja kasir. Ibu pemilik toko yang sedari tadi bolak-balik mengecek stok barang pun menyadarinya, ia langsung menghampiri Jessie.


“Jess?”


Tidak ada jawaban.


“Haha ... Jessie!”


“Ah! Hah?! Oh! Iya? Ada apa, Bu?”


“Haha ... kamu kenapa, Jess?


“Ah? Aku? Tak apa, tidak ada apa-apa, iya, haha!”


“Oh ... apa karena teman cowok baru kamu itu, ya?” goda ibu pemilik toko.


“Eh?! T-tidak, ini tidak ada hubungannya sama dia kok! Beneran, hahah!”


Ibu pemilik toko tersenyum lembut. “Kalau kamu jatuh cinta, menurut Ibu sih itu sudah wajar, Jess. Lagian kamu juga udah mau masuk usia yang ke 19 tahun, kan? Udah lewat lah masa-masa cinta monyet.”


Wajah Jessie langsung memerah padam. “I-ibu bicara apa sih?! J-jessie ga sedang jatuh cinta tuh!”


“Ohh ... benarkahh?”


“Benarr!”


“Haha! Untuk sekarang mungkin Jessie masih belum menyadarinya. Tapi, Ibu yakin ke depannya Jessie mungkin akan lebih mengerti soal perasaan Jessie sendiri.”


Jessie tersentak akan perkataan ibu pemilik toko barusan. Jessie hanya bisa mengangguk pelan dan berusaha tersenyum saat ibu pemilik toko memegangi pundaknya.


“Lagian menurut Ibu, ya, Jess. Kalian cocok kok,” goda ibu pemilik toko sembari berjalan pergi, meninggalkan Jessie yang wajahnya kini kembali memerah padam.


“Kyaa! Tidak mungkin! Mana mungkin aku suka dengan pria aneh seperti dia! Apalagi sampai jatuh cinta! Tidak! Tidak akan pernahh!” teriak Jessie dalam hati.