Vermillion

Vermillion
Chapter 32 : Percaya



Rein memegangi pundak Jessie, memutar tubuh wanita itu


pelan menghadapnya.


“Maaf ... seharusnya aku tidak bertanya mengenai masa


lalumu.”


Jessie tersenyum kecil dan menggeleng pelan. “Tidak, aku


yang ingin bercerita. Kau tidak perlu meminta maaf, Rein.”


Perlahan, Jessie melingkarkan kedua tangannya pada tubuh


tegap Rein, memeluk pria di hadapannya itu dengan erat.


“Kalau saja ... kalau saja keluargaku memiliki kemampuan


seperti yang kau katakan ... mereka mungkin bisa bertemu denganmu juga


sekarang.”


“Jess ....”


“Aku ... aku takut sekali ... bagaimana kalau nantinya


giliranku yang menyusul mereka? Dunia ini ... begitu kejam. Pembunuh itu bahkan


masih belum ditemukan, tapi pihak kepolisian sudah menutup kasus itu sejak


lama.”


Rein terdiam, di saat seperti ini, dia tidak tau harus


berkata seperti apa. Rein hanya membalas memeluk erat tubuh ramping wanita itu


dan membelai rambutnya dengan pelan.


“Orang-orang yang sekelas dengan adikku ... mereka bahkan


tidak merasa bersalah sedikitpun. Guru-guru berusaha keras merahasiakan


kejadian itu agar nama sekolah mereka tidak tercoreng. Tidakkah menurutmu,


orang-orang yang sekelas dengan adikku itu secara tidak langsung sudah membunuh


adikku?”


Rein menatap Jessie yang kini menatap balik dirinya


begitu dalam. Ia hanya bisa menjawab pertanyaan wanita itu dengan ‘um’, namun


tidak lagi dilanjutkan.


Jessie kembali menunduk. “Ah ... maafkan aku. Aku


seharusnya tidak menanyakan hal-hal yang tidak kau mengerti.”


“Tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Di saat


seperti ini, aku malah tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ingin sekali membantumu,


tapi ... untuk menjawab pertanyaan yang mungkin bisa melegakan perasaanmu saja


aku tidak bisa,” ungkap Rein seraya memalingkan wajahnya.


Jessie memegang wajah Rein dan membuatnya menatapnya.


“Tatap aku, Rein.”


“Jess ....”


Jessie tersenyum lembut. “Aku rasa aku sudah bisa


mempercayaimu sekarang.”


Rein tersontak. “A—apa?”


Jessie akhirnya tertawa pelan. “Dari matamu, aku bisa tau


kau itu tidak berbohong, Rein. Maafkan aku yang selama ini menganggapmu orang


yang aneh, tak hanya itu aku sampai mengira kau ini orang gila. Hahah! Maafkan


aku, ya?”


Rein tersenyum tipis. “Tak apa. Terima kasih sudah mau


mempercayaiku.”


Jessie menggeleng pelan. “Apa di planetmu itu memang


semembosankan itu?”


“Huh?”


“Kulihat kau lebih banyak tidak taunya dengan barang


ataupun tempat-tempat yang ada di sini.”


“Ah ... benar, di planetku itu langitnya selalu berwarna


merah di malam hari. Lalu, ada beberapa kerajaan besar yang terbagi di sana,


masing-masing kerajaan memiliki wilayahnya sendiri. Tiap wilayah kecil terbagi


menjadi tempat tinggal para kaum elf, naga, lizard, goblin, bahkan sampai orc—“


“Benar-benar aneh.”


Rein mengangkat sebelah alis matanya dan memandangi


wanita di hadapannya itu dengan heran. “Per—permisi?”


“Hahah ... maaf. Maksudku kalaupun kau tiba-tiba


mengajakku ke planetmu, mungkin saja giliran orang-orangmu yang akan


menganggapku aneh, bukan?”


“Haha ... seperti aku yang tersesat di sini, ya?”


menyisir pelan rambut merah milik Rein, menyelipkan poni itu pada telinganya.


“Perasaan ... apa ini?” batin Rein yang tiba-tiba


merasakan jantungnya yang mulai berdegup kencang.


“Aku bertanya-tanya ...” mulai Jessie, memecahkan


keheningan itu.


“I—iya?” jawab Rein, setelah bersusah payah menelan


ludah.


“Kehadiranmu di sini ... pertemuan kita ... apakah itu


adalah hal yang baik atau buruk untukku?”


“Ke—kenapa?”


“Sejak aku ditinggalkan oleh adikku, aku baru mulai


merasakan yang namanya kesepian. Walaupun Ted dan Hein selalu mengunjungiku.


Tetap saja, mereka tidak bisa terus-terusan menemaniku, ada keluarga mereka


yang masih menunggu kepulangan mereka. Di saat itulah, apartemen ini kembali ke


suasana yang paling kubenci, sepi dan sunyi.”


“Lalu?”


“Suatu hari aku berdoa dan memohon, yang kuinginkan


hanyalah seseorang yang bisa menemaniku ... di tempat yang sunyi ini. Apakah


Tuhan sekarang sudah mengabulkan permohonanku? Apakah kau orang itu, Rein?”


“Ah ... aku, aku tidak tau.”


“Berjanjilah padaku, Rein.” Jari jemari Jessie mulai


meremas erat pakaian Rein.


“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku sendirian di


sini.”


Rein tertegun. Perlahan, ia mengangkat wajah Jessie untuk


menatapnya. “Kenapa ... kenapa kau menangis, Jess?”


Jessie tertawa pelan, ia pun mengusap kedua matanya.


“A—aku juga tidak tau, haha ... ada apa sih denganku hari ini ... mulai


berbicara yang tidak masuk akal ... sniff, astaga ... ja—jangan pedulikan aku,


Rein. a—aku baik-baik saja, aku memang sedang tidak sehat hari i—“


Kedua mata Jessie membulat kaget. Jantungnya mulai


berdegup kencang dan siap untuk melompat keluar. Netranya berusaha menangkap


netra milik pria di hadapannya itu, namun, pria itu menutup kedua matanya.


Kehabisan nafas, itulah yang sekarang Jessie rasakan.


Wajahnya mulai memerah padam. Suhu tubuhnya semakin memanas. Namun, Rein tak


kunjung melepaskan ciuman lembut itu.


Setelah beberapa menit berlalu, Rein yang mulai kehabisan


udara pun melepas ciuman singkat itu. Wajahnya pun sama merahnya dengan milik


Jessie.


Keduanya tak berani untuk berkontak mata. Mereka kompak


menundukkan kepala mereka dan mengambil oksigen.


“Re—rein ... Rein barusan ... menciumku?” batin Jessie


tak percaya.


“A—apa ... apa yang kupikirkan?!” teriak Rein dalam hati.


“Uh ...” mulai mereka berdua bersamaan.


Saat kedua netra mereka bertemu, spontan Rein memalingkan


wajahnya keluar jendela, begitu juga dengan Jessie yang kembali menundukkan


kepalanya.


“K—kau duluan saja,” ucap Jessie.


“Ti—tidak, wanita lebih dulu,” balas Rein.


Jessie memejamkan matanya dan meremas erat sudut


pakaiannya. “Masa bodoh! D—dia juga sudah menciumku lebih dulu! Un—untuk apa


aku mempertahankan egoku lagi!”


Jessie perlahan melingkarkan pergelangan tangannya pada


leher Rein dan menarik Rein kembali ke dalam ciumannya.


Walaupun sempat kaget, Rein pun akhirnya membalas


menciumnya dengan lembut. Hanya langit malam biru nan indah yang menyaksikan


pasangan itu dari balik jendela atau tidak?


“Reinford Vermillion ... di sini kau rupanya ....”