
Rein memegangi pundak Jessie, memutar tubuh wanita itu
pelan menghadapnya.
“Maaf ... seharusnya aku tidak bertanya mengenai masa
lalumu.”
Jessie tersenyum kecil dan menggeleng pelan. “Tidak, aku
yang ingin bercerita. Kau tidak perlu meminta maaf, Rein.”
Perlahan, Jessie melingkarkan kedua tangannya pada tubuh
tegap Rein, memeluk pria di hadapannya itu dengan erat.
“Kalau saja ... kalau saja keluargaku memiliki kemampuan
seperti yang kau katakan ... mereka mungkin bisa bertemu denganmu juga
sekarang.”
“Jess ....”
“Aku ... aku takut sekali ... bagaimana kalau nantinya
giliranku yang menyusul mereka? Dunia ini ... begitu kejam. Pembunuh itu bahkan
masih belum ditemukan, tapi pihak kepolisian sudah menutup kasus itu sejak
lama.”
Rein terdiam, di saat seperti ini, dia tidak tau harus
berkata seperti apa. Rein hanya membalas memeluk erat tubuh ramping wanita itu
dan membelai rambutnya dengan pelan.
“Orang-orang yang sekelas dengan adikku ... mereka bahkan
tidak merasa bersalah sedikitpun. Guru-guru berusaha keras merahasiakan
kejadian itu agar nama sekolah mereka tidak tercoreng. Tidakkah menurutmu,
orang-orang yang sekelas dengan adikku itu secara tidak langsung sudah membunuh
adikku?”
Rein menatap Jessie yang kini menatap balik dirinya
begitu dalam. Ia hanya bisa menjawab pertanyaan wanita itu dengan ‘um’, namun
tidak lagi dilanjutkan.
Jessie kembali menunduk. “Ah ... maafkan aku. Aku
seharusnya tidak menanyakan hal-hal yang tidak kau mengerti.”
“Tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Di saat
seperti ini, aku malah tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ingin sekali membantumu,
tapi ... untuk menjawab pertanyaan yang mungkin bisa melegakan perasaanmu saja
aku tidak bisa,” ungkap Rein seraya memalingkan wajahnya.
Jessie memegang wajah Rein dan membuatnya menatapnya.
“Tatap aku, Rein.”
“Jess ....”
Jessie tersenyum lembut. “Aku rasa aku sudah bisa
mempercayaimu sekarang.”
Rein tersontak. “A—apa?”
Jessie akhirnya tertawa pelan. “Dari matamu, aku bisa tau
kau itu tidak berbohong, Rein. Maafkan aku yang selama ini menganggapmu orang
yang aneh, tak hanya itu aku sampai mengira kau ini orang gila. Hahah! Maafkan
aku, ya?”
Rein tersenyum tipis. “Tak apa. Terima kasih sudah mau
mempercayaiku.”
Jessie menggeleng pelan. “Apa di planetmu itu memang
semembosankan itu?”
“Huh?”
“Kulihat kau lebih banyak tidak taunya dengan barang
ataupun tempat-tempat yang ada di sini.”
“Ah ... benar, di planetku itu langitnya selalu berwarna
merah di malam hari. Lalu, ada beberapa kerajaan besar yang terbagi di sana,
masing-masing kerajaan memiliki wilayahnya sendiri. Tiap wilayah kecil terbagi
menjadi tempat tinggal para kaum elf, naga, lizard, goblin, bahkan sampai orc—“
“Benar-benar aneh.”
Rein mengangkat sebelah alis matanya dan memandangi
wanita di hadapannya itu dengan heran. “Per—permisi?”
“Hahah ... maaf. Maksudku kalaupun kau tiba-tiba
mengajakku ke planetmu, mungkin saja giliran orang-orangmu yang akan
menganggapku aneh, bukan?”
“Haha ... seperti aku yang tersesat di sini, ya?”
menyisir pelan rambut merah milik Rein, menyelipkan poni itu pada telinganya.
“Perasaan ... apa ini?” batin Rein yang tiba-tiba
merasakan jantungnya yang mulai berdegup kencang.
“Aku bertanya-tanya ...” mulai Jessie, memecahkan
keheningan itu.
“I—iya?” jawab Rein, setelah bersusah payah menelan
ludah.
“Kehadiranmu di sini ... pertemuan kita ... apakah itu
adalah hal yang baik atau buruk untukku?”
“Ke—kenapa?”
“Sejak aku ditinggalkan oleh adikku, aku baru mulai
merasakan yang namanya kesepian. Walaupun Ted dan Hein selalu mengunjungiku.
Tetap saja, mereka tidak bisa terus-terusan menemaniku, ada keluarga mereka
yang masih menunggu kepulangan mereka. Di saat itulah, apartemen ini kembali ke
suasana yang paling kubenci, sepi dan sunyi.”
“Lalu?”
“Suatu hari aku berdoa dan memohon, yang kuinginkan
hanyalah seseorang yang bisa menemaniku ... di tempat yang sunyi ini. Apakah
Tuhan sekarang sudah mengabulkan permohonanku? Apakah kau orang itu, Rein?”
“Ah ... aku, aku tidak tau.”
“Berjanjilah padaku, Rein.” Jari jemari Jessie mulai
meremas erat pakaian Rein.
“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku sendirian di
sini.”
Rein tertegun. Perlahan, ia mengangkat wajah Jessie untuk
menatapnya. “Kenapa ... kenapa kau menangis, Jess?”
Jessie tertawa pelan, ia pun mengusap kedua matanya.
“A—aku juga tidak tau, haha ... ada apa sih denganku hari ini ... mulai
berbicara yang tidak masuk akal ... sniff, astaga ... ja—jangan pedulikan aku,
Rein. a—aku baik-baik saja, aku memang sedang tidak sehat hari i—“
Kedua mata Jessie membulat kaget. Jantungnya mulai
berdegup kencang dan siap untuk melompat keluar. Netranya berusaha menangkap
netra milik pria di hadapannya itu, namun, pria itu menutup kedua matanya.
Kehabisan nafas, itulah yang sekarang Jessie rasakan.
Wajahnya mulai memerah padam. Suhu tubuhnya semakin memanas. Namun, Rein tak
kunjung melepaskan ciuman lembut itu.
Setelah beberapa menit berlalu, Rein yang mulai kehabisan
udara pun melepas ciuman singkat itu. Wajahnya pun sama merahnya dengan milik
Jessie.
Keduanya tak berani untuk berkontak mata. Mereka kompak
menundukkan kepala mereka dan mengambil oksigen.
“Re—rein ... Rein barusan ... menciumku?” batin Jessie
tak percaya.
“A—apa ... apa yang kupikirkan?!” teriak Rein dalam hati.
“Uh ...” mulai mereka berdua bersamaan.
Saat kedua netra mereka bertemu, spontan Rein memalingkan
wajahnya keluar jendela, begitu juga dengan Jessie yang kembali menundukkan
kepalanya.
“K—kau duluan saja,” ucap Jessie.
“Ti—tidak, wanita lebih dulu,” balas Rein.
Jessie memejamkan matanya dan meremas erat sudut
pakaiannya. “Masa bodoh! D—dia juga sudah menciumku lebih dulu! Un—untuk apa
aku mempertahankan egoku lagi!”
Jessie perlahan melingkarkan pergelangan tangannya pada
leher Rein dan menarik Rein kembali ke dalam ciumannya.
Walaupun sempat kaget, Rein pun akhirnya membalas
menciumnya dengan lembut. Hanya langit malam biru nan indah yang menyaksikan
pasangan itu dari balik jendela atau tidak?
“Reinford Vermillion ... di sini kau rupanya ....”