
Jessie melepaskan dirinya dari dekapan Rein, ia kembali
memandang keluar jendela. Membiarkan angin malam bermain dengan wajah dan
rambutnya.
“... Kejadian itu terjadi tepat di saat usiaku masih 10
tahun, hari itu ayahku memutuskan untuk keluar dari rumah keluarga besarku dan
mencari tempat tinggal sendiri untuk keluarga kecilnya.”
***
“Tidak ada satu orangpun di rumah ini yang menghormatiku!
Padahal aku ini adalah anak tertua sekaligus kakak kalian!”
“Kenapa lagi kali ini?” gerutu seorang wanita tua yang
sedang menuruni tangga.
“Ibu ... lihatlah mereka! Mereka lagi-lagi tak
menghormatiku!”
“Dean ... sebagai seorang kakak seharusnya kau tidak lagi
merengek pada Ibu di saat seperti ini, kau juga sudah menjadi seorang kepala
rumah tangga, ada istri dan kedua anak yang harusnya lebih kau urusi.”
“Aku juga tau hal itu, Ibu! Hanya saja—“
“Kalau kau tau? Kenapa kau masih merengek juga sekarang?”
sela wanita tua itu dingin.
“Aku bukannya ingin merengek, Ibu! Aku sangat lelah,
pekerjaanku menumpuk, ditambah lagi dengan semua permasalahan di rumah ini.
Kenapa harus aku juga yang menyelesaikannya?”
“Kau kan kakak, itu sudah tanggungjawabmu,” jawab wanita
tua itu santai.
“Tapi aku juga masih ada keluarga yang harus kuurus!”
“Memangnya kami bukan keluargamu juga? Kau seharusnya
sadar, Dean. Kau sudah menikah dan istri anakmu juga menetap di sini.”
“Lalu kenapa kalau mereka menetap di sini? Istriku juga
yang mengurus rumah ini, Renne dan Rianne bahkan tidak membantunya sedikitpun!”
“Jadi, sekarang kau mau menyalahkan adik-adikmu?”
“Sudahlah, berbicara pada Ibu juga hasilnya sama saja.
Ibu hanya akan membela mereka!” Pria yang baru memasuki usia kepala empat itu
pun meninggalkan ruang tamu.
“Dean! Dean!”
Di luar rumah mewah itu. Terlihat sebuah mobil yang
keluar dari bagasi.
“Anak-anak cepat masuk ke dalam mobil.”
“Kita mau ke mana, Ma?”
“Masuk dulu ya, Jess. Nanti di dalam baru Mama cerita.”
Jessie pun mengangguk dan mengajak adik laki-lakinya
masuk ke dalam mobil.
“Kita mau jalan-jalan, ya, Kak Jess?”
“Ga tau juga, Jack. Kata Mama nanti di dalam baru cerita,
kau masuk dulu.”
“Baik, Kak!”
Walaupun sudah
duduk tenang di dalam mobil, aku tidak berani bertanya pada Mama yang duduk
termenung di sebelah Papa. Suasana di dalam mobil pada hari itu terasa sangat
lain. Bahkan adikku, Jack, yang biasanya selalu heboh dan suka bertanya-tanya
pun hanya duduk manis saja. Jack tampaknya mengerti akan situasi itu dan sama
sepertiku, ia pun tak berani untuk bertanya.
***
“Ayo, turun, kita sudah sampai!” ucap Papa, berhasil
membangunkan kedua bocah yang sudah tertidur di belakang.
“Haha ... Mama tidak sadar kalian tertidur, maaf, ya?”
“T-tak apa, Ma! Kita sekarang ada di mana?”
“Kenapa Jessie tidak turun dan melihatnya?” usul Papa.
“Jack juga mau lihat!”
“Ikut kakaknya, ya! Hati-hati saat turun!”
“Iya!”
Di depan mobil, Jessie dan Jack menatapi rumah bertingkat
itu dengan ekspresi takjub.
“Setidaknya ini lebih baik untuk kita semua, kan? Kau
tidak perlu capek-capek mengurusi mereka lagi, waktumu bersama anak-anak juga
lebih banyak.” Papa merangkul Mama dan mengecup kening istrinya pelan.
“Terima kasih ya ....”
Papa tersenyum. “Nah, mari kita ke rumah baru kita!”
“Hore!”
Di depan apartemen no 29. Setelah Papa membuka pintu itu,
kedua bocah itu langsung menerobos masuk.
“Wah! Tempat ini sangat bagus!” seru Jessie.
Jack mengangguk-angguk setuju. “Jack mau lihat dapurnya!”
Bocah laki-laki itu langsung berlari meninggalkan Jessie.
“Tunggu, Jack!”
“Apa ini tidak akan menambah pengeluaranmu?” tanya Mama
khawatir.
“Tenang saja, aku mendapat harga yang sangat murah untuk
apartemen ini. Kau tidak perlu terlalu memikirkannya, lebih baik kita
melihat-lihat dulu sekelilingnya. Aku takut kalau ada beberapa kerusakan yang
parah di sini, makanya dia memberi harga semurah itu.”
“Baiklah.”
***
“Hanya ada dua kamar?” tanya Mama heran.
“Iya, kelihatannya Jessie dan Jack perlu berbagi kamar,
ya?”
“Haah? Tidak! Jessie mau tidur sendiri!” seru Jessie
sembari menggembungkan pipinya.
“Hm, kalau begitu, Jack tidurnya bareng Papa sama Mama
aja ya?” ucap Papa lembut.
Jack memanyunkan bibirnya, lalu mengangguk pelan. Papa
langsung tertawa kecil dan mengelus rambut bocah laki-laki itu.
“Tapi, Jack yang lebih dulu memilih kamar, ya!”
“Ya sudah! Yang penting Jessie ga mau satu kamar dengan
Jack!”
Beberapa menit kemudian, Jessie dan Jack kembali terlibat
pertengkaran kecil hanya karena masalah kamar.
“Tapi, Jessie lebih suka dengan kamar yang itu!”
“Tapi, Kakak kan sudah janji kalau Jack yang memilih
lebih dulu!”
Mama yang mendengar perkelahian itu dari dapur, mau tak
mau akhirnya naik dan menengahi mereka.
“Sudah, sudah. Jessie, kamu kan sudah janji sama Jack.
Jadi biarkan kamar itu menjadi kamarnya, ya?
“Hmph! Ya sudah, aku ngalah!”
“Nah, gitu dong!”
“Ayo, sekarang Jessie mandi lebih dulu ya, soalnya Mama
lagi masak. Nanti setelah Jessie selesai, baru Mama mandiin Jack, ya?”
“Jack mau mandi sendiri juga kayak Kak Jess, Ma ....”
“Haha ... yakin bisa?”
Jack langsung mengangguk mantap dan tersenyum ceria.
“Huff, ya sudah. Nanti dibantu ya adiknya, Jess. Mama
masak dulu,” Mama pun meninggalkan kamar Jack dan segera ke dapur.
“Jack tunggu di sini dulu ya! Kakak mau mandi dulu! Nanti
kalau sudah selesai, Kakak pasti kemari bantuin Jack, oke?”
Jack langsung menghormat. “Siap, Kak!”
Malamnya, kami
pun makan bersama di dapur. Suasana baru kembali tercipta, namun kali ini lebih
menyenangkan dan nyaman. Berbeda sekali saat makan bersama di rumah nenek, hari
itu ... untuk pertama kalinya, aku merasa sangat bahagia dan tidak ingin
melupakan momen itu.
Beberapa bulan
sudah kami lewati dengan tinggal di apartemen itu. Walaupun nyaman, tetap saja
aku merasa bosan. Tidak ada penghuni lainnya di sekitar sini, kalaupun ada,
mereka lebih memilih untuk tinggal di apartemen lantai bawah.”
Hari ini adalah
hari pertama aku bertemu dengan Hein dan Ted. Aku yang merasa bosan waktu itu
memutuskan untuk berjalan keluar dari apartemen dan bergegas menuju balkon.
Dari sana aku memandangi jalan yang sunyi, sesekali aku bersiul dan merasakan
angin pagi yang menyegarkan.
“Hei?! Kau yang bersiul, ya?”
Aku spontan membuka kedua mataku dan kembali menatap ke
bawah. Benar, seorang anak laki-laki kurus dan gemuk menatapiku dengan heran.
Itulah mereka, Hein dan Ted.
“Benar ... apa ada yang salah?”
“Tidak ada sih, tapi ... aku belum pernah melihatmu
sebelumnya? Kau baru di sini?” tanya Ted.
“Iya! Aku baru pindah! Salam kenal, aku Jessie Reivel!”
“Halo! Aku Hein dan dia Ted!”
“Hm ... kalian tidak punya nama lengkap sepertiku, ya?”
“Aku tidak ada sih, tapi Hein, kau mungkin tidak akan mau
mendengarnya,” ungkap Ted.
“Kenapa?”
“Aku sendiri malas menyebutkan namaku,” timpal Hein.
Aku langsung bergegas menuruni tangga dan menghampiri
mereka. Setibanya di hadapan mereka, aku langsung mengulurkan tanganku pada
mereka.
“Mari kita ulangi lagi perkenalan kita, tapi kali ini
dengan berjabat tangan, ya!”
Kedua bocah laki-laki itu saling berpandangan heran, lalu
mereka pun tertawa pelan dan kembali memandangi Jessie.
Ted yang lebih dulu menerima uluran tangan Jessie. “Ted,
senang berkenalan denganmu!”
“Jessie Reivel! Senang berkenalan denganmu!”
Kini giliran Hein yang menerima ulurang tangan Jessie.
“Hein James Holven Van Yuten Chris De Fleurs. Panggil saja aku Hein.”
Jessie menganga lebar. “Holven Van apa?”
“Hein saja.”
“Haha! Baiklah, Jessie Reivel. Panggil saja aku Jess!”
Mereka berdua
yang awalnya hanya orang asing yang bertanya padaku karena suara siulanku pun
menjadi teman pertamaku sekaligus sahabat terbaikku sampai sekarang.