Vermillion

Vermillion
Episode 27 : Eksperimen Gagal



“Sesuatu yang mirip seperti mereka muncul dan bisa


dibilang cukup ganas.”


“Bisakah Pangeran mendeskripsikannya lebih detail lagi


padaku?”


“Ah ... mereka berkulit biru pucat, mata mereka membulat


lebar, air lengket mengalir terus-menerus dari mulut mereka, dan mereka


mengeluarkan bunyi seperti binatang buas.”


“Air lengket? Maksudnya air liur?” tanya Hein pada kedua


sahabatnya.


“Shh ... diamlah, Hein,” balas Ted seraya kembali melirik


ke luar jendela.


“Hm ... kalau menurut spekulasiku, sepertinya itu adalah


sebuah hasil dari kegagalan eksperimen.”


“Eksperimen?” ulang Rein tak mengerti.


“Benar, sama seperti Dunan, kami manusia juga memiliki


rasa ingin tau yang tinggi. Ponsel yang kuberikan kepada Pangeran, itu


merupakan hasil dari rasa ingin tau itu.”


“Oh ... jadi, begitu.”


“Terkadang tidak semua yang ingin diciptakan berjalan


mulus. Itulah penyebab kegagalan eksperimen itu terjadi. Kita yang hanya


dibekali oleh rasa ingin tau, tentunya akan memulai mencoba merancang sesuatu


yang sudah terlintas dibenak kita. Percobaan itulah yang dinamakan eksperimen.


Berhasil ataupun gagal, kedua hal itu akan menjadi hasil akhirnya. Jika


berhasil, kita sudah berhasil menciptakan sesuatu yang terlintas dibenak kita.


Kalaupun gagal, itu berarti kita belum berhasil dan jika Pangeran adalah orang


yang mudah menyerah, maka Pangeran mungkin akan meninggalkannya begitu saja.


Tapi, jika Pangeran adalah orang yang pantang menyerah, gagal beribu kalipun


tidak akan mematahkan semangat Pangeran untuk menciptakan ide Pangeran itu.”


Ketiga orang yang duduk di belakang tampak serius


mendengarkan pembicaraan dua orang di depan mereka.


“Jujur saja, aku tidak suka pelajaran Biologi, Fisika,


dan Kimia,” gerutu Hein yang langsung disikut oleh Ted.


“Aku masih tidak mengerti, bagaimana dengan eksperimen


gagal yang ada di rumah sakit itu? Mereka menciptakan sesuatu yang mirip


seperti rupa mereka namun lebih mengerikan. Untuk apa?”


“Aku takut kalau aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu


barusan, Pangeran. Kita tidak bisa menebak jalan pikiran mereka, mungkin mereka


sudah memikirkan untuk menciptakan sesuatu yang cemerlang. Hanya saja,


terkadang satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal pada hasilnya.”


Rein menatap keluar jendela. “Aku harap aku benar-benar


sudah memusnahkan semua eksperimen gagal itu. Aku takut kalau mereka akan


berkembang dan beradaptasi. Bisa-bisa saja mereka menyerbu kota, kan?”


“Tenang saja, Pangeran. Dunia ini tidak sesempit dan


sekecil perkiraan Pangeran. Senjata canggih untuk melenyapkan hal-hal aneh


seperti itu bisa saja diciptakan dalam waktu cepat.”


Rein mengalihkan pandangannya pada Gerold. “A-apa?”


Gerold tersenyum puas. “Percaya atau tidak, itulah


kehebatan kami, Pangeran. Rasa ingin tau kami membuat hidup kami lebih mudah


dan maju.”


Jessie melirik Gerold sekilas, lalu kembali menatap


keluar jendela.


***


Di depan rumah Gerold yang sangat besar dan mewah. Pintu


itu terbuka dan terlihat beberapa pelayan yang menyambut kepulangannya.


“Tolong bereskan ketiga anak muda ini untukku, ya!”


“Baik, Tuan! Silahkan kemari,” ajak para pelayan kepada


Jessie, Hein, dan Ted.


“Pangeran Rein, mari ... anggap saja rumah sendiri,” ucap


itu dengan takjub. Begitu banyak barang-barang unik yang bahkan tidak ada di


kerajaannya sekalipun.


“Ehem. Pangeran Rein? Kau disana?” panggil Gerold.


“Ah! Iya! Maaf,” Rein pun bergegas dan mengekori Gerold.


***


“Jadi begini rasanya lantai rumah orang kaya?” ucap Ted yang


sudah tidak mengenakan sepatunya.


“Aw ... rumah ini bahkan lebih besar dari milikku,” gumam


Hein takjub.


“Hein! Kemari dan fotokan aku!” seru Ted seraya berdiri


di salah satu patung singa emas yang menjadi dekorasi ruang tamu lantai dasar.


Rein yang memandangi mereka dari atas spontan tersenyum


kecil. Netranya tak sengaja bertemu dengan netra milik Jessie. Wanita itu


tersenyum lembut, Rein pun membalas dengan tersenyum tipis. Jessie perlahan


menggerakkan jari telunjuk tangannya seperti memberi sebuah kode, namun Rein


tidak bisa menangkap maksud dari wanita itu.


“Pangeran Rein?”


Rein pun segera berbalik. “Iya, Gerold?”


“Duduklah, karena Pangeran sudah ada disini, bagaimana


kalau kita sekalian saja membahas masalah yang sempat tertunda untuk minggu


depan.”


“Ah ... benar.” Rein pun mengambil tempat dan duduk


berhadapan dengan Gerold.


Sembari menuangkan teh hangat. “Aku sudah menurunkan


beberapa bawahanku untuk mencari informasi mengenai obat penawar ini. Tapi,


kelihatannya itu jauh lebih sulit dari dugaanku.”


Gerold menyerahkan sebuah cangkir berisi teh hangat pada


Rein. Rein menerima cangkir itu dan membungkuk pelan. “Karena kita tidak tau


apa penyakit yang sedang dialami oleh raja sendiri. Tidak semua obat bisa


menyembuhkan semua penyakit. Obat disini beragam Pangeran, dan tentunya


masing-masing obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang berbeda.”


“Begitu ... High Priest tidak menyebutkan penyakit itu.


Aku pikir aku hanya perlu menemukan obat penawarnya saja tanpa berpikir ke


depannya.”


Gerold menyeruput teh hangatnya. “Pangeran tidak salah.


Karena obat-obat seperti itu memang tidak pernah ada di tempat kelahiran


Pangeran, jadi mana mungkin Pangeran akan tau? Ibarat kata, seperti seekor


kancil yang sering meminum air di kolam tempat kelahirannya, ketika suatu hari


ia sudah berada di tempat asing dan melihat sebuah kolam, apa dia akan tau


kalau di dalam kolam-kolam itu ternyata berisikan banyak buaya yang sudah siap


untuk menerkamnya?”


Rein tersenyum kecut. “Jadi, aku memutuskan untuk


menyuruh semua bawahanku mencari teman kecilmu ini, karena dia satu-satunya


cucu dari High Priest, ada kemungkinan dia yang lebih tau, benar?”


“Ah ... benar!”


“Kalau begitu, bisakah Pangeran memberikan deskripsi yang


lebih detil tentang teman kecil Pangeran ini?”


“Ah ... baiklah, itu bukanlah masalah!”


***


Di depan apartemen Jessie. Mobil van hitam milik Gerold


mulai meninggalkan tempat itu. Jessie menatap lembut pria yang berdiri di sampingnya


itu, perlahan ia menggenggam erat tangan Rein.


Rein spontan mengalihkan pandangannya pada Jessie. “Jess?


Ada apa?”


Jessie menggeleng. “Ayo, masuk. Untuk apa kau masih


memandangi mobil itu, hah? Haha ....”


“Ah ... kau benar, ayo, masuk kalau begitu.”