Vermillion

Vermillion
Chapter 44 : Tanah Kematian



“Bahkan dengan kekuatan dari ras priest pun, yang namanya


membangkitkan orang mati itu sudah jelas tidak mungkin. Kau benar-benar bodoh,


Rein. Kalau aku bisa melakukan hal itu, aku sudah pasti membawa ayahku


kembali.”


Selene memutar pandangannya kembali ke Rein. Perasaan tak


tega perlahan muncul saat melihat raut ekspresi kusut di wajah teman kecilnya


itu. Perlahan Selene menghela nafas panjang.


“Ini salahku. Aku tidak tau kalau wanita manusia itu


dapat membuatnya bereaksi seperti ini. Mungkin ... tidak ada salahnya aku


mencoba kekuatan ini lagi.”


Selene perlahan membuka sebuah portal sihir. Sembari


memejamkan kedua matanya, ia mulai berbicara dengan sesosok makhluk berpakaian


serba hitam dengan memegang sebuah sabit hitam panjang yang muncul dari portal.


“Ratuku ...” sapa sosok serba hitam itu.


“Grim, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.”


“Apa kau ingin memanggil Undead Dragon lagi?”


Selene menggeleng pelan. “Tidak. Aku sudah tidak


membutuhkannya. Aku ... aku ingin kau mencarikan roh wanita itu,” ujar Selene


seraya menunjuk tubuh Jessie.


“Hm ... bukankah Ratuku menginginkan kematiannya?” tanya


Grim heran.


“Aku berubah pikiran. Bawa kembali rohnya.”


“Tapi, itu sudah tidak mungkin, Ratuku. Dia sudah bersama


dengan roh lainnya menuju jembatan penghakiman.”


“Kalau begitu, cepat bawa dia kembali!” seru Selene.


“Aku takut aku tidak bisa melakukannya, Ratuku.”


Selene memijat pelipis kepalanya. “Lalu, apa tidak ada


cara lainnya lagi?”


“Hm ... kalau Ratu memaksa, aku pikir, Ratu bisa memakai


cara ini.”


Selene langsung memandangi Grim. “Beritahu aku ...


sekarang.”


***


“Setelah memasuki gerbang ini, Ratu akan melihat berbagai


jenis batu-batuan yang bisa menyimpan roh-roh mati. Yang perlu Ratu lakukan


adalah mengambil batu-batu itu dan segera keluar.”


Selene mengernyitkan dahinya. “Kenapa bukan kau saja yang


mengambilnya?”


Grim menyeringai kecil. “Ini sudah peraturan Tanah


Kematian, Ratuku. Yang mati tidak akan bisa menyentuh apapun lagi.”


“Cih, baiklah, baiklah. Aku akan mengambilnya. Dasar


tidak berguna.” Selene pun berlalu dari hadapan Grim dan memasuki gerbang itu.


“Semoga kau beruntung, Ratuku.”


***


Tanah gersang yang dipenuhi dengan kabut yang tebal.


Selene tak percaya kalau sekarang dirinya benar-benar memasuki tanah para orang


mati.


“Planet ini benar-benar aneh. Tapi ... aku penasaran.


Apakah semua orang mati akan berkumpul di sini pada akhirnya? Bahkan orang mati


dari Planet seberang sekalipun?”


Tiba-tiba burung gagak mulai berterbangan dan


mengelilingi Selene. Kicauan dari burung-burung gagak itu benar-benar


mengganggu pendengarannya.


“A—apa yang terjadi?!” seru Selene seraya menutup kedua


kupingnya.


“Selene ... Selene ...” panggil seseorang.


“Siapa?! Siapa di sana!” seru Selene.


“Kematianmu ... kematianmu hanya menghitung hari.”


Kedua mata Selene membulat kaget. “APA MAKSUDMU?! KELUAR


KAU DARI TEMPAT PERSEMBUNYIANMU, SIALAN!”


Tiba-tiba tempat itu kembali hening, burung-burung gagak


yang sedari tadi mengelilinginya pun lenyap tak bersisa. Selene sontak memutar


pandangannya ke sekitanya. Tidak ada siapapun di sana, hanya dirinya dan


bebatuan.


Selene menghela nafas pelan, perlahan mengelap keningnya


yang berkeringat dingin. “Sialan, mungkin ... mungkin roh-roh rendahan yang


bersembunyi di dalam batu-batuan ini berusaha untuk menakutiku.”


Tak ingin berlama-lama di sana, Selene pun bergegas


mengambil asal beberapa batu kecil dan keluar dari tempat itu.


***


“Kau mendapatkannya, Ratuku?”


Selene hanya mengangguk pelan. “Kau baik-baik saja,


Ratuku?”


“Ya! Sekarang cepat bawa aku ke roh wanita sialan itu!”


“Hm ... sesuai permintaanmu, Ratuku. Mari ....”


Grim pun mengantar Selene menuju sebuah jembatan putus.


“Di sinilah para roh akan di hakimi.”


Selene kembali mengalihkan pandangannya ke jembatan.


Perlahan kedua matanya membulat kaget. Sebelumnya, ia tidak melihat begitu


banyak roh yang berterbangan di sana.


“Ini ...” Selene tak melanjutkan ucapannya.


“Roh para manusia ... setelah melalui jembatan ini,


mereka akan menuju tempat akhir sesuai hasil dari penghakiman. Ke atas atau ke


bawah sana,” jelas Grim.


“Begitu ya ... lalu di mana kita bisa menemukan wanita


itu?”


“Dia ... dia ada di sana.”


Selene memutar pandangannya mengikuti arah tangan Grim.


Terlihat sebuah roh yang ketakutan dan duduk di bawah pohon hitam besar di


sana. “Dia ...,” Selene pun mendekati roh itu, “Hei ....”


Roh wanita itu perlahan mendongakkan kepalanya. “Kau ...


Selene!” serunya tak percaya.


“Bagaimana cara memasukkan rohnya ke batu ini?” tanya


Selene tak menghiraukan roh itu.


“Kenapa! Kenapa kau bisa ada di sini juga!” seru roh itu


kembali.


“Ratu, kau hanya perlu menyodorkan batu itu padanya. Dia


sebagai roh akan tau sendiri bagaimana caranya untuk masuk,” jelas Grim.


Selene pun menyodorkan batu itu di depan roh tersebut.


“Cepat masuklah.”


“Ta—tapi, kenapa?!”


“Jangan banyak tanya! Reinford yang memintaku melakukan


ini! Cepat masuk atau kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi!” jelas


Selene kesal.


“Rein ... ba—baik!”


***


Sinar matahari pagi mulai menyinari sebagian wajah Rein


dari balik jendela dapur. Rein perlahan mengusap kedua matanya dan


membangkitkan tubuhnya. “Ah ... aku tertidur di sini. Tu—tunggu ... Jessie!”


seru Rein setelah mengumpulkan semua kesadarannya.


“Oh ... pagi, Rein,” sapa Jessie yang kini memandanginya


dari sofa.


Rein terdiam mematung. “Jes—jessie?”


Jessie perlahan bangkit dari sofanya dan tersenyum lembut


padanya. “Haha! Kenapa melihatku seperti itu? Kau rindu padaku?”


Rein langsung menghampiri Jessie dan memeluknya dengan


erat. “Jessie ... kau ... kau—“


“Aku baik-baik saja. Maaf membuatmu khawatir,” sela


Jessie seraya membalas pelukan Rein.


“Tapi, bagaimana mungkin ... apa, apa semua ini hanya


mimpi?”


Jessie melepas pelukan mereka dan memandangi Rein. “Aku


... aku juga sama kagetnya denganmu, Rein. Dan ... ini semua bukanlah mimpi.”


“Jadi ... kau benar-benar sudah—“


Jessie meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Rein.


“Tidak perlu membahas soal itu lagi. Yang penting sekarang aku masih di sini,


kan?” ucapnya seraya tertawa pelan.


Rein tersenyum tipis. “Ya, kau benar.”


Jessie masih menatap lekat kedua mata Rein. “Aku ...


mencintaimu, Rein,” ungkapnya.


Rein tertegun. “A—apa ...?”


Jessie menundukkan kepalanya, ia dapat merasakan wajahnya


kini memanas. “Lu—lupakan saja!”


“Aku pikir ... aku juga merasakan hal yang sama,” ujar


Rein seraya tersenyum lembut.


Jessie terkejut bukan main, ia spontan mendongakkan


kepalanya dan memandangi wajah Rein yang tatapan kaget.


Rein perlahan menggaruk belakang kepalanya dan


mengalihkan pandangannya. Tak bisa dipungkiri, wajah Rein kini merona hebat.


Jessie akhirnya tertawa kecil dan menepuk pelan dada Rein.


“Kau tau tidak? Kau kelihatan manis sekali dengan


ekspresi seperti itu,” ledek Jessie.


“E—ey!”


Jessie pun tersenyum lebar dan kembali memeluk Rein. “Aku


sangat merindukanmu.”


Rein membalas pelukan Jessie dan meletakkan dagunya di


atas kepala wanita itu. “Aku juga.”


Sementara itu, di balik dinding dapur. Selene ternyata


mendengarkan semua pernyataan mereka. Perlahan, Selene tersenyum kecut. “Jadi,


itu perasaanmu yang sesungguhnya ... Rein ...?”