Vermillion

Vermillion
Chapter 11 : Penemuan Baru



“Kau sudah pulang, Rein?”


“Huh?”


“Kemarilah dan peluk Ayah!”


Rein tertegun, pria dihadapannya ini benar-benar ayahnya. Rein langsung memeluk erat tubuh pria itu. “Ayah ... kau sudah sembuh?”


“Iya, Rein. Terima kasih, Nak. Terima kasih ....”


“Tidak perlu berterima kasih, Ayah. Keselamatan Ayah yang terpenting.”


Ayah Rein mengelus pelan kepala Rein. “Kau benar-benar sudah tumbuh dewasa, Rein.”


“Ayah ...”


“Ayah sangat bangga padamu. Ayah percaya kau bisa menjadi raja yang baik.” Perlahan-lahan tubuh ayahnya memudar.


“A-apa yang terjadi?! Ayah! Ayah!”


***


“AYAH!” Rein terbangun dari tidurnya. Bernafas tersengal-sengal. Perlahan Rein menyisir rambutnya dan menelan ludah. “M-mimpi? B-barusan itu ... hanya mimpi?” renung Rein gemetar.


Rein memejamkan matanya dan menghela nafas. “Aku tidak bisa terus-terusan di sini. Aku harus segera mencari penawarnya dan kembali!” Rein beranjak dari kasur dan memakai kembali pakaiannya.


***


“Tidak ada siapa-siapa? Ke mana Jessie?” batin Rein. Tiba-tiba ia teringat akan perkataan Jessie semalam. “Oh, benar. Dia tidak akan ada di sini sampai jam 5 sore. Apa aku harus meninggalkan surat?”


Rein kembali ke kamarnya. Ia mengecek setiap lemari yang ada disana, berusaha untuk menemukan secarik kertas dan pulpen. “Tidak ada, ya? Apa mungkin di kamarnya? T-tidak, akan sangat tidak sopan kalau seorang pria masuk ke kamar wanita. Itu berarti aku sudah melanggar privasinya.” Rein pun memutuskan untuk kembali ke bawah.


“Apa aku langsung pergi saja? Aku mungkin tidak akan kembali lagi, aku harap dia tidak akan panik dan mencariku. Aku tidak ingin merepotkan mereka lagi.”


Rein pun bergegas menuju pintu keluar apartemen Jessie. Saat ingin memutar kenop pintu itu. ‘Ckek! Ckek!’ Pintu itu ternyata terkunci dari luar.


“A-apa?! Pintu ini terkunci! Bagaimana bisa aku keluar?!” Rein kembali berjalan menuju ruang tamu, menggeledah setiap lemari sedang yang ada disana, berusaha untuk menemukan sebuah kunci cadangan.


Sejam telah berlalu, hasilnya tetap nihil. Rein menyandarkan punggungnya di sofa, lalu menghela nafas lelah. Perutnya bahkan sudah bernyanyi ria.


“Ah ... disaat seperti ini ...” lirih Rein pasrah.


Di detik berikutnya, Rein sudah beranjak ke dapur dan melirik meja makan. Tidak ada apapun di atas sana, selain secarik kertas yang diselipkan di bawah cangkir.


“Eh?” Rein mengangkat cangkir kosong itu dan mulai membaca tulisan yang ada dikertas itu.


“Pagi, Rein. Aku akan ke sekolah. Tadi, aku sudah berusaha untuk membangunkanmu. Tapi, kau tidak menyahut sama sekali. Jadi, mau tak mau aku memutuskan untuk mengunci pintunya dari luar. Jangan khawatir, ada beberapa roti di dalam kulkas. Makanlah kalau kau lapar. Aku akan secepat mungkin pulang. Dann ... jangan lupa cucikan cangkirku, ya! Aku buru-buru soalnya! Sampai jumpa!”


Rein tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari tersenyum kecil. “Baiklah. Akan kubersihkan, nyonya,” gumamnya seraya membawa cangkir itu ke wastafel.


Setelah selesai mencuci cangkir Jessie, Rein baru sadar kalau perutnya sudah memaki-maki dirinya. “Baiklah, di mana di antara kalian yang namanya kulkas?” tanya Rein seraya menatap benda-benda asing yang ada di dapur.


“Hm ... yang pastinya bukan kau,” ujar Rein seraya melewati rice cooker, lalu berhenti di depan coffee maker.


“Apa kau yang namanya kulkas? Eh ... aku meragukan itu. Tidak ada roti disini? Hanya ada cairan hitam.”


Rein melewati alat itu dan beralih pada sebuah oven. “Apa kau, ya?” pikir Rein seraya berusaha mencari cara untuk membuka oven itu. Rein bahkan sesekali mengintip dari depan kaca oven.


“Sepertinya tidak ada sesuatu di dalam. Percuma saja susah-susah kubuka, kan?” Rein akhirnya memutuskan untuk melewatinya.


Dan kini Rein sudah berdiri di depan kulkas yang sebenarnya. “Kau yang namanya kulkas? Atau lemari? Bisa juga, bentuknya hampir mirip sih,” debat Rein pada dirinya sendiri, lalu tangannya perlahan memegang gagang pintu kulkas bagian atas dan menariknya.


Hanya ada sebuah toples dan cetakan berisi es batu. Rein mendekatkan wajahnya dan ekspresi takjub mulai tercetak jelas pada wajahnya. “Dingin? Kenapa benda ini bahkan bisa menghasilkan es? Kupikir High Priest hanya mengajarkan sihir es pada beberapa penyihir kelas menengah. Tapi, benda ini juga bisa mengaktifkannya! Wah! Planet Biru memang luar biasa!”


Rein memutuskan untuk membuka yang bagian bawah juga. “Tidak sedingin atas,” gumamnya seraya berjongkok. Penglihatannya langsung terfokuskan pada tiga buah roti yang ada disana.


“Baiklah, baiklah. Aku akan mengingatnya! Ini bisa jadi penemuan baru yang akan kuceritakan pada Selene nantinya!” pikir Rein seraya mengambil sebuah roti dan menutup kembali kedua pintu kulkas itu.


***


“Hoaam!”


“Tidurmu kurang nyenyak, Jess?” tanya Ted sembari membuka kotak bekalnya.


“Tidak. Hanya saja ini memang kebiasaan burukku. Selalu menguap kalau berada di area sekolah.”


“Haha! Aku setuju!” ucap Hein yang duduk disebelah Ted.


“Jessie! Jessie!”


Jessie memalingkan wajahnya dan menghadap si pemilik suara. “Apa?” jawabnya ketus.


“Itu, kau dicariin sama adik kelas!” ucap Kayla, si ketua kelas yang tak kalah cueknya.


“Oh.”


“Kok ‘oh’? Sana keluar! Dia nungguin di depan tuh!”


“Iya, iya, Bawel.” Jessie pun bangkit berdiri dan meninggalkan kedua temannya yang saling beradu tatapan.


“Ada apa?” tanya Ted pelan. Hein hanya mengangkat kedua bahunya.


“Aneh, kalau dia itu wanita, berperilakulah selayaknya wanita,” gerutu salah satu siswi yang berkumpul di sekitar meja ketua kelas.


“Aku heran deh sama Jessie, kenapa sih suka banget cari masalah sama adik kelas?” timpal siswi lainnya.


“Udah, biarin aja. Nanti juga dia yang ga lulus. Ngapain juga peduliin dia, ga ada untungnya juga kok sama kita,” jawab Kayla enteng.


“Tapi, gapapa lah jadiin dia sebagai topik ghibah kita hari ini, daripada ga ada yang bisa kita ghibahin, kan?” tambah salah seorang siswi lainnya.


“Iya, iya! Aku juga penasaran loh! Apa sih yang diributin sama dia? Memangnya si adik kelas itu buat salah apa sih sama dia?”


“Itu loh, kudengar si Jessie kayaknya suka deh sama berondong alias adik-adik kelas kita! Makanya hampir semua adik kelas cewek dilabrak sama dia!” jelas Kayla.


Semua teman-temannya hanya mengangguk angguk.


“Gila juga ya si Jessie? Masa iya suka sama adik kelas?”


“Ya kali ada cowok yang mau sama dia? Kelakuan dia aja udah bikin cowok-cowok kabur, mana tiap hari nempel bertiga lagi,” sindir Kayla sedikit meninggikan nada bicaranya.


“Iya! Ghibah aja teros! Ghibah! Sampai muncungnya itu melebihi panjangnya hidung pinokio!” balas Hein santai seraya mengangkat kedua kakinya ke atas meja.


“Hein! Turunin kakinya! Ga sopan, tau!” tegur Kayla.


“Ngapain? Lagian ga ada guru juga kok.”


“Ih! Kalian bertiga itu, ya! Suka sekali menghancurkan reputasi kelas kita! Kalau ada masalah dari kelas kita, pasti cuma nama kalian aja yang disebut! Kita yang seharusnya bisa menandingi anak A, malah dibikin jatuh di hadapan guru-guru,” ucap Kayla kesal.


“Iya, benar!” sorak teman-temannya.


“Norak,” ujar Hein spontan.


Kayla mengerutkan keningnya. Lalu kembali duduk dibangkunya. “Ga usah diladenin. Bentar lagi kita juga bakal lulus. Cepat lulus lebih baik, bukan? Ga usah ketemu lagi sama orang-orang ga berguna kayak mereka!”


Raut ekspresi wajah Hein langsung berubah. Perlahan Hein menurunkan kakinya yang ada di atas meja.


“Hein!” panggil Ted, lalu menggeleng pelan.


Hein hanya bisa mendengus kesal dan menatap keluar jendela.