Vermillion

Vermillion
Chapter 34 : Selene?



“Tu—tunggu dulu, Kayla. Di—dia tidak seperti yang kau


kira. Dia adalah pria asli, jangan dengarkan Hein,” jelas Jessie cepat.


“Ta—tapi, kenapa penampilannya ... aneh sekali?”


“Di—dia itu seorang cosplayer!” timpal Ted, disertai


dengan anggukan mantap dari Hein.


“Cos—cosplayer?” ulang Kayla heran.


“Iya! Dia sedang memerankan peran sebagai ... uh, itu ...”


Jessie langsung melanjutkan ucapan Ted yang terjeda cukup lama itu, “Seorang


pangeran seperti yang ada di dalam komik-komik online sekarang ini!”


“Oh! Aku tau maksudmu!” balas Kayla bersemangat, perlahan


ia mendekati Rein dan memandangi wajahnya.


Ketiga orang itu spontan saling bertatapan dan menelan


ludah.


“Hm ...” mulai Kayla, membuat ketiga orang itu langsung


memasang wajah serius.


“Kalau dilihat-lihat lagi ... dia memang tampan sih! Kya!


Pangeranku benar-benar nyata!” seru Kayla berseri-seri.


Jessie dan Ted spontan menganga lebar, sementara Hein


perlahanan menepuk jidatnya.


“Ah ... haha, begitu ya?” tanya Rein ragu.


“Kau baru di sini, ya? Aku belum pernah melihatmu


sebelumnya, apa kau punya akun medsos yang bisa ku-follow?”


Jessie spontan melangkah maju dan memerisai Rein,


mendorong pelan tubuh Kayla agar tidak semakin dekat dengan prianya. “Tu—tunggu


dulu, kenapa kau malah meminta-minta akun medsosnya sih?” gerutu Jesssie.


 “Kenapa tidak? Aku


kan ingin melihat dia memerankan peran yang lain juga? Wajahnya itu benar-benar


tampan. Apakah itu karena efek dari make-up?” ucap Kayla seraya memiringkan


kepalanya.


“Te—tentu saja tidak! Wajahnya memang alaminya seperti


itu!” bantah Jessie.


“Kau berbicara seolah-olah kau tau lebih banyak tentang


dirinya, Jessie!” balas Kayla seraya berkacak pinggang.


“Tentu saja aku lebih tau tentang dia! Dia bisa datang ke


sini juga aku yang undang, tau!”


“Gadis-gadis, sudahlah,” lerai Ted, sementara Hein sudah


kembali duduk di bangkunya dengan santai dan menyeringai puas.


“Biarkan saja, Ted. Aku senang melihat perdebatan ini!”


“Hein!” seru ketiga orang itu kompak.


Rein perlahan tersenyum tipis melihat tingkah mereka.


“Rein ....”


Rein perlahan memutar pandangannya ke arah pintu. Tanpa sadar,


ia kini sudah melangkah mengikuti suara panggilan itu.


Jessie yang menyadari kepergian Rein pun mengernyitkan


dahinya. “Ada apa dengan Rein? Apa dia merasa tidak nyaman?” batinnya.


Tanpa berpikir panjang, Jessie pun memutuskan untuk


keluar dan mengejar Rein.


Di depan kelasnya, Jessie melihat Rein yang mulai menaiki


tangga. Kerutan dikening Jessie semakin terlihat jelas.


“Apa ada sesuatu yang membuatnya penasaran? Sudahlah, aku


ikuti saja.”


Jessie pun mengikuti Rein sampai pria itu menghilang di


depan pintu besi pembatas area atap sekolah itu.


“Aneh ... kenapa dia malah kemari?”


Sebelum Jessie sempat membuka pintu besi itu, ia


mendengarkan suara yang tak familiar baginya.


“Rein ...?”


***


“Se—selene ...?”


Wanita itu perlahan membalikkan badannya dan tersenyum


tipis.


“Halo ... Rein.”


“Selene! Kau! Kau kapan kemari?! Lalu, bagaimana kau bisa


tau kalau aku ada di sini?”


“Kebetulan? Mungkin ...” jawab Selene singkat.


Rein perlahan mendekati wanita itu dan memeluknya dengan


erat. Wanita itu pun membalas pelukan Rein.


“Aku selama ini mencarimu, tau ... ke mana saja kau?”


“Benarkah? Itu sudah tidak penting lagi. Kita harus


segera kembali, Rein.”


Rein perlahan melepaskan pelukannya. “A—apa maksudmu,


Selene?”


“Kita sudah cukup lama di sini, bukankah kau berjanji


pada ibumu untuk secepatnya pulang?”


***


Jessie spontan terkejut. “A—apa? Ja—jadi, suara itu


adalah suara teman kecilnya Rein? Dan sekarang dia ingin membawa Rein kembali


ke tempat asal mereka? Tidak! Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi! Kau sudah


berjanji untuk tetap tinggal bersamaku, Rein!” Jessie pun bersiap untuk memutar


kenop pintu besi itu.


“Maaf, Selene. Aku tidak bisa kembali.”


“A—apa?!” Jessie pun menghentikan niatnya untuk membuka


pintu besi pembatas itu.


***


Selene memasang ekspresi tak suka. “Apa maksudmu? Beri aku


alasan yang masuk akal, Rein!”


“Menurutku, kalaupun kita kembali ... ayahku tetap tidak


akan bangun, bukan? Aku sudah berjanji pada ibuku untuk membawa pulang


penawarnya.”


“Lalu, kenapa tidak kau cari?” balas Selene geram.


“Aku sudah berusaha untuk mencarinya, Selene,” bela Rein.


“Oh ... benarkah?”


Rein mengangkat sebelah alis matanya heran.


“Bukankah kerjamu selama ini hanyalah bermain-main dengan


kaum lemah yang ada di sini?”


“Se—selene! Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?!”


“Jujur saja, Rein. Kau pasti mulai suka dengan Planet ini


dan tidak berpikiran untuk kembali lagi, bukan?”


“Omong kosong! Aku tidak pernah berpikir seperti itu!”


“Benarkah? Kalau kau memang peduli akan kesembuhan


ayahmu, kau tidak akan berlama-lama di sini, Rein.”


“Sudah kukatakan sebelumnya, bukan? Aku sudah berusaha,


Selene. Gulungan yang diberikan oleh High Priest sepertinya sudah lenyap


terbakar. Tanpa adanya gulungan itu, aku tidak akan tau lokasi pasti penawar


itu!”


“Lalu, apa yang akan kau lakukan? Bermain-main di sini,


begitu?”


“Aku tidak bermain-bermain! Aku juga sedang berusaha


mencarinya! Kenapa kau sepertinya tidak percaya sekali padaku, Selene?!”


“Karena kau memang terlihat seperti itu, Rein.”


“Kau berbicara seolah-olah kau tau seperti apa hari-hari


“Bukankah aku sudah bilang itu tidaklah penting? Selain


itu, kalau kau memang memperdulikan keselamatan ayahmu, mungkin kau sudah


berpikir untuk kembali lagi ke Vermillion dan meminta gulungan penggantinya,


bukan?”


“Selene, aku—“


“Kau sudah 2 bulan lebih di sini ... kau taukan, Rein?


Apa kau tidak khawatir dengan kondisi ayahmu sekarang ini?”


“Ah! Aku ... aku—“


“Sudahlah, kau ikut denganku sekarang juga, kita akan


segera kembali.”


“Tapi, Selene—“


“Kenapa lagi kali ini?!”


“Pesawat tempur milik kakekmu benar-benar menderita


kerusakan yang cukup fatal, walaupun kau paksa, dia tetap tidak akan bisa


membawa kita kembali,” jelas Rein.


“Lalu apa? Kau ingin aku tinggal dan bermain-main juga


denganmu?”


“Aku, aku tidak bilang seperti itu, Selene. Maksudku,


pesawat tempur itu sedang diperbaiki oleh salah satu teman baik kakekmu.”


Selene mengerutkan keningnya. “Teman baik ... kakek?”


Rein mengangguk. “Gerold bercerita banyak tentang pertemuan


dan perteman mereka. Ternyata High Priest pernah kemari, apa kau tau akan hal


itu juga, Selene?”


Selene termenung. Rein perlahan mengguncangkan sebelah


bahu wanita itu, membuatnya terbangun.


“Kau ... baik-baik saja, Selene?”


“Ya, yah. Aku baik-baik saja. Hm ... teman kakek, ya? Kakek


tidak pernah bercerita sedikitpun padaku tentang hal itu.”


“Gerold bilang saat itu High Priest datang kemari


karena kesalahan penggunaan sihir teleportasi yang baru saja dipelajarinya. Mereka


bertemu tepat di bawah pohon tua, tempat aku mendarat dengan kapal milik High


Priest.”


“Hm ... sihir teleportasi, ya?”


“Apa ada salah dengan ceritanya, Selene?”


“Ah ... tidak, tidak. Seingatku kakek memang pernah salah


mempelajari gulungan sih. Lalu, Rein ... pria ini, bernama Gerold, benar?”


Rein mengangguk pelan. Selene pun membalas dengan


mengangguk-anggukan kepalanya.


“Aku jadi ingin bertemu dengannya,” gumam Selene.


“Kau mau? Aku bisa meneleponnya dan mengatur pertemuan


kita.”


“Menelepon?” ulang Selene heran.


“Ah ... sebenarnya banyak sekali hal-hal unik yang belum


lama ini sudah kuketahui dan ingin kuceritakan padamu, Selene.”


Selene tersenyum tipis. “Begitu ya? Kau belajar dengan


cepat ya, Rein?”


Rein menggaruk keningnya pelan. “Apa itu ... sebuah


pujian?”


Selene spontan tertawa kecil. “Bukan. Ngomong-ngomong,


kulihat kau masih saja membawa pedang pemberianku itu.”


Rein yang sadar akan maksud perkataan teman kecilnya itu


perlahan menunduk dan memegangi sarung pedang yang diikatkan di sebelah


pinggulnya itu.


“Ah ... untuk berjaga-jaga. Belum lama ini, aku diserang


oleh sesuatu yang mengerikan di planet ini.”


Selene mengangkat sebelah alis matanya. “Begitu ya? Jauh lebih


mengerikan dari kaum orc itu?”


“Ya. Ini jauh lebih berbeda dari kaum orc, mereka


memiliki fisik yang sama dengan orang-orang di planet ini. Lalu, mereka


menyerang sesamanya, namun mereka sepertinya terinfeksi oleh sebuah wabah juga.


Mereka tidak bertindak normal seperti biasanya.”


“Sebutan yang lebih spesifik untuk mereka itu adalah zombie,


Rein.”


“Zo—zom apa?”


“Zombie. Mereka adalah hasil dari eksperimen gagal.”


“Dari mana kau bisa tau soal itu juga, Selene?”


“Aku kan selalu selangkah lebih maju darimu, Rein. Masa


kau sudah lupa?” ledek Selene.


Rein tak menjawab, namun memandang wanita itu dengan


datar.


“Haha! Maaf, maaf. Aku akan menarik kesimpulan, kau


berhasil mengalahkan sekumpulan zombie itu dengan pedang dan ajaranku, benar?”


“Ya ....”


“Baguslah kalau begitu, berarti kau ada perkembangan,


bukan?”


“Benar.”


“Ikutlah denganku. Kita akan mencari penawar itu,” ucap


Selene tiba-tiba.


Rein memandang teman kecilnya itu dengan ekspresi kaget. “Ka—kau


sudah tau letak penawarnya?”


Selene menunjukkan sebuah gulungan pada Rein. “Gulungan


itu ada bersamaku. Tenang saja.”


“Ah! Kalau begitu, kita harus segera mencari penawarnya!”


seru Rein bersemangat.


Selene tersenyum dan mengangguk pelan.


“Tu—tunggu!”


Kedua orang itu spontan mengalihkan pandangan mereka ke


arah pintu besi pembatas yang kini terbuka lebar. Jessie perlahan melangkah


masuk dan menatap kedua orang itu dengan ekspresi kesalnya.


“Je—jessie?”


“Jessie?” ulang Selene.


“Kau tidak akan ke mana-mana, Rein! Kuperingatkan kau!”


seru Jessie seraya memajukan jari telunjuknya tepat di depan wajah Rein.


Selene langsung menepis tangan Jessie dan melipat kedua


tangannya. “Siapa kau? Dan di mana letak sopan santunmu? Kau tidak tau kalau


kau sedang berbicara dengan Pangeran Reinford dari Planet Vermillion?”


“Se—selene, tolong dengarkan penjelasanku dulu,” ucap


Rein pelan di sebelahnya.


“Yah! Beritahu kepada wanita ini, siapa aku, Rein!”


tantang Jessie seraya ikut melipat kedua tangannya.


Rein mulai merasakan aura panas dan sengatan listrik yang


mulai mengalir keluar dari adu tatapan kedua mata wanita itu.


“Ka—kalian, tolonglah tenang dulu,” lerai Rein.


“Kalau begitu, cepat beritahu dia, Rein!” seru Jessie.


Selene langsung memutar tubuhnya menghadap teman kecilnya


itu. Tatapan datar dan aura membunuh mulai bangkit dari dalam tubuhnya. Bahkan


Rein sampai bergidik ngeri.


“Aku ingin penjelasan yang singkat dan jelas, Rein,”


perintah Selene datar.


“Ba—baik! Ja—jadi, begini ...” cerita Rein gugup.