
“Tu—tunggu dulu, Kayla. Di—dia tidak seperti yang kau
kira. Dia adalah pria asli, jangan dengarkan Hein,” jelas Jessie cepat.
“Ta—tapi, kenapa penampilannya ... aneh sekali?”
“Di—dia itu seorang cosplayer!” timpal Ted, disertai
dengan anggukan mantap dari Hein.
“Cos—cosplayer?” ulang Kayla heran.
“Iya! Dia sedang memerankan peran sebagai ... uh, itu ...”
Jessie langsung melanjutkan ucapan Ted yang terjeda cukup lama itu, “Seorang
pangeran seperti yang ada di dalam komik-komik online sekarang ini!”
“Oh! Aku tau maksudmu!” balas Kayla bersemangat, perlahan
ia mendekati Rein dan memandangi wajahnya.
Ketiga orang itu spontan saling bertatapan dan menelan
ludah.
“Hm ...” mulai Kayla, membuat ketiga orang itu langsung
memasang wajah serius.
“Kalau dilihat-lihat lagi ... dia memang tampan sih! Kya!
Pangeranku benar-benar nyata!” seru Kayla berseri-seri.
Jessie dan Ted spontan menganga lebar, sementara Hein
perlahanan menepuk jidatnya.
“Ah ... haha, begitu ya?” tanya Rein ragu.
“Kau baru di sini, ya? Aku belum pernah melihatmu
sebelumnya, apa kau punya akun medsos yang bisa ku-follow?”
Jessie spontan melangkah maju dan memerisai Rein,
mendorong pelan tubuh Kayla agar tidak semakin dekat dengan prianya. “Tu—tunggu
dulu, kenapa kau malah meminta-minta akun medsosnya sih?” gerutu Jesssie.
“Kenapa tidak? Aku
kan ingin melihat dia memerankan peran yang lain juga? Wajahnya itu benar-benar
tampan. Apakah itu karena efek dari make-up?” ucap Kayla seraya memiringkan
kepalanya.
“Te—tentu saja tidak! Wajahnya memang alaminya seperti
itu!” bantah Jessie.
“Kau berbicara seolah-olah kau tau lebih banyak tentang
dirinya, Jessie!” balas Kayla seraya berkacak pinggang.
“Tentu saja aku lebih tau tentang dia! Dia bisa datang ke
sini juga aku yang undang, tau!”
“Gadis-gadis, sudahlah,” lerai Ted, sementara Hein sudah
kembali duduk di bangkunya dengan santai dan menyeringai puas.
“Biarkan saja, Ted. Aku senang melihat perdebatan ini!”
“Hein!” seru ketiga orang itu kompak.
Rein perlahan tersenyum tipis melihat tingkah mereka.
“Rein ....”
Rein perlahan memutar pandangannya ke arah pintu. Tanpa sadar,
ia kini sudah melangkah mengikuti suara panggilan itu.
Jessie yang menyadari kepergian Rein pun mengernyitkan
dahinya. “Ada apa dengan Rein? Apa dia merasa tidak nyaman?” batinnya.
Tanpa berpikir panjang, Jessie pun memutuskan untuk
keluar dan mengejar Rein.
Di depan kelasnya, Jessie melihat Rein yang mulai menaiki
tangga. Kerutan dikening Jessie semakin terlihat jelas.
“Apa ada sesuatu yang membuatnya penasaran? Sudahlah, aku
ikuti saja.”
Jessie pun mengikuti Rein sampai pria itu menghilang di
depan pintu besi pembatas area atap sekolah itu.
“Aneh ... kenapa dia malah kemari?”
Sebelum Jessie sempat membuka pintu besi itu, ia
mendengarkan suara yang tak familiar baginya.
“Rein ...?”
***
“Se—selene ...?”
Wanita itu perlahan membalikkan badannya dan tersenyum
tipis.
“Halo ... Rein.”
“Selene! Kau! Kau kapan kemari?! Lalu, bagaimana kau bisa
tau kalau aku ada di sini?”
“Kebetulan? Mungkin ...” jawab Selene singkat.
Rein perlahan mendekati wanita itu dan memeluknya dengan
erat. Wanita itu pun membalas pelukan Rein.
“Aku selama ini mencarimu, tau ... ke mana saja kau?”
“Benarkah? Itu sudah tidak penting lagi. Kita harus
segera kembali, Rein.”
Rein perlahan melepaskan pelukannya. “A—apa maksudmu,
Selene?”
“Kita sudah cukup lama di sini, bukankah kau berjanji
pada ibumu untuk secepatnya pulang?”
***
Jessie spontan terkejut. “A—apa? Ja—jadi, suara itu
adalah suara teman kecilnya Rein? Dan sekarang dia ingin membawa Rein kembali
ke tempat asal mereka? Tidak! Aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi! Kau sudah
berjanji untuk tetap tinggal bersamaku, Rein!” Jessie pun bersiap untuk memutar
kenop pintu besi itu.
“Maaf, Selene. Aku tidak bisa kembali.”
“A—apa?!” Jessie pun menghentikan niatnya untuk membuka
pintu besi pembatas itu.
***
Selene memasang ekspresi tak suka. “Apa maksudmu? Beri aku
alasan yang masuk akal, Rein!”
“Menurutku, kalaupun kita kembali ... ayahku tetap tidak
akan bangun, bukan? Aku sudah berjanji pada ibuku untuk membawa pulang
penawarnya.”
“Lalu, kenapa tidak kau cari?” balas Selene geram.
“Aku sudah berusaha untuk mencarinya, Selene,” bela Rein.
“Oh ... benarkah?”
Rein mengangkat sebelah alis matanya heran.
“Bukankah kerjamu selama ini hanyalah bermain-main dengan
kaum lemah yang ada di sini?”
“Se—selene! Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?!”
“Jujur saja, Rein. Kau pasti mulai suka dengan Planet ini
dan tidak berpikiran untuk kembali lagi, bukan?”
“Omong kosong! Aku tidak pernah berpikir seperti itu!”
“Benarkah? Kalau kau memang peduli akan kesembuhan
ayahmu, kau tidak akan berlama-lama di sini, Rein.”
“Sudah kukatakan sebelumnya, bukan? Aku sudah berusaha,
Selene. Gulungan yang diberikan oleh High Priest sepertinya sudah lenyap
terbakar. Tanpa adanya gulungan itu, aku tidak akan tau lokasi pasti penawar
itu!”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan? Bermain-main di sini,
begitu?”
“Aku tidak bermain-bermain! Aku juga sedang berusaha
mencarinya! Kenapa kau sepertinya tidak percaya sekali padaku, Selene?!”
“Karena kau memang terlihat seperti itu, Rein.”
“Kau berbicara seolah-olah kau tau seperti apa hari-hari
“Bukankah aku sudah bilang itu tidaklah penting? Selain
itu, kalau kau memang memperdulikan keselamatan ayahmu, mungkin kau sudah
berpikir untuk kembali lagi ke Vermillion dan meminta gulungan penggantinya,
bukan?”
“Selene, aku—“
“Kau sudah 2 bulan lebih di sini ... kau taukan, Rein?
Apa kau tidak khawatir dengan kondisi ayahmu sekarang ini?”
“Ah! Aku ... aku—“
“Sudahlah, kau ikut denganku sekarang juga, kita akan
segera kembali.”
“Tapi, Selene—“
“Kenapa lagi kali ini?!”
“Pesawat tempur milik kakekmu benar-benar menderita
kerusakan yang cukup fatal, walaupun kau paksa, dia tetap tidak akan bisa
membawa kita kembali,” jelas Rein.
“Lalu apa? Kau ingin aku tinggal dan bermain-main juga
denganmu?”
“Aku, aku tidak bilang seperti itu, Selene. Maksudku,
pesawat tempur itu sedang diperbaiki oleh salah satu teman baik kakekmu.”
Selene mengerutkan keningnya. “Teman baik ... kakek?”
Rein mengangguk. “Gerold bercerita banyak tentang pertemuan
dan perteman mereka. Ternyata High Priest pernah kemari, apa kau tau akan hal
itu juga, Selene?”
Selene termenung. Rein perlahan mengguncangkan sebelah
bahu wanita itu, membuatnya terbangun.
“Kau ... baik-baik saja, Selene?”
“Ya, yah. Aku baik-baik saja. Hm ... teman kakek, ya? Kakek
tidak pernah bercerita sedikitpun padaku tentang hal itu.”
“Gerold bilang saat itu High Priest datang kemari
karena kesalahan penggunaan sihir teleportasi yang baru saja dipelajarinya. Mereka
bertemu tepat di bawah pohon tua, tempat aku mendarat dengan kapal milik High
Priest.”
“Hm ... sihir teleportasi, ya?”
“Apa ada salah dengan ceritanya, Selene?”
“Ah ... tidak, tidak. Seingatku kakek memang pernah salah
mempelajari gulungan sih. Lalu, Rein ... pria ini, bernama Gerold, benar?”
Rein mengangguk pelan. Selene pun membalas dengan
mengangguk-anggukan kepalanya.
“Aku jadi ingin bertemu dengannya,” gumam Selene.
“Kau mau? Aku bisa meneleponnya dan mengatur pertemuan
kita.”
“Menelepon?” ulang Selene heran.
“Ah ... sebenarnya banyak sekali hal-hal unik yang belum
lama ini sudah kuketahui dan ingin kuceritakan padamu, Selene.”
Selene tersenyum tipis. “Begitu ya? Kau belajar dengan
cepat ya, Rein?”
Rein menggaruk keningnya pelan. “Apa itu ... sebuah
pujian?”
Selene spontan tertawa kecil. “Bukan. Ngomong-ngomong,
kulihat kau masih saja membawa pedang pemberianku itu.”
Rein yang sadar akan maksud perkataan teman kecilnya itu
perlahan menunduk dan memegangi sarung pedang yang diikatkan di sebelah
pinggulnya itu.
“Ah ... untuk berjaga-jaga. Belum lama ini, aku diserang
oleh sesuatu yang mengerikan di planet ini.”
Selene mengangkat sebelah alis matanya. “Begitu ya? Jauh lebih
mengerikan dari kaum orc itu?”
“Ya. Ini jauh lebih berbeda dari kaum orc, mereka
memiliki fisik yang sama dengan orang-orang di planet ini. Lalu, mereka
menyerang sesamanya, namun mereka sepertinya terinfeksi oleh sebuah wabah juga.
Mereka tidak bertindak normal seperti biasanya.”
“Sebutan yang lebih spesifik untuk mereka itu adalah zombie,
Rein.”
“Zo—zom apa?”
“Zombie. Mereka adalah hasil dari eksperimen gagal.”
“Dari mana kau bisa tau soal itu juga, Selene?”
“Aku kan selalu selangkah lebih maju darimu, Rein. Masa
kau sudah lupa?” ledek Selene.
Rein tak menjawab, namun memandang wanita itu dengan
datar.
“Haha! Maaf, maaf. Aku akan menarik kesimpulan, kau
berhasil mengalahkan sekumpulan zombie itu dengan pedang dan ajaranku, benar?”
“Ya ....”
“Baguslah kalau begitu, berarti kau ada perkembangan,
bukan?”
“Benar.”
“Ikutlah denganku. Kita akan mencari penawar itu,” ucap
Selene tiba-tiba.
Rein memandang teman kecilnya itu dengan ekspresi kaget. “Ka—kau
sudah tau letak penawarnya?”
Selene menunjukkan sebuah gulungan pada Rein. “Gulungan
itu ada bersamaku. Tenang saja.”
“Ah! Kalau begitu, kita harus segera mencari penawarnya!”
seru Rein bersemangat.
Selene tersenyum dan mengangguk pelan.
“Tu—tunggu!”
Kedua orang itu spontan mengalihkan pandangan mereka ke
arah pintu besi pembatas yang kini terbuka lebar. Jessie perlahan melangkah
masuk dan menatap kedua orang itu dengan ekspresi kesalnya.
“Je—jessie?”
“Jessie?” ulang Selene.
“Kau tidak akan ke mana-mana, Rein! Kuperingatkan kau!”
seru Jessie seraya memajukan jari telunjuknya tepat di depan wajah Rein.
Selene langsung menepis tangan Jessie dan melipat kedua
tangannya. “Siapa kau? Dan di mana letak sopan santunmu? Kau tidak tau kalau
kau sedang berbicara dengan Pangeran Reinford dari Planet Vermillion?”
“Se—selene, tolong dengarkan penjelasanku dulu,” ucap
Rein pelan di sebelahnya.
“Yah! Beritahu kepada wanita ini, siapa aku, Rein!”
tantang Jessie seraya ikut melipat kedua tangannya.
Rein mulai merasakan aura panas dan sengatan listrik yang
mulai mengalir keluar dari adu tatapan kedua mata wanita itu.
“Ka—kalian, tolonglah tenang dulu,” lerai Rein.
“Kalau begitu, cepat beritahu dia, Rein!” seru Jessie.
Selene langsung memutar tubuhnya menghadap teman kecilnya
itu. Tatapan datar dan aura membunuh mulai bangkit dari dalam tubuhnya. Bahkan
Rein sampai bergidik ngeri.
“Aku ingin penjelasan yang singkat dan jelas, Rein,”
perintah Selene datar.
“Ba—baik! Ja—jadi, begini ...” cerita Rein gugup.