
Rein mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya
melongo. “A—apa maksudmu, Jess? Ya—yang baru saja kau katakan itu tidak akan
pernah mungkin terjadi.”
“Kenapa tidak? Kalian kan sudah bersama sejak kecil, kalian
pasti lebih mengenal satu sama lain, bukan?” ujar Jessie seraya menatap kedua
mata Rein lekat-lekat.
Rein spontan mengalihkan pandangannya ke samping.
“Ka—kami memang dekat sejak kecil, tapi tidak ada diantara kami yang pernah
berpikiran sampai ke sana ... selain kedua ibu kami,” ungkap Rein.
“Jadi, maksudmu kedua ibu kalian suka melihat kalian
bersama, begitu?”
“Mu—mungkin?” jawab Rein ragu.
“Mungkin?” ulang Jessie tak senang.
“Eh ... ibuku pernah bilang kalau kami kelihatan cocok,
begitu juga dengan ibu Selene.”
Jessie tanpa sadar menghela nafas pasrah, membuat Rein
mengangkat sebelah alis matanya.
“Kau baik-baik saja, Jess?”
“Ya,” jawab Jessie malas.
“Te—tenang saja, aku sudah menganggap Selene seperti
kakakku sendiri,” hibur Rein.
Jessie yang sedari tadi memasang wajah masam langsung
menatap Rein dengan kesal. “Dan untuk apa kau mengatakan hal seperti itu
padaku? Memangnya aku bertanya akan hal itu?” Jessie spontan menggembungkan
pipinya.
“Ah ... kupikir itu akan membuat perasaanmu lebih baik,”
ucap Rein seraya menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
“Hmph! Terserah kau saja!” Jessie pun berjalan pergi
meninggalkan Rein.
“Jess? Jess!”
Jessie perlahan tersenyum kecil. “Dasar ...” gumamnya.
***
Selene memandangi langit biru yang cerah itu cukup lama.
“Ini sudah lebih dari 5 menit.”
Pintu besi pembatas atap sekolah itu kembali terbuka.
Selene langsung menoleh. “Rein!”
“Kau ... Selene dari Vermillion, bukan?”
Terlihat seorang pria tegap dengan rambut hitam panjang
yang diikat dan dibiarkan di sebelah bahunya. Kulitnya seputih salju dan kedua
warna bola matanya sangat tidak asing bagi Selene.
“Kau ...!”
“Shh ... aku sudah tau kau akan kemari. Kalau boleh
jujur, sebenarnya aku tidak ada masalah denganmu.”
Selene tak menjawab. Netranya masih menginterogasi pria
yang kini mulai menyeringai kecil padanya.
“Kau mencari obat penawar untuk raja, bukan?”
Selene terkejut, namun tidak menunjukkan ekspresinya di
hadapan pria itu. “Dari mana kau bisa tau?”
“Aku akan mengatakannya setelah kalian sudah tiba di
istanaku ...,” Pria itu berbalik, “Aku yakin gulungan yang ada padamu itu akan
menunjukkan jalannya.”
“Apa?! Tunggu!”
Pria itu pun lenyap dari hadapan Selene. Seketika Selene
dikelilingi oleh bulu-bulu hitam burung gagak yang berterbangan.
“A—apa-apaan ini?! Kembali kau!”
“Selene ...? Kaukah yang berteriak barusan?”
Selene kembali memfokuskan pandangannya. Kosong. Bersih.
“Di mana perginya bulu-bulu sialan itu? Apakah ini hanya sebuah ... ilusi?
Tidak. Aku harus menanyainya,” batinnya.
“Selene ...? Kau mendengarkanku?”
“Ah ... iya. Kita harus segera bergegas, Rein. Sepertinya
ada yang—“
Rein menggeleng pelan. “Tidak. Aku tidak bisa ikut
denganmu.”
“A—apa?!”
“Maaf, Selene. Tapi, aku tidak bisa mengingkari janji
yang sudah kubuat. Jessie bersihkeras untuk ikut. Bagaimana kalau sesuatu
terjadi padanya kalau kita membawanya juga?”
“Aku tidak bilang kalau aku setuju untuk membawanya
bersama kita!”
“Dia tidak ingin aku pergi.”
“Siapa dia memangnya?! Dia itu hanyalah manusia, Rein!
Dia tidak akan mengerti tentang kita. Mereka hanyalah makhluk rendahan.”
“Selene! Cukup. Kau tidak bisa terus-terusan memandang
rendah seseorang.”
“Apa?! Kau membentakku hanya karena wanita itu?!”
bukan? Aku memang sangat payah dan bodoh. Aku tidak pernah berpikir terlebih
dahulu sebelum membuat keputusan.”
“Ya ... kau memang bodoh dan menyebalkan. Kau itu seorang
pangeran, Rein, pangeran! Itu bukanlah janji yang penting, kau bisa saja
mengingkarinya!”
Rein terdiam, tak menatap wajah teman kecilnya itu sama
sekali.
“Lihat aku, Rein! Oh ... aku tau. Kau memang tidak ingin
kembali lagi, bukan? Kau pasti sudah terpengaruh oleh wanita itu! Ternyata ada
juga keturunan penyihir lainnya di sini.”
“Selene! Jessie itu bukan penyihir. Dia ... aku kasihan
padanya. Hidupnya benar-benar sangat menyedihkan. Dia tidak ingin lagi hidup
sendirian di apartemen itu.”
“Kasihan? Mungkin maksudmu itu jatuh cinta, hm? Jujur
saja!”
“Aku tidak ...!”
“Kenapa? Tidak bisa melanjutkan ucapanmu? Kau benar-benar
sudah dibodohi oleh cinta, Rein. Kau tidak akan tau seperti apa reaksi kecewa
dari ibumu kalau aku memberitahukannya.”
“Selene ... tolong.”
Selene membelakangi Rein, melipat kedua tangannya dan
menghela nafas panjang. “Sekarang, aku akan memberimu kesempatan lagi. Pikirkan
baik-baik, ayahmu atau wanita itu?”
“Selene ...”
“Cepat putuskan!” sela Selene.
“Bisakah kita bicarakan ini baik-baik? Aku sudah bilang
bukan, kalaupun kita menemukan penawar itu, kita belum tentu bisa kembali,”
jelas Rein.
“Jadi ... kau memilih wanita itu, ya?”
“A—apa? Aku tidak bilang—“
‘Sreeng!’
“Ternyata kau ada sedikit kemajuan,” ujar Selene.
Kedua mata Rein masih membulat kaget. “Se—selene! Kau
gila! Kau hampir membunuhku!”
“Refleksmu cukup bagus. Kau sudah bisa membaca gerakanku,
ya?”
“Itu tidak menjawab pertanyaanku, Selene!”
“Sepertinya perkataan sekarang tidak akan menyelesaikan
masalah. Kalau kau bisa mengalahkanku, aku tidak akan mengganggumu dengan
wanita itu lagi.”
“A—apa?! Selene! Bukan ini jawaban yang ingin kudengar darimu!”
“Persiapkan dirimu. Aku tidak akan membuatnya mudah
untukmu.”
“Selene!”
‘Sreeng, sreeng!’
Rein terus menghindari tebasan bertubi-tubi yang
diluncurkan oleh Selene.
“Hahaha! Bagus! Aku suka perkembanganmu. Kau bergerak
semakin baik!” Selene tiba-tiba menghentikan pergerakannya.
“Huff, huff ... Selene, tolong berhenti. Aku tidak ingin
melawanmu.”
“Omong kosong! Aku akan mengalahkanmu dan menyeret
bokongmu kembali ke Vermillion! Hya!”
“Cih, kalau menghindarinya terus, bisa-bisa aku terpojok.
Aku tidak punya cara lain.”
“Rasakan ini! Hyaa!”
‘Traang!’
Kedua netra Selene membulat kaget. Rein kini menahan
serangannya menggunakan pedang pemberiannya. Perlahan, ia menyeringai puas.
Selene pun bergerak mundur dan kembali ke dalam posisi kuda-kuda.
“Kulihat kau mulai memberikan perlawanan. Sudah siap,
Pangeran Reinford?”
“Jangan salahkan aku, Selene. Aku sudah berusaha agar hal
ini tidak terjadi.”
“Berusaha? Kalau kau berusaha, hal ini mungkin tidak akan
terjadi. Tapi, di sinilah kita, saling mengarahkan pedang satu sama lain. Itu
namanya kau tidak berusaha, Pangeran Rein.”
“Cukup ... Selene. Aku akan mengalahkanmu dan membawamu
bersamaku!”
Selene kembali terkejut. Perlahan, ia menggigit bawah
bibirnya kesal. “Aku tidak akan mau bersamamu di planet ini!” seru Selene
seraya berlari dan meluncurkan permainan pedangnya.
Rein menggenggam erat pedangnya. Aku ... aku harus bisa mengalahkannya hari ini. “Kau akan
kukalahkan!” seru Rein seraya bergerak maju dan meluncurkan serangannya.