Vermillion

Vermillion
Chapter 2 : Aula Suci



Keesokan harinya, Reinford sudah berada di Aula Cahaya yang disebutkan oleh High Priest Dunan kemarin malam. Terlihat begitu banyak pria-pria tua yang berlalu lalang dengan membawa beberapa gulungan dokumen dan buku tua tebal. Bugh!


“Aw ...” erang Rein saat merasakan seseorang yang menepuk belakang kepalanya.


“Apa maksudmu?!” tanya Rein kesal seraya berbalik. Terlihat seorang wanita yang tidak asing baginya. “Selene?”


Wanita bernama Selene itu tersenyum. “Apa yang kau lakukan disini? Ingin bertemu dengan kakekku?”


“Ah ... High Priest Dunan, apa dia ada disini?”


Selene mengangguk. “Ikutlah denganku. Dia ada di ruangannya.”


Yah ..., ini adalah Selene. Temanku sejak kecil. Selene bisa dibilang memiliki ras yang unik, karena dia mendapati ras priest dan ras timeless milik keluarga kami. Spesifiknya, ibunya adalah keturunan ras timeless sementara ayahnya keturunan ras priest. Aku bisa kenal dengannya karena ibuku bersahabat baik dengan ibunya, sehingga menurunkannya pada kami berdua.


“Nah, ini dia ruangannya.” Selene membuka pintu itu dan melangkah masuk.


“Astaga, Selene! Sudah berapa kali Kakek bilang padamu? Kalau mau masuk, ketuk pi—“ High Priest Dunan tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Reinford masuk.


“Maafkan aku! Aku lupa kalau aku ada janji padamu, Pangeran!” terang High Priest Dunan seraya bersujud memohon ampun.


“T-tidak perlu begitu, High Priest. Berdirilah.”


“Jadi, Kakek. Apakah orang itu masih belum kemari?” tanya Selene.


“Siapa?” tanya Rein yang juga penasaran.


“Ho-ho ... orangnya sudah kemari dan sekarang dia sudah berdiri di sampingmu.”


Selene dan Reinford saling bertatapan horror. “Reinford Vermillion?! Kau yang akan berlatih denganku?!”


“T-tunggu dulu! High Priest, tolong jelaskan padaku apa maksud perkataanmu barusan?”


“Kau tau, Pangeran. Cucuku sebenarnya sangat lihai dalam aspek bela diri. Dan menurutku, karena kalian sudah saling kenal ... maka tidak ada salahnya kalau kau berlatih dengannya saja, bukan?”


Selene menyeringai puas. “Jadi begitu ya, kau yang akan pergi ke Planet Biru itu?”


Reinford menghela nafas pasrah. “Benar. Aku mohon bantuannya, Selene.”


“Baiklah, karena kau sudah memohon. Ikut aku.” Selene berjalan  keluar dari ruangan tersebut, diikuti oleh Reinford di belakangnya. Sementara High Priest Dunan hanya tersenyum dan menyisir jenggotnya yang lebat dengan tangannya.


Di halaman belakang Aula Cahaya, Selene sudah mengeluarkan dua batang stik kayu dan melemparkan salah satunya pada Reinford. Dengan sigap, Rein menangkapnya. “Untuk apa ini?”


“Tentu saja untuk berlatih.”


Rein memasang wajah datar. “Kau mau bermain-main denganku?”


“Simpan saja ocehanmu. Aku bahkan tidak yakin kalau stik kayu milikmu bisa mengenaiku.”


Reinford menyeringai. “Kau menantangku ya?”


“Majulah.”


Tok! Reinford mulai melayangkan beberapa pukulan stik kayunya pada Selene. Namun, ternyata semua tidak berjalan sesuai harapannya. Selene jauh lebih lincah dari dugaannya. Tok!


“Kena, Kau!” ujar Selene saat berhasil memukul bagian lengan Rein.


“Cih.”


“Ulangi. Fokus, Rein.”


Reinford kembali mengayunkan stik kayunya dan melancarkan beberapa pukulan pada Selene. Namun, tetap saja Selene berhasil menangkisnya dengan mudah.


“Pergerakanmu mudah sekali dibaca, Rein.”


Tok! Pukulan lain dari Selene berhasil mengenai Rein lagi.


“Ulangi,” ujar Selene kembali pada posisi kuda-kuda.


“Hya!” Reinford kembali meluncurkan serangannya.


Beberapa jam telah berlalu, Reinford kini bernafas tersengal-sengal sambil duduk bersandar di bawah pohon besar yang tumbuh di titik tengah halaman Aula Cahaya. Selene menghampirinya dan memberikan sebotol minuman.


“Terima kasih,” ucap Rein setelah menerima botol minuman itu.


Selene ikut bergabung dan duduk di sebelahnya. “Bahkan stik kayu saja kau tidak lolos. Bagaimana kalau tadi aku langsung mengusulkan untuk memakai pedang?”


“Hm.”


“Kenapa kau ingin kesana, Rein?”


“Ayahku. Dia terserang penyakit mematikan, kata High Priest penawarnya ada disana.”


Selene mengangguk-angguk pelan. “Ibumu? Apa dia setuju dengan keputusanmu?”


“Aku sudah meyakinkannya. Itulah kenapa aku berlatih denganmu sekarang. High Priest akan membiarkan aku pergi setelah aku dinyatakan lulus dari prediksinya.”


“Tapi ... kau payah sekali, Rein.”


Reinford menatap teman kecilnya itu dengan kesal. “Kau tidak perlu mengatakannya padaku! Aku juga tau kalau aku ini payah!”


Selene tersenyum kecil. “Ayo, kita lanjutkan lagi.” Selene kini sudah bangkit berdiri dan beranjak mengambil stik kayu miliknya. “Aku akan membantumu, Rein.”


Reinford memandangi Selene cukup lama. Sambil tersenyum kecil, Rein akhirnya beranjak dari tempat teduh itu dan menghampiri teman kecilnya itu. “Terima kasih, Selene.”


“Hm. Mulai!”


***


Matahari mulai terbenam. High Priest Dunan menyisir-nyisir jenggot lebatnya. “Pangeran Rein, dari hasil latihanmu hari ini dengan cucuku. Aku sudah bisa mengatakan kalau kau cukup lumayan di bagian mengayunkan pedang, namun payah dalam hal memanah, berkuda, menangkis, membaca pikiran lawanmu, bela diri—“


“Sudah. Tidak perlu dijelaskan lagi. Aku sudah tau maksudmu,” sela Rein pasrah.


“Aku rasa kau masih harus berlatih lagi beberapa hari ini. Maaf sekali, Pangeran. Namun, setelah melihat semua ini, aku masih belum bisa membiarkanmu pergi ke sana.”


“Tak apa. Aku akan mengoreksi diri dan memperbaiki kesalahan yang kubuat. Karena hari sudah malam, aku pamit pulang. Terima kasih untuk hari ini.” Reinford berjalan keluar dari ruangan tersebut.


“Kau tidak memberikan sedikit celah untuknya, hah?” tanya High Priest Dunan pada cucunya.


Selene hanya menggeleng pelan. “Seharusnya kau memberikan dia sedikit keringanan. Lihatlah, kau sudah membuat pangeran pulang dengan wajah lesu.”


“Ti-dak. Aku tidak akan memberikan sedikit celah untuknya. Bahkan dengan murid-muridku yang lainnya, aku tidak pernah memberikan mereka celah sekecil apapun.”


“Tapi, diakan teman kecilmu ....”


“Ti-dak. Aku tidak peduli dia mau anak raja, keluargaku, atau bahkan teman terdekatpun, kalau yang namanya sudah berlatih denganku, yah harus serius. Ini juga untuk kebaikannya, bukan?”


High Priest Dunan menghela nafas lelah. “Baiklah, baiklah. Aku tidak pernah menang kalau berdebat denganmu.”


Selene tersenyum puas. “Nah, kalau begitu. Aku akan pulang. Kau cepat selesaikan pekerjaanmu, jangan pulang sampai larut malam, mengerti?”


“Iya, iya ....”


***


“Ayah!” seru Rein saat setelah membuka pintu kamar itu.


Terlihat ayahnya yang masih berbaring tenang di atas kasur. Rein perlahan menghampiri kasur yang ditempati oleh ayahnya itu. Dari sisi kiri kasur, Rein memegang tangan dingin milik ayahnya.


“Ayah ....” Rein meletakkan tangan ayahnya kembali dan menutupi tubuh ayahnya dengan selimut. Lalu beranjak untuk menutupi jendela kamar yang terbuka. Rein kembali menatap lama langit malam yang bersinar terang. “Aku akan segera kesana. Pasti. Tunggu aku, Ayah.” Rein menutup rapat jendela kamar itu dan berjalan keluar dari kamar orangtuanya.


Pendengarannya kembali menangkap suara berat tawa pria yang tadi dikira milik ayahnya itu. Sembari melangkah mengikuti suara itu, Rein kini sudah berada di dapur kerajaan. Dilihatnya sosok tubuh tegap pria berambut klimis yang tengah bercanda tawa dengan ibunya.


“Ibu?” panggil Rein.


“Ah! Rein! Kemarilah! Lihatlah, siapa yang berkunjung,”


ucap ibunya seraya mendekati Rein.


Pria itu berbalik dan tersenyum ramah pada Rein. “Wah, Reinford sudah dewasa ternyata.”


“Kau?”


“Apa kau tidak ingat padaku? Ini aku ... Olver. Pamanmu!” serunya dengan bahagia.


“Oh ..., Paman Olver! Apa kabar!”


“Baik! Sangat baik! Paman sudah mendengar semuanya dari Ibumu. Paman turut bersedih. Adikku itu memang selalu saja bertingkah ceroboh.”


“Sudahlah, Olver. Mengatainya seperti ini tetap tidak akan membuatnya bangun, bukan?”


Paman Olver menghela nafas pasrah. “Kau benar ....”


“Paman datang sendiri?”


“Ahaha ... benar. Setelah mendapat kabar bahwa adikku terkena penyakit. Aku langsung cepat-cepat kemari.”


Reinford mengangguk pelan. “Kudengar dari Ibumu. Kau akan pergi ke Planet Biru untuk membawa pulang penawarnya, apa itu benar?” tanya Paman Olver memastikan.


“Ah ... benar.”


“Wah ... ternyata ponakanku sangat pemberani dan benar-benar


menyayangi ayahnya. Aku jadi ingin sekali mempunyai seorang anak seperti


dirimu.”


“Ah ... Paman terlalu memuji. Sebagai seorang anak, ini sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga kedua orangtuaku.”


“Kau dengar, Reina? Kata-kata anakmu barusan benar-benar menyentuh hatiku.”


Ibu Rein tertawa pelan. “Setauku tidak pernah ada yang bisa menyentuh hatimu, bahkan wanita cantik sekalipun.”


“Ahaha ... kau benar! Aku yakin Forde pasti bangga sekali mempunyai anak pemberani seperti dirimu.”


Rein hanya tersenyum tipis. “Kalau begitu, kalian berdua duduklah sambil berbincang-bincang, aku akan menyiapkan makan malam. Rein juga baru pulang, kau pasti belum makan, kan?”


“Ah ... iya, Ibu.”


“Nah, kemarilah. Banyak sekali yang ingin Paman ceritakan padamu!” Rein mengangguk pelan dan mengikuti pamannya.


***


Di meja makan yang luas, Rein duduk bersebelahan dengan pamannya.


“Jadi, bagaimana latihanmu hari ini, Jagoan?”


“Tidak bagus. Aku hanya bisa mengayunkan pedang palsu dengan baik saja hari ini,” jawab Rein kecewa.


“Tenanglah, Rein. Kau kan masih belajar ... apalagi ini baru pertama kalinya kau mempelajari seni bela diri.”


“Paman benar, tapi ... aku merasa sangat gagal menjadi seorang pria. Dilatih langsung oleh teman kecilku yang merupakan seorang wanita. Bagaimana bisa? Dia bahkan lebih lihai dibandingkan dengan diriku.” Rein menatapi kedua telapak tangannya yang lecet akibat latihan tadi.


Paman mengelus pelan kepala Rein. “Jangan menyerah, Rein. Paman yakin kau pasti bisa melaluinya. Jika kau ingin jago dalam suatu bidang, maka kau harus melalui prosesnya terlebih dahulu. Tidak ada yang instant.”


Rein tersenyum kecil. “Terima kasih untuk masukannya, Paman.”


“Tidak perlu berterima kasih. Hm ..., Paman kepikiran akan sesuatu. Dulu Paman dan ayahmu selalu berlatih di sana. Gua Mangroves.”


Rein mengangkat sebelah alis matanya. “Gua ... Mang- apa?”


“Mangroves, Rein. Itu pertama kalinya Paman dan ayahmu mengetes pencapaian latihan kami selama ini. Yaitu dengan memburu monster-monster yang tinggal di dalam sana. Berbeda dengan latihan biasanya, di sana kita dihadapkan untuk bisa sigap melawan musuh. Lengah sedikit saja, nyawamu akan menjadi taruhannya.”


Rein terdiam. Ibunya baru berjalan keluar dari dapur dengan membawa dua buah piring. “Apa yang sedang kalian bicarakan? Kalian tampak serius?” tanyanya seraya meletakkan dua buah piring itu di meja.


“Ah ... masalah pria,” jawab Paman Olver membuat Ibu Rein spontan cemberut.


“Ahaha ... sudah lama aku tidak melihatmu cemberut seperti itu,” goda Paman Olver.


“Dasar ... Rein, makanlah.”


“Ah ... baik, Ibu.”


Setelah selesai makan, Rein melihat ibunya yang telah beranjak kembali ke dapur. “Paman,” panggilnya langsung.


“Hm?” sahut Paman Olver sembari mengelap mulutnya dengan serbet.


“Di mana lokasi Gua Mangroves ini?”


Paman Olver mengangkat sebelah alis matanya. “Kau mau kesana?”


Rein mengangguk. “Tapi, bukankah kau bilang kalau kau baru bisa mengayunkan pedang palsu dengan benar saja tadi?”


“Ah ... itu memang benar. Aku hanya ingin tau lokasi pastinya, jadi saat aku sudah siap, aku bisa mengetesnya langsung.”


Paman Olver tersenyum. “Di dalam Hutan Enteria. Kau hanya perlu mengikuti papan petunjuk jalannya. Seingat Paman, arahnya hampir lurus-lurus saja.”


“Aku mengerti. Terima kasih, Paman.”


“Tak perlu repot-repot berterima kasih padaku, Rein.”


Rein kembali tersenyum tipis. “Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku dan beristirahat. Bagaimana dengan Paman?”


“Ah ... Paman masih ingin berbincang-bincang dengan ibumu. Tidurlah, Rein. Besok mungkin akan menjadi hari yang panjang untukmu.”


“Baiklah. Selamat malam, Paman.”


“Tidurlah yang nyenyak, Jagoan.”


Rein meninggalkan meja makan dan beranjak menuju kamar tidurnya. Di dalam kamarnya, Rein kembali menatap keluar jendela.


“Kapan pastinya aku akan kesana? Besok. Aku harus bisa. Aku harus melaluinya. Kalau sampai tertunda lagi, aku ... aku benar-benar anak yang tidak berguna.”