Vermillion

Vermillion
Chapter 42 : Raja Kegelapan, Chaos



“Tidak bisa ... ini tidak berhasil,” gumam Selene,


perlahan ia mengalihkan pandangannya ke samping dan menemukan Rein yang


tertidur dengan tenang.


Selene perlahan menggigit bawah bibirnya kesal. “Kenapa


jadi begini ...?”


***


“Huff, huff ... di mana aku ...?”


‘Sreek! Sreek!’


Selene memutar pandangannya pada semak-semak belukar di


sekitarnya. Perlahan ia memegang pedangnya dan sudah berada dalam posisi


kuda-kuda.


“Groooh!”


“Iblis!” seru Selene kaget seraya menebaskan pedangnya


pada makhluk buas yang ingin menerkamnya.


Selene menyadari dirinya yang mulai terkepung dan


terpukul mundur. Jika melawan pun pada akhirnya ia juga tetap kalah jumlah.


Iblis-iblis yang dilawannya benar-benar pintar, salah satu dari mereka jatuh,


mereka akan kembali memanggil koloninya.


Setelah berhasil menjatuhkan salah satu iblis yang


menerjang ke arahnya, dengan cepat Selene berlari melewati semak-semak belukar


itu. Sedikit menoleh, Selene dapat melihat iblis-iblis yang berusaha untuk


mengejarnya.


“A—apa?! Ba—bagaimana mungkin?! Mereka bukan iblis


biasanya! Mereka juga bisa berpikir?! Planet macam apa ini?!” Selene terus


mempercepat pergerakannya.


Hingga ia menemukan sebuah reruntuhan dan tanpa berpikir


panjang ia berlari masuk dan bersembunyi di dalamnya.


“Groooh!”


Selene mengintip dari celah kecil pintu masuk reruntuhan


itu. Sembari mengatur pernafasannya, Selene menghela nafas lega. “Sial ... itu


hampir saja, huff ... huff, tetap saja mereka semua adalah makhluk yang bodoh!”


“Hm ... begitu, ya?”


Selene tersontak dan langsung bangkit. Tangannya sudah


menarik keluar pedangnya. “Siapa di sana?!” seru Selene pada siapapun yang


bersembunyi di balik kegelapan itu.


“Ha—ha—haa! Kau ... kau sangat unik. Menarik.”


“Keluar dari tempat persembunyianmu, Iblis Rendahan!” seru


Selene tanpa takut.


“Ha—ha—haa! Kau tidak tau siapa aku, Burung Kecil.”


“Cih, kalau begitu keluarlah dari tempat persembunyianmu


dan aku akan dengan senang hati memberi tanda perkenalan ini di wajahmu,”


tantang Selene seraya memegang erat pedangnya.


‘Ctak!’


Tiba-tiba cahaya muncul dan menyilaukan pemandangan


Selene. Sembari menggelengkan kepalanya, Selene kembali memfokuskan


pandangannya pada sekeliling.


Di sepanjang dinding-dinding batu tua itu dihiasi oleh


banyak batang lilin putih yang menyala. Namun, Selene tidak melihat adanya


seseorang ataupun makhluk yang barusan menyerangnya.


“A—apa?”


“Ikuti suaraku, Burung Kecil. Selamat datang di


Kerajaanku. Ha—ha—ha!”


“Tu—tunggu!” seru Selene. Namun, ruangan itu kembali


hening.


“Sial, aku ... apa yang harus kulakukan? Berbalik atau


maju?” batin Selene seraya memadangi lorong panjang di hadapannya.


“Aku rasa ... aku tidak ada pilihan lain, bukan?” Selene


akhirnya melangkahkan kakinya menyusuri lorong itu.


***


Tak butuh waktu yang lama, lorong panjang itu membawa


Selene menuju ruang utama. Kedua mata Selene terbelalak dan mulutnya perlahan


menganga kecil. Ia tak pernah merasakan aura kuat dan dingin seperti ini


sebelumnya. Kekuatan. Kekuatan yang sangat kuat.


Di hadapannya, ia melihat sebuah tengkorak raksasa yang


menunggunya di kursi raja. Selene tanpa sadar menggeleng pelan. “Ini ... ini


tidak nyata ....”


“Ha—ha—haa! Aku memang tidak salah. Kau memang sangat


menarik dan unik. Kau pasti bukan dari dunia ini.”


“Kau ... siapa kau?!”


“Chaos. Seperti itulah aku dipanggil biasanya. Raja dari


segala kejahatan dan kegelapan.”


“Ba—bagaimana mungkin ada makhluk dengan kekuatan sebesar


ini di sini?” batin Selene tak percaya.


“Percaya atau tidak. Aku bisa memberikan kekuatan ini


padamu juga.”


“A—apa? D—dia bisa mendengarkanku?” batin Selene kaget.


“Aku bisa mendengarkan semua pikiranmu, Burung Kecil.”


“Kau ... dari mana kau mendapatkan kekuatan sebesar


ini?!” seru Selene.


“Ha ... ha—ha—ha! Aku sudah bilang padamu, bukan? Akulah


raja dari segala kejahatan dan kegelapan di dunia ini. Semakin banyak


makhluk-makhluk ciptaan Goddess itu melakukan kejahatan, kekuatanku akan selalu


meningkat.”


“Goddesss ... Oh, jadi mereka semua itu nyata?”


Chaos memandangi Selene cukup lama, lalu menyeringai.


“Kau ... kau memiliki kekuatan yang sama dengan mereka. Darah ras priest


mengalir dalam dirimu ... hm, tidak ... masih ada darah lainnya.”


“Itu ... dari ayahku. Ayahku keturunan ras priest. Hanya


dia yang selalu mengatakan padaku hal-hal mengenai Goddess. Namun, setelah


kepergiannya, aku sudah tidak terlalu mendalami hal itu.”


“Yah ... ya, aku bisa melihatnya dari hati kecilmu,


Burung Kecil.”


“Permisi? Maksudmu?”


“Ibu ... ibumu. Adalah seorang ras timeless, benar? Dia


yang mengatakan padamu untuk tidak terlalu mendalami kepercayaan ayahmu.”


“Ba—bagaimana mungkin! Hal itu hanya aku, kakek dan ibu


saja yang tau!” batin Selene syok.


“Tidak perlu takut dan khawatir, Burung Kecilku. Kau


“H—hah?”


“Aku bisa merasakannya ... ambisimu ... keinginanmu ...


semua yang ada dalam dirimu ... sempurna.” Chaos bergerak mendekati Selene.


Perlahan, ia mengangkat tangannya dan bersiap untuk mengusap wajah Selene


dengan jari telunjuknya.


Namun, Selene dengan cepat bergerak mundur dan menepis


tangannya. “Berani menyentuhku sama saja dengan mempercepat kematianmu.”


Chaos tertawa lepas. Tawanya bahkan dapat menciptakan


getaran sedang dan membuat beberapa batu di dalam reruntuhan itu terjatuh.


“Oh ... kau melukai perasaanku. Tapi, aku yakin sekali


pangeran kecil kesayanganmu ini lebih boleh menyentuhmu daripada aku.”


“Kau!”


“Biar kuperlihatkan padamu apa yang sedang pangeran kecil


kesayanganmu ini lakukan ...” Chaos perlahan membuka sebuah portal sihir yang


memperlihatkan Selene sebuah wajah yang tak asing baginya, Reinford Vermillion.


“Rein!” seru Selene lega.


“Aku yakin kau tidak akan mau melihat ini, Burung


Kecilku.”


Selene mengalihkan pandangannya pada Chaos. Memasang


wajah datar dan membunuh miliknya. “Beritahu aku lokasinya, sekarang!”


Chaos menyeringai puas. “Lihat dulu, Burung Kecilku,”


sarannya.


Selene kembali mengalihkan pandangannya ke portal sihir


itu. Kedua matanya membulat tak percaya. “Siapa ... siapa wanita itu?”


Rein dan wanita itu tampak saling bertatapan di dekat


jendela sebuah kamar. Tatapan kedua orang itu begitu dalam layaknya pasangan


yang mabuk akan cinta. Kedua wajah mereka pun perlahan mendekat dan ... Sreet!


Selene menebas portal sihir itu dengan pedangnya, ia


melakukannya berulang-ulang kali. Berharap portal sihir itu segera musnah dari


hadapannya.


“Ha-ha-haa!” Chaos pun menjentikkan jarinya dan portal


sihir itu pun menghilang.


Selene berusaha menahan amarahnya, meremas erat pedangnya


dan merapatkan giginya dengan kuat.


“Pangeran kecilmu itu tidak memperdulikanmu. Dia sudah


menemukan wanita yang berhasil membuka hatinya.”


“Pembohong! Kau sengaja membuatnya, kan?! Kau sengaja


membuatku berselisih dengan Rein!”


“Untuk apa? Apa keuntungan yang kuperoleh setelah aku


berhasil membuat kalian berdua berselisih?”


Selene terdiam. Benar


juga kata tengkorak sialan itu. Untuk apa dia membuatnya berselisih dengan


Rein? Dia bahkan tidak mengenal Rein.


 “Aku sangat kasihan padamu,


Burung Kecilku. Kau yang memutuskan untuk membantunya mencari obat penawar


untuk ayahnya. Tapi, setelah sampai di sini ... kau dilupakan. Kau bahkan masih


berusaha keras untuk mencarinya selama ini. Melawan setiap jenis makhluk yang


siap menerkammu baik di siang maupun malam tiba.”


Selene mengepalkan tangannya. Benar, dia memang melakukan hal itu. Bahkan sampai sekarang pun ia


masih tetap ingin mencari obat penawar itu untuk ayah Rein.


“Tapi ... bagaimana dengan dirinya sendiri? Ia bahkan


melupakan tugasnya kemari. Tunggu dulu, sebenarnya yang sakit itu ayahmu atau


ayahnya sih?” ledek Chaos.


Amarah Selene semakin terlihat jelas. Chaos bisa merasakannya,


perlahan ia tersenyum puas. Semuanya berjalan sesuai keinginannya.


“Kau pasti sangat lelah melewati semua ini, Burung


Kecilku. Kemarilah, aku akan memberikanmu sedikit kekuatanku. Kemarilah ....”


Selene menatap Chaos dengan tatapan dinginnya. Perlahan,


ia mulai melangkah maju mendekatinya. Hal itu membuat Chaos semakin tersenyum


lebar.


“Iya, kemarilah, Burung Kecilku.”


Setelah Selene sudah berdiri di hadapannya. Selene


melihat tangan raja kegelapan itu mengulur padanya. “Peganglah tanganku dan kau


akan merasakan kekuatanku yang mengalir dalam tubuhmu.”


“Kekuatan macam apa yang kau bangga-banggakan ini,


Rajaku?”


“Ha—ha—ha! Aku sangat suka mendengar panggilan itu. Dan


yah! Tentu saja kekuatan ini mampu membuatmu berteman dengan makhluk-makhluk


yang pernah menyerangmu sebelumnya. Mereka akan melihatmu sebagai teman ...


mereka tidak akan menyerangmu lagi.”


Selene tersenyum kecut. “Hanya itu kekuatanmu yang


sesungguhnya? Berteman dengan makhluk rendahan?” ledek Selene.


“Tentu saja tidak, kekuatanku jauh lebih kuat dari yang


kau bayangkan, mereka bukanlah temanku ... mereka bekerja untukku! Ha-haa-haa!”


“Baiklah ... aku terima kekuatanmu,” Selene perlahan


menggapai tangan Chaos.


“Bagus, tunggulah sampai kau mulai merasakan sensasinya,”


ujar Chaos yang kini mulai memindahkan sedikit kekuatannya pada Selene.


‘Jleb!’


“A—APA?!” seru Chaos kaget saat melihat sebuah pedang


yang menancap tepat di jantungnya.


Selene spontan tertawa puas. “APA?! APA MAKSUDNYA INI?!”


seru Chaos melepas paksa genggaman Selene.


“Saat kau memindahkan kekuatanmu padaku, aku bisa


mendengarkan suara jantungmu yang berdegup amat kencang. Dan mungkin karena aku


memiliki darah keturunan ras priest dalam diriku, aku mendapatkan sebuah


penglihatan ... cahaya itu menuntunku untuk memusnahkanmu ... Raja Kegelapan!”


“Kau ... kau, Sialan! Terkutuk! Kau jauh lebih jahat dari


makhluk mana pun!”


“Aw ... lihatlah siapa yang sedang mengoceh di sini ...


dan yah, aku tidak dapat memungkiri komentar jahatmu barusan. Aku memang


membutuhkan kekuatanmu ... bukan sedikit, tapi aku mau semuanya. Aku tidak


membutuhkan teman, aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri!” ujar Selene seraya


menarik pergelangan tangan Chaos dan memegangnya telapak tangannya dengan erat.


“Tidaak!” seru Chaos.


“Ya ... yaa! Aku ... aku bisa merasakannya! Kekuatan ...


kekuatan yang amat kuat ... berikan padaku semuanya!”