
“Tidak bisa ... ini tidak berhasil,” gumam Selene,
perlahan ia mengalihkan pandangannya ke samping dan menemukan Rein yang
tertidur dengan tenang.
Selene perlahan menggigit bawah bibirnya kesal. “Kenapa
jadi begini ...?”
***
“Huff, huff ... di mana aku ...?”
‘Sreek! Sreek!’
Selene memutar pandangannya pada semak-semak belukar di
sekitarnya. Perlahan ia memegang pedangnya dan sudah berada dalam posisi
kuda-kuda.
“Groooh!”
“Iblis!” seru Selene kaget seraya menebaskan pedangnya
pada makhluk buas yang ingin menerkamnya.
Selene menyadari dirinya yang mulai terkepung dan
terpukul mundur. Jika melawan pun pada akhirnya ia juga tetap kalah jumlah.
Iblis-iblis yang dilawannya benar-benar pintar, salah satu dari mereka jatuh,
mereka akan kembali memanggil koloninya.
Setelah berhasil menjatuhkan salah satu iblis yang
menerjang ke arahnya, dengan cepat Selene berlari melewati semak-semak belukar
itu. Sedikit menoleh, Selene dapat melihat iblis-iblis yang berusaha untuk
mengejarnya.
“A—apa?! Ba—bagaimana mungkin?! Mereka bukan iblis
biasanya! Mereka juga bisa berpikir?! Planet macam apa ini?!” Selene terus
mempercepat pergerakannya.
Hingga ia menemukan sebuah reruntuhan dan tanpa berpikir
panjang ia berlari masuk dan bersembunyi di dalamnya.
“Groooh!”
Selene mengintip dari celah kecil pintu masuk reruntuhan
itu. Sembari mengatur pernafasannya, Selene menghela nafas lega. “Sial ... itu
hampir saja, huff ... huff, tetap saja mereka semua adalah makhluk yang bodoh!”
“Hm ... begitu, ya?”
Selene tersontak dan langsung bangkit. Tangannya sudah
menarik keluar pedangnya. “Siapa di sana?!” seru Selene pada siapapun yang
bersembunyi di balik kegelapan itu.
“Ha—ha—haa! Kau ... kau sangat unik. Menarik.”
“Keluar dari tempat persembunyianmu, Iblis Rendahan!” seru
Selene tanpa takut.
“Ha—ha—haa! Kau tidak tau siapa aku, Burung Kecil.”
“Cih, kalau begitu keluarlah dari tempat persembunyianmu
dan aku akan dengan senang hati memberi tanda perkenalan ini di wajahmu,”
tantang Selene seraya memegang erat pedangnya.
‘Ctak!’
Tiba-tiba cahaya muncul dan menyilaukan pemandangan
Selene. Sembari menggelengkan kepalanya, Selene kembali memfokuskan
pandangannya pada sekeliling.
Di sepanjang dinding-dinding batu tua itu dihiasi oleh
banyak batang lilin putih yang menyala. Namun, Selene tidak melihat adanya
seseorang ataupun makhluk yang barusan menyerangnya.
“A—apa?”
“Ikuti suaraku, Burung Kecil. Selamat datang di
Kerajaanku. Ha—ha—ha!”
“Tu—tunggu!” seru Selene. Namun, ruangan itu kembali
hening.
“Sial, aku ... apa yang harus kulakukan? Berbalik atau
maju?” batin Selene seraya memadangi lorong panjang di hadapannya.
“Aku rasa ... aku tidak ada pilihan lain, bukan?” Selene
akhirnya melangkahkan kakinya menyusuri lorong itu.
***
Tak butuh waktu yang lama, lorong panjang itu membawa
Selene menuju ruang utama. Kedua mata Selene terbelalak dan mulutnya perlahan
menganga kecil. Ia tak pernah merasakan aura kuat dan dingin seperti ini
sebelumnya. Kekuatan. Kekuatan yang sangat kuat.
Di hadapannya, ia melihat sebuah tengkorak raksasa yang
menunggunya di kursi raja. Selene tanpa sadar menggeleng pelan. “Ini ... ini
tidak nyata ....”
“Ha—ha—haa! Aku memang tidak salah. Kau memang sangat
menarik dan unik. Kau pasti bukan dari dunia ini.”
“Kau ... siapa kau?!”
“Chaos. Seperti itulah aku dipanggil biasanya. Raja dari
segala kejahatan dan kegelapan.”
“Ba—bagaimana mungkin ada makhluk dengan kekuatan sebesar
ini di sini?” batin Selene tak percaya.
“Percaya atau tidak. Aku bisa memberikan kekuatan ini
padamu juga.”
“A—apa? D—dia bisa mendengarkanku?” batin Selene kaget.
“Aku bisa mendengarkan semua pikiranmu, Burung Kecil.”
“Kau ... dari mana kau mendapatkan kekuatan sebesar
ini?!” seru Selene.
“Ha ... ha—ha—ha! Aku sudah bilang padamu, bukan? Akulah
raja dari segala kejahatan dan kegelapan di dunia ini. Semakin banyak
makhluk-makhluk ciptaan Goddess itu melakukan kejahatan, kekuatanku akan selalu
meningkat.”
“Goddesss ... Oh, jadi mereka semua itu nyata?”
Chaos memandangi Selene cukup lama, lalu menyeringai.
“Kau ... kau memiliki kekuatan yang sama dengan mereka. Darah ras priest
mengalir dalam dirimu ... hm, tidak ... masih ada darah lainnya.”
“Itu ... dari ayahku. Ayahku keturunan ras priest. Hanya
dia yang selalu mengatakan padaku hal-hal mengenai Goddess. Namun, setelah
kepergiannya, aku sudah tidak terlalu mendalami hal itu.”
“Yah ... ya, aku bisa melihatnya dari hati kecilmu,
Burung Kecil.”
“Permisi? Maksudmu?”
“Ibu ... ibumu. Adalah seorang ras timeless, benar? Dia
yang mengatakan padamu untuk tidak terlalu mendalami kepercayaan ayahmu.”
“Ba—bagaimana mungkin! Hal itu hanya aku, kakek dan ibu
saja yang tau!” batin Selene syok.
“Tidak perlu takut dan khawatir, Burung Kecilku. Kau
“H—hah?”
“Aku bisa merasakannya ... ambisimu ... keinginanmu ...
semua yang ada dalam dirimu ... sempurna.” Chaos bergerak mendekati Selene.
Perlahan, ia mengangkat tangannya dan bersiap untuk mengusap wajah Selene
dengan jari telunjuknya.
Namun, Selene dengan cepat bergerak mundur dan menepis
tangannya. “Berani menyentuhku sama saja dengan mempercepat kematianmu.”
Chaos tertawa lepas. Tawanya bahkan dapat menciptakan
getaran sedang dan membuat beberapa batu di dalam reruntuhan itu terjatuh.
“Oh ... kau melukai perasaanku. Tapi, aku yakin sekali
pangeran kecil kesayanganmu ini lebih boleh menyentuhmu daripada aku.”
“Kau!”
“Biar kuperlihatkan padamu apa yang sedang pangeran kecil
kesayanganmu ini lakukan ...” Chaos perlahan membuka sebuah portal sihir yang
memperlihatkan Selene sebuah wajah yang tak asing baginya, Reinford Vermillion.
“Rein!” seru Selene lega.
“Aku yakin kau tidak akan mau melihat ini, Burung
Kecilku.”
Selene mengalihkan pandangannya pada Chaos. Memasang
wajah datar dan membunuh miliknya. “Beritahu aku lokasinya, sekarang!”
Chaos menyeringai puas. “Lihat dulu, Burung Kecilku,”
sarannya.
Selene kembali mengalihkan pandangannya ke portal sihir
itu. Kedua matanya membulat tak percaya. “Siapa ... siapa wanita itu?”
Rein dan wanita itu tampak saling bertatapan di dekat
jendela sebuah kamar. Tatapan kedua orang itu begitu dalam layaknya pasangan
yang mabuk akan cinta. Kedua wajah mereka pun perlahan mendekat dan ... Sreet!
Selene menebas portal sihir itu dengan pedangnya, ia
melakukannya berulang-ulang kali. Berharap portal sihir itu segera musnah dari
hadapannya.
“Ha-ha-haa!” Chaos pun menjentikkan jarinya dan portal
sihir itu pun menghilang.
Selene berusaha menahan amarahnya, meremas erat pedangnya
dan merapatkan giginya dengan kuat.
“Pangeran kecilmu itu tidak memperdulikanmu. Dia sudah
menemukan wanita yang berhasil membuka hatinya.”
“Pembohong! Kau sengaja membuatnya, kan?! Kau sengaja
membuatku berselisih dengan Rein!”
“Untuk apa? Apa keuntungan yang kuperoleh setelah aku
berhasil membuat kalian berdua berselisih?”
Selene terdiam. Benar
juga kata tengkorak sialan itu. Untuk apa dia membuatnya berselisih dengan
Rein? Dia bahkan tidak mengenal Rein.
“Aku sangat kasihan padamu,
Burung Kecilku. Kau yang memutuskan untuk membantunya mencari obat penawar
untuk ayahnya. Tapi, setelah sampai di sini ... kau dilupakan. Kau bahkan masih
berusaha keras untuk mencarinya selama ini. Melawan setiap jenis makhluk yang
siap menerkammu baik di siang maupun malam tiba.”
Selene mengepalkan tangannya. Benar, dia memang melakukan hal itu. Bahkan sampai sekarang pun ia
masih tetap ingin mencari obat penawar itu untuk ayah Rein.
“Tapi ... bagaimana dengan dirinya sendiri? Ia bahkan
melupakan tugasnya kemari. Tunggu dulu, sebenarnya yang sakit itu ayahmu atau
ayahnya sih?” ledek Chaos.
Amarah Selene semakin terlihat jelas. Chaos bisa merasakannya,
perlahan ia tersenyum puas. Semuanya berjalan sesuai keinginannya.
“Kau pasti sangat lelah melewati semua ini, Burung
Kecilku. Kemarilah, aku akan memberikanmu sedikit kekuatanku. Kemarilah ....”
Selene menatap Chaos dengan tatapan dinginnya. Perlahan,
ia mulai melangkah maju mendekatinya. Hal itu membuat Chaos semakin tersenyum
lebar.
“Iya, kemarilah, Burung Kecilku.”
Setelah Selene sudah berdiri di hadapannya. Selene
melihat tangan raja kegelapan itu mengulur padanya. “Peganglah tanganku dan kau
akan merasakan kekuatanku yang mengalir dalam tubuhmu.”
“Kekuatan macam apa yang kau bangga-banggakan ini,
Rajaku?”
“Ha—ha—ha! Aku sangat suka mendengar panggilan itu. Dan
yah! Tentu saja kekuatan ini mampu membuatmu berteman dengan makhluk-makhluk
yang pernah menyerangmu sebelumnya. Mereka akan melihatmu sebagai teman ...
mereka tidak akan menyerangmu lagi.”
Selene tersenyum kecut. “Hanya itu kekuatanmu yang
sesungguhnya? Berteman dengan makhluk rendahan?” ledek Selene.
“Tentu saja tidak, kekuatanku jauh lebih kuat dari yang
kau bayangkan, mereka bukanlah temanku ... mereka bekerja untukku! Ha-haa-haa!”
“Baiklah ... aku terima kekuatanmu,” Selene perlahan
menggapai tangan Chaos.
“Bagus, tunggulah sampai kau mulai merasakan sensasinya,”
ujar Chaos yang kini mulai memindahkan sedikit kekuatannya pada Selene.
‘Jleb!’
“A—APA?!” seru Chaos kaget saat melihat sebuah pedang
yang menancap tepat di jantungnya.
Selene spontan tertawa puas. “APA?! APA MAKSUDNYA INI?!”
seru Chaos melepas paksa genggaman Selene.
“Saat kau memindahkan kekuatanmu padaku, aku bisa
mendengarkan suara jantungmu yang berdegup amat kencang. Dan mungkin karena aku
memiliki darah keturunan ras priest dalam diriku, aku mendapatkan sebuah
penglihatan ... cahaya itu menuntunku untuk memusnahkanmu ... Raja Kegelapan!”
“Kau ... kau, Sialan! Terkutuk! Kau jauh lebih jahat dari
makhluk mana pun!”
“Aw ... lihatlah siapa yang sedang mengoceh di sini ...
dan yah, aku tidak dapat memungkiri komentar jahatmu barusan. Aku memang
membutuhkan kekuatanmu ... bukan sedikit, tapi aku mau semuanya. Aku tidak
membutuhkan teman, aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri!” ujar Selene seraya
menarik pergelangan tangan Chaos dan memegangnya telapak tangannya dengan erat.
“Tidaak!” seru Chaos.
“Ya ... yaa! Aku ... aku bisa merasakannya! Kekuatan ...
kekuatan yang amat kuat ... berikan padaku semuanya!”