Vermillion

Vermillion
Chapter 17 : Masa Depan



Di depan toko, pukul 16.30.


“Jess!”


“Hein!”


“Ini, kau mau apa dengan kameraku?” tanya Hein seraya menyerahkan kameranya.


“Oh, aku ingin membuat video yang nantinya akan ku post ke channel MyTubeku.”


“Tumben, bukannya kau tidak suka yang berhubungan dengan kamera?”


“Yah ... kalau bisa menghasilkan uang, kenapa tidak, kan?”


“Oh astaga, Jess! Kau mau melakukan hal gila semacam itu?! Kalau kau memang segitunya memerlukan uang, kau kan bisa meminjamnya langsung padaku!”


“Apa yang kau pikirkan sih, Hein!? Aku hanya ingin merekam momen konyol dengan pria aneh itu! Lagipula menurutku itu cukup menarik.”


Hein mengerjapkan matanya dengan heran. “Menarik?”


“Yup! Bagaimana menurutmu, kalau kau melihat seseorang yang sudah berusia hampir 20 tahunan, tapi tidak mengenal satupun teknologi canggih yang ada sekarang ini? Apa itu wajar?”


Hein berpikir sejenak. “Hm, maksudmu Reinford Vermillion itu tidak tau sama sekali dengan teknologi canggih, ya?”


Jessie mengangguk-angguk. “Aneh, kan?”


Hein kembali ke pose berpikirnya. Tanpa berpikir panjang, Jessie langsung menjitak kepala Hein.


“Aw, Jess! That’s hurt!” erang Hein seraya mengelus kepalanya.


“Norak!” Jessie kembali melayangkan jitakan lainnya pada kepala Hein. Namun, Hein dengan cepat menghindarinya.


“Eh, Jessie, Hein, kalian kenapa belum pulang?” tanya ibu pemilik toko yang baru saja keluar dengan sekantung plastik berisi sampah.


“Eh, Ibu. Iya, Jessie baru mau pulang.”


Hein membungkukkan badannya. “Wah, apa kabar, Bu? Masih ingat sama Hein?”


“Ahaha! Iya dong, dari kecil kalian bertiga kan sering sekali berkunjung kemari. Walaupun, Hein dan si gemas itu sudah pindah ke daerah lain. Tapi, Ibu senang sih melihat kalian masih sering mengunjungi Jessie.”


Hein menggaruk pelan belakang kepalanya. “Haha, tapi yang dikunjungi kelihatannya tidak senang tuh, Bu.”


Jessie langsung menatap Hein dengan tajam. Yang ditatap hanya mengangkat kedua tangannya dan terkekeh pelan.


Ibu pemilik toko tertawa lepas. “Melihat kalian berdua, Ibu jadi keingat dengan sahabat-sahabat Ibu waktu masih seusia kalian. Sekarang, Ibu sudah jarang sekali bisa bertemu langsung seperti kalian. Mereka juga sudah punya kehidupan mereka masing-masing. Sudah ada yang berkeluarga bahkan ada yang sudah tinggal di luar negeri. Huff ... indahnya masa remaja. Ibu jadi ingin mengulang semuanya.”


Jessie dan Hein tersenyum. Mereka perlahan menunduk pelan, merasakan angin sore yang sangat mendukung momen mereka saat ini.


“Ibu harap kalian bisa memanfaatkan momen kalian saat ini dengan sebaik-baik mungkin. Siapa yang bakal tau ke depannya bagaimana, kan?”


“Hm, kenapa Ibu tidak membuat sebuah grup obrolan saja? Sekarang kan sudah ada aplikasi chat yang hemat dan tidak begitu mahal? Disana Ibu juga bisa video-call dengan sahabat-sahabat Ibu yang dulu, kan?”


“Hein, Ibu sudah membuatnya dan itu tidak efektif. Tidak ada jam yang pas untuk bisa berkumpul bersama, pasti ada saja yang tidak bisa menyempatkan diri. Chat saja kadang tidak sempat dibaca, apalagi sampai video-call.”


“Begitu ya, hehe ...” Hein kembali menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


***


“Hein,” panggil Jessie saat mereka tengah berjalan pulang menuju apartemennya.


“Hm?”


“Kau pikir bagaimana dengan masa depan kita nantinya?”


Hein menaikkan sebelah alis matanya, lalu melipat kedua tangannya. “Siapa yang bakal tau dengan masa depan kita, Jess? Itu semua tergantung keputusan dan pilihan kita sekarang yang akan berpengaruh nantinya.”


“Haha ..., kau tidak terdengar seperti Jessie yang kukenal sekarang,” timpal Hein.


“Haha ..., mungkin kau benar. Perkataan Ibu barusan, benar-benar masih melekat dikepalaku.”


Hein memandang sahabatnya itu dengan lama, lalu menggeleng pelan. “Bagian mana, Jess? Yang tidak bisa saling bertemu atau berkomunikasi dengan baik?”


“Keduanya,” jawab Jessie pelan, masih memandang lurus ke depan.


Hein menghela nafas pelan. “Hm, kalau berkomunikasi, aku yakin kita pasti masih bisa melakukannya. Toh, kita sekarang saja tidak bisa lepas dari gadget, kan? Lagian kita juga hanya bertiga, tidak akan susah untuk video-call. Kalau Ted tidak bisa, kita spam saja dia!”


Jessie tertawa pelan. “Benar juga, ya?”


Hein tersenyum kecut. “Tapi, kalau untuk saling bertemu, aku tidak begitu yakin juga sih.”


Jessie menghentikan langkahnya, lalu memandang wajah sahabatnya itu. “Kenapa?”


“Bisa saja salah satu dari kita nantinya bakal pergi, kan ...?”


“Pergi ke mana?!” sela Jessie langsung.


“Whoa, whoa ... sabar, Jess. Kenapa langsung ngegas begitu? Aku kan belum selesai berbicara. Maksudku, mungkin saja salah satu dari kita nantinya bakal pindah kota ataupun pergi ke negara lain. Benar, kan?”


“Kau sedang membicarakan masa depanmu, ya? Diantara kita bertiga, satu-satunya yang punya kesempatan untuk meninggalkan negara ini hanya kau, Hein,” ucap Jessie kesal seraya kembali melangkahkan kakinya dengan cepat.


Hein mengekori Jessie. “Haha ... kenapa kau berpikir seperti itu, Jess?”


“Yang pindah duluan itu, kau, Hein? Kau tidak ingat? Keluargamu itu kan hobi sekali berpindah-pindah tempat,” ungkap Jessie.


“Haha! Kau tau sekali hobi keluargaku, Jess!”


“Kau itu bisa tidak sih, serius sedikit? Satu hari saja!” ucap Jessie, yang kini sudah menghadapnya.


Hein menghentikan langkahnya dan tertegun.


“Aku serius, tau! Bagiku, kalian berdua itu sangat penting! Saat kalian berdua pindah dari sini, aku sangat takut. Aku takut tidak akan berjumpa dengan kalian lagi. Untung saja, kita bertiga masih satu sekolah dan kalian masih sering menyempatkan diri untuk mengunjungiku. Tapi, bagaimana kalau yang paling kutakutkan terjadi? Aku ... aku-“


Hein membawa Jessie ke dalam pelukannya. “Jess, untuk saat ini kau mungkin akan berpikir seperti itu. Yang namanya masa depan, kita kan masih belum tau. Bisa saja nantinya, malah kau yang paling susah untuk kami hubungi. Secara kau kan nantinya bakal menjadi ibu rumah tangga yang baik dan pengertian, kan?”


Jessie langsung melepaskan dirinya dari pelukan Hein dan meninju bahu sahabatnya itu dengan pelan. “Kau meledekku?!”


“Haha! Aku hanya berusaha untuk menghiburmu! Tapi, aku senang mendengarnya, Jess. Ternyata dibalik sifatmu yang terbilang cukup buruk. Kau sangat perhatian pada kami berdua. Terima kasih, ya, sudah mau menjadi sahabat kami.”


Jessie menggembungkan pipinya. “Sudahlah, aku tidak mau membahas masa depan untuk saat ini. Memikirkannya saja sudah membuatku geli.”


“Bagian mana? Menjadi ibu rumah tangga yang baik dan pengertian?” ledek Hein.


“Diamlah!” Jessie mempercepat langkah kakinya.


Hein berusaha mengejar dan berjalan di sampingnya. “Haha! Aku jadi ingin melihat anak-anakmu nantinya.”


“Hein! Kau pikirkan saja dulu masa depanmu sendiri!”


“Haha! Huff ... masa depanku, ya?”


Jessie yang sadar kalau sahabatnya itu sudah tidak berada di sampingnya, akhirnya menoleh. “Kau kenapa, Hein?”


 “Hm ... aku jadi penasaran ...”


Jessie masih menatap lama sahabatnya itu. “siapa jodohku nantinya,” lanjut Hein.


“HEINN!!”