
Tak terasa 4 hari telah berlalu sejak kejadian hilangnya Rein. Walaupun sudah berjanji pada Ted dan mengatakan bahwa semuanya itu hanya bercanda ... tapi, tetap saja. Penjelasan pria itu benar-benar tidak masuk akal. Hal itu membuatku mau tak mau tetap melanjutkan rencanaku untuk mengetes tingkat kegilaannya.
***
Jessie menutup laptopnya dan menghela nafas panjang. “Tidak ada yang tertarik juga. Ternyata membuat video di channel MyTube itu tidak semudah yang kupikirkan!”
“Jess? Kau kenapa?” tanya Rein sembari mengambil tempat di sebelahnya.
“Eh? Tak ada, aku ... hanya lelah dan ingin melepaskannya. Hehe! Lupakan, kau sudah lapar?”
Rein menggeleng. “Tidak. Hanya saja, ada yang harus kutemui hari ini. Bolehkah aku keluar sebentar?”
Jessie mengernyitkan dahinya heran. “Kau sudah bertemu dengan orang-orang yang kau kenal?!”
“Iya,” jawab Rein sembari tersenyum ramah.
“Baguslah! Kalau begitu biar kuantarkan kau kesana juga!” Jessie pun bangkit dari sofanya.
Rein menahan pergelangan tangan wanita itu. “Tidak usah. Aku hanya ingin membicarakan beberapa hal saja padanya. Aku tidak akan lama.”
“Maksudmu? Tunggu dulu, siapa orang ini, Rein? Jangan bilang kalau kau baru-baru ini kenal dengannya?!”
“Um ... aku tau ini mungkin kedengarannya aneh. Tapi, Gerold adalah teman baik High Priest Dunan yang sudah pernah kuceritakan padamu. Hari itu, saat aku pergi tanpa memberitahumu. Aku bertemu dengannya, dan dia adalah pria tua yang kuceritakan padamu waktu itu.”
“Oh ... jadi dia pria tua itu! Tidak, kau tidak boleh menemuinya!”
“K-kenapa?”
“Mungkin saja kali ini dia benar-benar akan menipumu, kan? Apa dia ada menyuruhmu untuk membawakannya sesuatu?”
Rein menggeleng. “Tidak, dia tidak meminta apapun dariku. Dia hanya bilang akan menjemputku nanti jam 2.”
“Kalau begitu, aku rasa tidak ada salahnya kalau aku ikut bergabung juga, kan?”
“Eh ....”
“Baiklah, semua sudah ditetapkan. Kau hanya boleh pergi kalau kau membiarkanku ikut juga denganmu! Titik!”
Rein memijat pelipisnya pelan. “B-baiklah.”
“Bagus!” Jessie kembali membuka laptopnya.
***
“Maafkan aku, tapi temanku kelihatannya tidak akan membiarkanku pergi seorang diri.”
“Maksud, Pangeran?”
“Ah ... dia ingin ikut juga nanti.”
“Oh ... aku takut dia akan berpikir kita ini aneh,
Pangeran. Haha! Karena, ya ... Pangeran tau sendiri, kan? Apa saja yang nantinya akan kita bahas?”
Rein menatap keluar jendela dan menghela nafas pelan. “Ya. Aku juga sudah memberitahunya, Gerold. Tapi dia masih memaksa untuk ikut.”
“Yah ... kalau sudah memaksa, mau bagaimana lagi, kan? Kalau dia memang sebegitu inginnya ikut, ya, tak masalah. Aku akan ke sana nanti, Pangeran. Sesuai pesanku semalam, jam 2 siang.”
“Baiklah. Sampai ketemu nanti, Gerold.”
‘Tut!’
Rein meletakkan ponsel itu di kasurnya. Matanya mulai beralih ke sebuah pedang yang berada di sebelah bawah kasurnya. “Aku rasa Gerold tidak akan keberatan kalau aku membawanya juga.”
***
Jam menunjukkan pukul 13.30. Rein menyimpan ponsel itu disakunya dan mulai mengambil pedangnya.
‘Tok, tok, tok!’
‘Tok, tok, tok!’
Rein dengan cepat membuka pintu yang sedari tadi digedur-gedur itu.
“Ada apa, Jess? Inikan masih jam 1 lewat?”
“Gawat, Rein, gawat!” seru Jessie panik.
“Ada apa, Jess?”
“Hein! Hein!”
“Apa yang terjadi pada Hein, Jess?”
“Hein kecelakaan!”
“A-apa?!”
***
Jessie sedari tadi tak berhenti berbolak-balik di depan pintu ruangan itu. Sementara Ted terlihat tenang di salah satu kursi pengunjung.
“Sudahlah, Jess. Duduk dan tenangkan dirimu dulu,” ucap Ted.
“Bagaimana aku bisa tenang, Ted! Dokternya saja belum keluar-keluar juga!”
Ted menggeleng pelan. “Kau tidak perlu sepanik itu, oke? Lagian Hein juga hanya menderita luka ringan.”
“Yang namanya luka, ya tetap luka! Mau ringan atau beratpun, tetap saja mengkhawatirkan!”
Jessie tak menghiraukannya, ia tetap melanjutkan kegiatan mondar-mandirnya.
“Ah ... benar, maafkan aku, Gerold. Apa bisa pertemuan kita ditunda besok saja?”
“Ah ... jangan khawatir, Pangeran. Lagipula, kita juga hanya akan membahas beberapa hal saja. Untuk besok, aku memiliki jadwal yang cukup sibuk. Minggu depan, mungkin aku bisa. Jangan berkecil hati, Pangeran. Informasi sekarang nanti akan kusampaikan dengan informasi terbaru di pertemuan kita nantinya.”
“Aku mengerti. Terima kasih, Gerold. Aku juga akan berusaha sebisaku. Maaf merepotkanmu.”
“Tidak. jangan berkata seperti itu, sampai jumpa kalau begitu, Pangeran.”
“Ya.”
‘Tut!’
Rein menyimpan ponsel itu dan kembali menghampiri Jessie dan Ted.
“Rein! Kemarilah dan duduk di sampingku,” ajak Ted.
“Baiklah.”
Rein pun duduk di samping Ted. Pria bertubuh gemuk itu tersenyum padanya. “Jangan pedulikan Jess. Terkadang dia memang sedikit lebay. Hein sebenarnya tidak terluka separah itu, kok. Tenang saja, ya!”
“Ah ... haha, begitu ya. Baiklah.”
Pintu kamar itu terbuka, dokter berjalan keluar dan langsung dihadang oleh Jessie.
“Bagaimana keadaan sahabat saya, Dok?!”
“Tenang saja, Teman Nona tidak kenapa-napa, kami sudah menutup lukanya, sebentar lagi juga sudah boleh pulang. Kalau begitu, saya permisi.”
Jessie menepi, membiarkan dokter muda itu lewat. Ted dan Rein pun bangkit dan menghampiri Jessie.
“Sudah kubilang, kan? Hein tidak kenapa-napa.”
“Tetap saja! Dia kan terluka! Tidak kenapa napa apanya?!”
“Aduh, sudahlah, Jess. Suaramu itu melengking sekali! Aku rasa orang yang sedang beristirahat di sebelah kamarku juga terganggu oleh suaramu.” Suara itu tak lain adalah suara Hein yang berasal dari dalam kamar.
Jessie pun menerobos masuk dan mulai melayangkan beberapa jitakan pada kepala mulus Hein.
“Aw ... aduh! Kau kenapa lagi kali ini, Jess?!” seru Hein syok.
“Kau kenapa bisa sampai terluka seperti ini sih?! Makanya jangan sok keren kalau lagi bawa kendaraan!” gerutu Jessie kesal.
“Sok keren apanya?! Lagian aku juga ga bawa kendaraan, kok!” bela Hein kesal.
“Loh? Kok kakimu bisa sampai lecet? Kau sebenarnya pakai matamu itu ga sih?”
“Tentu saja aku pakai!” timpal Hein.
“Kalau pakai juga jangan untuk lihat cewek-cewek doang! Lihat kiri, kanan, atas, bawah!”
“Jess, sebenarnya mobil itu yang tidak tau kenapa tiba-tiba menyerempet Hein. Lalu, tanpa bertanggungjawab, pengendara mobil itu langsung main kabur saja. Untung saja Hein sadar dan langsung bergerak refleks. Kalau tidak, mungkin tubuhnya sudah terpelanting,” jelas Ted.
“Terima kasih sudah menjelaskannya untukku, Sobat!” ucap Hein terharu.
“Maksudmu, mobil itu memang sengaja menabrak Hein?!” seru Jessie.
“Tenang, Jess. Tenanglah, itukan hanya spekulasi. Mungkin saja pengendara mobil itu sedang mabuk, kan?” ujar Hein.
“Mabuk? Di siang bolong? Kau gila?!” balas Jessie emosi.
“Sudahlah, Jess. Lagipula aku juga tidak kenapa-napa, kan?”
“Beruntungnya sih iya, Hein. Tapi, bagaimana kalau kau tadi tidak sempat bergerak refleks? Mungkin tulang-tulang tubuhmu sudah patah semua atau lebih parahnya lagi kau mungkin tidak akan selamat!”
“Wow, Jess, itu sudah terdengar berlebihan,” balas Ted.
“Kenapa kau mengatakan hal seburuk itu sih, Jess. Kau mendoakanku?” tambah Hein datar.
“Um ... apa maksud kalian itu ... ada yang sengaja ingin membunuh Hein?”
Ketiga orang itu menatap Rein dengan heran. Lalu, Ted spontan tertawa ringan.
“Tidak, tidak. Jangan pedulikan ucapan Jessie barusan. Seperti kata Hein, mungkin saja benar pengendara mobil itu sedang mabuk.”
“Lihatlah, Jess. Kau baru saja mengajarkannya cara berpikir negatif,” sindir Hein.
Jessie menggaruk belakang kepalanya. “Ah ... benar, jangan terlalu dipikirkan, Rein. Aku yang terlalu berlebihan.”
Ponsel Rein kembali berdering, pria itu spontan permisi untuk mengangkat teleponnya. Ketika pria itu keluar dari kamar tersebut, Hein mencolek lengan Jessie.
“Aku baru tau kalau kau membelikannya ponsel baru?”
Ted hanya mengangguk pelan. “Kenapa tidak bilang pada kami, Jess? Kita kan bisa patungan untuk membayarnya.”
“Oh ... jangan-jangan kau takut kalau dia akan hilang lagi, ya? Makanya cepat-cepat membelikannya ponsel baru?” goda Hein.
Jessie yang mulai merasakan aura panas di sekitar wajahnya spontan mencubit kaki Hein yang baru diperban, pria itu langsung mengerang kesakitan.
“Aw ... aw! Sakit, Jess!”
“Diam kau ... lagipula, bukan aku yang membelikannya.”
Ted sedikit memiringkan kepalanya. “Maksudmu?”