Vermillion

Vermillion
Chapter 6 : Planet Biru



“Jadi ... apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Rein sembari memandangi teman kecilnya yang tengah bersantai di kursi sebelahnya.


“Yah ... kita hanya perlu menunggu sampai pesawat tempur ini berhenti dengan sendirinya.”


“Hah?! M-maksudmu?”


Selene yang sedari tadi memejamkan kedua matanya, perlahan membuka matanya dan memandangi teman kecilnya itu. “Tenang saja, pesawat ini sudah dilengkapi dengan fitur auto-pilot,” ujarnya.


“A-auto ... apa?”


“Huff ... kujelaskan juga kau tidak akan mengerti, Rein,” ledek Selene sembari kembali ke posisi bersantainya.


“H-hei! Kalau kau tidak menjelaskannya padaku, mana mungkin aku bisa mengerti?!”


“Ya, ya, ya ... kusarankan kau tetap tenang saja, Pangeran. Masalah ini biar aku yang urus.”


Reinford hanya bisa menghela nafas pasrah seraya bangkit berdiri dari kursi wakil kapten dan beranjak menuju ruangan lainnya.


***


Reinford memandang keluar dari jendela pesawat. “Aku semakin menjauh dari Vermillion. Hm ... kalau dilihat-lihat, memang tidak salah ayahku menamai Planet ini Vermillion.”


Rein memejamkan kedua matanya. “Tunggu aku, ayah, ibu. Aku akan segera kembali dan membawa penawarnya!”


“Hei, apa kau mabuk, Pangeran?”


Rein membuka kedua matanya dan memandang si pemilik suara, sudut bibirnya sedikit naik dan membentuk senyuman kecil. “Selene ... tidak, aku tidak mabuk. Hanya saja, aku kepikiran dengan kedua orangtuaku.”


Selene tersenyum tipis. “Huff ... kau tau, Rein. Kita masih bisa berbalik.”


Rein menggeleng pelan. “Tidak. Aku tidak akan kembali sebelum mendapatkan penawarnya. Aku tidak ingin mengecewakan ibuku.”


“Kau tidak akan mengecewakannya, Rein. Aku pasti akan membantumu menemukannya. Secepat mungkin malah,” ucap Selene seraya menepuk sebelah bahu Rein pelan.


Rein tertawa kecil. “Terima kasih, Selene.”


“Tak masalah.”


‘Te-et, te-et, te-et!’


“S-suara apa itu, barusan?” tanya Rein heran.


“Sepertinya ada yang salah dengan mesinnya,” jawab Selene sembari beranjak pergi, meninggalkan Rein yang masih terheran-heran.


“T-tunggu aku, Selene!”


***


Di ruang mesin bagian bawah, terlihat asap yang menggumpal di sekitar mesin generator.


“A-apa yang terjadi, Selene?” tanya Rein yang baru sampai dan mengamatinya dari atas tangga.


“Mesinnya bermasalah, Rein. Kau tunggu saja di atas sana! Aku akan segera memperbaikinya!”


“Kau yakin? Asapnya terlihat semakin tebal, Selene.”


“Yah!” seru Selene yang mulai tertutupi asap.


Lampu-lampu yang menerangi Rein mulai meredup. Bunyi alarm lainnya kembali terdengar.


“S-selene!”


“Iya! Aku juga mendengarnya!” seru Selene seraya mendongakkan kepalanya untuk mengambil nafas.


“Apa mungkin mesin yang ada di bagian atas?” tanya Rein.


“Hm, sepertinya iya,” jawab Selene kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam gumpalan asap.


“Aku akan ke atas! Kau bereskan bagian bawahnya, ya!” ucap Rein.


“T-tunggu! Kau tidak akan mengerti!” seru Selene langsung.


“Aku akan mencobanya! Lagipula kalau aku memang tidak bisa memperbaikinya, aku akan kembali dan menanyakannya padamu, oke?!”


“Oh ... ya sudah, berhati-hatilah!”


“Ya!”


***


Di ruang mesin bagian atas,


“Aneh. Di sini kenapa tidak ada gumpalan asapnya?” gumam Rein.


Rein mulai mendekati mesin generator yang berada di tengah-tengah ruangan tersebut. “Benar. Memang tidak ada yang aneh dengan mesinnya! Apa mungkin ... masih ada ruang mesin lainnya, ya?”


Rein masih berpikir keras sebelum akhirnya lampu dalam ruangan tersebut padam.


“A-a-apa-apaan ini?” Rein berusaha berjalan keluar dengan meraba-raba dinding dalam ruangan tersebut.


Di lorong pesawat,


“L-lampunya benar-benar padam semua, kah?! A-aku tidak bisa melihat apapun!” gerutu Rein, tangannya masih tetap setia meraba dinding-dinding dingin pesawat tempur tersebut. Tap!


Reinford mengangkat sebelah alis matanya. “A-apa yang sedang kusentuh? I-ini jelas bukan dinding!” gumamnya sembari mempererat genggamannya pada objek yang tak diketahuinya itu.


Seketika lampu-lampu di bagian lorong itu kembali menyala dan menampakkan sesosok berjubah hitam yang telapak tangannya sedang digenggam erat oleh Rein.


“S-siapa kau!” seru Rein kaget dan melepaskan genggamannya.


“Reinford Vermillion, mati!” serunya sembari menyerang Rein dengan sihir api berbentuk phoenix.


Dengan cepat, Rein menghindari api phoenix itu. “Cih, hanya itu saja kemampuanmu?” ledek Rein.


Sosok berjubah hitam itu akhirnya tertawa lepas. “Pergerakan yang cukup bagus, Pangeran. Namun, itu merupakan kesalahan yang cukup fatal.”


Reinford mengerjapkan matanya, masih tidak mengerti akan maksud perkataan sosok berjubah hitam itu. Hingga indra penciumannya mulai mencium aroma sesuatu yang sedang terbakar.


“Celaka!” seru Rein sembari menoleh


dan mendapati api phoenix yang hampir melahap jalan keluarnya.


“Kau akan mati, Pangeran. Seperti yang sudah diramalkan!” ucap sosok berjubah hitam itu sebelum akhirnya menghilang dalam kabut asap.


“Tunggu! Apa maksudmu!”


“Rein! Reinford! Kau bisa mendengarkanku!” Terdengar suara teriakan Selene dari sisi lain lorong jalan keluar yang kini tertutupi oleh api membara itu.


“Aku baik-baik saja, Selene!” seru Rein.


“Baik-baik apanya?! Kenapa bisa sampai kebakaran sih, Rein?! Sial! Seharusnya aku tidak membiarkanmu melakukannya!”


Reinford hanya bisa pasrah setelah mendengar ocehan panjang teman kecilnya itu.


“Kau tetaplah disana! Carilah posisi yang aman! Aku akan segera memadamkan apinya!”


“Baiklah ....”


***


Hampir 20 menit Selene berulang kali menyirami api yang menghalangi jalan keluar Rein itu, namun hasilnya api itu tetap membara.


“Aneh. Ini jelas bukan api biasa,” gumam Selene.


‘Te-et! Te-et! Te-et!’


“A-apa lagi ini?! Aku kan sudah memperbaikinya barusan!” batin Selene heran.


“Selene, kau disana?! Kau bisa mendengarkanku?!”


“Ah ... iya, Rein! Aku tidak bisa memadamkan apinya! Ini bukan api biasa!”


“Aku tau! Api ini bukan berasal dari mesin generatornya! Tadi ada-“


Tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras dari bawah. Pesawat tempur itu tiba-tiba bergetar dan lepas kendali.


Reinford spontan memegangi pipa-pipa yang tertanam pada bagian dinding untuk menahan tubuhnya terseret. “Selene! Selene! Kau bisa mendengarkanku!”


Tidak ada sahutan dari Selene. “Aku harus mencarinya! Aku harus bergerak! Tapi ...” Reinford memandangi api phoenix yang masih setia menutupi jalan keluarnya.


Sembari melirik seisi lorong, Rein tidak bisa menemukan jalan pintas lainnya. Hanya itu satu-satunya jalan keluar dan api phoenix itu lah yang menjadi pembatas antara dirinya dan Selene.


Reinford mengatur pernafasannya, lalu mulai bergerak sedikit demi sedikit dari pipa pertama ke sambungan pipa lainnya. Getaran kuat yang dihasilkan oleh pesawat itu berhasil mengganggu konsentrasi Rein. Alhasil, Rein nyaris saja melepaskan pegangannya. “Sial! Pandanganku mulai kabur ....”


‘Te-et! Te-et! Te-et!’


“... ayah, ibu, High Priest, maafkan aku ...” batin Rein.


***


“Apa itu barusan?”


“Komet, kah? Cepat buat permintaan!”


“Hm ... aku tidak yakin kalau yang barusan lewat itu komet.”


“Eh, Jess? Kau mau kemana?!”


“Aku akan mengikuti objek itu! Tak salah lagi, objek itu pasti mengarah ke pohon tua!”


“Jess! Jessie! Tunggu!”


***


“Wah ... bagaimana kau bisa tau kalau yang barusan lewat itu bukan komet, Jess?”


“Dan kenapa kau bisa tau itu mengarah ke pohon tua, Jess?”


“Berhentilah bertanya, kalian berdua! Masuklah ke dalam pesawat aneh itu dan kembalilah dengan sesuatu yang bagus!”


“Oke!”


“Ya!”


***


“Apa ... dia sudah meninggal? Kulitnya pucat sekali ....”


“Tapi, aku masih bisa merasakan denyut nadinya!”


Kedua pria itu masih saling beradu argumen hingga tidak menyadari pergerakan dari penemuan mereka. “Ugh ....”


“Dia bergerak!” seru kedua pria itu kompak.


“D-di mana ... aku?”


“Kau sudah bangun, Pria Aneh? Sebaiknya kau jelaskan pada kami, siapa kau dan apa yang baru saja terjadi padamu?” tanya satu-satunya wanita berambut pirang yang ada disana.


“Aku ... Reinford Vermillion.”


Ketiga orang itu mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu saling bertatapan aneh.


“Kau pernah mendengar nama itu?” bisik si wanita.


“Tidak.”


“Dia mungkin bukan orang penting.”


“Ehem. Lalu apa terjadi padamu dan pesawat anehmu? Kau sedang syuting film, ya?” tanya si wanita lagi.


“Syuting ... film? Apa itu?”


Kedua pria yang ada disana spontan melongo.


“Jess, apa mungkin dia amnesia?” tanya seorang pria bertubuh gemuk.


“Kurasa, Ted. Hei! Apa kau bisa mengingat kembali kejadian yang sebelumnya menimpamu?” tanya si wanita sembari berjongkok di hadapannya.


“Ah ... seseorang menyerang pesawat yang kami tumpangi, mesin generatornya terbakar dan tidak berfungsi-“


“Tunggu! Kau bilang ‘kami’? Berarti masih ada orang lainnya di dalam?” sela wanita itu.


“Selene! Iya! Di mana Selene!” seru Rein saat menyadari hanya dirinya seorang di luar pesawat.


“Ted, Hein! Kalian dengarkan kalau masih ada orang lainnya di dalam sana! Cepat kembali ke dalam dan temukan orang itu!” perintah si wanita, dalam sekejap kedua pria itu bergegas masuk kembali ke dalam pesawat.


“Terima kasih.”


“Tak masalah. Ada berapa orang yang bersama denganmu?”


“Hanya aku dan Selene.”


Si wanita hanya mengangguk-angguk mengerti. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya pada Rein. Sontak Rein memundurkan kepalanya. “A-ada apa?”


“Hm ... rambut merah milikmu itu, asli? Atau hanya wig? Warnanya bagus sekali ...” Wanita itu langsung menyentuh beberapa helain rambut merah milik Rein dan menginterogasinya.


“Wig? Apa itu?” tanya Rein heran.


Wanita itu menepuk jidatnya. “Baiklah, jadi ini asli ya? Tapi bagaimana mungkin? Di mana tempat kelahiranmu?”


“Aku lahir di Vermillion.”


Wanita itu kembali mengernyitkan dahinya. “Ver-million? Negara, kah? Atau kota di bagian mana itu?”


“Vermillion itu planet yang dinamai oleh ayahku.”


Wanita itu menatap kedua mata Rein lama, lalu akhirnya tak bisa menahan tawanya. “Pftt, maaf. Kau pasti kebanyakan menonton film, ya? Haha ....”


“Film? Apa itu?”


Wanita itu seketika berhenti tertawa. “Kau ... tidak tau film?”


Rein sedikit memiringkan kepalanya, lalu menggeleng pelan.


“Kau benaran amnesia?”


“Amnesia? Apa itu?”


Wanita itu tak menjawab, namun bangkit berdiri dan sedikit melangkah mundur darinya. Wanita itu menatap ke arah pesawat sembari melipat kedua tangannya.


Beberapa menit kemudian, kedua pria yang bersama dengan wanita pirang itu berjalan keluar.


“Ted, Hein. Bagaimana? Kalian menemukan temannya?”


“Tidak, Jess.”


“Tidak ada siapa-siapa di dalam.”


Wanita itu kembali menatap Rein. “Kau dengar perkataan mereka? Tidak ada siapa-siapa di dalam. Kemungkinan temanmu ini sudah keluar sebelum pesawat ini mendarat di sini.”


“Benarkah? Lalu ... kau ada di mana sekarang, Selene ...” lirih Rein.


“Kau tak apa?” tanya pria bertubuh gemuk yang tak lain bernama Ted itu.


Jessie, si wanita pirang itu langsung menarik pergelangan tangan Ted, sedikit menjauh agar Rein tidak mendengar perkataan mereka. “Hei, kurasa dia ini orang gila,” bisik Jessie.


“Hah?!” teriak Ted spontan membuat Hein dan Rein menatapi mereka.


Jessie spontan menepuk pundak Ted dengan kasar dan menutup mulut si pria dengan sebelah tangannya. “Tidak perlu berteriak, Bodoh!”


“M-maaf ... tapi, Jess, darimana kau tau kalau pria itu gila?” bisik Ted.


“Insting,” jawab Jessie sembari berjalan pergi dan menghampiri Rein.


“Kalian itu bicaraan apa sih?” gerutu Hein kesal karena tidak diajak.


“Bukan hal penting. Lalu, Reinford Vermillion.”


Rein langsung menelan ludah dan menatap Jessie dengan tegang. “I-iya?”


“Kau bilang kau dari Planet Vermillion, bukan?”


“Benar.”


“Lalu, kenapa kau kemari? Kau jelas bukan dari sini, kan?”


“Ah ... aku ingin mencari penawar yang bisa menyembuhkan penyakit ayahku,” jelas Rein.


“Dan itu berarti penawarnya ada disini?”


“Ah! Aku hampir lupa, apa benar planet ini yang disebut-sebut Planet Biru?!” tanya Rein bersemangat.


Kedua pria yang sedari tadi memperhatikan mereka itu spontan menganga. Tak hanya itu, Jessie bahkan mengerjapkan matanya berkali-kali.


“P-planet Biruu?!” seru mereka bertiga tak percaya.