
Jessie tengah duduk termenung di salah satu bangku halte.
“Apa aku langsung ke toko saja, ya?” batinnya saat sebuah bus sudah berhenti di depannya.
Di dalam bus, Jessie kembali termenung.
“Apa yang akan kulakukan selama seminggu ini? Apa aku minta kerja dari pagi sampai sore saja, ya? Lumayankan dapat uang tambahan?”
Jessie menatap keluar kaca bus. “Membosankan,” gumamnya.
***
Di toko tempat Jessie bekerja,
“Wah, Jessie cepat pulang hari ini? Jessie sakit, kah?” tanya ibu pemilik toko.
“Ah ... tidak, tidak. Hanya saja, ada hal yang tidak terduga terjadi dan aku diskors. Hehe ...” jelas Jessie tersenyum kecut.
“Oh, astaga. Jadi, berapa lama Jessie diskors?”
“Seminggu, Bu.”
“Oh ... yang sabar ya, Jess.”
Jessie mengangguk pelan. “Terima kasih, Bu. Oh iya, aku berpikir untuk menambah jam kerjaku selama seminggu ini. Apakah bisa, Bu?”
“Ah ... Ibu bukannya mau menolak, Jess. Hanya saja sudah ada yang mengambil jam pagi hingga jam 12. Ibu biasa akan menjaga sampai kau datang. Tapi kalau kau mau, kau bisa datang di jam 12,” usul ibu pemilik toko.
“Jam 12, ya? Baiklah, bukan masalah!”
“Haha ... kau sudah bisa mulai hari ini, tapi kau masih harus menunggu 2 jam lagi sampai jam pria itu habis,” ucap ibu pemilik toko seraya menunjuk ke bagian kasir.
“Ah ... bukan masalah, aku juga harus mengganti pakaian dulu.”
“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di jam 12 ya!”
“Iya! Aku permisi,” pamit Jessie seraya membungkukkan badannya.
***
Di depan apartemennya, Jessie meronggoh saku jaket yang dikenakannya. Tiba-tiba terdengar suara barang jatuh dari dalam apartemennya.
“Suara apa itu?” batin Jessie heran seraya mempercepat gerakannya.
Setelah pintu apartemennya terbuka, Jessie langsung menerobos masuk. “Siapa disana?!”
Kedua pasang bola mata Jessie bertemu dengan kedua netra milik si perusuh. Jessie langsung memasang wajah datarnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Ah ... halo, Jessie. Ini ... um, aku masih penasaran dengan benda petak bernama televisi ini. Jadi, aku mencoba untuk menghidupkannya. Tapi, benda ini malah mengeluarkan bunyi aneh. Lalu ...”
Jessie mengangkat sebelah alis matanya dan melipat kedua tangannya. “Lalu apa, Rein?”
“Aku ... melemparnya ...” ungkap Rein pelan, nyaris berbisik. Rein bahkan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah yang kini memerah karena malu.
Perlahan sudut bibir Jessie terangkat. “Sial. Dia manis sekali, aku ingin sekali mencubitnya!” batin Jessie geram.
“Ehem. Kenapa kau melemparnya?!” tanya Jessie sengaja, dia ingin mendengar jawaban unik dari pria dihadapannya itu.
“Ah ... a-aku kira benda itu berbahaya, bisa saja dia memanggil bala bantuan,” ungkap Rein lagi, Jessie bahkan tidak bisa menahan tawanya. Wanita itu spontan tertawa pecah.
“Ah ... apa ada yang lucu?” tanya Rein heran.
Jessie mendekati Rein dan mencubit kedua pipinya. “Kau ini aneh sekali! Mana mungkin remote AC bisa memanggil bala bantuan! Haha!”
“Remote apa? A-C?”
Rein mengangkat wajahnya dan memandang ke area yang ditunjuk oleh Jessie. Setelah melihat benda persegi panjang itu, Rein spontan mengangguk-angguk dan ber-oh ria.
“Kalau kau mau menyalakan televisi,” Jessie mengambil remote berwarna hitam dan menunjukkannya pada Rein. “Pakai yang ini. Sini kutunjukkan cara menyalakannya.” Jessie pun mengarahkan remote itu di depan televisi dan menekan tombol power on.
“Tekan yang merah ini kalau mau menyalakannya ataupun mematikannya, paham? Nah, coba kau praktekkan,” ujar Jessie seraya menyerahkan remote itu pada Rein.
Rein mengangguk dan mulai menekan tombol bulat kecil berwarna merah itu berulang-ulang kali. Ekspresi kagum tercetak jelas pada wajahnya.
“Benda ini ... benar-benar luar biasa.”
Jessie tersenyum, lalu merebut remote itu darinya. “Sudah, kalau kau tekan terus menerus seperti itu, yang ada kau malah merusak remotenya!”
“Merusak?”
“Iya, rusak, dia tidak akan berfungsi dengan baik. Kalau hal itu terjadi, maka kau harus memperbaikinya. Kalau tidak bisa, maka gunakan alternatif terakhir. Ganti dia dengan yang baru.”
“Tidakkah itu terkesan seperti membuangnya?”
“Yah, namanya juga sudah rusak total. Yah, harus dibuang,” jawab Jessie enteng seraya beranjak menuju dapur.
Rein menatap remote televisi yang sudah diletakkan oleh Jessie sebelumnya. “Kasihan sekali.”
***
Jam menunjukkan pukul 11.45, Jessie sudah berganti dengan pakaian casualnya.
“Aku akan pulang nanti sore, aku titip apartemenku padamu, ya!”
“Ah ... Jessie. Sebenarnya, aku-“
“Oh iya! Kabar baik untukmu! Aku sedang diskors selama seminggu! Jadi, kau akan melihat wajahku setiap pagi hingga jam segini, setidaknya sampai Senin depan baru akan kembali normal!”
“Baiklah.”
“Kau mau ku kunci dari luar atau kau yang kunci sendiri dari dalam? Tapi, aku masih ragu sih padamu. Aku kunci saja dari luar, ya! Takutnya nanti kau malah sembarangan mengizinkan orang lain masuk. Kalau begitu, dadah! Sampai jumpa nanti sore!” pamit Jessie seraya menutup pintu apartemennya dari luar.
Rein menghela nafas pelan. “Aku bahkan tidak diberikan kesempatan untuk berbicara ...”
***
Jam menunjukkan pukul 17.30, Rein tengah duduk di sofa ruang tamu dan menonton televisi. Perlahan tangannya kembali menggapai remote AC yang terletak bersampingan dengan remote TV.
“Eh? Aku lupa menanyakan kegunaan remote ini?” Mata Rein kembali memandang benda persegi panjang yang terpasang di sudut ruangan.
“Tunggu dulu, remote ini hampir mirip. Ada tombol on dan off nya. Apa cara kerjanya juga sama, ya?” Rein mulai mengarahkan remote AC itu dan menekan tombol on/off.
Setelah beberapa menit mengutak-atik alat itu, Rein mulai mengerti kegunaan benda bernama AC itu. “Pantas saja suasananya nyaman sekali. Jadi benda ini bisa mengeluarkan angin malam buatan? Planet Biru benar-benar membuatku takjub. Tak heran High Priest mengatakan obat penawar ayah ada disini. Mereka saja bisa menghasilkan benda-benda yang tak terduga seperti ini.”
Pintu apartemennya terbuka, Jessie melangkah masuk dengan lemas. “Aku pulang ....”
“Ah ... hai, Jessie. Bagaimana harimu?”
“Melelahkan. Kau sudah makan?”
“Belum.”
“Baiklah. Tunggu sebentar ya! Setelah aku selesai mandi, aku akan memasak makan malam!”
“Baik.”
Jessie berjalan lesu menuju kamarnya. Rein masih memandangi punggung wanita itu sampai menghilang dari pandangannya.
“Jessie kelihatannya sangat lelah. Apa pekerjaaan yang dilakukannya itu benar-benar menguras tenaga, ya? Hm ... kalau dipikir-pikir lagi, perkataan High Priest ada benarnya. Fisik yang diturunkan oleh ras ayahku memang hampir mirip dengan mereka. Apa ayahku ternyata juga seorang ras campuran? Ntahlah ... aku jadi semakin penasaran dengan kaum manusia ini.”