
“Lari!” seru Hein memberi aba-aba, setelah mereka bertiga
terdiam dalam beberapa menit ke depan memandangi naga itu.
“GROAAH!”
“Cepat, cepat, cepat, Ted!” seru Jessie dan Hein,
menunggu pria bertubuh gemuk itu menuruni eskalator.
Naga mayat hidup itu memaksa masuk melalui celah itu.
Namun, tampaknya celah itu terlalu kecil untuk dilalui oleh tubuh besarnya.
Setelah Ted berhasil menyusul kedua sahabatnya, mereka kembali merasakan
getaran kuat lainnya.
Rein kembali menarik paksa pedang apinya keluar dari
tubuh mayat hidup itu. Pandangannya pun teralihkan pada naga mayat hidup itu.
Naga itu tampak berusaha keras untuk masuk melalui celah itu.
“Apa yang sedang dia lakukan?” batin Rein heran, dengan
cepat ia kembali menancapkan pedangnya ke tubuh salah satu mayat hidup yang
ingin menerjangnya.
“Itu ... hampir saja,” gumam Rein seraya menarik
pedangnya. Setelah tubuh mayat hidup di hadapannya lenyap dilahap oleh api,
Rein kembali melihat pemandangan yang amat melelahkan baginya. Entah sudah
berapa banyak pasukan mayat hidup yang dilenyapkan olehnya hari ini. Namun,
penampakan para pasukan mayat hidup yang masih berjejer rapi di hadapannya
membuatnya berpikir bahwa ia tampaknya belum melakukan apapun.
“Kapan ini akan berakhir?”
“Groooh!”
***
“Sudah ... sudah aman?” tanya Hein ragu.
Jessie perlahan mengangguk. “Tidak ada getaran lagi,
lebih baik kita segera bergerak.”
Ketiga orang itu langsung bergegas meninggalkan lantai
itu. Setelah menemukan eskalator turun lainnya, Jessie menuruninya terlebih
dahulu, lalu disusul oleh Hein di belakangnya. Namun, Ted yang mulai kelelahan
karena berlari akhirnya terjatuh.
“Ted!” seru Hein dan Jessie bersamaan.
“Kau tunggu saja di sini, Jess! Aku akan membawa Ted!”
perintah Hein seraya kembali menaiki eskalator.
“Berhati-hatilah!” seru Jessie.
“Huff, huff, huff ....”
“Ted!” panggil Hein yang kini mulai membantunya berdiri.
“Hein ... huff, huff. Aku ... aku tidak kuat lagi.”
“Tenang saja! Aku akan mengangkatmu!”
“Tidak, kalian berdua ... pergilah.”
“Apa maksudmu!” seru Hein berusaha mengangkat Ted yang
berada di belakang punggungnya.
“Aku ... aku hanya membebani kalian berdua ... kumohon,
pergilah dan bawa Jessie keluar ...” lirih Ted.
“Tidak! aku akan berusaha membawa kita semua keluar,
oke?! Jessie dan Rein juga sampai bersusah payah kemari untuk kita!” seru Hein
yang akhirnya berhasil mengangkat Ted dan perlahan mulai menuruni eskalator.
“Hein! Ted!” seru Jessie lega.
Ted mulai terisak di belakang punggung Hein. Perkataannya
barusan membuatnya sadar, betapa besar pengorbanan sahabat-sahabatnya itu untuk
menyelamatkan nyawanya. Kalau ia menyerah, maka semua yang mereka lakukan pun
sia-sia. “Benar, aku tidak boleh menyerah! Aku masih harus berterima kasih pada
Rein!”
“Hein! Awas, di belakangmu!” seru Jessie.
“GROAAH!” Naga mayat hidup itu pun langsung menangkap
Hein dan Ted dengan sebelah tangannya.
“Whoaa!” seru Hein.
Naga mayat hidup itu semakin mempererat genggamannya,
berusaha meremas tahanannya itu.
“Aku ... aku tidak bisa bernafas!” gumam Hein.
“A—aku ... aku juga!” balas Ted.
“Tidaak!” seru Jessie seraya melirik sekitarnya dan
menemukan sebuah tiang besi sedang. Tanpa berpikir panjang, Jessie pun segera
mengambil tiang itu dan berlari menaiki eskalator.
“Bagus ... dia mengambilnya.”
“Hya!” seru Jessie seraya menyodor-nyodorkan tiang besi
sedang itu tanpa rasa takut sedikitpun.
“Jess ... Jessie! Pergilah!” seru Hein.
“Pergi, Jess! Ini ... berbahaya!” tambah Ted.
Jessie menggeleng, air matanya sudah tidak bisa dibendung
olehnya. “Aku tidak bisa! Aku ... aku tidak mau kehilangan kalian juga!”
Jessie mulai memukul-mukulkan tiang besinya pada kaki
“Sekarang ....”
Naga mayat hidup itu tiba-tiba melempar Hein dan Ted ke
sudut ruangan. “Hein! Ted!” seru Jessie berusaha menghampiri kedua sahabatnya
itu, namun gagal.
Naga itu langsung menangkap tubuh Jessie dan
mengangkatnya tinggi-tinggi. “GROAHH!” Getaran kuat lainnya kembali terjadi,
dinding-dinding kembali retak dan kaca-kaca pun mulai pecah berserakan.
Naga itu berbalik dan mengepakkan sayapnya. Angin kuat
yang dihasilkan oleh kepakannya tak hanya menerbangkan benda-benda kecil maupun
besar, bahkan Ted dan Hein pun nyaris terbang kalau keduanya tak berpegangan
pada dinding kokoh itu.
Naga itu pun keluar dengan menabrak beberapa toko yang ada di sana,
menerjang puing bangunan itu dan kembali menciptakan lubang besar lainnya.
“JESSIE!”
***
Rein tersentak. Barusan indera pendengarnya menangkap
panggilan samar-samar yang mampu mengubah suasana perasaannya dalam sekejap.
“Apa itu ... barusan?” batin Rein seraya bersiap untuk mengalihkan pandangannya
ke gedung pusat perbelanjaan itu lagi.
“Rein.”
Rein membatalkan niatnya dan mengalihkan pandangannya
pada si pemanggil. “Selene ...?”
Selene menatap Rein dengan tatapan dingin, perlahan ia
melompat turun dari atap toko kecil itu dan berdiri di sampingnya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Rein heran.
“Aku tidak bisa melihatmu terbunuh di sini, kan?”
jawabnya enteng.
“Kau selama ini mengikutiku?” balas Rein tak percaya.
“Setelah aku sudah tau keberadaanmu, ya ... aku tidak
bisa meninggalkanmu begitu saja.”
“Tapi, kau tidak perlu mengintaiku seperti itu! Maksudku,
kau bisa menunjukkan dirimu di hadapanku.”
“Aku sudah bilangkan? Aku tidak akan mau berada di sisimu
selagi kau masih memutuskan untuk menetap di planet ini.”
“Selene ... aku tau, aku salah. Aku melupakan tanggung
jawabku dan tujuanku kemari. Tapi, aku masih berusaha untuk menolong ayahku.”
“Bagaimana? Kau bahkan tidak tau lokasi penawarnya.”
“Aku tau kau pasti akan memakiku lagi, tapi ... aku
meminta bantuan teman kecil kakekmu, Gerold. Dia mengirimkan pesan ke kakekmu
untuk membawakanku gulungan lainnya.”
Selene mengangkat sebelah alis matanya heran. “Apa bisa
seperti itu?”
“Kenapa tidak?” Rein memegangi kedua pundak Selene,
membuat wanita itu menatapnya. “Pesawat tempur itu sudah selesai Selene, Gerold
sudah memperbaikinya. Kita sudah bisa kembali ke planet kita.”
“Bagus?”
“Grooh!”
‘Jleb!’
Selene menghunuskan pedangnya tepat di jantung mayat
hidup itu. Setelah menarik pedangnya, mayat hidup itu langsung tergeletak.
“Selene ... itu tidak akan membunuhnya,” ucap Rein.
“Aku tau. Tapi, dia mengganggu percakapan kita. Lalu?”
Rein menarik nafas dalam-dalam. “Aku—“
“Groooh!”
Kerutan di dahi Selene mulai tercetak jelas. “Apa kalian
tidak bisa menunjukkan sedikit derajat kalian di hadapan calon raja?!”
Rein perlahan tersenyum tipis. “Mereka tidak akan
mendengarkan ucapanmu, Selene.”
“Cih, kalau begitu, mereka akan merasakan tebasanku.”
“Aku sarankan kau melapisi pedangmu dengan api terlebih
dahulu.”
Selene memandangi Rein, lalu tersenyum tipis. “Baiklah,
sepertinya kali ini aku tidak akan keberatan untuk bertarung di sisimu.”
Rein tertegun, lalu tertawa kecil. “Senang mendengarnya,
Selene.”
Setelah keduanya melapisi pedang mereka dengan bara api.
Rein dan Selene pun saling berganti tatapan. Beberapa menit kemudian, anggukan
aba-aba dari Selene akhirnya diterima oleh Rein. Keduanya pun bergerak dan
menyerang pasukan-pasukan mayat hidup itu dengan kombinasi berpedang mereka yang cepat dan
kompak.