Vermillion

Vermillion
Chapter 40 : Kombinasi



“Lari!” seru Hein memberi aba-aba, setelah mereka bertiga


terdiam dalam beberapa menit ke depan memandangi naga itu.


“GROAAH!”


“Cepat, cepat, cepat, Ted!” seru Jessie dan Hein,


menunggu pria bertubuh gemuk itu menuruni eskalator.


Naga mayat hidup itu memaksa masuk melalui celah itu.


Namun, tampaknya celah itu terlalu kecil untuk dilalui oleh tubuh besarnya.


Setelah Ted berhasil menyusul kedua sahabatnya, mereka kembali merasakan


getaran kuat lainnya.


Rein kembali menarik paksa pedang apinya keluar dari


tubuh mayat hidup itu. Pandangannya pun teralihkan pada naga mayat hidup itu.


Naga itu tampak berusaha keras untuk masuk melalui celah itu.


“Apa yang sedang dia lakukan?” batin Rein heran, dengan


cepat ia kembali menancapkan pedangnya ke tubuh salah satu mayat hidup yang


ingin menerjangnya.


“Itu ... hampir saja,” gumam Rein seraya menarik


pedangnya. Setelah tubuh mayat hidup di hadapannya lenyap dilahap oleh api,


Rein kembali melihat pemandangan yang amat melelahkan baginya. Entah sudah


berapa banyak pasukan mayat hidup yang dilenyapkan olehnya hari ini. Namun,


penampakan para pasukan mayat hidup yang masih berjejer rapi di hadapannya


membuatnya berpikir bahwa ia tampaknya belum melakukan apapun.


“Kapan ini akan berakhir?”


“Groooh!”


***


“Sudah ... sudah aman?” tanya Hein ragu.


Jessie perlahan mengangguk. “Tidak ada getaran lagi,


lebih baik kita segera bergerak.”


Ketiga orang itu langsung bergegas meninggalkan lantai


itu. Setelah menemukan eskalator turun lainnya, Jessie menuruninya terlebih


dahulu, lalu disusul oleh Hein di belakangnya. Namun, Ted yang mulai kelelahan


karena berlari akhirnya terjatuh.


“Ted!” seru Hein dan Jessie bersamaan.


“Kau tunggu saja di sini, Jess! Aku akan membawa Ted!”


perintah Hein seraya kembali menaiki eskalator.


“Berhati-hatilah!” seru Jessie.


“Huff, huff, huff ....”


“Ted!” panggil Hein yang kini mulai membantunya berdiri.


“Hein ... huff, huff. Aku ... aku tidak kuat lagi.”


“Tenang saja! Aku akan mengangkatmu!”


“Tidak, kalian berdua ... pergilah.”


“Apa maksudmu!” seru Hein berusaha mengangkat Ted yang


berada di belakang punggungnya.


“Aku ... aku hanya membebani kalian berdua ... kumohon,


pergilah dan bawa Jessie keluar ...” lirih Ted.


“Tidak! aku akan berusaha membawa kita semua keluar,


oke?! Jessie dan Rein juga sampai bersusah payah kemari untuk kita!” seru Hein


yang akhirnya berhasil mengangkat Ted dan perlahan mulai menuruni eskalator.


“Hein! Ted!” seru Jessie lega.


Ted mulai terisak di belakang punggung Hein. Perkataannya


barusan membuatnya sadar, betapa besar pengorbanan sahabat-sahabatnya itu untuk


menyelamatkan nyawanya. Kalau ia menyerah, maka semua yang mereka lakukan pun


sia-sia. “Benar, aku tidak boleh menyerah! Aku masih harus berterima kasih pada


Rein!”


“Hein! Awas, di belakangmu!” seru Jessie.


“GROAAH!” Naga mayat hidup itu pun langsung menangkap


Hein dan Ted dengan sebelah tangannya.


“Whoaa!” seru Hein.


Naga mayat hidup itu semakin mempererat genggamannya,


berusaha meremas tahanannya itu.


“Aku ... aku tidak bisa bernafas!” gumam Hein.


“A—aku ... aku juga!” balas Ted.


“Tidaak!” seru Jessie seraya melirik sekitarnya dan


menemukan sebuah tiang besi sedang. Tanpa berpikir panjang, Jessie pun segera


mengambil tiang itu dan berlari menaiki eskalator.


“Bagus ... dia mengambilnya.”


“Hya!” seru Jessie seraya menyodor-nyodorkan tiang besi


sedang itu tanpa rasa takut sedikitpun.


“Jess ... Jessie! Pergilah!” seru Hein.


“Pergi, Jess! Ini ... berbahaya!” tambah Ted.


Jessie menggeleng, air matanya sudah tidak bisa dibendung


olehnya. “Aku tidak bisa! Aku ... aku tidak mau kehilangan kalian juga!”


Jessie mulai memukul-mukulkan tiang besinya pada kaki


“Sekarang ....”


Naga mayat hidup itu tiba-tiba melempar Hein dan Ted ke


sudut ruangan. “Hein! Ted!” seru Jessie berusaha menghampiri kedua sahabatnya


itu, namun gagal.


Naga itu langsung menangkap tubuh Jessie dan


mengangkatnya tinggi-tinggi. “GROAHH!” Getaran kuat lainnya kembali terjadi,


dinding-dinding kembali retak dan kaca-kaca pun mulai pecah berserakan.


Naga itu berbalik dan mengepakkan sayapnya. Angin kuat


yang dihasilkan oleh kepakannya tak hanya menerbangkan benda-benda kecil maupun


besar, bahkan Ted dan Hein pun nyaris terbang kalau keduanya tak berpegangan


pada dinding kokoh itu.


Naga itu pun keluar dengan menabrak beberapa toko yang ada di sana,


menerjang puing bangunan itu dan kembali menciptakan lubang besar lainnya.


“JESSIE!”


***


Rein tersentak. Barusan indera pendengarnya menangkap


panggilan samar-samar yang mampu mengubah suasana perasaannya dalam sekejap.


“Apa itu ... barusan?” batin Rein seraya bersiap untuk mengalihkan pandangannya


ke gedung pusat perbelanjaan itu lagi.


“Rein.”


Rein membatalkan niatnya dan mengalihkan pandangannya


pada si pemanggil. “Selene ...?”


Selene menatap Rein dengan tatapan dingin, perlahan ia


melompat turun dari atap toko kecil itu dan berdiri di sampingnya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Rein heran.


“Aku tidak bisa melihatmu terbunuh di sini, kan?”


jawabnya enteng.


“Kau selama ini mengikutiku?” balas Rein tak percaya.


“Setelah aku sudah tau keberadaanmu, ya ... aku tidak


bisa meninggalkanmu begitu saja.”


“Tapi, kau tidak perlu mengintaiku seperti itu! Maksudku,


kau bisa menunjukkan dirimu di hadapanku.”


“Aku sudah bilangkan? Aku tidak akan mau berada di sisimu


selagi kau masih memutuskan untuk menetap di planet ini.”


“Selene ... aku tau, aku salah. Aku melupakan tanggung


jawabku dan tujuanku kemari. Tapi, aku masih berusaha untuk menolong ayahku.”


“Bagaimana? Kau bahkan tidak tau lokasi penawarnya.”


“Aku tau kau pasti akan memakiku lagi, tapi ... aku


meminta bantuan teman kecil kakekmu, Gerold. Dia mengirimkan pesan ke kakekmu


untuk membawakanku gulungan lainnya.”


Selene mengangkat sebelah alis matanya heran. “Apa bisa


seperti itu?”


“Kenapa tidak?” Rein memegangi kedua pundak Selene,


membuat wanita itu menatapnya. “Pesawat tempur itu sudah selesai Selene, Gerold


sudah memperbaikinya. Kita sudah bisa kembali ke planet kita.”


“Bagus?”


“Grooh!”


‘Jleb!’


Selene menghunuskan pedangnya tepat di jantung mayat


hidup itu. Setelah menarik pedangnya, mayat hidup itu langsung tergeletak.


“Selene ... itu tidak akan membunuhnya,” ucap Rein.


“Aku tau. Tapi, dia mengganggu percakapan kita. Lalu?”


Rein menarik nafas dalam-dalam. “Aku—“


“Groooh!”


Kerutan di dahi Selene mulai tercetak jelas. “Apa kalian


tidak bisa menunjukkan sedikit derajat kalian di hadapan calon raja?!”


Rein perlahan tersenyum tipis. “Mereka tidak akan


mendengarkan ucapanmu, Selene.”


“Cih, kalau begitu, mereka akan merasakan tebasanku.”


“Aku sarankan kau melapisi pedangmu dengan api terlebih


dahulu.”


Selene memandangi Rein, lalu tersenyum tipis. “Baiklah,


sepertinya kali ini aku tidak akan keberatan untuk bertarung di sisimu.”


Rein tertegun, lalu tertawa kecil. “Senang mendengarnya,


Selene.”


Setelah keduanya melapisi pedang mereka dengan bara api.


Rein dan Selene pun saling berganti tatapan. Beberapa menit kemudian, anggukan


aba-aba dari Selene akhirnya diterima oleh Rein. Keduanya pun bergerak dan


menyerang pasukan-pasukan mayat hidup itu dengan kombinasi berpedang mereka yang cepat dan


kompak.