
Di meja makan dekat dapur,
“Menurutku dia sepertinya amnesia,” ujar Ted.
“Tidak. Kalau dia amnesia, mana mungkin dia masih ingat dengan nama teman kecilnya,” balas Hein.
Jessie melipat kedua tangannya. “Bisa saja dia hanya mengigau, kan?”
Kedua pria itu langsung menatap Jessie. “Bukankah kau barusan bilang ingin membantunya?” tanya Hein heran.
“Dan kau pikir kita akan langsung percaya dengan omongannya? Dari semua perkataan yang diucapkan olehnya, tidak ada sedikitpun yang masuk akal selain masalah teman kecilnya itu,” jelas Jessie kesal.
“Tapi menurutku dia tidak berbohong,” ucap Ted, spontan menarik perhatian kedua temannya itu.
“Eh ... bisa saja dia tidak berbohong, kan? Maksudku, mungkin saja dia memang amnesia. Dia juga baru saja mengalami kecelakaan, bisa saja hal itu yang membuatnya melupakan beberapa ingatannya,” tambah Ted.
Hein hanya mengangguk-angguk pelan. Namun, Jessie langsung bangkit berdiri dan memukul meja. Kedua pria itu langsung kaget bukan main.
“J-jess! Kau ini kenapa sih?!” gerutu Hein seraya mengelus-elus dadanya.
“Aku tidak setuju kalau kalian berpikir pria aneh itu mengalami amnesia!”
“Kenapa kau tidak setuju, Jess?” tantang Ted yang kini ikut beranjak dari kursinya.
“Kau dengarkan? Mana ada orang amnesia yang masih bisa mengatakan hal-hal aneh seperti planet, kaum ataupun ras? Kemampuan regenerasi? Apa-apaan itu?! Dia pikir ini dunia game?”
“Ah ... benar juga,” ucap Hein.
“Tapi, bisa sajakan dia itu mungkin anak gamer? Yang terkena kecelakaan pesawat? Lalu sekarang yang diingatnya hanya video game kesukaannya?” balas Ted.
“Yang benar saja, Ted! Kau mau membelanya?! Kau pikir itu masuk akal?! Pakaiannya, rambutnya, semuanya kelihatan aneh!” tambah Jessie.
“Oh! Mungkinkah dia itu seorang cosplayer?” ucap Hein seraya bangkit berdiri dan mengangkat jari telunjuknya.
“Cosplayer?” ulang Ted heran.
“Yah, menurutku itu cukup populer dikalangan anak-anak muda hingga dewasa sekarang ini!”
“Hm ... bisa saja sih,” ucap Jessie. “Tapi, yang benar saja! Itu bahkan bukan wig! Aku sudah mengeceknya sendiri! Itu rambut asli!” lanjut Jessie.
“Kalau itu rambut asli, berarti yang dikatakan olehnya itu benar, kan? Bisa saja kalau dia memang bukan dari bumi!” ujar Ted yang mendapat tatapan datar dari kedua temannya.
“Kau mulai terdengar seperti dia,” sindir Jessie yang mendapat anggukan setuju dari Hein.
“Oh, ayolah, teman-teman! Aku rasa dia mungkin tidak berbohong! Mungkin saja dia memang dari Planet Mars!” bela Ted.
“Dia bilang Planet Vermillion, Ted. V-e-r-m-i-l-l-i-o-n!” eja Hein.
“Benar! Dia bahkan mengatakan hal aneh seperti Planet Biru. Tidak ada urusan di planet kita lah, apalah itu. Aku saja merinding mendengarnya,” tambah Jessie.
“Lalu, bagaimana? Apa perlu kita mengantarnya ke rumah sakit jiwa?” tanya Hein, memecahkan keheningan itu.
Jessie mengangkat kedua bahunya. “Ntahlah, Hein. Aku benar-benar menyesal sudah mengusulkan untuk liburan kemari.”
“Kita tidak bisa membawanya kesana seperti itu! Bagaimana kalau keluarganya mencarinya?!”
“Oh, ayolah, Ted. Kalau masalah itu, ya, kita suruh saja petugas rumah sakit jiwa yang mengurusnya,” jawab Hein santai.
“Tapi ... kasihan dia ...” Ted menghela nafas pelan.
Jessie menepuk pundak Ted. “Aku tau. Tapi kalau kita meninggalkannya begitu saja disini, bukankah itu lebih kejam?”
“Tapi, kita tidak perlu sampai membawanya ke sana, kan?!” seru Ted.
“Oh ... kau benar di bagian itu. Dia mungkin akan meresahkan warga ...” lirih Ted.
“Atau kau mau menampungnya?” ucap Jessie tiba-tiba.
“Hah? A-aku ... aku mau-mau saja menampungnya. Tapi, kau tau, kan? Keluargaku cukup ramai, adikku saja sudah ada enam orang. Ayah dan ibu saja sudah kesusahan mengurus kami.”
Jessie dan Ted mulai mengalihkan pandangan mereka pada Hein.
“Apa?” tanya Hein heran.
“Bagaimana dengan tempatmu?” ucap Jessie to-the-point.
Hein langsung mengangkat kedua tangannya. “Aku tidak bisa membawa orang asing ke tempatku. Ayah dan ibuku mungkin akan marah besar.”
“Kenapa tidak ditempatmu saja, Jess?” usul Ted langsung.
“Hah?! Enggak mungkin! Gila kalian?!”
“Kaulah satu-satunya harapan, Jess. Aku janji, aku akan sering-sering datang dan membawakan masakan ibuku. Ya, ya, mau ya, Jess?” mohon Ted dengan manis seraya mengedip-edipkan kedua matanya.
“Haha! Benar! Kau bahkan rela memasak untuknya, bukan?” ejek Hein yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Jessie.
“Huff! Baiklah! Ingat! Kau sudah berjanji untuk membawakan masakan ibumu untuknya! Aku tidak mau menghabiskan uangku hanya untuk mengurusnya!” jawab Jessie sembari melipat kedua tangannya.
“Terima kasih, Jess! Kau memang malaikat paling cantik dan baik hati!” ucap Ted. Sementara Hein, sudah tidak bisa menahan tawanya.
***
“Kita ... mau kemana?” tanya Rein heran saat mereka membawanya naik ke dalam mobil milik Hein.
“Kita akan ke kota,” jawab Ted sembari menepuk pelan pundak Rein.
“Kota?”
“Yah, tempat dimana kau bisa bertemu dengan banyak orang,” jelas Ted.
“Oh ... aku mengerti maksudmu."
Di dalam mobil, Hein dan Jessie duduk di depan, sementara Rein bersama dengan Ted dibelakang.
“Tunggu. Bagaimana dengan pesawat tempur milik High Priest?” sela Rein saat mendengar suara mesin mobil itu menyala.
Jessie memutar bola matanya dengan malas dan menatap keluar jendela. “Tenang saja, pesawat itu berada di bawah pengawasan pohon tua. Pesawatmu akan aman,” ujar Ted, berusaha menenangkan Rein.
Hein lagi-lagi tak bisa menahan tawanya. “Pft, maaf.”
“Sama gilanya,” gumam Jessie.
“Apa?” tanya Rein, karena tidak mendengar jelas perkataan Jessie barusan.
“Tidak ada apa-apa. Duduklah dengan tenang, Rein. Sebentar lagi kita akan pulang,” ucap Ted.
“Pulang? Kemana? Kalian mau mengantarkanku kembali ke Vermillion?!” tanya Rein sedikit panik.
“Tidak, tidak. Aku kan sudah bilang, Rein. Kita akan ke kota, bukan Vermillion,” jawab Ted sabar.
“Oh ... baiklah.” Rein menyandarkan punggungnya, lalu menatap keluar jendela. Ted masih memandangi Rein, dirinya hanya bisa menghela nafas lega. “Syukurlah, dia tidak berusaha melakukan hal-hal aneh. Kalau iya, aku yakin, Hein dan Jessie akan langsung membawanya ke sana,” batin Ted.
“Apa yang kulakukan? Ini semua tidak sesuai perkiraanku. Selene, kau ada dimana sekarang?” batin Rein.