
“Sudah ada di mana aku sekarang?” batin Rein, namun ia tetap tidak menghentikan langkah kakinya.
Pukul 19.45, di lapangan bermain. Rein duduk dibangku yang sama dengan tadi pagi. Sembari menghela nafas lelah, Rein memandangi langit malam yang indah itu. “Pada akhirnya, aku tidak bisa menemukan jalan keluar dari sini.”
“Kau baik-baik saja?”
Rein tersentak dan bangkit berdiri. Terlihat seorang pria tua yang tersenyum lembut padanya.
“Ada masalah apa, Anak Muda? Hari mulai malam, kenapa masih disini?”
Rein membungkukkan badannya, lalu memandangi wajah pria tua itu dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ah ... sebenarnya, aku juga tidak tau lagi harus ke mana, Kek.”
Pria tua itu kembali tersenyum dan menepuk pundak Rein. “Ceritakan saja masalahmu pada Kakek, Kakek akan mendengarkannya.”
Mereka berdua akhirnya kembali duduk, Rein mulai menceritakan permasalahannya pada pria tua itu. Tanpa terasa, beberapa menit telah berlalu.
“Ah ... aku tau ini kedengarannya aneh untuk kalian, bahkan tiga orang yang baru-baru ini menolongku pun berpikir demikian. Tapi, aku benar-benar harus menemukan penawar itu dan segera kembali ke Planet asalku.”
“Aku percaya padamu, Nak,” ucap pria tua itu kembali menepuk pundak Rein.
“K-kakek percaya?”
Pria tua itu bangkit berdiri. “Aku akan mengantarmu ke Pohon Tua itu.”
Rein mengerjapkan matanya tak percaya. “A apa?”
Pria tua itu kembali tersenyum lembut. “Kau bilang kau ingin mengambil barang-barangmu yang tertinggal, bukan? Aku tau jalan ke sana.”
“Baik! Terima kasih!”
***
“Huff, huff, huff ...” Jessie melirik ke kiri dan kanan, tidak ada siapapun di lapangan bermain itu. Ponselnya berdering, Jessie pun segera mengangkatnya.
“Halo?”
“Halo, Hein! Kau sudah menemukannya?!”
“Jess! Aku sudah menanyakannya pada ibu pemilik toko, tempat kau bekerja. Katanya, ia sempat melihat Rein lewat! Kalau tidak salah, seharusnya ia menuju lapangan bermain!”
“Aku sudah ada di lapangan bermain, Hein! Tidak ada siapapun disini!”
“Benarkah?! Kalau begitu, aku akan mencoba bertanya di tempat lain!”
“Oke!” Jessie menutup ponselnya. Tak butuh waktu yang lama, ponsel itu kembali berdering.
“Halo!”
“Halo, Ted! Maafkan aku! Aku lengah! Dia, dia-“
“Tenang, Jess, tenang. Aku sudah mendengarnya dari Hein, aku sekarang sudah ada di depan apartemenmu. Tampaknya, Rein masih belum kembali.”
Jessie menggaruk keningnya dengan kasar. “Astaga! Ke mana sih anak itu!”
“A-aku akan mencarinya di sekitar sini! Bisa saja dia tersesat ataupun salah masuk ke apartemen lain, kan?”
“Iya, iya, aku percayakan padamu, ya, Ted! Aku dan Hein masih akan terus mencari di sekitar lingkungan sini! Kalau kau sudah menemukannya, cepat beritahukan pada kami!”
“Ya! Kau juga!”
Jessie mematikan ponselnya dan berjalan pergi meninggalkan lapangan bermain itu.
***
“Kalau begitu, aku akan masuk dan mengambil barangku dulu, Kek.”
Pria tua itu hanya mengangguk-angguk. Rein pun segera masuk ke dalam pesawat tempur.
Di dalam sebuah ruangan, Rein berhasil menemukan pedang pemberian Selene. “Selene ...” Rein menggenggam erat pedang tersebut sebelum akhirnya bergegas menuju ruang kendali.
Di sepanjang lorong, terlihat sangat jelas kerusakan yang terjadi akibat api phoenix itu. “Siapa dia sebenarnya? Apa aku pernah membuat masalah sebelumnya? Lalu, kenapa dia bisa tau kalau aku dan Selene akan meninggalkan Vermillion?”
Di ruang kendali, semuanya terlihat berantakan. Rein menghela nafas, lalu mulai mencari gulungan yang diberikan oleh High Priest sebelumnya. Hampir sejam Rein mencari, namun gulungan tersebut tetap tidak ditemukan.
“Seharusnya gulungan itu ada disini ... kenapa tidak bisa kutemukan? Apa mungkin di ruangan Selene?” Rein pun segera meninggalkan ruang kendali.
Sesampainya di depan ruangan Selene, Rein tidak langsung menerobos masuk, melainkan menatapi pintu itu dengan lama.
“Ini termasuk melanggar privasi, kan?” batin Rein, namun ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak, kalau aku tidak mengeceknya, aku tidak akan menemukan gulungan itu!” Rein pun memegang kenop pintu itu dan memutarnya.
‘Cklek, cklek!’
Kedua mata Rein membulat kaget. “Terkunci? Ah! Apa mungkin ... Selama ini, Selene ada di dalam?”
***
Di depan apartemen Jessie, pukul 21.35.
“Aku sudah hampir menanyai semua toko yang masih buka, tapi tidak ada yang bertemu dengan Rein,” jelas Hein seraya meneguk air mineralnya.
“Aku juga sudah menanyai semua penghuni apartemen ini, kelihatannya mereka juga belum bertemu dengan Rein sebelumnya,” tambah Ted.
Jessie mengangkat kedua tangannya. “Aku tidak tau dan aku menyerah. Aku sudah mengelilingi tempat-tempat yang belum kutunjukkan padanya. Tidak ada apapun disana.”
Hein menyenderkan bagian belakang tubuhnya pada dinding koridor dan melipat kedua tangannya. “Lalu bagaimana? Apa perlu kita melaporkan ini pada polisi?”
“Oh tidak, tidak, tidak. Aku tidak mau mendapat masalah baru lagi, oke!” ucap Jessie langsung.
“Jessie benar, Hein. Lagipula akan sulit untuk kita menjelaskan kriteria Reinford pada mereka. Mereka mungkin akan berpikir kalau kita sedang mengerjai mereka,” timpal Ted seraya kembali berpikir.
“Hm, aku juga tidak tau lagi harus bagaimana. Sekarang sudah mau hampir jam 10, orangtuaku mungkin akan marah kalau aku lebih lama lagi,” ucap Hein seraya menghela nafas lelah.
“Kalian pulang saja, lagipula besok kan kalian masih harus sekolah. Aku yakin dia nantinya juga akan pulang sendiri. Memangnya dia mau tidur di mana lagi? Iya, kan?” ucap Jessie seraya merangkul bahu Ted. Hanya Ted yang sedari tadi memasang wajah cemas.
“Kurasa kau benar, Jess. Aku harap dia baik-baik saja. Kota ini kan cukup besar, tidak semua orang itu mempunyai sifat yang baik. Aku takut dia malah dibodoh-bodohi, secara dia itu masih terlalu lugu.”
Hein ikut merangkul bahu Ted. “Tenang saja, Kawan. Lagipula percuma saja kalau mereka ingin membodohinya ... dia kan tidak punya apa-apa. Hahah!”
Ted hanya tersenyum kecil. Dia tau kalau kedua sahabatnya itu berusaha untuk menghiburnya. “Kalau begitu, sebaiknya kita pulang. Kau juga, tidurlah lebih awal, Jess. Begadang itu tidak sehat.”
“Iya, iya, aku tau. Pulanglah kalian berdua. Hati-hati!”
“Ya! Kau juga, jangan lupa lagi mengunci pintu apartemenmu!” timpal Hein.
“Hoh!” jawab Jessie kesal.
Kedua sahabatnya itu pun mulai menuruni tangga apartemennya. Jessie masih menatapi kedua sahabatnya itu dari koridor. Perlahan, Jessie menatap ke langit dan merasakan angin malam yang menampar halus wajahnya.
“Kau ada di mana sekarang ... Rein?”