Vermillion

Vermillion
Chapter 5 : Persiapan



Di depan kerajaan, dua orang prajurit penjaga gerbang langsung kaget saat mendapati sosok pangeran mereka.


“Pangeran Reinford!” seru mereka bersamaan.


“Ah ... maaf atas kekacauan yang kubuat hari ini.”


“T-tidak perlu berkata seperti itu, Pangeran!”


“P-pangeran! P-pakaian Pangeran ...”


“Ah ... ini, tidak perlu khawatir. Aku tidak kenapa-napa.”


“Syukurlah. Pangeran, harap segera masuk. Angin malam mungkin tidak baik untuk Pangeran yang sedang berpakaian tipis.”


“Ah ... aku mengerti.” Rein kini menghadap teman kecilnya yang masih setia menunggu disampingnya itu.


“Selene ...”


“Ah ... sepertinya aku sudah bisa meninggalkanmu dengan tenang sekarang, kalau begitu aku pamit pulang.”


Rein hanya tertawa kecil. “Maaf merepotkanmu. Aku merasa tidak gentle sekarang. Bukankah seharusnya seorang pria yang mengantarkan wanitanya pulang dengan selamat dan sampai tujuan?”


Selene tersenyum tipis. “Kurasa itu bukan pilihan yang tepat untukmu. Kau masih terlalu lugu, ingat? Mungkin kau masih harus menunggu beberapa tahun lagi untuk bisa memasuki tahap gentleman. Nah, sampai jumpa.”


“Yah ..., berhati-hatilah.”


Selene kini sudah menghilang dari hadapannya. Rein pun melangkah masuk ke dalam kerajaan dan langsung di terjang oleh ibu dan pamannya.


“Kemana saja kau, Rein?!” tanya ibunya langsung.


“Astaga, Rein? Ada apa dengan pakaianmu?!” tanya pamannya kali ini.


“M-maaf membuat kalian berdua khawatir. Tapi ceritanya cukup panjang. Aku janji setelah aku mandi, aku akan menceritakan semuanya pada kalian.”


“Oh ... benar. Reina, biarkan Rein mandi terlebih dahulu,” ujar Paman Olver.


“Ah ... apakah kau mau Ibu menyuruh para pelayan membuatkan air panas untukmu?”


“Ah ... tidak, tidak perlu repot-repot, Ibu. Aku akan ke kamarku.”


Ibu Rein mengangguk, begitu juga pamannya. Rein pun berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya.


***


“Jadi, begitulah ceritanya,” jelas Rein di meja makan.


“Ibu yakin itu pasti ulah para goblin!” seru ibunya kesal.


“Ah ... jadi itu sebutan untuk makhluk kerdil itu?”


“Hm, para goblin memang sangat suka mencuri. Tidak heran,” timpal pamannya.


“Ah ... Paman, maafkan aku.”


“Tidak perlu meminta maaf, Rein. Pedang itu sudah menjadi milikmu.”


Rein memaksa untuk tersenyum. Paman Olver tampaknya menyadari hal itu. “Karena pedang itu sudah patah, bagaimana kalau Paman mengambil beberapa pedang koleksi Paman yang masih tersisa untukmu?”


“Ah ... tidak, tidak perlu, Paman. Selene akan memberikan penggantinya besok padaku.”


“Selene? Oh ... apakah dia gadis manis yang bermain denganmu waktu kecil itu?” tanya Paman Olver penasaran.


“Ah ... benar.”


“Tadi kau bilang kalau dia juga yang sudah menyelamatkan nyawamu? Jadi, maksudmu, Selene yang mengurus semua kaum Orc itu dan mengalahkannya seorang diri?” tanya Paman Olver takjub.


“Ah ... benar, Paman. Aku juga tidak percaya awalnya.”


“Ahaha ... sepertinya Selene sudah tumbuh menjadi wanita yang tangguh. Padahal seingat Ibu, Ibunya Selene ingin sekali putrinya tumbuh menjadi wanita yang feminim dan berkharisma seperti dirinya ....”


“Ah ... aku meragukan hal itu ...” timpal Rein sembari tersenyum kecil.


“Terakhir! Ini pertanyaan terakhir! Jadi, kau selama ini berlatih dengan Selene?!” tanya pamannya heboh.


“Tepat sekali, Paman.”


“Dia cucunya High Priest Dunan, bukan?”


“Benar, Paman.”


“Wah ... tak diragukan lagi kemampuan berpedang wanita ini,” ucap pamannya, disertai anggukan kepala Rein.


“Baiklah. Karena tampaknya ini sudah larut sekali, lebih baik kita segera tidur. Yang terpenting kau tidak kenapa-napa saja, Rein,” ujar ibunya sembari mengelus lembut kepala anak semata wayangnya itu.


“Terima kasih, Ibu. Aku janji aku tidak akan ceroboh lagi.”


“Iya, Ibu percaya padamu, Rein ....”


“Nah, kalau begitu, selamat malam, semuanya!” ucap Paman Olver seraya bangkit dari kursi dan beranjak menuju kamarnya.


“Malam. Nah, Rein. Ibu juga akan segera ke kamar. Kau tidurlah yang nyenyak, ya?”


Rein mengangguk. “Ibu juga. Selamat malam.”


Ibu Rein tersenyum dan berpaling dari hadapan putranya. Kini hanya tersisa Rein yang masih berdiri tegap dan setia menatap meja makan luas itu. Sambil menghela nafas lega. “Syukurlah. Ternyata aku masih bisa hidup sampai detik ini.” Rein pun beranjak menuju kamarnya.


***


“Rein!”


Reinford memutar badannya. “Rein!!”


Kedua mata Rein terbuka lebar saat suara panggilan itu mulai terdengar semakin


jelas.


“I-ibu? A-apakah ... aku sedang bermimpi?”


“Rein!!”


“IBU!” Rein beranjak dari kasurnya. Segera berlari keluar menuju kamar orangtuanya.


“IBU!” panggil Rein saat ia membuka pintu kamar milik orangtuanya itu.


“Rein! Kemarilah! Lihat! Ayahmu! Ayahmu!” ucap ibunya cemas.


Rein langsung beranjak dari pintu kamar itu dan menghampiri ibunya. Matanya membulat kaget saat mendapati kulit wajah ayahnya yang mulai berkeriput. Rambut merah terang milik ayahnya bahkan mulai memutih sebagian. “A-apa ... t-tidak mungkin.”


“Bagaimana ini, Rein?!” seru ibunya panik.


Rein memegangi tangan ayahnya. “Ayah! Ayah! Ayah bisa mendengar suaraku?” tanya Rein yang kini mulai gemetaran.


“Paman rasa kau harus segera ke Planet Biru, Rein.”


Rein dan ibunya langsung menatapi Paman Olver yang masih berdiri di depan pintu. “Aku takut kalau tubuh Forde tidak bisa menahan penyakit ini lebih lama lagi.” Kini Paman Olver sudah bergabung di seberang kasur ayah Rein.


“T-tapi, Olver. Rein masih belum siap!”


“B-benar juga ...”


“A-aku akan pergi. Aku tidak bisa terus terusan bermain. Nyawa ayah sedang dalam bahaya.”


“Tak apa, Ibu. Aku pasti akan membawa penawar itu kembali!”


***


“TIDAK BISA! KAU BAHKAN MASIH BELUM DINYATAKAN LULUS, REIN!”


“Selene, aku tidak bisa terus-terusan mengulangi latihan ini, yang bahkan aku tidak tau apakah aku memang bisa dinyatakan lulus kurang lebih dalam waktu seminggu! Sementara ayahku, kondisi tubuhnya kian semakin memburuk!”


“Tapi!”


“Selene!"


Rein dan Selene memandangi pria tua yang kini sudah berada di hadapan mereka. “Aku sudah mendengar semuanya dari Ratu dan Pangeran Olver. Pangeran Rein aku rasa kau memang sudah seharusnya kesana.”


“Ah ... High Priest! Terima kasih!” Rein membungkukkan badannya.


“Pangeran, tolong jangan begitu. Tegaplah.


Pesawat tempur yang biasa kami pakai untuk mengelilingi galaksi bisa Pangeran gunakan untuk kesana. Rekan-rekanku sudah memastikan semuanya aman dan Pangeran akan ke Planet Biru secepat mungkin.”


“Kalau begitu, tunjukkan padaku di mana pesawat itu, High Priest.”


“Rein! Bagaimana mungkin kau—“


“Selene. Ini semua demi keselamatan raja!” sela High Priest Dunan.


Selene mengepalkan tangannya dengan kesal. Tanpa berkata sepatah katapun, Selene berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


“Selene ....”


“Pangeran Rein, aku minta maaf atas kelakuan cucuku.”


“Ah ... tak apa, High Priest. Selene tidak salah, dia hanya mengkhawatirkan keselamatanku.”


“Oh ... kalau begitu, mari Pangeran, akan kutunjukkan letak pesawat kami.”


“Baik.”


***


Di lapangan penerbangan Aula Suci,


“Semuanya sudah beres, Dunan.”


“Baiklah, Tofal. Pangeran, ini ambillah.” High Priest menyerahkan sebuah gulungan kepada Rein.


“Apa ini, High Priest?”


“Ini adalah sebuah peta kasar titik lokasi penawar yang kami deteksi. Spesifiknya, penawar itu berada di dalam sebuah kerajaan kosong yang sudah tak berpenghuni.”


“Kerajaan?” Rein mengangkat sebelah alis matanya. “Jadi, Planet Biru itu tidak jauh berbeda dengan disini?” batinnya.


“Dunan, ini perbekalan yang kau perintahkan.


Semua sudah disiapkan.” Seorang wanita tua menyerahkan sebuah kotak sedang pada Dunan.


“Terima kasih, Kiley.” High Priest Dunan menyerahkan kotak sedang itu pada Rein. “Ambillah. Persediaan makanan dan bahan bakar semuanya ada disini.”


“Terima kasih, High Priest.”


“Tekan saja tombol merah yang ada di bagian kemudi. Tombol itu yang akan menggerakkan pesawat tempur ini.”


“Bagaimana aku bisa tau kalau misalnya aku sudah sampai di Planet Biru?”


“Tenang saja. Rekan-rekanku sudah mengatur pesawat tempur ini pada mode auto. Deteksi lokasi dan semuanya sudah dipermudah, yang Pangeran perlu lakukan hanyalah menekan tombol merah itu. simpel, kan?”


“Ah ... aku harap begitu.”


“Tenang saja, Pangeran. Kami sudah bekerja sekeras ini untuk memastikan keselamatan Pangeran juga.”


“Terima kasih banyak, High Priest. Tak perlu membuang banyak waktu, aku akan segera masuk. Sekali lagi, terima kasih banyak.”


“Tak masalah, Pangeran.”


Rein berbalik dan mulai beranjak menuju pintu masuk pesawat tempur.


“REIN!”


Rein membalikkan tubuhnya saat mendengar suara yang tak asing baginya. “S-selene?”


Selene langsung berlari menghampiri teman kecilnya itu. “Kau melupakan sesuatu,” ucapnya seraya menyerahkan sebuah pedang.


“I-ini?”


“Bukankah aku sudah menjanjikanmu sebuah pedang pengganti?”


“Ah ... benar. Semalam, ya?”


“Rein ... kau tau kalau aku masih tidak yakin padamu, kan?”


“Eh? S-selene ..., kau tidak perlu menjatuhkanku seperti itu ...”


“Dasar! Kau saja hampir terbunuh semalam! Bagaimana kalau hal seperti semalam itu terjadi padamu juga disana!”


“S-selene! Kau juga tidak harus sampai mendoakan hal-hal seperti itu terjadi lagi padaku, kan?!”


“Akukan tidak mungkin bisa langsung datang dan menyelamatkanmu seperti kemarin juga!”


Rein terdiam. Masih memandangi teman kecilnya itu. “Aku akan ikut.”


Beberapa detik berikutnya, Rein dan High Priest langsung melongo kaget. “Hah?! A-apa kau bilang?!” tanya Rein memastikan.


“S-selene!” panggil kakeknya.


“Aku tetap akan ikut! Kau tidak boleh menolak! Kakek juga!”


“S-selene—“


“Aku bilang kau tidak boleh menolak, Rein!”


“Selene, kau harus ingat! Kau masih punya anak didikmu disini!” seru kakeknya.


“Aku sudah meliburkan mereka!”


“Hah?! B-bagaimana ... ah ..., dasar kau ini!” gerutu kakeknya seraya menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya.


Rein hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. “J-jadi bagaimana, High Priest?” tanya Rein ragu.


“Yah ... mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa melawan kehendak cucuku,” ujar High Priest Dunan pasrah.


“Ahaha! Bagus! Jadi, semuanya sudah jelaskan?! Nah, ayo segera berangkat! Akan kupastikan kau pulang dengan utuh, Pangeran Rein.” Selene pun berjalan masuk lebih dulu ke dalam pesawat tempur tim kakeknya.


“Berhati-hatilah, Pangeran,” ujar High Priest sembari tersenyum lembut.


“Iya. Sampai jumpa dalam waktu dekat, High Priest.” Rein membalas senyuman pria tua itu, lalu berbalik dan masuk ke dalam pesawat tempur.


Dalam hitungan mundur, pesawat tempur itu akhirnya mulai terbang meninggalkan lapangan penerbangan Aula Suci, High Priest Dunan masih mengangkat wajahnya menatapi pesawat tempur milik timnya yang sebentar lagi akan meninggalkan planet mereka itu.


“Semoga kita bisa bertemu lagi seperti katamu, Pangeran Rein. Semoga ....”