
Di depan apartemen Jessie.
“Kalau begitu, aku akan pulang dulu,” ucap Hein seraya berbalik. Namun, lengannya langsung ditahan oleh Jessie.
“Ada apa, Jess?”
“Aku jadi kepikiran sesuatu.”
“Hm?”
“Kau masih belum menjawab pertanyaanku barusan!”
“Yang mana?” tanya Hein heran.
“Ih! Itu yang bagian tidak tau tentang teknologi canggih, seseorang yang berumur 20 tahunan,” jelas Jessie.
“Oh! Reinford!”
Jessie langsung membungkam mulut sahabatnya itu. “Pelan-pelan! Orangnya ada di dalam!”
Hein mengangguk-angguk. Jessie perlahan melepaskan tangannya.
“Hm, tidak aneh sih, menurutku,” jawab Hein santai.
“T-tidak aneh?!”
“Bisa saja dia memang bukan dari kota, kan?”
“Terus dari mana lagi? Kau ingat? Pertama kali kita bertemu dengannya?”
“Ah ... itu ...” Hein menggaruk-garuk keningnya, berusaha berpikir keras.
Jessie menepuk jidatnya. “Kau dan Ted yang mengeluarkannya dari dalam pesawat aneh itu, masa kau lupa, Hein?!”
“Oh! Benar juga!”
“Kau tau?! Dia tidak bisa memasak!”
“Hei! Aku juga tidak bisa memasak!” bela Hein seraya melipat kedua tangannya dengan kesal.
“B-bukan itu maksudku, dia bahkan tidak tau cara mengeluarkan isi telur dengan normal.”
“Aku juga tidak bisa,” bela Hein lagi.
“Yah, kalau tiba-tiba Ibumu memberikanmu sebuah telur dan menyuruhmu untuk menggorengnya-“
“Yah, tinggal kubilang saja aku tidak bisa memasaknya,” sela Hein enteng.
“Tunggu dulu! Kau pasti setidaknya tau cara mengelurkan isi telurnya, kan?! Masa iya kau sebodoh itu?”
“Hei! Tentu saja aku tau, tinggal kau retakkan saja telur itu pelan-pelan di keramik dekat kau meletakkan kompor.”
“Nah! Kau tau apa yang dia lakukan?! Dia benar-benar aneh, dia malah meremas erat telur itu di telapak tangannya! Memangnya itu kertas, apa? Alhasil selusin telurku terbuang sia-sia!”
“Kau juga, sudah tau dia aneh, kenapa malah menyuruhnya memasak sih? Untung-untung, dia tidak membuat apartemenmu sampai terbakar.”
“Iya juga sih. Tapi, apa menurutmu itu tidak aneh? Dia bahkan tidak bisa membedakan remote televisi dengan AC.”
“Hm, aku rasa dia bukan amnesia lagi. Jangan-jangan dia memang beneran gila?!” seru Hein membuat Jessie menatapnya dengan horror.
“Ah! T-tidak mungkin!”
“Apanya yang tidak mungkin? Aku rasa orang amnesia pun masih bisa membedakan yang mana remote televisi dan AC.”
“Hm ... betul juga! Oh, iya! Aku kan sedang diskors, aku akan mengetes tingkat kegilaannya! Kalau dalam seminggu ini dia masih seperti itu, mau tak mau, kita harus membawanya ke rumah sakit jiwa!” ucap Jessie, membuat Hein mengangguk-angguk.
“Semangat, Jess. Semoga kau bisa membuktikannya!”
Jessie mengangguk mantap.
“Aku hanya mau berpesan. Jangan sampai kau yang menjadi gila karena dia, Jess. Karena kudengar penyakit gila itu bisa menular,” ungkap Hein, membuat Jessie langsung melayangkan jitakan lainnya.
“Kau tidak membantu!”
“Haha! Bercanda, semoga beruntung! Lagian, tampang Reinford kan lumayan tuh, aku yakin kau tidak akan bosan melihatnya selama seminggu. Eh, jangan seminggu deh, sebulan bahkan setahun pun, rasaku kau tidak akan bosan!”
“A-apa maksudmu?!” seru Jessie salah tingkah.
“Haha! Kalau begitu aku pulang dulu!”
“Hm!” Jessie pun membuka pintu apartemennya.
“Ingat, Jess! Jangan sampai gila ...”
Jessie berbalik dan melototi Hein yang sudah berdiri di dekat tangga. “karena tampangnya! Haha!” lanjut Hein.
“HEINN!”
Hein pun berlari dengan cepat menuruni tangga. Jessie masih mengepalkan sebelah tangannya dengan kesal, ingin rasanya ia melempar kamera yang masih dipegangnya itu.
“Jess?”
Jessie tersentak dan membalikkan tubuhnya. “R-rein?”
“Ah! T-tidak ada apa-apa.” Jessie langsung menerobos masuk dan bergegas ke kamarnya.
Reinford masih menatapi punggung wanita itu sampai menghilang dari pandangannya. Perlahan, ia menoleh dan mendapati pintu apartemen Jessie yang masih terbuka lebar.
***
Jessie meletakkan kamera itu di atas meja dengan kasar. Perlahan ia menghempaskan dirinya ke kasur dan meremas erat bantalnya.
“AHH! ADA APA DENGANKU!” teriak Jessie dalam hati.
‘Tok, tok, tok!’
“Jess, kau baik-baik saja?” Terdengar suara Reinford dari luar.
Perlahan Jessie bangkit dan duduk di kasurnya. Tak bisa dipungkiri, wajahnya kini semerah buah tomat.
“Iya! Aku baik-baik saja!”
“Ah, baguslah. Jess, aku ingin meminta maaf soal tadi pagi.”
Jessie mengangkat sebelah alis matanya. “Tentang apa?”
“Aku seharusnya tidak menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan privasimu. Maafkan aku.”
Jessie tertegun.
“Jess?” panggil Rein.
“Ah ... ya! Iya! Kau tidak perlu meminta maaf, kau tidak membuat kesalahan!”
“Oh ... baiklah. Beristirahatlah. Terima kasih, sampai jumpa.”
Jessie menggembungkan pipinya. “Aneh seperti biasanya.”
Jessie perlahan beranjak dari kasurnya dan berdiri tepat di depan cermin. Sembari menatapi pantulan dirinya, Jessie spontan menepuk-nepuk kedua wajahnya.
“Sadar, Jessie! Sadar! Pria itu memang lumayan oke, tapi bagaimana kalau dia memang orang gila? Masa iya, kau mau dengan orang gila?!” ceramah Jessie pada dirinya sendiri.
“Tapi, kalau dia ternyata bukan orang gila ...” Jessie menggeleng pelan. “KENAPA DENGAN DIRIKU!” Jessie langsung mengambil handuknya dan beranjak ke kamar mandi.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 18.20. Jessie masih berbaring di kasurnya dan menatapi langit-langit apartemen.
“Aku tidak lapar sih, apa aku tidak perlu turun saja, ya, hari ini?” Jessie membalikkan tubuhnya ke samping dan meraih guling kesayangannya. Pandangannya terfokuskan pada kamera Hein yang berada di atas meja belajarnya.
“Astaga, aku hampir lupa alasan utama aku meminjam kamera itu.” Jessie pun beranjak dari kasurnya dan meraih kamera itu.
“Yah ... mau tak mau aku harus bertemu dengannya. Sebenarnya aku jadi segan sih, gara-gara dia meminta maaf tadi. Tapi, kalau aku tidak turun, bukannya nanti dia malah berpikir aku marah padanya, ya?” batin Jessie.
“Ya sudahlah, aku turun saja.” Jessie pun membawa kamera itu turun bersama dengannya.
***
Tenang. Jessie pun mengerutkan keningnya. Ia pun bergegas menuju dapur dan tidak menemukan orang yang ia cari.
“Aneh, apa dia ada di kamarnya?” Jessie pun segera menuju kamar Rein.
Di depan kamar Rein. Jessie langsung mengambil nafas dalam-dalam. Perlahan, ia mengetuk pintu itu.
‘Tok, tok, tok!’
Tidak ada sahutan.
‘Tok, tok, tok!’
Tetap tidak ada sahutan.
Jessie kembali mengerutkan keningnya. “Kenapa dengan anak itu?” batinnya. Tanpa berpikir panjang, Jessie langsung meraih kenop pintu dan membukanya.
“Rein!”
Kosong. Tidak ada siapapun di dalam sana. Jessie mengerjapkan matanya berkali-kali dengan heran, lalu menatap ke arah pintu kamar mandi di dalam kamar tersebut. Sembari menelan ludah, Jessie mendekatkan telinganya pada pintu putih itu. Hening. Jessie tidak mendengarkan suara pergerakan dari dalam sana.
“Tak masalah, kan? Kalau aku membukanya?” tanya Jessie, tidak tau pada siapa.
Perlahan, pintu putih itu terbuka, Jessie masih menutup kedua matanya. Tidak ada teriakan, berarti aman. Jessie perlahan mengintip. Benar, tidak ada siapapun di dalam sana.
“Ke mana dia?!” batin Jessie seraya meninggalkan ruangan itu dengan cepat, lalu menuju ruang tamu.
“Rein! Rein! Kau mendengarkanku?!”
Tidak ada sahutan.
Jessie spontan teringat akan sesuatu. “Oh, tidak! Aku membiarkan pintu itu terbuka tadi!” Jessie langsung mengecek pintu keluar dan benar, tidak terkunci.
“Jangan, jangan ...” Jessie tertegun. Dan di detik berikutnya, ia langsung berlari keluar.
“Oh ... baiklah. Beristirahatlah. Terima kasih, sampai jumpa.”