Vermillion

Vermillion
Chapter 22 : Ponsel



“Maaf aku tidak bisa membawamu denganku, Pangeran," ucap Gerold.


“Tak apa, Gerold.” Rein turun dari mobil van milik Gerold.


“Tenang, Pangeran. Aku tetap akan membantumu mencari informasi terkait obat penawar itu. Kalau aku sudah menemukannya, aku akan langsung kemari.”


Rein mengangguk. “Terima kasih. Aku juga akan berusaha semampuku.”


“Eh, tunggu dulu, Pangeran!” Rein kembali berbalik dan menatap Gerold.


“Ada apa, Gerold?”


“Ini, bawalah ini bersamamu.” Gerold memberikan sebuah ponsel pada Rein.


“Apa ini?” tanya Rein heran.


“Pangeran bisa menghubungiku tanpa harus bertemu langsung seperti sekarang ini,” jelas Gerold seraya menunjukkan cara menggunakan ponsel itu pada Rein.


“Memang ada alat secanggih itu?”


“Haha! Inilah kelebihan Planet Biru.”


Rein tersenyum kecil. Gerold pun membuka daftar kontak dan menunjukkannya pada Rein. “Pangeran melihat namaku?”


“Ah ... iya yang disana.”


“Coba Pangeran tekan.”


Rein pun mengikuti instruksi Gerold dan menekan layar itu dengan jari telunjuknya, alhasil sebuah nada dering muncul dan membuat Rein tambah heran.


“Suara apa itu, barusan?”


“Ini adalah suara ponsel milikku.” Gerold menekan tombol terima pada ponselnya. “Halo, Pangeran bisa mendengarkanku?”


Suara yang sama persis muncul dari ponsel yang digenggam Rein. “Whoa, alat ini mengeluarkan ucapan yang sama denganmu!” ucap Rein takjub.


“Jadi, apa Pangeran sudah mengerti kegunaan ponsel ini?”


“Ah ... iya, aku bisa berbicara denganmu hanya melalui alat ini, kan?” jawab Rein.


Gerold mengangguk. “Sebenarnya masih banyak kegunaan ponsel itu, Pangeran. Tapi, aku sedang buru-buru dan tidak sempat untuk menjelaskan fungsi lainnya.”


“Ah ... tak apa, yang terpenting sekarang aku sudah bisa menghubungimu tanpa harus bertatap langsung denganmu, kan, Gerold?”


“Tepat!”


Rein tanpa sadar menggeleng pelan.


“Ada apa, Pangeran?” tanya Gerold sembari menyeringai.


“Tak ada, aku ... tak percaya kalau barang seperti ini benar-benar ada.”


“Haha! Kalau begitu, kenapa kau tidak meluangkan waktumu untuk mempelajari ponsel itu, Pangeran? Ah ... sudah waktunya, aku pamit pergi, Pangeran.”


“Ah! Iya! Berhati-hatilah!”


Mobil van itu mengeluarkan bunyi klakson sekali. Dan bunyi itu berhasil membuat Rein sedikit melompat kaget. Pintu kaca mobil van itu kembali terbuka, terlihat Gerold yang tak kuasa menahan tawanya.


“Maaf, maaf, Pangeran. Aku tidak tau kau akan mengeluarkan ekspresi selucu itu. Haha!”


Semburat merah tipis mulai menghiasi wajah Rein. “Ah ... haha, jujur saja, baru pertama kali ini aku merasakan kaget tanpa sadar.”


“Haha! Kalau begitu Pangeran harus lebih sering-sering mendengarnya, hal ini sudah biasa di kota-kota. Sampai jumpa!”


Lagi-lagi, Gerold membunyikan klaksonnya dan berhasil membuat Rein kembali melompat kaget. Saat mobil van hitam itu melaju pergi. Rein perlahan mengelus-elus dadanya.


“Banyak sekali benda aneh di Planet Biru ini ...” batinnya.


***


‘Tok, tok, tok!’


“Sebentar!”


‘Tok, tok, tok!’


“Sebentaar!”


‘Tok, tok, tok!’


Pintu itu langsung terbuka dengan kasar.


“Aku bilang ‘sebentar’, kau dengar tidak sih?!” seru Jessie kesal.


Rein mengerjapkan matanya berkali-kali. “M maaf.”


“J-jess?”


Tidak ada sahutan. Namun, Jessie mempererat pelukannya. Rein menyadarinya, perlahan ia membalas memeluk wanita itu.


“Kau ke mana saja sih? Kami semua mengkhawatirkanmu, tau?”


“Maaf, aku hanya ingin mengambil beberapa barangku yang tertinggal,” jelas Rein.


“Kenapa main pergi saja? Kenapa tidak memberitahuku dulu? Kami semalam mencarimu tau!”


“M-maaf, maafkan aku.”


“Sniff, sniff ....”


“Jess? Jess?! Kau kenapa?!” Rein langsung melepas paksa pelukan Jessie dan mengangkat wajahnya untuk menatapnya.


Jessie tersenyum kecut. “Sial, kenapa aku malah menunjukkan sisi lemahku padanya? Mungkin dia akan mulai meledekku? Meremehkanku? Menertawaiku?” batin Jessie.


Rein mengelap air mata Jessie, spontan wanita itu dibuat kaget oleh tindakannya. “Maaf, aku tidak bermaksud membuat kalian semua khawatir. Hanya saja, aku tidak tau bagaimana caranya menjelaskan hal ini pada kalian,” jelas Rein yang kini membelai pelan rambut Jessie.


Jessie masih tertegun, pandangannya tak bisa lepas dari wajah pria dihadapannya itu.


“Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku ... aku akan berusaha untuk menjelaskannya semasuk akal mungkin. Jadi, janganlah menangis.”


Jessie mulai merasakan aura-aura panas yang menghampiri tubuhnya. Perlahan, Jessie mendorong tubuh Rein menjauh darinya. Sembari melipat kedua tangannya. “S-siapa yang menangis, hah?! Mataku kemasukan debu yang ada di pakaianmu! Kau sebenarnya ke mana sih! Kenapa kotor sekali?!”


Rein mengerjapkan matanya dengan heran. “Eh?”


“Lebih baik sekarang kau naik dan mandi dulu! Setelah itu, kau harus menjelaskan semuanya padaku, mengerti?!” bentak Jessie.


Rein spontan mengangguk dan bergegas menuju kamarnya.


“Jangan berpikir untuk tidur di atas kasur sebelum kau selesai mandi, Rein!”


“Iyaa!”


Setelah Jessie menutup pintu apartemennya, ia langsung menuju dapur dan mengirim pesan kepada kedua sahabatnya.


***


“Psst, hei, Ted, woi!”


Ted menoleh. “Ada apa, Hein? Kau tidak lihat Ibu Emilia sedang menerangkan? Kau mau kita dihukum berdiri di lapangan? Atau mungkin membersihkan kamar mandi pria di lantai satu sampai empat?”


“Jessie sudah menemukan Rein,” ucap Hein kesal karena tidak diberi kesempatan untuk berbicara oleh sahabatnya itu.


“Serius?!”


“Hm ....”


“Darimana kau tau, Hein?!”


“Jessie baru mengirimkan pesan padaku, seharusnya dia sudah mengirimkannya padamu juga, tapi kau kan sedang tidak memegang ponsel.”


“Ah! Baguslah kalau begitu, setidaknya Rein baik-baik saja, kan?”


“Hoh!”


“Hei! Yang dibelakang! Hein, Ted! Maju ke depan!” panggil Bu Emilia.


Ted dan Hein saling bertatapan horror.


“Mampus kita,” ucap Hein.


***


Jessie meletakkan ponselnya di meja makan. Seraya menatapi pantulan wajahnya dari layar ponselnya. Jessie memegang kedua pipinya, tanpa sadar ia tersenyum tipis. Kejadian barusan masih terus berputar-putar dalam pikirannya. Belum pernah ia merasa sebahagia ini, lalu tiba-tiba ia tersadar dan matanya melotot hebat.


“Tunggu dulu! Apa yang baru saja kupikirkan?! Tidak, tidak, tidak! Aku senang karena dia akhirnya kembali sendiri dan aku tidak perlu susah-susah mencarinya lagi, kan? Lagipula aku juga sudah berjanji pada Ted, setidaknya semuanya sudah terselesaikan!” pikir Jessie bangga.


Namun, perasaannya berkata lain dengan pikirannya. “Kyaa! Aku tidak bisa! Barusan aku bertingkah sok kuat, padahal aku baru saja menangis dihadapannya! Aah! Aku ini payah sekali! Tapi, dia benar-benar gentleman sekali ... Huff! Ada apa sih dengan perasaanku! Apa jangan-jangan ...” Jessie langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tidak! Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak mungkin suka padanya, kan!? Ahh!” teriak Jessie frustasi dalam hati.


***


Rein mematikan keran air dan beranjak dari kamar mandi. Seraya mengeringkan rambutnya yang masih basah. Rein memandang pedang pemberian Selene yang diletakkannya di sebelah tempat tidurnya.


“Apa di Planet Biru ini ... pedang seperti ini masih boleh digunakan?”


Rein menghela nafas panjang. "Sepertinya tidak ..." Pandangannya kini beralih pada sebuah kotak sedang berwarna hitam yang berada di kasurnya.


“Selene ... apa kau juga ada di sekitar sini? Apakah kau juga sudah diselamatkan oleh orang-orang seperti mereka? Aku harap kau baik-baik saja ... tunggu aku, aku pasti akan menemukanmu!”