
Jam menunjukkan pukul 19.30. Setelah selesai mengelap
piring-piring itu, Rein pun bergegas ke kamarnya.
“Rein?”
Rein memutar wajahnya, memandangi Jessie yang baru keluar
dari kamarnya.
“Ah ... ada apa, Jess? Tidak bisa tidur?”
Jessie menggeleng. “Terlalu banyak hal aneh yang terjadi
hari ini. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.”
“Um ... begitu ya, lalu apa ada yang bisa kulakukan agar
kau bisa tidur dengan nyenyak?”
Jessie spontan terkejut, ia mulai merasakan perubahan
temperatur suhu dalam tubuhnya.
“Jess ...?”
“Ehem, ah ... iya, ada yang ingin kuceritakan padamu. Tapi,
kalau kau sudah ngantuk, ya, tak apa sih ...” ujar Jessie sedikit memalingkan
wajahnya.
“Tak masalah. Kau mau bicara langsung di sini atau di
bawah?”
“Di kamarmu saja. Eh! Ah, itu ... maksudku lebih dekat!
Kalau di bawah, kita kan harus turun lagi!” jelas Jessie panik.
Rein tersenyum lembut. “Baiklah. Masuklah ...” ucap Rein
seraya membukakan pintu kamarnya.
“Y-ya,” Jessie pun dengan cepat menerobos masuk, ia
berharap kalau pria itu tidak menyadari dirinya yang kini tengah merona hebat.
Perlahan, Jessie membuka jendela kamar Rein.
Rein pun bergabung dan berdiri di sampingnya. “Aku suka
sekali angin malam di sini ... lebih terasa dibandingkan di kamarku,” ujar
Jessie tanpa sadar.
“Kalau begitu, kenapa kau tidak memakai kamar ini dari
awal?”
“Aku maunya begitu ... tapi, adikku tidak mau mengalah
denganku. Dia bahkan sampai merengek hanya untuk mendapatkan kamar ini, haha
....”
“Adikmu?”
“Ya, kau pasti sudah pernah melihat fotonya.”
Rein sedikit memiringkan kepalanya, lalu ia teringat akan
foto yang waktu itu. “Oh, jadi, itu adik laki-lakimu?”
“Benar,” jawab Jessie pelan.
“Oh ....”
Suasana keheningan mulai tercipta, Rein tidak berniat untuk
melontarkan beberapa pertanyaan. Ia tau kalau Jessie memang tidak terlalu ingin
menceritakan masalah keluarganya.
“Kau tidak mau bertanya sesuatu tentang ceritaku barusan?
Biasanya kan kau selalu penasaran? Ada saja yang ingin kau tanya,” ledek Jessie
sembari tertawa kecil.
“Ah ... benar, hanya saja, aku tidak mau kalau
pertanyaanku nantinya malah membebani pikiranmu.”
“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”
“Ini sudah menyangkut masalah privasimu, kan? Terakhir
kali, aku melontarkan pertanyaan yang memang kau sendiri tidak ingin
menjawabnya, aku ... tidak mau hal itu terjadi lagi,” ucap Rein seraya
mendongakkan kepalanya, memandangi langit malam.
“Ah, waktu itu, ya? Maafkan aku, Rein. Aku bukannya tidak
mau menjawab pertanyaanmu, hanya saja aku masih tidak percaya padamu, waktu
itu,” Jessie mulai memutar tubuhnya dan menghadap Rein. Pria itu masih
mendongakkan wajahnya ke luar jendela.
“Maafkan aku, waktu itu aku masih berpikir kau adalah
orang yang aneh, sakit, dan tidak waras. Tapi, hari ini ... aku rasa kau baru
saja membuktikan padaku, kalau kau bukanlah orang yang seperti itu.”
“Jadi, kau sudah percaya kalau aku bukan dari ras manusia
seperti kalian?” Rein memutar wajahnya, memandangi wanita itu dengan tenang.
“Aku ...” Jessie menundukkan kepalanya.
Rein perlahan memejamkan kedua matanya dan tersenyum
lembut. “Aku tidak memaksamu untuk percaya pada semua perkataanku. Karena mau
bagaimanapun, kita berdua memang dari planet yang berbeda. Di tempatku, tidak
ada barang-barang unik seperti yang ada disini, tidak ada orang yang ramah
seperti pemilik toko roti dan kelontong, orang dari ras bawah akan selalu
Jessie perlahan mengangkat wajahnya, memandangi Rein yang
kini sudah kembali menatap keluar jendela.
“Aku tidak akan menyalahkan mereka, berbeda dengan
ayahku, ibuku adalah orang yang sangat anti dengan orang-orang dari ras bawah.
Aku tidak diperbolehkan berteman bahkan berbicara dengan mereka. Hal kecil
seperti itulah yang kadang dapat memulai perkelahian kedua orangtuaku.
Perbedaan pemikiran dan pandangan, aku tau ibuku ingin yang terbaik untukku. Ia
ingin aku tumbuh menjadi raja yang lebih baik dari ayahku. Tapi di satu sisi,
aku juga tidak mau menjadi seorang raja yang dibenci oleh orang-orang di
planetku.”
Rein mengepalkan kedua tangannya. “Aku ... sebenarnya
juga tidak ingin menjadi seorang raja. Aku lebih suka kalau kursi tahta itu
tetap diduduki oleh ayahku, bagiku dia adalah sosok yang lebih pantas
dibandingkan diriku. Itulah, kenapa saat aku tau dia jatuh sakit ... aku, aku
takut sekali. Aku takut kalau dia tidak akan membuka kedua matanya lagi.”
“Rein ...” Jessie memegangi lengan tangan pria itu,
membuat pria itu tersadar.
“Ah ... maaf, maafkan aku. Kenapa malah jadi aku yang
bercerita.”
“Tak, tak apa, Rein. Baru pertama kali ini, aku melihatmu
menunjukkan begitu banyak ekspresi pada wajahmu.”
“Begitu, ya?”
Jessie mengusap lembut bahu Rein. “Aku tidak tau pasti
seperti apa ras mu ini, tapi, dari kejadian tadi, aku bisa mengambil kesimpulan.
Kau pasti bukanlah orang biasa, kau sangat kuat, cepat, dan baik hati. Kau bahkan
berinisiatif untuk melindungi kami bertiga. Kau layak untuk menjadi seorang
raja, Rein. Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi, menurutku, kau menuruni
pemikiran dan pemandangan yang sama dengan ayahmu. Mungkin, kau juga mengikuti
arahan dari ibumu, tapi kau tidak mengambil sisi negatifnya. Aku yakin, kau
bisa mendapat kepercayaan orang-orang di planetmu.”
Rein tertegun. Perlahan, ia menatap wanita di sampingnya
itu dalam-dalam.
Jessie tersenyum lembut. “Kematian itu tidak bisa kita
hindari, Rein. Aku hanya ingin disaat hari itu tiba, kau sudah siap dan tak
memandang rendah dirimu sendiri. Aku yakin, ayahmu juga percaya padamu.”
Rein menggeleng. “Jess, ayahku sudah memerintah planet
Vermillion selama 3.796 tahun, mungkin lebih jika dihitung dari usia masa
mudanya. Aku juga tidak tau pasti seperti apa asal mulanya planet temuan ayahku
ini hingga dikenal sebagai Vermillion. Yang aku tau, ayahku sudah melalui
hari-hari itu dan kalau saja dia tidak pergi ke tempat wabah itu, mungkin
sekarang aku juga tidak akan kemari.”
“T-tiga? Tiga ribu tahun? Lalu, kau yang sekarang ini?”
“Aku memang terlihat seperti baru memasuki usia 20 tahun,
tapi sebenarnya aku ini sudah hidup selama 2001 tahun di planetku. Percaya atau
tidak, ras timeless yang mengalir dalam darahku memperlambat penuaan pada
fisikku. Itu bukan berarti kami tidak akan mengalami masa tua, hanya saja tidak
secepat itu.”
Jessie menggeleng tak percaya. “Bagaimana mungkin?”
“Aku tau ini akan terdengar aneh untuk kalian, aku sudah
mendapat beberapa informasi kecil mengenai ras kalian dari Gerold, walaupun
rupa kita sama, kalian tidak akan bisa bertahan hidup hingga ribuan tahun, kan?”
“Benar, itulah kenapa aku bilang padamu, kematian itu
tidak bisa dihindari. Tak hanya karena masalah waktu, fisik kami juga tidak
sekuat kalian. Kemampuanmu untuk menyembuhkan lukamu sendiri ... kalau saja kami
juga memilikinya, mungkin, mungkin saat ini, mereka masih ada disini,” lirih
Jessie seraya menjatuhkan wajahnya dibahu Rein.
“Jess?”
“Kalau saja kau datang lebih awal, mungkin aku masih bisa
lebih lama lagi bersama mereka, sniff ....”
Rein langsung membawa Jessie ke dalam pelukannya. “Apa
yang terjadi, Jess? Kau juga mengatakan hal seperti ini waktu itu.”
“Sniff, sniff ...” Jessie meremas erat belakang pakaian
Rein.
“Shh, tenangkan dulu dirimu,” ucap Rein lembut, seraya
menyisir pelan rambut Jessie dengan jari-jari tangannya.