Vermillion

Vermillion
Chapter 28 : Lebih Pantas



Jam menunjukkan pukul 19.30. Setelah selesai mengelap


piring-piring itu, Rein pun bergegas ke kamarnya.


“Rein?”


Rein memutar wajahnya, memandangi Jessie yang baru keluar


dari kamarnya.


“Ah ... ada apa, Jess? Tidak bisa tidur?”


Jessie menggeleng. “Terlalu banyak hal aneh yang terjadi


hari ini. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak.”


“Um ... begitu ya, lalu apa ada yang bisa kulakukan agar


kau bisa tidur dengan nyenyak?”


Jessie spontan terkejut, ia mulai merasakan perubahan


temperatur suhu dalam tubuhnya.


“Jess ...?”


“Ehem, ah ... iya, ada yang ingin kuceritakan padamu. Tapi,


kalau kau sudah ngantuk, ya, tak apa sih ...” ujar Jessie sedikit memalingkan


wajahnya.


“Tak masalah. Kau mau bicara langsung di sini atau di


bawah?”


“Di kamarmu saja. Eh! Ah, itu ... maksudku lebih dekat!


Kalau di bawah, kita kan harus turun lagi!” jelas Jessie panik.


Rein tersenyum lembut. “Baiklah. Masuklah ...” ucap Rein


seraya membukakan pintu kamarnya.


“Y-ya,” Jessie pun dengan cepat menerobos masuk, ia


berharap kalau pria itu tidak menyadari dirinya yang kini tengah merona hebat.


Perlahan, Jessie membuka jendela kamar Rein.


Rein pun bergabung dan berdiri di sampingnya. “Aku suka


sekali angin malam di sini ... lebih terasa dibandingkan di kamarku,” ujar


Jessie tanpa sadar.


“Kalau begitu, kenapa kau tidak memakai kamar ini dari


awal?”


“Aku maunya begitu ... tapi, adikku tidak mau mengalah


denganku. Dia bahkan sampai merengek hanya untuk mendapatkan kamar ini, haha


....”


“Adikmu?”


“Ya, kau pasti sudah pernah melihat fotonya.”


Rein sedikit memiringkan kepalanya, lalu ia teringat akan


foto yang waktu itu. “Oh, jadi, itu adik laki-lakimu?”


“Benar,” jawab Jessie pelan.


“Oh ....”


Suasana keheningan mulai tercipta, Rein tidak berniat untuk


melontarkan beberapa pertanyaan. Ia tau kalau Jessie memang tidak terlalu ingin


menceritakan masalah keluarganya.


“Kau tidak mau bertanya sesuatu tentang ceritaku barusan?


Biasanya kan kau selalu penasaran? Ada saja yang ingin kau tanya,” ledek Jessie


sembari tertawa kecil.


“Ah ... benar, hanya saja, aku tidak mau kalau


pertanyaanku nantinya malah membebani pikiranmu.”


“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”


“Ini sudah menyangkut masalah privasimu, kan? Terakhir


kali, aku melontarkan pertanyaan yang memang kau sendiri tidak ingin


menjawabnya, aku ... tidak mau hal itu terjadi lagi,” ucap Rein seraya


mendongakkan kepalanya, memandangi langit malam.


“Ah, waktu itu, ya? Maafkan aku, Rein. Aku bukannya tidak


mau menjawab pertanyaanmu, hanya saja aku masih tidak percaya padamu, waktu


itu,” Jessie mulai memutar tubuhnya dan menghadap Rein. Pria itu masih


mendongakkan wajahnya ke luar jendela.


“Maafkan aku, waktu itu aku masih berpikir kau adalah


orang yang aneh, sakit, dan tidak waras. Tapi, hari ini ... aku rasa kau baru


saja membuktikan padaku, kalau kau bukanlah orang yang seperti itu.”


“Jadi, kau sudah percaya kalau aku bukan dari ras manusia


seperti kalian?” Rein memutar wajahnya, memandangi wanita itu dengan tenang.


“Aku ...” Jessie menundukkan kepalanya.


Rein perlahan memejamkan kedua matanya dan tersenyum


lembut. “Aku tidak memaksamu untuk percaya pada semua perkataanku. Karena mau


bagaimanapun, kita berdua memang dari planet yang berbeda. Di tempatku, tidak


ada barang-barang unik seperti yang ada disini, tidak ada orang yang ramah


seperti pemilik toko roti dan kelontong, orang dari ras bawah akan selalu


Jessie perlahan mengangkat wajahnya, memandangi Rein yang


kini sudah kembali menatap keluar jendela.


“Aku tidak akan menyalahkan mereka, berbeda dengan


ayahku, ibuku adalah orang yang sangat anti dengan orang-orang dari ras bawah.


Aku tidak diperbolehkan berteman bahkan berbicara dengan mereka. Hal kecil


seperti itulah yang kadang dapat memulai perkelahian kedua orangtuaku.


Perbedaan pemikiran dan pandangan, aku tau ibuku ingin yang terbaik untukku. Ia


ingin aku tumbuh menjadi raja yang lebih baik dari ayahku. Tapi di satu sisi,


aku juga tidak mau menjadi seorang raja yang dibenci oleh orang-orang di


planetku.”


Rein mengepalkan kedua tangannya. “Aku ... sebenarnya


juga tidak ingin menjadi seorang raja. Aku lebih suka kalau kursi tahta itu


tetap diduduki oleh ayahku, bagiku dia adalah sosok yang lebih pantas


dibandingkan diriku. Itulah, kenapa saat aku tau dia jatuh sakit ... aku, aku


takut sekali. Aku takut kalau dia tidak akan membuka kedua matanya lagi.”


“Rein ...” Jessie memegangi lengan tangan pria itu,


membuat pria itu tersadar.


“Ah ... maaf, maafkan aku. Kenapa malah jadi aku yang


bercerita.”


“Tak, tak apa, Rein. Baru pertama kali ini, aku melihatmu


menunjukkan begitu banyak ekspresi pada wajahmu.”


“Begitu, ya?”


Jessie mengusap lembut bahu Rein. “Aku tidak tau pasti


seperti apa ras mu ini, tapi, dari kejadian tadi, aku bisa mengambil kesimpulan.


Kau pasti bukanlah orang biasa, kau sangat kuat, cepat, dan baik hati. Kau bahkan


berinisiatif untuk melindungi kami bertiga. Kau layak untuk menjadi seorang


raja, Rein. Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi, menurutku, kau menuruni


pemikiran dan pemandangan yang sama dengan ayahmu. Mungkin, kau juga mengikuti


arahan dari ibumu, tapi kau tidak mengambil sisi negatifnya. Aku yakin, kau


bisa mendapat kepercayaan orang-orang di planetmu.”


Rein tertegun. Perlahan, ia menatap wanita di sampingnya


itu dalam-dalam.


Jessie tersenyum lembut. “Kematian itu tidak bisa kita


hindari, Rein. Aku hanya ingin disaat hari itu tiba, kau sudah siap dan tak


memandang rendah dirimu sendiri. Aku yakin, ayahmu juga percaya padamu.”


Rein menggeleng. “Jess, ayahku sudah memerintah planet


Vermillion selama 3.796 tahun, mungkin lebih jika dihitung dari usia masa


mudanya. Aku juga tidak tau pasti seperti apa asal mulanya planet temuan ayahku


ini hingga dikenal sebagai Vermillion. Yang aku tau, ayahku sudah melalui


hari-hari itu dan kalau saja dia tidak pergi ke tempat wabah itu, mungkin


sekarang aku juga tidak akan kemari.”


“T-tiga? Tiga ribu tahun? Lalu, kau yang sekarang ini?”


“Aku memang terlihat seperti baru memasuki usia 20 tahun,


tapi sebenarnya aku ini sudah hidup selama 2001 tahun di planetku. Percaya atau


tidak, ras timeless yang mengalir dalam darahku memperlambat penuaan pada


fisikku. Itu bukan berarti kami tidak akan mengalami masa tua, hanya saja tidak


secepat itu.”


Jessie menggeleng tak percaya. “Bagaimana mungkin?”


“Aku tau ini akan terdengar aneh untuk kalian, aku sudah


mendapat beberapa informasi kecil mengenai ras kalian dari Gerold, walaupun


rupa kita sama, kalian tidak akan bisa bertahan hidup hingga ribuan tahun, kan?”


“Benar, itulah kenapa aku bilang padamu, kematian itu


tidak bisa dihindari. Tak hanya karena masalah waktu, fisik kami juga tidak


sekuat kalian. Kemampuanmu untuk menyembuhkan lukamu sendiri ... kalau saja kami


juga memilikinya, mungkin, mungkin saat ini, mereka masih ada disini,” lirih


Jessie seraya menjatuhkan wajahnya dibahu Rein.


“Jess?”


“Kalau saja kau datang lebih awal, mungkin aku masih bisa


lebih lama lagi bersama mereka, sniff ....”


Rein langsung membawa Jessie ke dalam pelukannya. “Apa


yang terjadi, Jess? Kau juga mengatakan hal seperti ini waktu itu.”


“Sniff, sniff ...” Jessie meremas erat belakang pakaian


Rein.


“Shh, tenangkan dulu dirimu,” ucap Rein lembut, seraya


menyisir pelan rambut Jessie dengan jari-jari tangannya.