Vermillion

Vermillion
Chapter 1 : Raja Sakit?!



Dari balik jendela megah ini, aku terus memandangi langit malam yang selalu terlihat terang. Aku yakin cahaya terang ini pasti berasal dari sana. Tempat jauh yang disebut-sebut Planet Biru oleh kaumku.


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan terlihat seorang prajurit melangkah masuk. “Pangeran Rein, Ratu ingin Pangeran segera menemuinya!”


Aku memutar tubuhku untuk menghadapnya. “Ada masalah apa?”


“Raja! Raja kita!”


Setelah mendengar perkataannya barusan, ekspresi wajahku spontan berubah cemas. Aku langsung melangkah pergi dari kamarku. Tak kuhiraukan panggilan dari prajurit itu.


Setibanya aku di depan kamar kedua orangtuaku. Tanganku langsung menggapai kenop pintu bulat mengkilap itu. Gemetar. Itu yang kurasakan saat jari-jariku sudah menyentuh kenop pintu itu. Perlahan, kuberanikan diriku untuk memutarnya.


“Rein!” Wanita cantik yang menyadari kehadiranku itu langsung menghampiriku dan memelukku dengan erat.


“Ibu ..., apa yang terjadi?” tanyaku saat mendapati ayahku yang tengah berbaring tenang di kasur.


Seorang pria tua yang sedari tadi berdiri di samping kasur ayahku kini menatapku. “Pangeran Rein.”


“High Priest Dunan, kenapa Anda ada disini?” tanyaku heran.


“Raja ..., raja ternyata terinfeksi penyakit saat mengunjungi pemukiman rakyat.”


“Apa?!”


Ibuku memegangi bahuku. “Ayahmu memang orang yang ceroboh. Aku bahkan tidak bisa berkata-kata lagi.”


Aku menggapai tangan ibuku untuk menenangkannya. “Lalu? Apa ayahku akan baik-baik saja?”


“Aku tidak bisa menjamin itu.”


Aku mengangkat sebelah alis mataku. “Tapi, bukankah kalian ras Priest bisa menyembuhkan


berbagai macam penyakit?!”


“Itu memang benar, ras kami memang berpotensi dalam hal penyembuhan. Berbeda dengan ras kalian yang merupakan ras unggul dalam hal keawetan, pertumbuhan kalian akan melambat saat kalian sudah memasuki usia 20 tahun. Apa kau tau berapa usia ayahmu sekarang, Pangeran Rein?”


Aku menatap ayahku sekilas. “Mungkin ..., 38 tahun?”


High Priest Dunan tersenyum. “Hampir tepat. Usia Raja saat ini ialah 3.796 tahun.”


“A-apa?”


“Ayahmu adalah raja pertama di planet ini, planet yang dinamainya Vermillion. Ayahmu sudah memerintah selama 3.796 tahun. Yang artinya selama 3.796 tahun ini, ayahmu tidak pernah diserang oleh penyakit apapun.”


“Aku masih tidak mengerti. Jadi maksudmu, ras kami akan mati jika terserang sebuah penyakit, begitu?”


Melihat nada bicaraku yang tiba-tiba meninggi, ibuku kembali memegang bahuku. “Rein ....”


“Kalau kau tidak bisa menyembuhkan ayahku, kau langsung bilang saja! Aku akan mencari High Priest la—“


“Percuma saja,” sela High Priest Dunan. “Kau tidak mengerti, Pangeran Rein. Tempat yang raja kunjungi itu adalah tempat yang dipenuhi oleh wabah penyakit. Semua ras ku bahkan tidak ingin sekalipun menginjakkan kaki mereka disana. Mengapa demikian? Karena kami masih belum bisa menemukan penawarnya.”


“Lalu kenapa ayah kesana?!”


“Para penasehat sudah memberitahukan hal ini pada ayahmu, Pangeran Rein. Tapi, raja tetap bersikeras untuk kesana.”


“Kapan?! Kenapa tidak ada yang memberitahukan hal ini padaku?!”


“Rein, tenanglah ....” Ibuku mengelus pelan rambutku.


“Pangeran Rein, sebelum pergi, raja mengatakan kepada para penasehatnya bahwa ia akan mempercayakan tahtanya padamu.”


Aku bahkan tidak bisa mengerjapkan mataku setelah mendengar perkataannya barusan. “Karena aku sudah menganggap raja seperti anakku sendiri, maka aku akan memberitahukan letak penawar rahasia ini padamu.” High Priest Dunan berjalan perlahan menuju jendela kamar orangtuaku. Membuka jendela itu dan menunjuk ke langit.


“Pergilah ke Planet Biru. Kau akan menemukan penawar itu disana.”


Aku tidak bisa berkata-kata. Aku masih tidak percaya akan apa yang baru saja kudengar. Kulihat ibuku yang kini memasang wajah syok. “T-tapi! Kalau putraku yang kesana, siapa yang akan menjaga kerajaan ini?”


Aku memegangi kedua tangan ibuku. “Ibu ....”


“Tidak! Aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke suatu tempat asing begitu saja!”


“Tapi ... hanya ini yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan ayah!”


“Tidak! Ibu yakin pasti masih ada cara lain!”


“Dan apakah rekan-rekanmu itu sudah mendarat dan pulang dengan selamat dari sana?” tegas ibuku.


“Tidak. Kami tidak berani masuk ke dalam planet itu.”


“Lalu kenapa kau menyarankan putraku untuk kesana?!”


Kini giliranku kembali yang menenangkan ibuku. High Priest Dunan tersenyum. “Seperti kataku barusan. Berbeda dengan ras kalian, ras kami tidak memiliki wajah yang sempurna seperti kalian. Kami bisa menua, tubuh kami semakin membongkok, dan telinga kami runcing memanjang. Tapi kalian? Kalian bahkan jauh lebih mirip dengan


orang-orang di Planet Biru itu. Itulah kenapa—“


“Kau menyarankan putraku untuk kesana, benar?!” sela ibuku.


“Pangeran Rein masih muda dan kuat. Aku yakin Pangeran bisa pergi dan pulang dengan selamat,” jelas High Priest Dunan.


“Kau bisa menjamin itu?!” ancam ibuku.


High Priest Dunan terdiam. Suasana mulai terasa canggung. “Ibu, aku rasa usulan High Priest tidak ada salahnya.


Kalau aku tidak kesana, maka ayah—“


“Tidak! Bagaimana kalau akhirnya kau juga tidak kembali?! Bagaimana kalau tiba-tiba terjadi sesuatu padamu disana?! Ibu tidak hanya akan kehilangan ayahmu, tapi dirimu juga!”


Perkataan ibu barusan memang ada benarnya. Aku tidak tau seperti apa orang-orang di Planet Biru itu. Seperti apa keadaan disana. Tapi aku juga tidak bisa tinggal diam. Keselamatan nyawa ayahku ada disana. Jika aku tidak segera mendapatkan penawar itu, maka ayahku ....


Ibuku memegangi sebelah pipiku. “Jangan pergi, Rein. Ibu mohon padamu ....”


“Ibu ....” Aku memegangi tangan ibu yang ada di wajahku. “Maafkan aku. Setelah tau kalau penawar itu ada disana, aku tidak bisa tinggal diam. Aku berjanji padamu, aku akan kembali. Aku akan kembali dengan membawa penawar itu, aku akan kembali dengan selamat.”


Air mata mulai membasahi pipi ibuku. “Dasar ... kalian ayah dan anak, selalu saja membuatku khawatir.”


Aku berusaha tersenyum. Mengelap air mata ibuku. “Percayakan saja masalah ini padaku. Selama aku pergi, bisakah ibu yang menggantikan posisi ayah untuk sementara? Aku tidak akan lama ....”


“Iya-iya. Ibu mengerti. Ingat janjimu, Rein!”


“Terima kasih, Ibu.”


“Ehem. Maaf mengganggu momen kalian. Tapi menurutku, sebelum Pangeran Rein berangkat, ada baiknya Pangeran melakukan beberapa persiapan dulu,” jelas High Priest Dunan.


Aku kembali mengangkat sebelah alis mataku. “Maksudmu?”


“Pangeran Rein tidak pernah meninggalkan kerajaan. Aku yakin keahlian bela diri Pangeran mungkin masih di bawah rata-rata.”


“H-hei ....”


“Maafkan aku, Pangeran Rein. Aku tidak bermaksud untuk merendahkan Pangeran, hanya saja—“


Aku tersenyum kecil. “Aku mengerti. Kau tidak perlu meminta maaf. Aku akui aku memang tidak jago dalam hal-hal itu,” selaku.


High Priest Dunan akhirnya tertawa lepas. “Apakah raja tidak pernah mengajak Pangeran berlatih pedang, memanah, ataupun hal-hal bela diri lainnya?”


“Tidak. Ayah bahkan tidak mengizinkanku memegang pusaka-pusaka kesayangannya.”


High Priest Dunan terkekeh pelan. “Kalau begitu, mungkin kau harus mulai berlatih dari nol. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi ke planet itu tanpa persiapan apapun. Hal ini tentu membuatku tidak bisa menjamin keselamatanmu pada ibumu.”


Ibuku langsung melototi High Priest Dunan. “Maaf ..., maaf, Ratu. Baiklah, Pangeran Rein. Besok pagi temui aku di Aula Cahaya. Kalau kau sudah bisa melewati batas prediksiku, maka kau sudah kuizinkan untuk pergi ke Planet Biru.”


“Aku mengerti. Terima kasih banyak, High Priest Dunan.”


“Tak masalah. Aku permisi.” High Priest Dunan pun keluar dari kamar orangtuaku.


“Rein, kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah. Besok mungkin akan menjadi hari yang panjang untukmu,” saran ibuku.


Aku mengangguk pelan. “Baiklah. Selamat malam, Ibu. Kalau terjadi sesuatu, panggil saja aku.”


Ibuku tersenyum dan mengangguk. “Selamat malam, Rein.”


Aku berjalan keluar dari kamar orangtuaku. Sambil memegangi kenop pintu, aku melihat sekilas ibuku yang kini beranjak menuju kasur tempat ayahku berbaring. Aku tersenyum kecil, lalu menutup pintu kamar mereka.


“Lihatlah, Sayang. Anak kita sudah semakin dewasa. Dia bahkan semakin mirip dengan dirimu ....”


Setibanya di dalam kamarku, aku sudah bersiap untuk tidur. Namun, saat kusadari jendela kamarku masih terbuka. Aku perlahan beranjak dari kasurku untuk menutupnya. Silauan cahaya biru terang itu kembali menyinari penglihatanku. “Planet Biru, ya? Aku jadi tidak sabar untuk segera kesana ....”


Aku menutup jendela itu dan kembali ke kasurku. “Besok ... aku akan langsung menyelesaikannya besok.”