Vermillion

Vermillion
Chapter 15 : Coba atau Tidak akan Pernah



Di dapur, Jessie tengah memanaskan kuali. Rein masih memandanginya dari meja makan.


“Ngomong-ngomong, Rein. Apa kau tau yang namanya memasak?”


“Ah ... aku tau.”


“Oh ... apa kau sudah pernah mencoba melakukannya?”


“Um ... tidak. Ibuku bilang itu urusan para wanita. Kalaupun pria, dia pasti sudah profesional dan akan direkrut sebagai koki kerajaan.”


Jessie membalikkan tubuhnya, menghadap Rein. “Oh ... apa itu peraturan dari tempat tinggalmu?”


“Ah ... tidak juga. Itu karena aku adalah seorang pangeran. Ibuku selalu berusaha mendisiplinkanku. Ada beberapa hal yang memang harus dilakukan oleh seorang pangeran dan ada juga yang tidak perlu kucampuri.”


Jessie memanyunkan bibirnya. “Owh. Jadi, kalau kau melanggar peraturan itu? Apa kau akan kena masalah?”


“Tidak. Kalau ibuku tau, dia akan langsung menegurku.”


“Oh begitu ... nah, bisa tidak kau kemari sebentar?”


Rein mengerjapkan matanya berkali-kali, namun tetap mengikuti perintah wanita itu dan berdiri disampingnya.


“Nah, kau bersihkan sayur ini, ya!” ucap Jessie seraya menyodorkan seikat sayur pada Rein.


“H-hah?”


“Bawa itu ke wastafel dan cuci pakai air! Aku akan mengajarimu cara memasak hari ini!”


“T-tapi-“


“Tidak ada tapi-tapi, Rein! Kita ini sudah hidup di zaman modern, tidak ada lagi yang namanya kerajaan apalagi pangeran, oke?! Cepat bersihkan sayur itu!”


Rein menghela nafas pasrah. “Baiklah ....”


Setelah selesai mencuci sayur, Rein dipaksa Jessie untuk menggoreng telur.


“Tidak, hancurkan pelan-pelan di keramik sana!”


“S-seperti ini?”


Jessie menepuk jidatnya. “Tidak, tidak, tidak! Bukan! Seperti ini,” ujar Jessie seraya mempraktekkan ‘cara memecahkan telur dengan baik’ yang sudah diulang sebanyak 3 kali olehnya.


“B-begini?”


“Perhatikan caraku, Rein! Lihat baik-baik!”


***


“Aku berhasil!” seru Rein bahagia.


Jessie tersenyum kecil, namun kembali menghela nafas panjang saat melihat selusin telurnya yang terbuang sia-sia.


“Ya sudahlah .... Jadi, Rein! Kita akan menuju tahap selanjutnya! Jangan bangga dulu!” ucap Jessie seraya menghidupkan kompor.


“Apa yang kau lakukan?”


“Tadi itu hanya pemanasan. Sekarang, bersiap-siaplah untuk menggoreng!”


***


“Mari makan!” seru Jessie sembari tersenyum puas.


“Mari makan ...” balas Rein lesu.


Jessie memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. “Mm ... jadi, bagaimana pendapatmu tentang memasak, hah?”


“Mengerikan ....”


“Haha! Itu masih telur loh, Rein! Tapi, reaksimu tadi benar-benar lucu sekali! Ah! Aku jadi kepikiran untuk membuat channel MyTube!” gumam Jessie.


“My-Tube?”


“Iya! Kau maukan, ya? Besok aku akan meminjam kamera Hein! Aku akan mengajarimu cara menggoreng ikan!” seru Jessie.


“Memasak lagi?”


“Iya dong! Memangnya kau mau cuma bisa menggoreng telur?”


“Ah ... aku memang seharusnya tidak boleh memasak.”


“Tidak! Kau harus belajar memasak, titik! Setelah kau sudah lumayan jago, urusan masak-memasak akan kuserahkan padamu! Kalau kau tidak mau melakukannya, ya ... kau tidak perlu makan,” ucap Jessie seraya menyantap makan malamnya.


“Huff ... baiklah ....”


“Bagus!”


***


Rein membuka jendela kamarnya, memandangi langit dan merasakan angin malam yang menenangkan.


“Ayah ... aku harus bagaimana? Kalau aku masih terus-menerus disini, aku tidak akan bisa menemukan penawarnya. Oh! Selene! Aku juga harus mencarinya!"


Jessie memeluk erat guling kesayangannya. “Aneh. Dia itu sebenarnya punya penyakit apa sih? Kenapa selalu mengatakan hal-hal yang tak masuk akal?”


Jessie perlahan turun dari kasurnya dan memandang keluar dari balik jendela.


“Planet Vermillion? Apa itu benar-benar ada? Planet Biru ... Planet Merah .... Ah, sudahlah! Kenapa malah aku yang kedengarannya seperti orang aneh?” gerutu Jessie seraya kembali ke kasurnya.


***


‘Tok, tok, tok!’


“Rein! Bangun! Ini sudah jam 5 pagi! Reinn!”


Pintu itu terbuka. Terlihat Rein yang masih setengah sadar dan mengusap sebelah matanya.


“Pagi ... hoamm.”


“Jess? Kau tak apa?”


Jessie yang baru sadar kalau dirinya sedari tadi menganga lebar. “Ah ... um, y-ya? A-aku baik-baik saja! Ehem, setidaknya tutupilah tubuhmu itu sebelum membuka pintu,” gumam Jessie sembari memalingkan wajahnya.


Rein menatap tubuhnya sekilas. Ekspresi kaget pun tercetak jelas pada wajahnya. “A-ah! M-maafkan aku! A-aku tidak sadar. A-aku akan kembali dalam beberapa menit. K-kau bisa menungguku dibawah.” Rein langsung berbalik dan menutup pintu kamarnya.


Jessie masih menatapi pintu kamar yang sudah tertutup itu. Perlahan ia memegangi kedua pipinya. “Kenapa aku malah ingin melihatnya lagi, ya? Kyaa! Jessie! Sadarlah! Kau yang menyuruhnya berpakaian! Kenapa malah menyesal?!” teriak Jessie dalam hati.


Pintu itu kembali terbuka. Rein mengerjapkan matanya berkali-kali. “K-kau masih disini, Jess?”


“Mati aku,” batin Jessie.


“Y-ya? Aah ... ini, ahaha! Aku menunggumu!”


“Kau tidak perlu repot-repot menungguku berganti pakaian. Tapi, terima kasih. Aku menghargainya. Kalau begitu, kau turunlah lebih dulu.”


“B-baik.” Jessie pun berjalan terlebih dahulu menuruni tangga.


“A-apa-apaan sih jawabannya itu? Dasar aneh ...” gerutu Jessie dalam hati.


***


“Aku baru ingat, kalau stok rotiku sudah habis, Rein.”


“Lalu?”


“Aku akan membelinya, kau mau ikut?”


Rein mengangkat sebelah alis matanya. “Ke mana?”


“Tentu saja toko roti! Ayo!” Jessie langsung menarik lengan Rein.


Toko roti langganan Jessie ternyata hanya berseberangan dengan apartemennya.


“Pagi, Tante!” sapa Jessie ceria.


“Oh, pagi, Jessie!” balas ibu pemilik toko yang tengah merapikan dagangannya.


“Um ... Jessie, diaa?”


Jessie memandang ke arah sorotan mata ibu pemilik toko. Iya! Netra ibu pemilik toko itu memang mengarah pada Rein. Bagaimana tidak? Rein tak henti-hentinya memandangi sekeliling toko bahkan hingga ke setiap sudut ruangannya. Matanya terlihat berbinar-binar, seperti baru pertama kalinya mengunjungi toko roti.


“Hei, hei, Rein! Pstt!” Jessie menyikut lengan Rein, membuat pria itu memfokuskan pandangannya padanya.


“Ada apa?”


“Kau tidak sadar kalau kau sudah menjadi pusat perhatian, hah?”


Rein memiringkan kepalanya. “Hah?”


Ibu pemilik toko spontan tertawa pelan, mengundang kedua orang itu untuk menghadap padanya.


“Maaf, maaf. Tapi, temanmu ini lucu sekali, ya?!”


Jessie tersenyum kecil. Rein hanya menunduk malu.


“Teman baru, Jess? Tante belum pernah melihatnya sebelumnya?”


“Ah ... iya, Tante. Untuk sementara dia menginap di apartemen Jess.”


“Oh, begitu. Eeh?!”


“Shh ... tolong jangan beritahu pemilik apartemen ya, Tante,” bisik Jessie.


“T-tapi, dia ini anak laki-lakikan, Jess? D-dan, dan kalian berarti cuma berdua dong di dalam sana?!”


“Shh ... aku mohon pelankan dulu suaranya, Tante.”


Si pemilik toko spontan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan mengangguk-angguk ringan.


“Tenang saja, Tante. Dia itu benar-benar polos kok. Dia tidak akan macam-macam.”


“T-tapi, Jess!”


Jessie spontan memajukan jari telunjuknya tepat di depan bibir ibu pemilik toko. “Tapi, Jess. Yang namanya anak laki-laki, kita tidak akan tau kapan dia berubah menjadi liar, kan?” jelas ibu pemilik toko itu dengan suara merendah.


Jessie termenung sejenak. Tiba-tiba imajinasi liar mulai melintasi pikirannya. “Kyaa! Tidak, tidak, tidak! Dia mana mungkin tau cara begituan! Iya, kan?” batin Jessie seraya melirik Rein sekilas.


Pria yang diliriknya tengah memandangi etalase yang dipenuhi dengan roti berbagai varian rasa. Jessie memanyunkan bibirnya. “Benar. Dia jelas tidak tau yang begituan.” Tanpa sadar Jessie mendengus kesal.


“Jess, kenapa, Sayang?”


“Eh?! T-tak apa! Tak apa, Tante! Tante tenang saja, lagian Rein juga sudah 2 hari tinggal bersama Jess. Semuanya aman terkendali! Haha!”


Ibu pemilik toko hanya mengangguk-angguk pelan. “Baguslah kalau begitu. Tenang saja, Jess. Tante tidak akan melaporkan ini pada pemilik apartemen.”


“Terima kasih, Tante! Ah! Iya, Jessie mau membeli roti seperti biasanya.”


“Oh, baiklah, tunggu ya, Jess. Tante akan ambilkan.”


“Iya!”


Jessie kembali memandangi Rein, lalu menepuk pundak pria itu pelan. “Hei, ada roti yang kau suka?”


“Ah ... aku ikut dengan pilihanmu saja.”


Jessie tersenyum kecil. “Kau ini. Selalu saja bertingkah layaknya seorang gentleman! Apa itu karena didikan ibumu juga?”


“Ah ... begitulah.”


“Hm, bilang saja padaku kalau ada roti yang menarik perhatianmu, ya! Kau harus mencobanya atau tidak akan pernah!”


Rein tertegun. Ibu pemilik toko kembali dengan sekantung plastik putih berisi roti langganan Jessie. Setelah Jessie membayar, mereka pun pamit pulang.