
‘Kreet!’
Pintu itu perlahan terbuka. Rein memberanikan dirinya untuk melangkah masuk.
“Selene ...? Kau disana?”
Tidak ada sahutan. Ruangan yang tak lain milik Selene itu ternyata tak jauh berbeda dengan ruangan lainnya. Semua properti yang ada di dalam pesawat tempur sudah hancur total. Kerusakan yang hanya disebabkan oleh sebuah api phoenix itu benar-benar diluar dugaan Rein sendiri.
“Aku terlalu meremehkannya,” gumam Rein sembari mengutip beberapa aksesoris favorit Selene yang berserakan.
Setelah menyimpan aksesoris itu, Rein tak bergerak sedikitpun. Pandangannya masih tertuju pada kotak sedang berwarna hitam yang digenggamnya.
Rein tersenyum tipis. “Ternyata, Selene masih menyimpan kotak ini?”
***
Di luar pesawat tempur, Rein menemui pria tua yang sedari tadi menunggunya.
“Aku sudah selesai, Kek.”
Pria tua itu mengernyitkan dahinya. “Aku tidak melihat kau membawa sesuatu selain pedang itu, Anak Muda.”
“Ah ... maafkan aku, Kek. Tapi, hanya ini yang bisa kutemukan.”
“Jadi, masih ada yang lainnya?”
“Um ... seharusnya masih ada sebuah gulungan. Tapi, kelihatannya gulungan itu sudah lenyap terbakar,” jelas Rein.
“Oh ... jadi, kau sudah selesai disini?”
Rein hanya mengangguk pelan.
“Bagaimana dengan pesawat ini, Anak Muda?”
“Ah ... aku juga tidak tau, Kek. Kerusakannya cukup fatal, aku bahkan tidak tau apakah pesawat ini masih bisa berfungsi lagi seperti sebelumnya.”
“Hm ... kau bilang sebelumnya ini adalah pesawat tempur milik High Priest Dunan, bukan?”
“Benar, ini adalah pesawat tempur khusus untuk dia dan rekan-rekannya mengelilingi galaksi,” jawab Rein.
Pria tua itu mengalihkan pandangannya dari pesawat tempur pada Rein sekarang. “Apakah, Dunan pernah bercerita padamu, kalau mereka sudah pernah kemari sebelumnya?”
Rein sedikit terkejut. “A-aku tidak tau. Tapi, mungkin saja. Mereka sering mengelilingi galaksi untuk menambah pengetahuan mereka. Hanya ada satu Planet yang belum pernah mereka datangi dan itu adalah Planet Biru. High Priest pernah mengatakannya pada kami kalau dia dan rekan-rekannya tidak berani untuk mendatangi Planet itu.”
Pria tua itu hanya tersenyum kecil. “Dan kenapa mereka tidak berani mengunjungi Planet itu?”
“Ah ... karena perbedaan fisik, itulah alasan kenapa mereka tidak berani mengunjungi Planet Biru.”
“Lalu, kenapa kau yang kemari, Anak Muda?” tanya pria tua itu tanpa menghilangkan senyuman kecil diwajahnya.
“Ah ... karena menurutnya fisik yang dimiliki oleh ras kami jauh lebih mirip dengan orang-orang yang ada di Planet Biru ... tunggu dulu, maksudmu-“
“Benar, selamat datang di Planet Biru, Anak Muda.”
“Haha ... itu memang benar, tapi berbeda dengan kalian, kalian dari Vermillion menyebut Planet kami sebagai Planet Biru.”
Rein masih tidak percaya akan apa yang baru saja didengar olehnya. “L-lalu, apa Kakek pernah bertemu dengan High Priest Dunan?!”
Pria tua itu mengangguk pelan. “Apa kau tidak merasa aneh dengan pesawat tempur ini, Pangeran Rein?” tanya pria tua.
“Ah ... hah? K-kakek tidak perlu memanggilku seperti itu, haha ...” ujar Rein seraya menggaruk belakang kepalanya pelan.
“Pesawat secanggih ini ... ada berapa banyak di Vermillion, Pangeran?”
“Eh? Sebenarnya, ini pertama kalinya aku melihat pesawat ini, aku bahkan tidak yakin ibuku pernah melihatnya,” ungkap Rein seraya menatap lekat pesawat tempur itu.
“Aku turut serta membantu pembuatan pesawat tempur ini. Dulu sekali, Dunan pernah datang kemari karena kesalahan penggunaan sihir teleportasi yang baru saja dipelajarinya. Di saat itulah, aku dan dia berteman baik. Di bawah pohon ini ...” jelas pria tua itu seraya memandangi pohon tua dihadapannya.
Rein terdiam. “Jadi, High Priest sudah pernah kemari?” batinnya.
“Ah ... sudah lama sekali, kau bahkan sudah sangat tua.”
Rein tersentak dan memandangi pria tua yang sudah berdiri tepat di depan pohon tua. Pria tua itu memejamkan matanya seraya meletakkan sebelah telapak tangannya tepat di depan batang pohon tua yang masih kokoh itu.
“Um ... kalau begitu, apakah Kakek tau soal obat penawar ini?”
Pria tua itu perlahan membuka matanya. “Huff ... sayangnya aku tidak mengerti soal obat penawar yang kalian cari ini. Maaf, Pangeran Rein.”
“Ah ... tidak, tidak. Kakek tidak perlu meminta maaf. Aku sangat berterima kasih karena Kakek sudah mau mengantarkanku kemari.”
Pria tua itu berbalik dan menghampiri Rein, sembari menepuk pundak Rein. “Setelah ini, kau akan ke mana lagi, Pangeran Rein?” tanyanya.
“Aku ... tidak tau. Tidak ada yang kukenal disini. Tujuan utamaku kemari adalah untuk membawa pulang obat penawar itu. Awalnya kupikir semua akan berjalan sesuai dengan perkiraanku. Tapi, ternyata aku salah besar. Tak hanya pesawat tempur, rekanku juga menghilang.”
“Ah ... terkadang semuanya selalu berakhir tidak sesuai dengan perkiraan kita, Pangeran Rein. Jangan terlalu berkecil hati, aku akan membantu Pangeran sebisaku.”
“Benarkah?”
Pria tua itu tersenyum lembut. “Tentu saja. Dunan adalah makhluk pertama terbaik yang pernah kutemui. Dan sekarang, ada Pangeran Rein juga. Aku tidak akan setega itu membiarkan orang yang kukenal tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Sebisa mungkin aku akan menolong orang itu, dan orang yang membutuhkan pertolongan itu sekarang adalah kau, Pangeran Rein.”
“Ah ... terima kasih banyak. Aku tidak tau bagaimana cara membalas jasamu, Kek.”
“Kau tidak perlu membalas apapun padaku, Pangeran Rein. Aku hanya ingin suatu hari nanti, saat aku benar-benar membutuhkan pertolongan, kau bersedia untuk mengulurkan tanganmu padaku.”
“Tentu saja! Itu bahkan lebih baik daripada sekedar ucapan terima kasih,” ucap Rein bersemangat.
Pria tua itu tersenyum. “Kalau begitu, lebih baik kita segera kembali ke kota. Disana mungkin kita bisa mencari informasi mengenai obat penawar yang Pangeran cari.”
Rein mengangguk setuju. “Ah ... ngomong-ngomong, aku belum tau nama Kakek. Eh ... panggilan saja juga tak apa!”
Pria tua itu tertawa pelan. “Pangeran tidak perlu panik seperti itu, aku tidak akan marah kalau orang hanya menanyakan namaku.”
Rein tersenyum tipis. “Begitu ya ... maaf, aku hanya takut kalau itu melanggar privasi.”
Pria tua itu kembali tertawa pelan. “Pangeran benar-benar memiliki kriteria yang unik, ya? Kalau begitu, biarkan aku memperkenalkan diriku ... Gerold Straynoff. Senang bertemu denganmu, Pangeran Reinford Vermillion.”