
“... begitu,” jelas Rein.
Selene perlahan melipat kedua tangannya. “Lalu? Bukankah
yang paling penting sekarang itu adalah keselamatan ayahmu? Itu hanyalah sebuah
janji bodoh yang tanpa sadar mengikat dirimu, Rein.”
“Ja—janji bodoh katamu?! Apa-apaan kau ini!” seru Jessie
kesal.
Selene menoleh dan mengarahkan pedangnya tepat ke arah
Jessie, membuat wanita itu seketika menghentikan langkahnya.
“Kau tidak tau masalah seperti apa yang sedang kami
hadapi. Dia adalah raja penguasa planet sekaligus ayahnya Rein, kau pikir apa
yang akan para pemimpin ras rendahan itu pikirkan setelah mengetahui sang raja
penguasa planet sedang tak sadarkan diri?”
Jessie terdiam. Netranya masih setia menatapi ujung
pedang yang sangat tajam itu.
“Kau hanyalah manusia, kami jelas berbeda dengan kalian.
Kalian tidak memiliki kemampuan seperti kami—“
“Kami manusia memang tidak memiliki kemampuan super
seperti kalian, tapi ... kami memiliki teknologi canggih yang tak kalian
miliki!” sela Jessie.
Selene mengangkat sebelah alis matanya dan memandang
rendah Jessie. “Dan kau berbangga hanya karena alat-alat itu?”
“Apa?”
Selene menyimpan kembali pedangnya dan menghampiri
Jessie. Perlahan ia mengangkat dagu Jessie dengan telunjuknya. “Apa kau pikir ‘teknologi
canggih’ yang kau bangga-banggakan itu bisa menyelamatkan nyawamu sekarang?”
Jessie mulai merasakan keringat dingin yang membasahi
sekujur tubuhnya. Jantungnya berdegup dengan kencang, belum pernah ia merasa setakut
ini. Wanita di hadapannya ini benar-benar memiliki aura yang sulit untuk
dijelaskan. Dengan bersusah payah Jessie menelan ludah.
“Aku tau kelemahan kalian, Manusia. Aku bisa mendengarkan
suara detak jantungmu. Kalau ...,” Selene kembali menarik pedangnya, “aku
menusuknya ... apa ‘teknologi canggih’ mu ini akan menyelamatkanmu?” ucap
Selene pelan nyaris berbisik.
Bahkan suara bisikannya saja mampu membuat kedua kaki Jessie
lemas.
“Ada kata-kata terakhir, Manusia?” tanya Selene seraya
menyeringai kecil.
Kedua mata Jessie membulat besar. Dirinya bahkan tidak
bisa bergerak sedikitpun.
“Selene! Cukup!” seru satu-satunya pria di sana.
Selene memutar bola matanya kesal. Perlahan ia menoleh
dan memandangi teman kecilnya itu.
“Sudah kuduga. Kau memang lebih memilih untuk bermain-main
di sini, Rein.”
“Tolong, Selene. Kau tau aku tidak akan semudah itu
terprovokasi oleh kata-katamu. Aku ingin sekali mencari penawarnya, tapi ...
bisakah kau memberiku waktu sebentar untuk berbicara dengannya?”
“Untuk apa? Memangnya dia siapa sampai kau harus
mendapatkan izin terlebih dahulu darinya?”
“Selene ... aku mohon.”
“Cih, terserah. Aku akan memberikanmu 5 menit. Cepat!”
Rein pun berlalu dari hadapan Selene dan menarik
pergelangan tangan Jessie, membawa wanita itu keluar dari atap sekolah itu.
Setelah pintu besi pembatas itu tertutup. Selene perlahan
menoleh dan menatapi pintu itu cukup lama. Tiba-tiba ia mengerang kesal, lalu
menggigit bawah bibirnya dan mengepalkan tangannya. “Wanita itu ....”
***
“Kau sudah berjanji padaku, Rein. Kau ingat, kan?” isak
Jessie seraya memeluk pria di hadapannya itu dengan erat.
“Maaf, Jess. Aku ... aku tidak bisa begitu saja melupakan
tujuan utamaku kemari.”
“Lalu, kau mau meninggalkanku sendirian lagi?”
“Aku ...,” Rein perlahan menutup matanya dan menghela
nafas pasrah. “tidak tau.”
Isakan Jessie kembali terdengar, ia bahkan mulai
meninju-ninju dada Rein. “Kau jahat sekali! Kau tidak menepati janjimu! Kau! Sialan!”
“Jess ... Jessie, tolong.”
“Aku benci kau, Rein! Aku benci! Kau ... seharusnya dari
awal kau tidak perlu menunjukkan wajahmu di hadapanku ...” isak Jessie seraya
Rein mendekap Jessie dan menumpukan dagunya di atas kepalanya.
“Maaf, maafkan aku.”
“Kau pikir kata maaf saja cukup untukku?!”
“Seharusnya Selene datang lebih awal ... kita mungkin
tidak akan terlibat sejauh ini.”
“Apa?!” Jessie langsung melepas paksa dekapan Rein. “Jadi,
maksudmu kau menyesal sudah bertemu denganku?!”
“Aku tidak bilang begitu, Jess,” Rein berusaha menarik
pergelangan tangan Jessie, namun dengan cepat Jessie menepisnya.
“Aku, aku su ...,” Rein terlihat tengah menunggu kelanjutan
ucapan Jessie, “aku sudah putuskan! Kalau kau memang akan pergi. Kau harus
membawaku,” sambung Jessie.
Rein langsung terkejut bukan main. “Hah?!”
“Kenapa? Kau tidak senang dengan keputusanku?”
“Bu—bukan begitu, Jess. Hanya saja, kau tau Selene
mungkin tidak akan setuju kalau kau ikut bergabung.”
“Aku tau wanita itu memang tidak akan senang kalau aku
ikut, apa benar dia itu teman kecilmu, Rein? Kau sudah yakin dan memastikannya?”
Rein perlahan memiringkan kepalanya. “Apa maksudmu, Jess?”
“Ehem. Kuakui ... wanita itu memang memiliki mata yang
tajam dan paras yang cantik. Lalu, lekukan tubuhnya ... memang sangat sempurna.
Dia benar-benar wanita paling cantik yang pernah kutemui.”
Rein tersenyum tipis. “Kenapa kau tidak mencoba untuk
mengatakannya secara langsung padanya? Mungkin saja pandangannya padamu akan
sedikit berubah?”
“Hah?! Yang benar saja, Rein! Penampilannya memang cantik,
tapi perilakunya benar-benar mengerikan! Kenapa dengan aura-aura gelap yang selalu
muncul dari dalam dirinya? Apakah dia juga campuran dari salah satu keturunan
iblis?”
“Ah? Aura-aura gelap?” ulang Rein heran.
Jessie mengangguk mantap. “Tatapan dan aura dari dalam
dirinya, aku belum pernah merasa segemetaran ini hanya karena sebuah tatapan.”
“Aneh ... hm, apa mungkin maksud Jessie aura membunuhnya?
Kudengar Selene bukanlah tipe yang lembut saat sedang berurusan dengan
orang-orang yang tidak disukainya,” batin Rein.
“Rein? Hello? Kau di sana?” Jessie melambai-lambaikan
kedua tangannya di depan wajah Rein.
“Ah ... iya, maaf aku termenung.”
“Jadi, dia memang teman kecilmu yang hilang di pesawat
itu, ya?”
Rein mengangguk pelan.
Jessie mengelap kedua matanya. “Kenapa kalian terlihat
jauh berbeda sekali, Rein?”
“Benarkah?”
“Ya ... mari kita contohkan saja, kau ini sisi baik dan
dia adalah contoh sisi gelapnya. Kepribadian kalian bertolak belakang.”
“Mungkin karena dia mengikuti ajaran dari ibunya. Lagipula
ibu kami berdua bersahabat dengan baik, pemikiran mereka tentu tidak akan
berbeda jauh.”
“Sayang sekali ... padahal dia benar-benar cantik sekali,
tidak cocok dengan kepribadian buruknya.”
“Haha ... kuakui dia memang wanita paling cantik yang
pernah kutemui di planet kami.”
Jessie spontan menggembungkan pipinya kesal. “Begitu ya?”
Rein tersenyum. “Jujur saja, aku masih belum menemukan
wanita yang bisa mengalahkan kecantikannya. Tidak heran semua pangeran dari
seluruh penjuru kerajaan ingin melamarnya.”
Jessie menundukkan kepalanya dan bermain dengan lipatan
rok sekolahnya. “Berarti kau sudah termasuk pangeran yang beruntung, bukan?”
Rein mengangkat sebelah alis matanya. “Huh? Apa maksudmu?”
tanya Rein sembari tersenyum kecil.
“Kelihatannya dia sangat peduli sekali dengan keluargamu
dan dirimu. Bisa selalu berada di dekatnya saja, aku rasa hal itu sangat
mustahil bisa dirasakan oleh pangeran-pangeran lainnya.”
“Ah ... mungkin kau benar.”
Jessie menggigit pelan bawah bibirnya. “Apa ... apa mungkin,
Selene ini menyukaimu, Rein?”