
Tok ... Tok ... Tok ...
“Sebentar!” Pintu terbuka dan High Priest Dunan spontan mengerutkan keningnya. “Ada apa, prajurit kerajaan datang kemari malam-malam?”
Dua orang prajurit dihadapannya berdehem pelan. “Maaf mengganggu malammu, High Priest. Apakah Pangeran Reinford ada bersama dengan Anda?”
High Priest Dunan menggeleng. “Pangeran Reinford sudah pamit pulang sejak tadi sore.”
Selene tiba-tiba muncul dari belakang kakeknya. “Ada apa, Kek? Kenapa prajurit kerajaan datang kemari?”
“Ah ... begini, kata mereka Pangeran Rein masih belum pulang. Aneh sekali ..., ini tidak seperti biasanya.”
Tiba-tiba ekspresi wajah Selene berubah. “Jangan-jangan ...”
“Kau tau sesuatu, Selene?” tanya High Priest saat menyadari perubahan raut ekspresi cucunya.
Selene tak menjawab pertanyaan kakeknya, dengan cepat ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
“Selene! Hei!”
“Um ..., siapa wanita itu?” tanya salah seorang prajurit.
“Ah ... dia cucuku,” jawab High Priest.
Kedua prajurit itu mengangguk. “Lalu, apa cucu Anda tau dimana keberadaan pangeran?”
“Apa kau mendengar jawabannya barusan?”
Kedua prajurit itu sontak saling bertatapan. Keduanya seperti saling memberi kode. “Ah ... rasaku aku tidak mendengar jawaban apapun dari cucu Anda, High Priest,” jawab salah seorang prajurit sementara rekannya hanya mengangguk-angguk mantap.
“Nah, lalu kenapa kalian bertanya padaku?”
Kedua prajurit itu akhirnya sadar akan maksud dari pria tua dihadapan mereka. Sembari membungkukkan badan mereka. “Ah ... kalau begitu, kami permisi. Maaf mengganggu malam Anda, High Priest.”
High Priest Dunan mengangguk. “Hm.” Kedua prajurit kerajaan itupun berlalu dari hadapannya. Sebelum sempat menutup pintu rumahnya, High Priest Dunan melihat cucunya yang sudah mengganti pakaian malamnya dengan pakaian mengajarnya. “Selene?”
“Ah ... aku akan segera kembali. Kunci saja pintunya, aku membawa kunci cadangan,” ucap Selene seraya berjalan melewati kakeknya yang terheran-heran.
“Kau mau pergi kemana? Ini kan sudah malam ...”
“Sepertinya aku tau kemana si bodoh itu.”
“Hah?”
“Selamat malam, tidur yang nyenyak.” Selene kini berjalan keluar dari rumahnya tanpa menjelaskan apapun pada kakeknya.
“Dasar ..., anak itu, ada-ada saja kelakuannya,” gerutu High Priest sembari menutup pintu rumahnya.
***
“Uhn ..., di mana-aku?” ucap Rein yang baru saja terbangun. Kedua matanya spontan membulat besar saat menyadari dirinya yang tengah terikat di sebuah pohon besar.
“A-apa yang terjadi?” pikirnya panik seraya memfokuskan penglihatannya, menelusuri sekeliling ruang lingkupnya. Kosong. Tidak ada siapapun kecuali sebuah api unggun.
“Aneh ... bukankah sebelumnya, aku sedang melawan makhluk-makhluk bertubuh besar itu di dalam sebuah gua? Kenapa ... apa yang sebenarnya sudah terjadi?” Reinford berusaha untuk memutar kembali ingatannya akan pertempuran yang terjadi beberapa waktu yang lalu itu.
“KAU SUDAH SADAR RUPANYA, VERMILLION!”
“Suara ini ...” Reinford mendongakkan kepalanya. “Kau ...”
“AHAHA!!”
“B-bagaimana mungkin ... apa yang sebenarnya sudah terjadi?” pikir Rein.
“TERNYATA KAU TIDAK SESUAI DENGAN EKSPEKTASIKU ... APA KAU MEMANG SEORANG VERMILLION? HAHAHA! AKU JADI MERAGUKAN HAL ITU!”
Reinford menggigit bawah bibirnya kesal. “Tidak mungkin. Apakah aku ..., gagal?” batinnya tak percaya.
“ADA APA DENGAN RAUT WAJAHMU ITU? JANGAN BILANG KALAU KAU TIDAK INGAT DENGAN APA YANG BARU SAJA MENIMPA DIRIMU!”
Reinford terdiam. “HAH! SUDAH KUDUGA KAU TIDAK MENGINGATNYA!” Ketua Orc itu menjambak rambut Rein dan membawa wajahnya menghadapnya.
“CIH! WALAUPUN KAU LEMAH, KAU TETAP SAJA MEMILIKI NETRA MATA MENYEBALKAN YANG SAMA DENGAN PRIA ITU! TAK BISA KUPUNGKIRI BAHWA KENYATAANNYA KAU MEMANG SALAH SATU DARI KETURUNAN MEREKA.”
Reinford tak mengeluarkan suara sedikitpun. “ADA APA? KENAPA KAU TIDAK BERBICARA, HAH?! OH ... KAU BERUSAHA UNTUK MENGINGAT APA YANG TERJADI SEBELUMNYA, HAH?! HAHAHA!” Ketua Orc itu melepaskan jambakannya.
“KAU TERLALU CEROBOH. KAU TERLALU LEMAH. KAU TIDAK BISA MEMBACA SITUASI KEADAAN SEKITARMU. KAU TERLALU NAIF.”
Reinford menatap makhluk besar itu dengan tajam. “HAHAHA! ADA APA DENGAN TATAPAN DINGIN ITU? KAU PIKIR KALAU KAU SENDIRI BISA MENGALAHKAN KAMI? JANGAN BERCANDA!” ledek Ketua Orc itu.
Terlihat seorang makhluk bertubuh besar lainnya menghampiri Ketua Orc itu. Makhluk itu menyerahkan sebuah pedang tipis yang tak asing bagi Rein. “Kau mau apakan pedangku, hah?!” seru Rein saat Ketua Orc itu mulai memainkan pedang tipis pemberian pamannya itu.
“KAU SEBUT MAINAN INI SEBUAH PEDANG? MEMALUKAN! PEDANG INI BAHKAN TIDAK BISA MELUKAI KAMI SEDIKITPUN!” Ketua Orc itu mematahkan pedang itu menjadi dua.
“TIDAAK!!” seru Rein.
“HAHAHA! AKU JUGA AKAN MELAKUKAN HAL YANG SAMA DENGANMU!” Ketua Orc itu berjalan pergi meninggalkan Rein yang masih menatap patahan pedang pemberian pamannya.
Tak butuh waktu yang lama, Ketua Orc itu kembali dengan sebuah pedang besar yang diletakkannya di samping bahunya. “APAKAH KAU MEMPUNYAI KATA-KATA TERAKHIR?”
Rein terdiam. “Maafkan aku, ayah, ibu. Aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun saat ini ... seperti inikah kematian yang kucari?” renungnya.
Rein menutup kedua matanya. “Selamat tinggal, ayah, ibu, paman, Selene ...”
Cratt!! Rein merasakan suatu cairan kental yang mulai mengalir dari wajahnya. Perlahan Rein membuka matanya. Di sekujur pakaiannya kini dilumuri oleh cairan berwarna merah. “C-cairan pekat ini ... d-darah! A apakah aku ...”
“Angkat kepalamu, Rein!”
“Suara ini ...” Rein mengangkat kepalanya. Terlihat Selene yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan yang cukup dingin. Namun, bukan itu yang menarik perhatian Rein, melainkan pedang berlumuran darah yang dipegang oleh wanita itu.
“S-selene ... k-kau?”
Selene mengangkat pedang itu dan langsung mengayunkannya seperti kilat pada Rein. “S-selene!”
Kats! Tali yang mengingkat tubuh Rein pada pohon besar itu terlepas. Rein masih sedikit syok dan mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Berdirilah. Orang-orang kerajaan sedang mencarimu.”
“A-apa?”
“Kau tidak mendengarkan penjelasan panjang lebarku tadi pagi, ya?”
“Ah ...” Rein tidak bisa mengingat dengan jelas. Kepalanya masih sedikit pusing. “M-maaf, tapi penjelasan apa?”
“KAU BENAR-BENAR TIDAK MENDENGARKANKU?!”
“B-bukan begitu! H-hanya saja, kepalaku sepertinya habis dipukuli oleh makhluk-mahkluk besar ini. Jadi, aku masih belum bisa mengingat dengan cepat.”
“Terserah.” Selene melangkah pergi.
Rein berusaha untuk melawan tubuhnya yang lemah dan mengejar Selene. “S-selene, tolong jangan marah padaku. Aku minta maaf! A-aku sudah ingat.”
“Bagian mana?” tanya Selene langsung.
“Ah ... kalau kau menyuruhku untuk tidak kemari.”
“Lalu?”
“Ah ... maaf, aku masih tidak bisa mengingat semuanya.”
“Cih.” Selene kembali mempercepat langkahan kakinya.
“S-selene, berhati-hatilah! Makhluk-makhluk besar itu tidak hanya dua orang! Mereka bergerombolan!” seru Rein seraya menahan pergelangan tangan teman kecilnya itu.
“Aku tau. Aku sudah menyelesaikan semuanya.”
***
Rein spontan menganga saat dirinya melihat
belahan-belahan tubuh kaum Orc itu di sekeliling jalan masuk gua.
“K-kau yang melakukan ini semua?”
Selene yang berjalan disebelahnya hanya mengangguk.
“Sendirian?” tambah Rein memastikan.
“Ya.”
“B-bagaimana mungkin?”
“Kenapa tidak? Kau pikir aku ini seperti dirimu? Yang terlalu bangga setelah diberitahu bisa menggunakan pedang dengan baik, lalu langsung main kemari dan mengetesnya?” hujat Selene blak-blakan.
“M-maaf ..., tapi aku memang tidak berniatan untuk kemari.”
“Halah! Tapi nyatanya kau ada disini, kan?”
“Itu karena seorang makhluk pendek bertubuh hijau mencuri kotak senjataku!” jelas Rein membela diri.
“Kau pikir kau bisa membohongiku?”
“Aku tidak bohong! Itu memang kenyataannya. Tadi sehabis pulang latihan, pamanku langsung memberikan pedang miliknya padaku. Dan sekarang, pedang itu sudah rusak kubuat. Aku bahkan tidak bisa menjaga barang pemberiannya. Ini masih belum terhitung sehari ...”
Selene menghela nafas pasrah. “Jadi begitu ceritanya, yah ..., anggap saja hari ini hari sialmu.”
Reinford ikut menghela nafas pasrah. “Ya sudah, aku juga punya banyak koleksi pedang, besok aku akan memberikannya satu padamu," ujar Selene.
“T-terima kasih. T-tapi tolong pastikan itu bukan pedang yang sangat bagus.”
Selene mengangkat sebelah alis matanya. “A-aku takut kalau aku tidak bisa menjaganya juga ...," jelas Reinford.
Selene tersenyum kecil. “Dasar kau ini ... benar-benar lugu sekali.”
Rein hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Apa itu ... pujian?”
“Pikirkan saja sendiri. Cepat, kita harus segera kembali. Ini sudah hampir larut malam.” Selene berjalan lebih dulu, meninggalkan Rein.
“T-tunggu aku, Selene!”