
“Huff, huff ... itu yang terakhir?” tanya Rein lelah.
“Sepertinya,” jawab Selene seraya menyimpan kembali
pedangnya.
Rein kembali mengatur pernafasannya. “Rein ... mari kita
lanjutkan kembali percakapan kita yang sempat tertunda sebelumnya.”
Rein mendongakkan kepalanya, memandangi teman kecilnya
itu. “Huff, huff ... yah, benar. Sampai di mana tadi kita?”
“GROAAH!”
Rein langsung mengalihkan pandangannya ke atas gedung
pusat perbelanjaan. Kedua mata Rein spontan membulat kaget saat mendapati
Jessie yang berada di genggaman naga mayat hidup itu.
“Jessie!” seru Rein seraya berlari dan meninggalkan
Selene.
“Cih, selalu saja ada pengganggu,” gerutu Selene seraya
mengikuti Rein dengan santai.
Naga itu kembali mengepakkan sayapnya dan memperkuat
genggamannya. Jessie mulai merasakan dirinya yang kehabisan oksigen.
“Aku ... aku harap Ted dan Hein baik-baik saja.”
“Sekarang ....”
Tiba-tiba naga itu melepaskan Jessie dan membiarkan
tubuhnya meluncur dari atas gedung itu. Jessie terkejut bukan main, matanya
membulat kaget.
“A—apa ...?”
Ted dan Hein yang sedang bersusah payah menuruni
eskalator pun kaget akan penampakan yang baru saja terlihat oleh mereka dari
salah satu lubang yang dibuat oleh naga itu.
“Tadi itu ...” Hein tak melanjutkan ucapannya,
tenggorakannya mendadak kering.
“... Jessie,” ucap Ted pelan.
“Jadi seperti ini ya rasanya, Jack?” batin Jessie
berusaha merasakan angin yang amat dahsyat melewati tubuhnya.
Jessie perlahan menutup kedua matanya. “Sebentar lagi, aku
juga akan bergabung dengan kalian ... tunggulah aku, Pa, Ma, Jack.”
“JESSIE!”
Jessie sontak membuka kedua matanya, air mata perlahan
mengalir keluar dari sudut matanya. “Rein ...? Oh ... bagaimana bisa aku sampai
melupakannya? Sniff ... kalau tau kejadiannya bakal berakhir seperti ini, maka
aku akan lebih cepat menyatakan perasaanku. Rein ... terima kasih atas
segalanya, aku sangat mencintaimu.” Jessie kembali menutup kedua matanya dan
tersenyum.
***
‘BUMPH!’
Rein tersentak, matanya terbelalak dan mulutnya menganga.
Kakinya perlahan mati rasa. Darah segar mulai mengalir. Tubuh wanita itu rebah,
hanya berjarak beberapa meter darinya. Rein kembali mengerjapkan matanya tak
percaya.
“JESSIE!”
Naga mayat hidup itu lenyap dari atas gedung. Matahari
perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Hari itu adalah hari paling
menegangkan yang pernah ada dalam sejarah di Bumi. Kemunculan makhluk-makhluk
yang tak masuk akal dan hilangnya sang naga mayat hidup tanpa sebab yang
tentunya meregakan warga-warga yang ada di sana.
Bagaimana kalau makhluk itu muncul lagi? Bagaimana kalau
makhluk itu kembali dengan membawa pasukan-pasukannya? Tak ada pahlawan, tak
ada penyelamat. Semua ini adalah mimpi buruk yang nyata dan mungkin akan
kembali lagi meneror mereka. Kapan? Tidak ada yang tau jawabannya.
Rein membawa Jessie ke dalam dekapannya. Membersihkan
darah-darah yang menempel di wajahnya. “Jess ... Jessie? Kau bisa
mendengarkanku?”
Rein dapat merasakan perubahan suhu pada tubuh Jessie.
Dingin. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir membasahi wajahnya.
“Rein! Rein!”
Selene mendongakkan kepalanya, mendapati kedua pria yang
asing baginya di balkon lantai 2.
“Rein ... kurasa kau kedatangan tamu,” ucap Selene pelan.
Rein memutar kepalanya dan memandangi Hein dan Ted yang
mulai memasang wajah horror.
“Rein! Apa yang terjadi pada Jessie!” seru Hein dari atas
“Rein?! Katakan sesuatu!” tambah Ted panik.
Rein tak menjawab, namun menggelengkan kepalanya pelan.
Ia kembali memfokuskan pandangannya ke wanita yang berada dalam dekapannya.
Ted dan Hein jatuh tersungkur. Ted lebih dulu menangis
pecah. Sementara Hein, ia mulai meninju-ninju lantai dengan keras.
“Sial! Sial! Ini seharusnya tidak terjadi!” ucap Hein
mulai menitikkan air matanya.
“Ini ... ini salahku, Jessiee ...” isak Ted.
“Aku tidak tau aku bisa berekspresi seperti itu, Rein,”
ujar Selene tak percaya.
Rein tak menghiraukan Selene, ia membawa tubuh Jessie dan
berlalu pergi. Selene menggigit bawah bibirnya kesal, lalu akhirnya memutuskan
untuk mengekori mereka.
***
Di apartemen Jessie. Selene memandangi Rein yang tengah
duduk bersila, masih memandangi tubuh wanita yang sudah meninggal itu.
“Rein ... Rein!”
Tidak ada sahutan.
“Rein! Mau sampai kapan kau menangisi orang mati, hah?!”
seru Selene kesal.
“Kau tak mengerti, Selene! Dia ... dia bisa saja tidak
mati hari ini!” balas Rein tak kalah kesal.
“Lalu? Pada akhirnya, dia tetap mati, kan?”
Rein menatap tajam Selene, perlahan ia bangkit dan
mendekati teman kecilnya itu.
Selene mengangkat sebelah alis matanya heran. “Apa?”
Rein tak menjawab, namun tetap mendekatinya. Selene pun
perlahan melangkah mundur. “Apa lagi kali ini, Rein? Jangan bilang kalau kau
sedang kerasukan roh wanita ini.”
Rein langsung menarik kedua tangan Selene dan menguncinya
di dinding. Perlahan, Rein meletakkan kepalanya di sebelah bahu Selene. “Selene
... aku mohon padamu ...” Selene mengerjapkan matanya berkali-kali, “kau
bisakah menghidupkannya untukku?”
“H—hah? Apa katamu?!” Dengan sekuat tenaga Selene melepas
paksa kedua tangannya yang dikunci oleh Rein dan mendorong tubuh pria itu
dengan kasar.
“Tolong, Selene. Kau dari ras priest, kan? Kau pasti bisa
menghidupkannya ...” lirih Rein kacau.
“Dia itu manusia, Rein! Manusia!” seru Selene.
“Aku mohon, Selene! Aku ... aku janji, setelah kau
menghidupkannya, aku akan ikut denganmu dan kita akan langsung pulang!”
“Apa?! Kau memang harus melakukan hal itu sejak awal kau
kemari!”
“Tolong ... aku mohon, aku ... aku tidak bisa, ini ...
ini menyesakkan bagiku. Aku belum pernah merasa ketakutan dan sekacau ini,”
ujar Rein seraya bersujud di depan Selene.
“Rein ...” Selene membawa Rein berdiri dan memegangi
kedua wajahnya, “Aku ... aku akan mencobanya, karena dia orang dari planet
kita, seharusnya kemampuan ini bisa kucoba.”
“Selene ... terima kasih! Terima kasih!” ucap Rein seraya
memeluk erat teman kecilnya itu.
Selene membalas memeluknya dan mengusap lembut punggung
dan rambutnya. “Ingat janjimu, Rein. Setelah aku menghidupkan wanita ini, tidak
ada lagi main-main, kau mengerti?”
Selene bisa merasakan anggukan pelan dari Rein. “Aku
mungkin bisa menyelamatkannya, tapi ... aku tidak bisa menyelamatkan ayahmu,
kau tau itu, kan? Kakekku yang jauh lebih berpengalaman di atasku saja tidak
bisa. Jadi, aku mau kau serius ... aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi
karena ayahmu.”
“Aku tau. Terima kasih, aku senang memilikimu, Selene.”
Selene tertegun. “Bodoh, mungkin maksudmu itu ‘berteman
denganmu’, kan? Jangan asal menggunakan kata atau kau akan membuat orang lain
salah menangkap maksudmu.”
“Ah ... maaf.”