Vermillion

Vermillion
Chapter 41 : Jessie ... mati?



“Huff, huff ... itu yang terakhir?” tanya Rein lelah.


“Sepertinya,” jawab Selene seraya menyimpan kembali


pedangnya.


Rein kembali mengatur pernafasannya. “Rein ... mari kita


lanjutkan kembali percakapan kita yang sempat tertunda sebelumnya.”


Rein mendongakkan kepalanya, memandangi teman kecilnya


itu. “Huff, huff ... yah, benar. Sampai di mana tadi kita?”


“GROAAH!”


Rein langsung mengalihkan pandangannya ke atas gedung


pusat perbelanjaan. Kedua mata Rein spontan membulat kaget saat mendapati


Jessie yang berada di genggaman naga mayat hidup itu.


“Jessie!” seru Rein seraya berlari dan meninggalkan


Selene.


“Cih, selalu saja ada pengganggu,” gerutu Selene seraya


mengikuti Rein dengan santai.


Naga itu kembali mengepakkan sayapnya dan memperkuat


genggamannya. Jessie mulai merasakan dirinya yang kehabisan oksigen.


“Aku ... aku harap Ted dan Hein baik-baik saja.”


“Sekarang ....”


Tiba-tiba naga itu melepaskan Jessie dan membiarkan


tubuhnya meluncur dari atas gedung itu. Jessie terkejut bukan main, matanya


membulat kaget.


“A—apa ...?”


Ted dan Hein yang sedang bersusah payah menuruni


eskalator pun kaget akan penampakan yang baru saja terlihat oleh mereka dari


salah satu lubang yang dibuat oleh naga itu.


“Tadi itu ...” Hein tak melanjutkan ucapannya,


tenggorakannya mendadak kering.


“... Jessie,” ucap Ted pelan.


“Jadi seperti ini ya rasanya, Jack?” batin Jessie


berusaha merasakan angin yang amat dahsyat melewati tubuhnya.


Jessie perlahan menutup kedua matanya. “Sebentar lagi, aku


juga akan bergabung dengan kalian ... tunggulah aku, Pa, Ma, Jack.”


“JESSIE!”


Jessie sontak membuka kedua matanya, air mata perlahan


mengalir keluar dari sudut matanya. “Rein ...? Oh ... bagaimana bisa aku sampai


melupakannya? Sniff ... kalau tau kejadiannya bakal berakhir seperti ini, maka


aku akan lebih cepat menyatakan perasaanku. Rein ... terima kasih atas


segalanya, aku sangat mencintaimu.” Jessie kembali menutup kedua matanya dan


tersenyum.


***


‘BUMPH!’


Rein tersentak, matanya terbelalak dan mulutnya menganga.


Kakinya perlahan mati rasa. Darah segar mulai mengalir. Tubuh wanita itu rebah,


hanya berjarak beberapa meter darinya. Rein kembali mengerjapkan matanya tak


percaya.


“JESSIE!”


Naga mayat hidup itu lenyap dari atas gedung. Matahari


perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Hari itu adalah hari paling


menegangkan yang pernah ada dalam sejarah di Bumi. Kemunculan makhluk-makhluk


yang tak masuk akal dan hilangnya sang naga mayat hidup tanpa sebab yang


tentunya meregakan warga-warga yang ada di sana.


Bagaimana kalau makhluk itu muncul lagi? Bagaimana kalau


makhluk itu kembali dengan membawa pasukan-pasukannya? Tak ada pahlawan, tak


ada penyelamat. Semua ini adalah mimpi buruk yang nyata dan mungkin akan


kembali lagi meneror mereka. Kapan? Tidak ada yang tau jawabannya.


Rein membawa Jessie ke dalam dekapannya. Membersihkan


darah-darah yang menempel di wajahnya. “Jess ... Jessie? Kau bisa


mendengarkanku?”


Rein dapat merasakan perubahan suhu pada tubuh Jessie.


Dingin. Tanpa sadar, air mata mulai mengalir membasahi wajahnya.


“Rein! Rein!”


Selene mendongakkan kepalanya, mendapati kedua pria yang


asing baginya di balkon lantai 2.


“Rein ... kurasa kau kedatangan tamu,” ucap Selene pelan.


Rein memutar kepalanya dan memandangi Hein dan Ted yang


mulai memasang wajah horror.


“Rein! Apa yang terjadi pada Jessie!” seru Hein dari atas


“Rein?! Katakan sesuatu!” tambah Ted panik.


Rein tak menjawab, namun menggelengkan kepalanya pelan.


Ia kembali memfokuskan pandangannya ke wanita yang berada dalam dekapannya.


Ted dan Hein jatuh tersungkur. Ted lebih dulu menangis


pecah. Sementara Hein, ia mulai meninju-ninju lantai dengan keras.


“Sial! Sial! Ini seharusnya tidak terjadi!” ucap Hein


mulai menitikkan air matanya.


“Ini ... ini salahku, Jessiee ...” isak Ted.


“Aku tidak tau aku bisa berekspresi seperti itu, Rein,”


ujar Selene tak percaya.


Rein tak menghiraukan Selene, ia membawa tubuh Jessie dan


berlalu pergi. Selene menggigit bawah bibirnya kesal, lalu akhirnya memutuskan


untuk mengekori mereka.


***


Di apartemen Jessie. Selene memandangi Rein yang tengah


duduk bersila, masih memandangi tubuh wanita yang sudah meninggal itu.


“Rein ... Rein!”


Tidak ada sahutan.


“Rein! Mau sampai kapan kau menangisi orang mati, hah?!”


seru Selene kesal.


“Kau tak mengerti, Selene! Dia ... dia bisa saja tidak


mati hari ini!” balas Rein tak kalah kesal.


“Lalu? Pada akhirnya, dia tetap mati, kan?”


Rein menatap tajam Selene, perlahan ia bangkit dan


mendekati teman kecilnya itu.


Selene mengangkat sebelah alis matanya heran. “Apa?”


Rein tak menjawab, namun tetap mendekatinya. Selene pun


perlahan melangkah mundur. “Apa lagi kali ini, Rein? Jangan bilang kalau kau


sedang kerasukan roh wanita ini.”


Rein langsung menarik kedua tangan Selene dan menguncinya


di dinding. Perlahan, Rein meletakkan kepalanya di sebelah bahu Selene. “Selene


... aku mohon padamu ...” Selene mengerjapkan matanya berkali-kali, “kau


bisakah menghidupkannya untukku?”


“H—hah? Apa katamu?!” Dengan sekuat tenaga Selene melepas


paksa kedua tangannya yang dikunci oleh Rein dan mendorong tubuh pria itu


dengan kasar.


“Tolong, Selene. Kau dari ras priest, kan? Kau pasti bisa


menghidupkannya ...” lirih Rein kacau.


“Dia itu manusia, Rein! Manusia!” seru Selene.


“Aku mohon, Selene! Aku ... aku janji, setelah kau


menghidupkannya, aku akan ikut denganmu dan kita akan langsung pulang!”


“Apa?! Kau memang harus melakukan hal itu sejak awal kau


kemari!”


“Tolong ... aku mohon, aku ... aku tidak bisa, ini ...


ini menyesakkan bagiku. Aku belum pernah merasa ketakutan dan sekacau ini,”


ujar Rein seraya bersujud di depan Selene.


“Rein ...” Selene membawa Rein berdiri dan memegangi


kedua wajahnya, “Aku ... aku akan mencobanya, karena dia orang dari planet


kita, seharusnya kemampuan ini bisa kucoba.”


“Selene ... terima kasih! Terima kasih!” ucap Rein seraya


memeluk erat teman kecilnya itu.


Selene membalas memeluknya dan mengusap lembut punggung


dan rambutnya. “Ingat janjimu, Rein. Setelah aku menghidupkan wanita ini, tidak


ada lagi main-main, kau mengerti?”


Selene bisa merasakan anggukan pelan dari Rein. “Aku


mungkin bisa menyelamatkannya, tapi ... aku tidak bisa menyelamatkan ayahmu,


kau tau itu, kan? Kakekku yang jauh lebih berpengalaman di atasku saja tidak


bisa. Jadi, aku mau kau serius ... aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi


karena ayahmu.”


“Aku tau. Terima kasih, aku senang memilikimu, Selene.”


Selene tertegun. “Bodoh, mungkin maksudmu itu ‘berteman


denganmu’, kan? Jangan asal menggunakan kata atau kau akan membuat orang lain


salah menangkap maksudmu.”


“Ah ... maaf.”