
“Jess, duduklah dan tenangkan dirimu. Lebih baik kita
turuti saja perkataan Rein,” ucap Hein yang sudah kembali ke kasurnya.
Ted yang masih berdiri di samping kasur Hein hanya
mengangguk pelan. “Aku percaya pada Rein. Kita semua pasti akan baik-baik
saja.”
Jessie masih berdiri membelakangi mereka, menatap pintu
yang baru saja ditutup oleh Rein.
“Aku sudah menduga ada yang aneh, dia tetap memaksa untuk
membawa benda tajam itu bersamanya. Aku pikir itu hanya pedang palsu yang
sering digunakan oleh beberapa aktor film dan cosplayer. Tapi, itu benar-benar
asli.” Jessie menatap jari telunjuknya yang diperban.
“Jess? Hei ... kemarilah,” panggil Hein pelan.
Jessie tersentak dan mulai berbalik, seraya mendekati
kedua sahabatnya, ia berusaha untuk tersenyum kecil. “Iya, kalian benar.
Mungkin kita bisa mempercayakan hal ini padanya.”
Kedua sahabatnya itu mengangguk pelan. Beberapa menit
telah berlalu, Hein tengah berbaring dan menatapi langit-langit. Sementara
Jessie dan Ted, mereka berdua duduk tenang di sofa. Ketiganya hanyut dalam
pikiran mereka masing-masing.
“Kau bilang bukan kau yang membelikannya ponsel, ya?”
ucap Hein tiba-tiba.
“Ah ... benar, seseorang memberikannya secara cuma-cuma
padanya.”
“Langka sekali, merek ponselnya itu juga bisa dibilang
cukup terkenal dan pastinya tidaklah murah.”
“Hm ... apa kau sudah bertemu dengan orang ini, Jess?”
Jessie menggeleng. “Sebenarnya, tadi Rein baru mendapat
panggilan untuk bertemu dari orang ini. Kalau tak salah, namanya itu Gerold
Stra ... apalah itu. Jadi, dia bilang akan menjemput Rein dan membicarakan
sesuatu. Rein meminta ijin padaku, tapi, aku menolak dan aku bilang saja
padanya, kalau dia mau pergi, ajak aku juga sekalian,” jelas Jessie santai.
“Kau ternyata tipe wanita yang tidak percayaan, ya?
Pacarmu pasti harus ekstra hati-hati dalam bertindak,” ledek Hein.
“Apa maksudmu, hah?!”
“Lalu, Gerold ini, kenapa dia tidak menjemput Rein?”
tanya Ted heran.
“Karena, sebelum jam 2, kau meneleponku dan bilang kalau
Hein ada di rumah sakit. Jadi, mau tak mau aku juga mengajak Rein denganku. Dan
kelihatannya dia sudah menunda pertemuan mereka.”
“Oh ...” Ted hanya mengangguk-angguk.
“Tenanglah, kelihatannya Gerold ini tidak seburuk yang
kupikirkan, dari penjelasan Rein. Kudengar dia membantu Rein membawa
barang-barangnya yang tertinggal di pesawat tempur.”
“Eh? Berarti di sekitar pohon tua, ya?” tanya Hein
penasaran.
Jessie hanya mengangguk. “Kupikir cuma kita yang tau
lokasi pohon itu. Ternyata ada orang lain juga, ya?” lirih Ted.
“Yah, namanya juga pohon tua itu tidak bergeser dari posisi
awalnya. Tentu saja orang-orang yang melewati tempat itu akan melihat pohon tua
juga!” timpal Hein.
“Benar, juga, ya? Huff ... aku lega mendengarnya, berarti
masih banyak orang baik hati di luar sana.”
Jessie hanya tersenyum tipis, namun pandangannya kembali
beralih pada pintu kamar itu lagi.
“Kenapa lama sekali, Rein?” batin Jessie seraya menggigit
bawah bibirnya pelan.
‘PRANG!’
Mereka bertiga spontan melompat kaget.
“S-suara itu, lagi ...” Hein mulai gemetaran.
“S-sebenarnya ... a-apa yang sedang terjadi?!” ucap Ted
Jessie mengepalkan tangannya, tanpa berpikir panjang, ia
langsung berlari dan membuka pintu kamar itu.
“Jessie! Apa yang kau pikirkan!” teriak Ted berusaha
mengejarnya.
Jessie menggeleng. “Kunci pintu kamarnya, Ted. Jangan
buka sebelum mendengar suaraku ataupun Rein.”
“Kau gila, Jess?! Kembalilah!” Terdengar seruan Hein.
“Aku akan mengeceknya. Kau jagalah Hein.”
“Jess! Jangan, ini ... berbahaya,” Ted menahan
pergelangan tangan Jessie.
“Aku tau, tapi ... Rein belum kembali, aku takut sesuatu
terjadi padanya.”
Ted sedikit terkejut dengan perkataan Jessie barusan,
perlahan ia melepaskan genggaman tangannya.
“Kalau kau percaya pada Rein, kau juga harus percaya
padaku, oke?!”
Ted tersenyum kecil, lalu ia spontan mengangguk mantap.
“Berhati-hatilah, Jess. Kami akan menunggu kalian berdua!” Setelah mendapat
anggukan Jessie, Ted segera mengunci pintu kamar itu.
Jessie berbalik dan mulai menatapi lorong rumah sakit
yang sepi itu. Sembari mengatur nafasnya, Jessie pun bergegas mencari Rein.
***
Di lantai 3, Jessie melihat sebuah pintu ruangan yang
terbuka di depannya. Dari pintu ruangan itu, terlihat asap menggumpal yang
keluar.
“A-apa itu?” batin Jessie, namun ia memberanikan dirinya
untuk mendekati ruangan berasap itu.
Di depan ruangan itu, Jessie menutup hidung dan mulutnya
dengan sebelah tangannya, sementara tangan lainnya mengibas-ibas asap yang
menutupi indera penglihatannya itu.
“Permisi? Halo? Apa ada seseorang di dalam sana?!
Haloo?!” panggil Jessie, namun tidak ada sahutan.
“Aneh, apa aku melangkah masuk saja, ya?” Jessie perlahan
menerobos asap menggumpal itu dan masuk ke dalam ruangan misterius itu.
Di dalam ruangan, lampu-lampu berkedip. Jessie masih
memandangi seisi ruangan yang ternyata merupakan ruangan penelitian. Terlihat
begitu banyak kertas yang berceceran di bawah meja, tak hanya kertas
barang-barang lain seperti pulpen, gelas ataupun botol minum hampir berserakan
juga di lantai. Seisi ruangan itu tampak kacau sekali.
“Apa yang terjadi disini?” batin Jessie seraya mengutip
kertas-kertas itu.
Tak sengaja, Jessie melihat selembar kertas yang
menuliskan penelitian serum pengawetan. Jessie mengangkat sebelah alis matanya
heran. “Serum ... pengawetan?”
Jessie menggeleng dan menyusun rapi kertas-kertas itu.
Saat ia bangkit dan berniat untuk meletakkan kertas itu pada meja. Sesuatu
tengah menatapinya sedari tadi. Kedua matanya membulat lebar dan merah padam,
air liur tak berhenti-hentinya merembes dari sudut mulutnya, kulitnya berwarna
biru pucat.
“Ahh!” Jessie spontan melempar kertas itu tepat pada
wajahnya dan berusaha berlari keluar.
Namun sesuatu lainnya sudah menunggunya di depan pintu
keluar.
“Oh tidak!” Jessie berbalik dan mendapati sesuatu itu
sudah berada di belakangnya. Tak hanya di belakang, namun di sekelilingnya
hampir dipenuhi oleh sesuatu itu. Semuanya terlihat begitu mirip, namun yang
semakin membuat Jessie syok adalah mereka semua berpakaian layaknya staff
karyawan rumah sakit.
“A-apa ... apa yang terjadi?! Aaah!”