Vermillion

Vermillion
Chapter 25 : Sesuatu



“Jess, duduklah dan tenangkan dirimu. Lebih baik kita


turuti saja perkataan Rein,” ucap Hein yang sudah kembali ke kasurnya.


Ted yang masih berdiri di samping kasur Hein hanya


mengangguk pelan. “Aku percaya pada Rein. Kita semua pasti akan baik-baik


saja.”


Jessie masih berdiri membelakangi mereka, menatap pintu


yang baru saja ditutup oleh Rein.


“Aku sudah menduga ada yang aneh, dia tetap memaksa untuk


membawa benda tajam itu bersamanya. Aku pikir itu hanya pedang palsu yang


sering digunakan oleh beberapa aktor film dan cosplayer. Tapi, itu benar-benar


asli.” Jessie menatap jari telunjuknya yang diperban.


“Jess? Hei ... kemarilah,” panggil Hein pelan.


Jessie tersentak dan mulai berbalik, seraya mendekati


kedua sahabatnya, ia berusaha untuk tersenyum kecil. “Iya, kalian benar.


Mungkin kita bisa mempercayakan hal ini padanya.”


Kedua sahabatnya itu mengangguk pelan. Beberapa menit


telah berlalu, Hein tengah berbaring dan menatapi langit-langit. Sementara


Jessie dan Ted, mereka berdua duduk tenang di sofa. Ketiganya hanyut dalam


pikiran mereka masing-masing.


“Kau bilang bukan kau yang membelikannya ponsel, ya?”


ucap Hein tiba-tiba.


“Ah ... benar, seseorang memberikannya secara cuma-cuma


padanya.”


“Langka sekali, merek ponselnya itu juga bisa dibilang


cukup terkenal dan pastinya tidaklah murah.”


“Hm ... apa kau sudah bertemu dengan orang ini, Jess?”


Jessie menggeleng. “Sebenarnya, tadi Rein baru mendapat


panggilan untuk bertemu dari orang ini. Kalau tak salah, namanya itu Gerold


Stra ... apalah itu. Jadi, dia bilang akan menjemput Rein dan membicarakan


sesuatu. Rein meminta ijin padaku, tapi, aku menolak dan aku bilang saja


padanya, kalau dia mau pergi, ajak aku juga sekalian,” jelas Jessie santai.


“Kau ternyata tipe wanita yang tidak percayaan, ya?


Pacarmu pasti harus ekstra hati-hati dalam bertindak,” ledek Hein.


“Apa maksudmu, hah?!”


“Lalu, Gerold ini, kenapa dia tidak menjemput Rein?”


tanya Ted heran.


“Karena, sebelum jam 2, kau meneleponku dan bilang kalau


Hein ada di rumah sakit. Jadi, mau tak mau aku juga mengajak Rein denganku. Dan


kelihatannya dia sudah menunda pertemuan mereka.”


“Oh ...” Ted hanya mengangguk-angguk.


“Tenanglah, kelihatannya Gerold ini tidak seburuk yang


kupikirkan, dari penjelasan Rein. Kudengar dia membantu Rein membawa


barang-barangnya yang tertinggal di pesawat tempur.”


“Eh? Berarti di sekitar pohon tua, ya?” tanya Hein


penasaran.


Jessie hanya mengangguk. “Kupikir cuma kita yang tau


lokasi pohon itu. Ternyata ada orang lain juga, ya?” lirih Ted.


“Yah, namanya juga pohon tua itu tidak bergeser dari posisi


awalnya. Tentu saja orang-orang yang melewati tempat itu akan melihat pohon tua


juga!” timpal Hein.


“Benar, juga, ya? Huff ... aku lega mendengarnya, berarti


masih banyak orang baik hati di luar sana.”


Jessie hanya tersenyum tipis, namun pandangannya kembali


beralih pada pintu kamar itu lagi.


“Kenapa lama sekali, Rein?” batin Jessie seraya menggigit


bawah bibirnya pelan.


‘PRANG!’


Mereka bertiga spontan melompat kaget.


“S-suara itu, lagi ...” Hein mulai gemetaran.


“S-sebenarnya ... a-apa yang sedang terjadi?!” ucap Ted


Jessie mengepalkan tangannya, tanpa berpikir panjang, ia


langsung berlari dan membuka pintu kamar itu.


“Jessie! Apa yang kau pikirkan!” teriak Ted berusaha


mengejarnya.


Jessie menggeleng. “Kunci pintu kamarnya, Ted. Jangan


buka sebelum mendengar suaraku ataupun Rein.”


“Kau gila, Jess?! Kembalilah!” Terdengar seruan Hein.


“Aku akan mengeceknya. Kau jagalah Hein.”


“Jess! Jangan, ini ... berbahaya,” Ted menahan


pergelangan tangan Jessie.


“Aku tau, tapi ... Rein belum kembali, aku takut sesuatu


terjadi padanya.”


Ted sedikit terkejut dengan perkataan Jessie barusan,


perlahan ia melepaskan genggaman tangannya.


“Kalau kau percaya pada Rein, kau juga harus percaya


padaku, oke?!”


Ted tersenyum kecil, lalu ia spontan mengangguk mantap.


“Berhati-hatilah, Jess. Kami akan menunggu kalian berdua!” Setelah mendapat


anggukan Jessie, Ted segera mengunci pintu kamar itu.


Jessie berbalik dan mulai menatapi lorong rumah sakit


yang sepi itu. Sembari mengatur nafasnya, Jessie pun bergegas mencari Rein.


***


Di lantai 3, Jessie melihat sebuah pintu ruangan yang


terbuka di depannya. Dari pintu ruangan itu, terlihat asap menggumpal yang


keluar.


“A-apa itu?” batin Jessie, namun ia memberanikan dirinya


untuk mendekati ruangan berasap itu.


Di depan ruangan itu, Jessie menutup hidung dan mulutnya


dengan sebelah tangannya, sementara tangan lainnya mengibas-ibas asap yang


menutupi indera penglihatannya itu.


“Permisi? Halo? Apa ada seseorang di dalam sana?!


Haloo?!” panggil Jessie, namun tidak ada sahutan.


“Aneh, apa aku melangkah masuk saja, ya?” Jessie perlahan


menerobos asap menggumpal itu dan masuk ke dalam ruangan misterius itu.


Di dalam ruangan, lampu-lampu berkedip. Jessie masih


memandangi seisi ruangan yang ternyata merupakan ruangan penelitian. Terlihat


begitu banyak kertas yang berceceran di bawah meja, tak hanya kertas


barang-barang lain seperti pulpen, gelas ataupun botol minum hampir berserakan


juga di lantai. Seisi ruangan itu tampak kacau sekali.


“Apa yang terjadi disini?” batin Jessie seraya mengutip


kertas-kertas itu.


Tak sengaja, Jessie melihat selembar kertas yang


menuliskan penelitian serum pengawetan. Jessie mengangkat sebelah alis matanya


heran. “Serum ... pengawetan?”


Jessie menggeleng dan menyusun rapi kertas-kertas itu.


Saat ia bangkit dan berniat untuk meletakkan kertas itu pada meja. Sesuatu


tengah menatapinya sedari tadi. Kedua matanya membulat lebar dan merah padam,


air liur tak berhenti-hentinya merembes dari sudut mulutnya, kulitnya berwarna


biru pucat.


“Ahh!” Jessie spontan melempar kertas itu tepat pada


wajahnya dan berusaha berlari keluar.


Namun sesuatu lainnya sudah menunggunya di depan pintu


keluar.


“Oh tidak!” Jessie berbalik dan mendapati sesuatu itu


sudah berada di belakangnya. Tak hanya di belakang, namun di sekelilingnya


hampir dipenuhi oleh sesuatu itu. Semuanya terlihat begitu mirip, namun yang


semakin membuat Jessie syok adalah mereka semua berpakaian layaknya staff


karyawan rumah sakit.


“A-apa ... apa yang terjadi?! Aaah!”