
Rein memiringkan kepalanya, dilihatnya ekspresi kaget ketiga orang dihadapannya itu. “B-bukan ya? Pasti aku sudah mendarat di planet lainnya ...” Rein menghela nafas pasrah.
Ketiga orang itu langsung menepi dan mulai berdiskusi.
“Planet Biru? Apa mungkin maksudnya itu ... Bumi?” ujar Ted.
“Hm ... apa mungkin Neptunus!” timpal Hein.
“Neptunus kan tidak ada tanda-tanda kehidupannya, Bodoh!” seru Jessie sembari menjitak kepala Hein.
“Berarti Bumi, ya?” tanya Hein lagi sembari mengelus kepalanya.
“Mana ku tau!” bentak Jessie kembali melayangkan jitakan lainnya.
“Hm ... dia bilang kalau dia dari Planet Vermillion, kan? Aku tidak pernah mendengar nama Planet itu sebelumnya,” ucap Ted sembari mengelus-elus dagunya pelan.
“Kau tidak perlu berlagak seperti orang pintar, Ted. Mukamu benar-benar menyebalkan,” timpal Hein dengan tatapan datarnya.
“Be-nar,” tambah Jessie yang tidak kalah kesalnya.
“Hehe ... aku serius, guys! Mana ada yang namanya Planet Vermillion di dalam daftar planet tata surya?” keluh Ted.
“Iya juga sih,” timpal Hein sembari mengangguk pelan.
“Hm ... Vermillion itu hampir sama dengan merah, bukan?” tanya Jessie tiba-tiba.
“Kurang lebih,” jawab Hein.
“Hoh! Apa mungkin dia dari Planet Mars?!” seru Ted antusias.
“Mars?” ucap Jessie dan Hein bersamaan.
“Benar! Kudengar rumor mengatakan kalau di Mars itu ada tanda-tanda kehidupannya! Bisa jadi dia datang dari sana dan ingin memberikan kabar baik!” jelas Ted mantap.
“Um ... aku agak meragukan itu,” balas Hein sembari menggaruk pelan keningnya.
“Eh? Di mana Jessie?!” tanya Hein langsung saat menyadari satu-satunya teman wanita mereka yang sudah menghilang dalam perkumpulan mereka.
***
“Hei, kau.”
Reinford mendongakkan kepalanya, menatap Jessie. “Ada apa?”
“Kau benar-benar sedang tidak bercanda, kan?”
“Tidak. Aku sedang tidak bercanda.”
“Kau tau, hidup itu memang berat. Tapi, kau jangan terlalu memaksakan dirimu, lalui saja semuanya dengan tenang dan jangan patah semangat. Percayalah, semua yang buruk akan berlalu dengan sendirinya.”
“Um ... kau sedang ... membicarakan apa?” tanya Rein heran.
“Cih! Maksudku itu! Kau tidak perlu memaksakan dirimu sampai menjadi gila seperti ini!”
“Jessie!” seru kedua temannya itu menghampiri mereka.
“Jessie! Kita masih tidak tau keadaan yang sebenarnya! Kau jangan langsung mengambil kesimpulan sepihak!” ucap Hein.
“Keadaan yang sebenarnya?! Kalian lihat sendirikan? Dia itu membicarakan hal-hal yang tidak masuk akal!” balas Jessie kesal.
“Maaf, kalau aku ternyata mengganggu kalian. Aku tidak ada urusan di Planet ini. Terima kasih sudah menolongku,” ucap Rein sembari berusaha bangkit berdiri.
Tubuh Rein mungkin hanya menderita sedikit luka-luka gores ringan. Namun, daya tahan tubuhnya semakin melemah karena pengaruh asap api phoenix yang dihirupnya. Kakinya bahkan tak kuat menopang berat tubuhnya. Rein akhirnya terjatuh.
“H-hei, kau tak apa?!” tanya Hein yang langsung membantu menopang tubuh Rein, begitu juga dengan Ted.
“Lebih baik kita bawa saja dia ke tempat kita,” usul Ted, yang mendapat anggukan dari Hein.
“Cih, kalian berdua! Kalian tidak mendengarkanku, hah?!” bentak Jessie, namun dihiraukan oleh kedua temannya itu.
***
Reinford perlahan membuka kedua matanya. Pandangannya masih terfokuskan pada langit-langit ruangan yang ditempatinya. Sembari membangkitkan tubuhnya yang masih sedikit sakit. “Di mana aku ... sekarang?”
Pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang wanita yang tak asing baginya. Wanita itu membawa sebuah mangkuk dan sebotol air mineral. “Kau sudah agak baikan, Pria Aneh?”
“Namaku Reinford Vermillion.”
“Ya, ya, ya ... ini, makanlah ... Reinford Vermillion,” ucap Jessie seraya menekankan penyebutan namanya itu.
“Apa ini?”
“Jangan bilang kau juga tidak tau yang namanya bubur!”
“Bu-bur?”
Jessie menepuk wajahnya dengan kedua tangannya. “Kau sengaja atau sedang mengetes kesabaranku, hah? Mana ada manusia yang tidak tau bubur?!”
“Jadi ... itu sebutan kaum kalian? Kaum Manusia?”
Jessie spontan mengerutkan keningnya. “Kau mulai lagi! Kau mulai membicarakan hal-hal aneh yang tak masuk akal!”
“Tak masuk ... akal?”
Jessie mengerang kesal. “Kalau kau menyebut kami kaum manusia? Lalu kau itu dari kaum mana, hah?! Kau itu juga manusia! Jangan berbicara aneh seperti itu atau kau akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa!”
“Tidak. Aku bukan dari kaum yang sama dengan kalian. Kami kaum Vermillion hanya dibedakan berdasarkan keturunan ras kami.”
“Jadi, ini ... bisa dimakan?” tanya Rein ragu.
“Tentu saja! Bubur kan memang untuk dimakan, tidak mungkin untuk maskeran! Ada-ada saja pertanyaanmu ini! Kau ini seperti baru keluar dari gua, ya!”
“Jessie! Ayolah, dia baru sadarkan diri! Kau sudah menusuknya dengan perkataan manismu itu?” gerutu Hein yang sudah berdiri di depan pintu ruangan bersama dengan Ted.
“Pagi, Kawan!” sapa Ted ceria.
“Selamat pagi,” balas Rein seraya menundukkan kepalanya.
Hein dan Ted kini sudah berdiri di samping kasur Rein.
“Bagaimana keadaanmu, Sobat?” tanya Hein.
“Baik. Luka yang kuterima tidak terlalu besar. Ini bukanlah masalah, aku bisa menyembuhkannya dengan menggunakan kemampuan regenerasiku.”
Jessie menatap kedua temannya yang sama-sama kelihatan heran. “Aku sudah bilangkan? Dia tidak waras.”
“Tidak. Aku yakin dia pasti sedang melakukan misinya!” seru Hein.
Ted mengangguk setuju. “Dia pasti sedang syuting film. Dan dia sedang memperdalami karakter yang diperankannya! Ayolah, Jessie! Mungkin sekarang ada beberapa kamera tersembunyi yang sedang mengintai kita!”
“APA?! MANA?! DI MANA KAMERA PENGINTAINYA?!” teriak Jessie yang langsung berpose kuda-kuda.
“Tenanglah, Jessie. Itu kan hanya spekulasi kami berdua! Tapi kalau pria ini memang sedang memainkan perannya, bukankah itu berarti kita bakal masuk dalam film yang dimainkannya juga?!” jelas Hein bersemangat.
Dalam detik berikutnya, Jessie langsung menjitak kepala kedua temannya itu. Spontan Hein dan Ted kompak meringis kesakitan. “Kalian berdua!” geramnya.
Reinford yang sedari tadi memperhatikan mereka dari atas kasur akhirnya tertawa pelan.
Jessie yang menyadarinya langsung menghampiri Rein dan menarik kerah bajunya. “Apa yang kau tertawakan, hah?!”
Rein spontan mengangkat kedua tangannya menyerah. “Maaf, maaf. Hanya saja saat melihat tingkahmu barusan, aku menjadi teringat dengan teman kecilku, Selene.”
Jessie perlahan melepaskan cengkeramannya. “Oh ... kalau aku tidak salah ingat. Dia seharusnya berada di dalam pesawat yang sama denganmu, kan?” Nada bicara Jessie melembut.
“Benar. Aku harap dia baik-baik saja sekarang.” Rein menundukkan kepalanya, meremas erat jari-jari tangannya.
Jessie menepuk pundak Rein pelan. “Semangatlah, aku dan kedua teman bodohku itu pasti akan membantumu menemukan Selene ini.”
Hein dan Ted yang masih duduk di lantai spontan bertekuk lutut dan kompak melongo. “Ehh?!”
Rein mengerjapkan matanya berkali-kali. “Ah ... terima-kasih?”
“Sama-sama!” jawab Jessie ceria.
“Hei, sejak kapan dia berubah 180 derajat?” bisik Hein pada Ted yang masih berada di sampingnya.
“Entahlah. Kenapa tiba-tiba dia jadi melembut? Bukannya dari tadi dia yang ngegas duluan ya?” balas Ted pelan.
“Nah, sekarang makanlah!” Jessie kembali menyodorkan semangkuk bubur pada Rein.
“Eh ... maaf, aku bukannya ingin membuatmu marah. Tapi ... aku benar-benar tidak tau bagaimana caranya memakan ini.”
“Yah, tinggal kau makan saja,” ucap Jessie enteng seraya menyuapkan sesendok langsung ke dalam mulut Rein.
“Ohh!!” sorak kedua temannya yang kini sudah bangkit berdiri di samping kasur Rein.
Rein yang masih syok saat bubur itu berada dalam mulutnya, perlahan menelan bubur itu. Rein masih terdiam dalam beberapa detik ke depan. Sementara Jessie dan kedua temannya sudah menatapnya dengan serius, menunggu jawabannya.
“Enak,” jawab Rein.
“Yes!” ujar Jessie bangga sembari mengepalkan sebelah tangannya. “Nah, kau sudah tau cara memakan bubur, kan?”
Rein hanya mengangguk pelan. Jessie langsung menyerahkan mangkuk itu pada Rein. “Makanlah, kalau tidak cukup, masih ada banyak. Aku sengaja membuatnya berlebih. Panggil aku kalau sudah selesai! Ta-ta!” Jessie pun melambaikan tangannya sembari berlalu dari ruangan itu.
Kedua teman Jessie yang sedari tadi hanya
mengangguk-angguk mantap baru menyadari sesuatu hal.
“T-tunggu dulu ...” ujar Hein yang langsung menatap Ted.
Ted pun membalas tatapan Hein dengan horror. “Sejak kapan Jess mau memasak?!” seru mereka kompak.
“Ah ... permisi,” panggil Rein pada mereka yang masih berteriak histeris.
“Ehem. Iya, Rein?” sahut Hein.
“Aku lupa menanyakan namanya ... dia?”
“Oh. Jessie Reivel. Panggil saja Jess atau Jessie!” jawab Ted.
Rein mengangguk pelan. “Oh ... terima kasih.”
“Tak masalah! kalau begitu kami keluar dulu! Jangan sungkan untuk memanggil kami kalau ada hal yang tak kau mengerti! Kami akan membantumu lebih baik dari pada Jess!” ujar Hein sembari tertawa lepas.
“Apa kita sudah berkenalan sebelumnya? Kalau sudah maka aku ingin sekedar mengingatkan kembali, namaku Ted dan dia Hein,” jelas Ted.
“Baiklah, Ted, Hein. Aku Reinford Vermillion. Kalian boleh memanggilku Rein.”
“Baiklah! Kalau begitu kami duluan! Jessie mungkin membutuhkan kita sekarang!” pamit Hein.
“Dah!”
Kedua pria itu sudah meninggalkan ruangan yang ditempati Rein. Setelah pintu itu tertutup, mata Rein kembali terfokuskan pada mangkuk yang dipegangnya. “Jessie, ya?” gumam Rein sembari tersenyum kecil.