Vermillion

Vermillion
Chapter 24 : Panggilan Aneh



Pintu kamar itu terbuka, Rein melangkah masuk dan


mendapati ketiga orang itu tengah menatapnya.


“Eh ... ada apa?” tanya Rein heran.


“Siapa yang barusan meneleponmu, Rein?” tanya Jessie


dengan tatapan interogasinya.


“Oh ... aku juga tidak tau, tidak ada nama Gerold


disana.”


“Mungkin maksudnya orang tak dikenal,” jelas Ted.


“Suara wanita atau pria?” ledek Hein, sesekali melirik


Jessie.


“Um ... sebenarnya orang itu tidak mengeluarkan suaranya,


hanya saja aku mendengar suara bising yang sepertinya berasal dari benda-benda


kaca.”


Ted dan Jessie saling bertatapan aneh.


“Boleh aku melihat ponselmu?” tanya Jessie seraya


mengulurkan tangannya.


“Ah ... silahkan,” Rein memberikan ponselnya. Dengan


cepat, Jessie menarik ponsel itu dan mulai menggeser-geser layarnya.


“Hati-hati, Rein. Aku ragu kalau Jessie hanya mencari tau


nomor si penelepon barusan,” goda Hein yang langsung mendapat tatapan tajam


dari Jessie.


“Bicara seperti itu lagi, aku akan pastikan kau pulang


besok, Hein,” ancam Jessie dengan nada datar khasnya.


Hein menelan ludah. “Ah ... maksudmu, Hein?” tanya Rein


heran.


“Tidak ada apa-apa, lupakan saja, aku hanya bercanda.”


Melihat kedua tingkah sahabatnya yang masih kekanak-kanakkan,


Ted hanya menggeleng pelan. “Kau sudah tau siapa yang meneleponnya, Jess?”


Jessie menggeleng. “Aku rasa ini sepertinya memang orang


iseng.”


“Hm ... aneh, orang iseng jaman sekarang mana mungkin


melakukan hal seperti itu?” timpal Ted seraya melipat kedua tangannya.


“Namanya juga iseng, kan, Ted? Bisa saja.”


“Tapi, apa untungnya, gitu loh?”


Tiba-tiba seseorang yang berada dikasur berteriak heboh,


membuat ketiga orang itu spontan memandang ke arahnya.


“Ada apa, Hein?!” teriak Jessie kaget.


“Kau kenapa, Bung?!” tambah Ted tak kalah kagetnya.


“Apa ada yang sakit?” tanya Rein sedikit kaget.


Hein menggeleng. “Mungkin kah itu salah satu trik


hipnotis jaman sekarang?!”


“Heinn!” teriak Jessie dan Ted bersamaan.


“Apa? Aku tidak salah, kan?”


“Kau memang tidak salah, tapi kau tidak perlu berteriak


seperti itu!” balas Jessie geram.


“Hm ... tapi, Hein. Kalau hipnotis melalui ponsel itu,


aku sudah pernah mendengarnya. Katanya, si penelepon akan menyapamu dan mulai


bertanya-tanya padamu, apa kau mengenalnya dan dia adalah teman lamamu yang


mungkin sudah tidak kau lupa. Kalau aku tak salah dengar, ya? Soalnya teman


ayahku pernah mengalaminya. Jadi, menurutku itu tidak mungkin hipnotis,” jelas


Ted membuat kedua orang itu melongo menatapnya.


“Wow, karena kau sudah memberikan penjelasan sepanjang


itu, berarti itu memang bukan hipnotis,” ucap Hein enteng.


Jessie mengangguk-angguk, tiba-tiba ia teringat akan


sesuatu dan spontan berteriak kaget.


Kini giliran ketiga orang itu yang memandanginya dengan


tatapan heran.


“Kau kenapa, Jess?” tanya Hein datar.


“Apa mungkin ... ini adalah suatu pesan yang sedang


nge-tren itu?”


“Pesan apa, Jess?” tanya Ted heran.


“Itu loh, pesan yang kadang berisikan suatu challenge


yang aneh-aneh ataupun suara yang tiba-tiba menampakkan makhluk-makhluk tak


kasat mata.”


“Ohh! Iya, iya! Aku tau!” seru Hein heboh.


“Lalu?”


“Ya ... kadang sih mereka memberi sebuah ancaman, kalau


kau tidak melakukan challenge itu, besoknya kau akan begini lah, orangtuamu


nantinya akan begitulah. Kalau untuk suara aneh dan penampakan biasanya katanya


setelah kau berhasil melihatnya, kau akan ... ehem. Ya, kau taulah maksudku


...” Jessie tak melanjutkan ucapannya.


Ted mengerutkan keningnya. “Apanya?”


“Kau benar-benar tidak tau, Ted?!” tanya Jessie kaget.


Ted hanya mengangguk pelan. “Ya, aku tidak main sejauh


itu.”


tidak salah dengar.”


“APA?!” teriak Ted spontan.


“H-hei, tenanglah, Ted. Lagian itu kan belum tentu benar,


kau taulah internet itu kadang suka sekali menyebarkan berita hoax,” jelas


Jessie sembari menepuk pelan pundak Ted.


Ted perlahan mengelus-elus dadanya. “Huff ... kalian tau,


aku barusan berpikir untuk tidak memakai ponsel lagi mulai dari hari ini.”


Kedua sahabatnya itu spontan tertawa pecah. Rein yang


sedari tadi memandangi mereka, perlahan tersenyum kecil.


“Kau ini ada-ada saja, Ted!” seru Jessie sembari tertawa


pelan.


“Kau penakut sekali!” timpal Hein.


“Y-ya, untuk berjaga-jaga, kenapa tidak, kan?”


Hein mengelap air mata yang berada disudut matanya, lalu


melipat kedua tangannya. Perlahan raut ekspresi wajahnya mulai berubah serius. “Ehem,


kembali ke topik awal kita, perihal si penelepon misterius ini.”


“Hm, aku yakin ini hanya iseng,” jawab Jessie mantap.


Ted mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak tau. Tapi,


mungkin saja Jessie benar.”


“Rein? Bagaimana menurutmu sendiri?” tanya Hein yang


membangunkan Rein dalam lamunannya.


“A-ah ... maaf, apa?”


“Kau sendiri yang menerima panggilannya, kan? Saat


mendengar suara-suara itu, apa yang terlintas dibenakmu?” Hein masih memandangi


Rein dengan tatapan serius.


“Um ... aku harap ini tidak terdengar aneh, tapi saat aku


mengangkat panggilan itu, aku mulai merasa seperti ada yang sedang mengawasiku.”


Ketiga orang itu saling berganti tatapan, namun tak berniat


untuk memulai pembicaraan. Mereka kembali memandangi Rein.


“Hari itu, seseorang berpakaian serba hitam menyerangku


di dalam pesawat tempur. Dia mengatakan padaku suatu ramalan tentang kematianku


... kalian sudah melihat kerusakan yang terjadi di dalam pesawat, kan? Dia yang


melakukannya.”


Ted dan Hein sontak kaget. “Y-yang benar saja, Bung?!


Seseorang? Berarti dia melakukannya sendiri?” tanya Hein.


Rein mengangguk. “Aku terlalu meremehkannya. Aku tidak


tau kalau dia bisa mengeluarkan jenis api semacam itu.”


“Apa kau ingat seperti apa wajahnya, Rein? Kemungkinan besar


dia akan muncul lagi padamu karena kau masih hidup,” tambah Ted.


“Tidak. Aku tidak bisa mengingat jelas wajahnya, hanya


saja. Api phoenix, belum pernah aku melihat orang-orang di planetku menggunakan


sihir api sejenis itu.”


Jessie menatap Rein dengan heran. “Kau mulai lagi, Rein.


Aku rasa kita juga harus mengeceknya.”


“A-apa?”


Jessie langsung menarik pergelangan tangan Rein dan


menyeretnya keluar dari kamar Hein. “Mumpung kita sedang di rumah sakit, tidak


ada salahnya kita mengeceknya, kan? Mungkin saja ada cedera yang dialaminya


saat pesawat yang dinaikinya jatuh.”


“J-jess, hei, sudahlah,” Ted menarik bahu Jessie.


“Ted! Kita hanya mengeceknya, oke?! Kau tidak perlu takut


kalau hasilnya memang menyatakan dia ini gila! Aku tetap akan menampungnya,


ikut aku, Rein!” Jessie kembali menarik tangan Rein dan membuka pintu kamar


Hein dengan kasar.


‘PRANG!’


Rein dengan cepat menarik tubuh Jessie kembali ke dalam


kamar dan menutup pintu itu. Ekspresi kaget tercetak jelas di wajah mereka


bertiga. Hein pun sudah turun dari kasurnya dan menghampiri mereka.


“S-suara apa itu, barusan?” tanya Hein.


“Pecahan ... pecahan kaca?” jawab Jessie tak yakin.


Rein menghela nafas pelan dan mulai memegang erat pedang


yang sedari tadi dibawanya.


“Aku tau ada yang tak beres disini.”


“Hah? Rein? Kau barusan bilang sesuatu?”


Rein tak menjawab pertanyaan Jessie, namun kembali


membuka pintu kamar itu.


“Rein! Apa yang kau lakukan?!” teriak Jessie.


“Kalian bertiga tetaplah disini dan jangan keluar sebelum


kupanggil, aku akan memastikan sekeliling dan menemukan jalan pintas keluar


dari sini.”


“H-hah? Rein ...” Pintu kamar itu tertutup. Jessie bahkan


belum sempat menyelesaikan kalimatnya.


“Rein ....”