Vermillion

Vermillion
Chapter 30 : Masa Lalu Jessie #2



“Jessie! Mama rasa Jessie lebih baik tidak perlu keluar,


soalnya langit juga sedang mendung, Mama yakin sebentar lagi hujan akan turun


dengan deras.”


“Tapi, Ma! Teman-teman Jessie sudah menunggu Jessie di


bawah!”


“Ajak saja mereka masuk, Jess.”


“Tapi, Jessie mau main di luar!”


“Tapi, Jess—“


“Sudahlah, biarkan saja dia keluar, tapi, kalau sudah


gerimis, cepat pulang, ya!” pesan Papa yang tengah membaca koran.


“Baik, Pa! Dadah, Ma, Pa!” Jessie pun berlari keluar.


“Kamu ga boleh terlalu manjain Jessie.”


“Haha ... biarkan saja, memangnya kamu mau berdebat


dengan dia? Jessie itu bukan anak yang mudah menyerah, yang ada kamu malah


capek dibuatnya.” Papa memandangi Jack yang tengah menonton televisi di


sebelahnya.


“Jack, kenapa ga ikut main sama kakaknya?” tanya Papa


sembari mengelus pelan kepala bocah laki-laki itu.


“Enggak ah, Jack lebih suka nonton film daripada main


keluar.”


Mama menghela nafas lelah. “Tidakkah menurutmu


kepribadian kedua anak kita ini seperti tertukar? Seharusnya anak laki-laki itu


lebih suka bermain di luar, kan?”


Papa spontan tertawa pecah. “Ah! Jangan bilang kalau


putri kita itu anak yang tomboy! Haha! Aku jadi penasaran seperti apa pacarnya


kelak!”


Mama perlahan tersenyum tipis. “Anak masih umur 10 tahun


kok udah mikir sampai ke pacarnya sih?”


“Haha, siapa yang taukan? Mungkin pacarnya nanti harus


lebih bersabar menghadapi dia.”


“Pacar itu apa, Pa?” tanya Jack.


“Haha! Kamu nonton aja kartunmu sana,” ujar Papa.


“Pacar Jessie kelak, ya? Hm ... entah kenapa aku malah


jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya, haha ...” renung Mama sembari


tersenyum bahagia.


***


“Jess! Masuk ke sini! Kalau kau berdiri di sana yang ada


kau malah kebasahan!” ucap Ted.


“Oke!”


Ketiga bocah itu pun mengumpat di bawah kolong seluncuran


itu.


“Ah! Aku lupa dengan pesan Papa!”


“Kenapa, Jess?” tanya Hein heran.


“Itu! Papaku bilang kalau udah gerimis langsung pulang!


Aku malah kelupaan!”


“Tenang saja, Jess. Kalau Papamu marah nanti kami yang


akan menjelaskannya!” ucap Ted bangga.


“Haha! Benarkah? Fyuh! Syukurlah kalau begitu!”


Hein langsung menyikut lengan Ted. “Memangnya kamu berani


bicara sama Papanya Jess?”


“Kenapa enggak? Biasa kalau aku telat pulang, Papaku


tidak akan jadi marah kalau temanku memberitahukan yang sebenarnya terjadi


padanya!”


“Benar juga!” teriak Jessie setuju.


“Itukan Papamu, Papaku mungkin akan menasehati temanku


juga kalau aku sampai pulang telat!”


“Eh?! Apa sekarang kau juga sudah seharusnya pulang?”


tanya Jessie panik.


“Enggak sih, aku udah bilang ke rumah Ted, orangtuaku


mungkin nanti akan menelepon mamanya kalau aku belum pulang juga.”


“Oh ... begitu ya? Aku harap Papa dan Mama tidak


mencariku sih. Hujan! Cepatlah reda!”


“Memangnya bisa reda kalau kau teriaki seperti itu?”


tanya Hein heran.


“Mungkin saja!” jawab Jessie asal.


“Kalau begitu, hujan cepatlah reda!” teriak Ted ikutan.


“Hujan cepatlah reda!” sorak tiga bocah itu bersamaan.


***


Sialnya, hujan


itu tidak kunjung mereda, walaupun masih gerimis, mau tak mau kami memutuskan


untuk berlari secepat mungkin ke apartemenku. Langit semakin gelap, aku bahkan


tidak tau sudah jam berapa waktu itu.


Ketiga bocah itu tampak menggigil. Jessie pun dengan


“Pa! Ma! Jessie pulang!”


Tidak ada sahutan.


“Pa?! Ma?!”


“Apa mereka sedang tidak ada di dalam, Jess?” tanya Ted.


“Aku juga tidak tau. Sebentar biar kucoba sekali lagi.


Pa?! Maa?! Jack?!”


‘Krieet ....’


Ketiga bocah itu saling bertatapan heran, lalu Jessie pun


memutuskan untuk melangkah masuk terlebih dahulu. Tiba-tiba seseorang berlari


keluar dan mendorong tubuh Jessie hingga terjatuh.


“A-apa-apaan kau!” teriak Jessie saat dirinya dibantu


berdiri oleh kedua temannya.


“Siapa dia, Jess?” tanya Ted.


“Ntahlah, orang aneh,” umpat Jessie kesal seraya


mengelus-elus siku tangannya.


“Aneh, kenapa juga dia berpakaian serba hitam seperti


itu,” ucap Hein curiga.


“Ah, sudahlah, lupakan saja. Lebih baik kita masuk dan


menghangatkan tubuh kalian dulu! Ayo!” ajak Jessie ceria.


Di dalam apartemennya, semuanya terlihat gelap, lampu di


ruang tamu dan dapur pun tidak menyala.


“Jess? Apartemenmu sedang mati lampu, ya?” tanya Ted


takut.


“Ntahlah, tunggu ya, aku akan mencoba menghidupkan


lampunya!” Jessie pun segera menuju tempat saklar dan menekannya


‘Cklek!’


Lampu menyala dan tidak ada siapapun di sana. Jessie


berlari menuju dapur dan menghidupkan lampunya.


“Ma ...?” panggil Jessie, namun tidak ada sahutan.


Ted dan Hein masih berdiri di lorong pintu masuk. Jessie


yang berjalan keluar dari dapur pun menatapi kedua temannya.


“Kalian kenapa masih berdiri di situ, duduklah! Aku akan


mengambil handuk! Tunggulah di sini!” Jessie pun bergegas menaiki tangga menuju


kamarnya.


Di lantai atas, belum sempat Jessie membuka pintu


kamarnya, ia melihat cahaya yang keluar dari celah pintu kamar Jack yang


terbuka sedikit.


“Pa? Ma? Jack? Kalian di sana?” panggil Jessie seraya


menuju kamar itu perlahan.


“Pa? Ma? Jack? Hello? Ini Jessie, aku masuk, ya?” Jessie


perlahan membuka pintu itu.


“AHHH!”


Ted dan Hein pun melompat kaget dan saling berpandangan


horror.


“Jessie!” seru mereka seraya bergegas menaiki tangga.


Jessie menggelengkan kepalanya tak percaya. ”Tidak ...


ini tidak mungkin terjadi ... ini pasti hanya mimpi!” teriak Jessie.


“Jess!” panggil mereka berdua.


“Apa yang kau lakukan, sini biarku bantu kau berdiri,”


ucap Ted, namun Ted merasa heran dengan tatapan Jessie yang lurus ke depan.


Perlahan, netranya pun mengikuti arah netra milik Jessie. Ekspresi kaget pun


tercetak sangat jelas pada wajahnya.


“A-apa ... apa yang terjadi?” ucap Ted yang tengah


terjatuh.


Mata Hein membulat lebar. “Mereka ... mereka orangtuamu,


Jess?”


Jessie tak menjawab, ia masih terlalu syok hingga tak


bisa mengeluarkan suara.


“Aku ... aku akan mencari bantuan! Tunggu aku!” ucap Hein


seraya berlari meninggalkan mereka.


“Orang itu ... orang itu pasti yang melakukan hal keji


ini ...” lirih Ted yang masih syok dengan pemandangan di hadapannya itu.


“Papa ... Mama ...” isak Jessie.


“Sniff ... sniff ... K-kak? Ka ... Kakak?”


Jessie memutar pandangannya, ia melihat adik laki-lakinya


yang berjongkok di sudut lemari pakaian.


“Jack!” Jessie pun bangkit dan memeluk erat tubuh adiknya


itu.


“Huaa! Papa! Mama!” panggil Jack.


Jessie tak bisa menahan tangisnya, namun ia tetap


berusaha untuk menenangkan adiknya. “Sniff ... te-tenang, Jack. Tenanglah ...


Kakak ada di sini, kau akan baik-baik saja.”