Vermillion

Vermillion
Chapter 31 : Masa Lalu Jessie #3



Tanpa terasa


sudah 7 tahun berlalu sejak kejadian mengerikan itu. Hari-hari itu kulewati


dengan bantuan keluarga Ted dan Hein. Walaupun pada akhirnya, mereka semua


memutuskan untuk pindah dari lingkungan itu karena dianggap sudah tidak aman.


Seseorang yang


baik hati memberikan bantuan rumah pada keluarga Ted. Mereka bahkan mengajakku


dan adikku untuk tinggal bersama dengan mereka. Namun, Jack menolak dan ingin


tetap tinggal di apartemen itu. Mau tak mau, dengan berat hati, aku pun menolak


tawaran baik dari Papa dan Mama Ted.


Walaupun begitu,


keluarga Ted masih sering membantu kami dalam membiayai biaya sekolah dan makan


sehari-hari kami. Aku tidak tau kenapa keluarganya begitu baik padaku, padahal


orangtuaku bahkan tidak mengenal mereka.


Tak hanya Ted,


keluarga Hein pun demikian, Papa Hein sering mengantarjemput kami dan


memberikan kami uang jajan. Kelurgaku juga tidak mengenal mereka. tapi, mereka


rela memberikan uang itu secara cuma-cuma pada kami.


Aku senang


sekali bisa bertemu dan bersahabat dengan mereka. Di situasi terpuruk seperti


ini, keluarga besarku bahkan tidak bisa dihubungi. Mereka yang seharusnya lebih


bertanggungjawab atas kami, malah tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk


pemakaman orangtua kami. Kenapa malah orang lain yang bahkan tidak kami kenal


yang tanpa pamrih membantu kami. Apa saat hari ayahku memutuskan untuk keluar


dari rumah mereka, mereka semua pun sudah memutuskan hubungan dengan kami?


Entahlah, aku


tidak tau dan tidak peduli. Satu-satunya keluargaku yang tersisa hanyalah Jack.


Dan aku akan menjaganya baik-baik.


***


“Jack?” Aku membuka pintu kamarnya.


Aku bisa melihat Jack yang tengah memandang keluar


jendela. “Kau dari tadi belum makan, apa makanannya tidak enak?”


“Tidak, Jess. Aku ... sedang tidak lapar.”


“Baiklah, kalau begitu, aku akan pergi kerja. Sampai jumpa


nanti sore, kau mau aku yang mengunci pintunya dari depan?”


“Ya.”


“Baiklah, sampai jumpa, jangan lupa mengerjakan tugas


sekolahmu,” Jessie pun beranjak dan menutup pintu kamar itu.


Sejak kejadian


itu, Jack menjadi sangat murung dan bersikap dingin padaku. Ia bahkan tidak


memanggilku dengan sebutan ‘kak’ seperti biasanya. Aku tidak menceramahinya,


karena mau bagaimanapun, di hari itu, hanya dia yang menyaksikan terror


mengerikan itu.


***


“Kau terlihat murung? Apa sesuatu terjadi di kelasmu? Ada


yang mengganggumu? Beritahukan saja padaku yang mana orangnya.”


“Tidak ada. Jangan ganggu aku.”


Aku menarik pergelangan tangan Jack dengan kasar,


membuatnya menghadapku. “Kau ada masalah apa sih, Jack?! Aku hanya mau


membantumu sebagai Kakakmu!”


“Aku sudah bilang tidak ada masalah apa-apa! Kenapa kau


selalu menggangguku!”


Aku terkejut bukan main. Ini pertama kalinya Jack


berteriak padaku. “Mengganggumu? Aku hanya ingin membantumu ... aku tau


hubungan antara kita memang tidak baik sejak hari itu, aku ... aku hanya


berusaha untuk memperbaikinya.”


“Memperbaikinya? Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi,


Jess.”


“Setidaknya panggil aku dengan sopan, Jack! Aku ini


kakakmu!”


“Lalu kenapa kalau kau ini kakakku?! Apa aku harus selalu


mematuhi perintahmu?! Dan karena kau ini adalah kakakku, kau bisa bersikap


seenak jidatmu, begitu?!”


“Apa?! Dari mana kau belajar berbicara seperti itu!”


“Kau tidak adil, Jess. Kau boleh berbicara dan mengumpat


kasar, tapi aku tidak boleh? Kau sangat keras kepala, kau tidak pernah mau


menuruti perkataan Papa dan Mama! Aku benci padamu! Karenamu ini semua terjadi!”


“Karenaku?! Memangnya kalau aku ada di hari itu, aku bisa


menghentikan pembunuh itu membunuh orangtua kita?!”


“Kau juga pasti akan merasakannya!”


Aku kembali terkejut. Kali ini nada teriakan Jack semakin


meninggi, kulihat ia mulai mengepalkan tinjunya dengan kuat.


“Kau tidak merasakan apa yang saat itu kurasakan, kau tak


mengerti ...” Perlahan air mata mulai membanjiri pipinya. Aku pun menarik Jack


ke dalam pelukanku.


“Maaf, maafkan aku, Jack. Aku ... aku hanya ingin menjadi


Kakak yang baik untukmu, setelah kehilangan mereka, aku tidak ingin


kehilanganmu juga. Hanya kau satu-satunya keluarga yang kumiliki.”


“Maafkan aku, aku yang salah, aku ... aku takut sekali,


pemandangan tak mengenakkan itu ... selalu saja menghantuiku.”


Aku mengelus punggung dan kepala Jack pelan. “Tenang


saja, tenang, oke? Aku akan melindungimu, kau tidak perlu takut. Aku sangat


menyayangimu, Jack.”


“Aku ... juga, Jess.”


Jessie melepaskan pelukannya dan memegangi kedua bahu


Jack. “Wah, aku tidak tau kau sudah tumbuh semakin tinggi dariku sekarang! Berbahagialah!


hm?”


Jack tersenyum tipis. “Baiklah. Aku mau coklat kacang.”


“Tentu! Cepat berganti pakaian! Aku akan menunggumu di


sini!”


“Baik.”


***


“Kak Jessie! Jack! Jack!”


“Ada apa, Klein? Kenapa dengan Jack?”


“Dia ... dia mencoba untuk melompat dari atas gedung!”


“Apa!”


Aku dan kedua sahabatku pun bergegas ke atas. Sepanjang perjalan


mereka, aku tak berhenti-hentinya menanyai Klein.


“Apa yang terjadi, Klein?!”


“Teman-teman sekelas, mereka mengganggunya lagi! Tadi,


Jack tertidur dan aku tidak enak hati untuk membangunkannya karena dia


kelihatan sangat lelah. Tiba-tiba, Jack mengigau dan berteriak ‘Papa, Mama di


belakangmu!’, seisi kelas hampir kaget oleh perkataannya. Setelah itu, mereka


mulai mengejeknya dengan panggilan anak manja, anak tidak berguna, dan sesuatu


yang tidak suka kudengar.”


Aku menggigit bawah bibirku dengan kesal. “Lalu?”


“Lalu, Jack tiba-tiba berjalan keluar dan saat aku


berusaha untuk memanggilnya, ia menatapku dengan tatapan kosong. Kulihat ia


mulai menaiki tangga ke atas, makanya kau cepat-cepat memanggilmu!”


“Kejam sekali,” ucap Ted.


“Cecunguk-cecunguk itu,” geram Hein.


Di atas gedung, aku dengan cepat membuka pintu besi


pembatas area atap sekolah itu. Ternyata benar, kulihat Jack yang


membelakangiku.


“Jack!”


Aku langsung berlari menghampirinya. “Jack! Turun dari


sana! Apa yang kau pikirkan!”


“Jack, lebih baik kau turun, di sana sangat berbahaya,”


ucap Ted.


“Turun, Sobat. Di sana bukan tempat yang cocok untuk


bermain,” timpal Hein.


Jack berbalik dan memandangi kami, ia perlahan tersenyum


tipis. “Aku ... aku sudah muak dengan kehidupan ini ... lebih baik waktu itu,


dia juga mengakhiri hidupku bersama dengan mereka.”


“Apa yang kau bicarakan! Kau masih memilikiku, bukan?!”


“Jack, turunlah, Kawan,” panggil Klein sembari mengulurkan


tangannya.


“Klein, terima kasih sudah mau menjadi temanku.”


“Jack! Jangan mengatakan hal-hal yang aneh, oke! Turun sekarang!”


“Aku tidak mau ... aku ... aku takut sekali.”


“Kau tidak perlu takut! Aku kan sudah bilang akan melindungimu!”


“Tidak bisa! Kejadian itu terus berputar di kepalaku! Aku


... aku sepertinya sudah gila!”


“Tidak! Kau tidak gila, Jack! Aku Kakakmu! Aku lebih tau


kau sudah gila atau tidak!”


“Mereka ... mereka selalu menghantuiku dari dalam mimpi.


Mereka memintaku untuk bergabung dengan mereka.”


“Jangan berbicara hal-hal yang aneh, oke?! Aku tidak suka


mendengarnya!”


“Pria itu seharusnya membunuhku juga! Kenapa! Kenapa dia


membiarkanku hidup seperti ini!”


Perlahan Jack melangkah mundur dan didetik berikutnya,


tubuhnya mulai terjatuh dari atas gedung. Aku dengan cepat menangkap pergelangan


tangannya. Hein dan Ted pun berusaha menahan tubuhku agar tidak terseret.


“JACK!”


“Lepas ... lepaskan aku.”


“AKU TENTU TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL GILA SEPERTI ITU, kau


satu-satunya keluargaku, kau ingat ...?” lirihku.


“Aku tidak mau membebanimu lagi ....”


“Kenapa kau selalu mengatakan hal-hal yang aneh?! Kau


adikku! Kau adalah tanggungjawabku! Kau tidak pernah membebaniku!”


“Terima kasih ... aku senang mendengarnya.”


“Baguslah! Bertahanlah, Jack, aku akan menarikmu—“


“Tidak, Kak Ted, Kak Hein, tolong jaga dia untukku ya.”


“APA MAKSUDMU!”


“Kami menyayangimu, jangan keras kepala lagi atau kau


akan menyulitkan pacarmu.”


“A-apa?! Hal aneh apa lagi yang sedang kau bicarakan!”


“Papa dan Mama ingin sekali bertemu dengan pacarmu,


walaupun waktu itu aku tidak mengerti, tapi sekarang aku tau maksud mereka. Maafkan


aku, sebagai seorang adik seharusnya aku juga bisa membantu menyeleksi pacar


yang layak untuk Kakakku. Tapi, aku rasa hal itu tidak akan pernah terjadi ....”


“A-apa-apaan sih, Jack?! Ini semua tidak lucu,


bertahanlah, aku akan menarikmu!”


“Sampai jumpa, Kak Jess. Baik-baik, ya?” Jack pun melepas


paksa tangan Jess yang berada di pergelangan tangannya.


“Tidak! Jangan lakukan itu, Jack! Aku peringatkan kau!”


“Aku akan mengawasimu dari sana ... dengan Papa dan Mama


....”


“TIDAAAK!”