
Tanpa terasa
sudah 7 tahun berlalu sejak kejadian mengerikan itu. Hari-hari itu kulewati
dengan bantuan keluarga Ted dan Hein. Walaupun pada akhirnya, mereka semua
memutuskan untuk pindah dari lingkungan itu karena dianggap sudah tidak aman.
Seseorang yang
baik hati memberikan bantuan rumah pada keluarga Ted. Mereka bahkan mengajakku
dan adikku untuk tinggal bersama dengan mereka. Namun, Jack menolak dan ingin
tetap tinggal di apartemen itu. Mau tak mau, dengan berat hati, aku pun menolak
tawaran baik dari Papa dan Mama Ted.
Walaupun begitu,
keluarga Ted masih sering membantu kami dalam membiayai biaya sekolah dan makan
sehari-hari kami. Aku tidak tau kenapa keluarganya begitu baik padaku, padahal
orangtuaku bahkan tidak mengenal mereka.
Tak hanya Ted,
keluarga Hein pun demikian, Papa Hein sering mengantarjemput kami dan
memberikan kami uang jajan. Kelurgaku juga tidak mengenal mereka. tapi, mereka
rela memberikan uang itu secara cuma-cuma pada kami.
Aku senang
sekali bisa bertemu dan bersahabat dengan mereka. Di situasi terpuruk seperti
ini, keluarga besarku bahkan tidak bisa dihubungi. Mereka yang seharusnya lebih
bertanggungjawab atas kami, malah tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk
pemakaman orangtua kami. Kenapa malah orang lain yang bahkan tidak kami kenal
yang tanpa pamrih membantu kami. Apa saat hari ayahku memutuskan untuk keluar
dari rumah mereka, mereka semua pun sudah memutuskan hubungan dengan kami?
Entahlah, aku
tidak tau dan tidak peduli. Satu-satunya keluargaku yang tersisa hanyalah Jack.
Dan aku akan menjaganya baik-baik.
***
“Jack?” Aku membuka pintu kamarnya.
Aku bisa melihat Jack yang tengah memandang keluar
jendela. “Kau dari tadi belum makan, apa makanannya tidak enak?”
“Tidak, Jess. Aku ... sedang tidak lapar.”
“Baiklah, kalau begitu, aku akan pergi kerja. Sampai jumpa
nanti sore, kau mau aku yang mengunci pintunya dari depan?”
“Ya.”
“Baiklah, sampai jumpa, jangan lupa mengerjakan tugas
sekolahmu,” Jessie pun beranjak dan menutup pintu kamar itu.
Sejak kejadian
itu, Jack menjadi sangat murung dan bersikap dingin padaku. Ia bahkan tidak
memanggilku dengan sebutan ‘kak’ seperti biasanya. Aku tidak menceramahinya,
karena mau bagaimanapun, di hari itu, hanya dia yang menyaksikan terror
mengerikan itu.
***
“Kau terlihat murung? Apa sesuatu terjadi di kelasmu? Ada
yang mengganggumu? Beritahukan saja padaku yang mana orangnya.”
“Tidak ada. Jangan ganggu aku.”
Aku menarik pergelangan tangan Jack dengan kasar,
membuatnya menghadapku. “Kau ada masalah apa sih, Jack?! Aku hanya mau
membantumu sebagai Kakakmu!”
“Aku sudah bilang tidak ada masalah apa-apa! Kenapa kau
selalu menggangguku!”
Aku terkejut bukan main. Ini pertama kalinya Jack
berteriak padaku. “Mengganggumu? Aku hanya ingin membantumu ... aku tau
hubungan antara kita memang tidak baik sejak hari itu, aku ... aku hanya
berusaha untuk memperbaikinya.”
“Memperbaikinya? Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi,
Jess.”
“Setidaknya panggil aku dengan sopan, Jack! Aku ini
kakakmu!”
“Lalu kenapa kalau kau ini kakakku?! Apa aku harus selalu
mematuhi perintahmu?! Dan karena kau ini adalah kakakku, kau bisa bersikap
seenak jidatmu, begitu?!”
“Apa?! Dari mana kau belajar berbicara seperti itu!”
“Kau tidak adil, Jess. Kau boleh berbicara dan mengumpat
kasar, tapi aku tidak boleh? Kau sangat keras kepala, kau tidak pernah mau
menuruti perkataan Papa dan Mama! Aku benci padamu! Karenamu ini semua terjadi!”
“Karenaku?! Memangnya kalau aku ada di hari itu, aku bisa
menghentikan pembunuh itu membunuh orangtua kita?!”
“Kau juga pasti akan merasakannya!”
Aku kembali terkejut. Kali ini nada teriakan Jack semakin
meninggi, kulihat ia mulai mengepalkan tinjunya dengan kuat.
“Kau tidak merasakan apa yang saat itu kurasakan, kau tak
mengerti ...” Perlahan air mata mulai membanjiri pipinya. Aku pun menarik Jack
ke dalam pelukanku.
“Maaf, maafkan aku, Jack. Aku ... aku hanya ingin menjadi
Kakak yang baik untukmu, setelah kehilangan mereka, aku tidak ingin
kehilanganmu juga. Hanya kau satu-satunya keluarga yang kumiliki.”
“Maafkan aku, aku yang salah, aku ... aku takut sekali,
pemandangan tak mengenakkan itu ... selalu saja menghantuiku.”
Aku mengelus punggung dan kepala Jack pelan. “Tenang
saja, tenang, oke? Aku akan melindungimu, kau tidak perlu takut. Aku sangat
menyayangimu, Jack.”
“Aku ... juga, Jess.”
Jessie melepaskan pelukannya dan memegangi kedua bahu
Jack. “Wah, aku tidak tau kau sudah tumbuh semakin tinggi dariku sekarang! Berbahagialah!
hm?”
Jack tersenyum tipis. “Baiklah. Aku mau coklat kacang.”
“Tentu! Cepat berganti pakaian! Aku akan menunggumu di
sini!”
“Baik.”
***
“Kak Jessie! Jack! Jack!”
“Ada apa, Klein? Kenapa dengan Jack?”
“Dia ... dia mencoba untuk melompat dari atas gedung!”
“Apa!”
Aku dan kedua sahabatku pun bergegas ke atas. Sepanjang perjalan
mereka, aku tak berhenti-hentinya menanyai Klein.
“Apa yang terjadi, Klein?!”
“Teman-teman sekelas, mereka mengganggunya lagi! Tadi,
Jack tertidur dan aku tidak enak hati untuk membangunkannya karena dia
kelihatan sangat lelah. Tiba-tiba, Jack mengigau dan berteriak ‘Papa, Mama di
belakangmu!’, seisi kelas hampir kaget oleh perkataannya. Setelah itu, mereka
mulai mengejeknya dengan panggilan anak manja, anak tidak berguna, dan sesuatu
yang tidak suka kudengar.”
Aku menggigit bawah bibirku dengan kesal. “Lalu?”
“Lalu, Jack tiba-tiba berjalan keluar dan saat aku
berusaha untuk memanggilnya, ia menatapku dengan tatapan kosong. Kulihat ia
mulai menaiki tangga ke atas, makanya kau cepat-cepat memanggilmu!”
“Kejam sekali,” ucap Ted.
“Cecunguk-cecunguk itu,” geram Hein.
Di atas gedung, aku dengan cepat membuka pintu besi
pembatas area atap sekolah itu. Ternyata benar, kulihat Jack yang
membelakangiku.
“Jack!”
Aku langsung berlari menghampirinya. “Jack! Turun dari
sana! Apa yang kau pikirkan!”
“Jack, lebih baik kau turun, di sana sangat berbahaya,”
ucap Ted.
“Turun, Sobat. Di sana bukan tempat yang cocok untuk
bermain,” timpal Hein.
Jack berbalik dan memandangi kami, ia perlahan tersenyum
tipis. “Aku ... aku sudah muak dengan kehidupan ini ... lebih baik waktu itu,
dia juga mengakhiri hidupku bersama dengan mereka.”
“Apa yang kau bicarakan! Kau masih memilikiku, bukan?!”
“Jack, turunlah, Kawan,” panggil Klein sembari mengulurkan
tangannya.
“Klein, terima kasih sudah mau menjadi temanku.”
“Jack! Jangan mengatakan hal-hal yang aneh, oke! Turun sekarang!”
“Aku tidak mau ... aku ... aku takut sekali.”
“Kau tidak perlu takut! Aku kan sudah bilang akan melindungimu!”
“Tidak bisa! Kejadian itu terus berputar di kepalaku! Aku
... aku sepertinya sudah gila!”
“Tidak! Kau tidak gila, Jack! Aku Kakakmu! Aku lebih tau
kau sudah gila atau tidak!”
“Mereka ... mereka selalu menghantuiku dari dalam mimpi.
Mereka memintaku untuk bergabung dengan mereka.”
“Jangan berbicara hal-hal yang aneh, oke?! Aku tidak suka
mendengarnya!”
“Pria itu seharusnya membunuhku juga! Kenapa! Kenapa dia
membiarkanku hidup seperti ini!”
Perlahan Jack melangkah mundur dan didetik berikutnya,
tubuhnya mulai terjatuh dari atas gedung. Aku dengan cepat menangkap pergelangan
tangannya. Hein dan Ted pun berusaha menahan tubuhku agar tidak terseret.
“JACK!”
“Lepas ... lepaskan aku.”
“AKU TENTU TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL GILA SEPERTI ITU, kau
satu-satunya keluargaku, kau ingat ...?” lirihku.
“Aku tidak mau membebanimu lagi ....”
“Kenapa kau selalu mengatakan hal-hal yang aneh?! Kau
adikku! Kau adalah tanggungjawabku! Kau tidak pernah membebaniku!”
“Terima kasih ... aku senang mendengarnya.”
“Baguslah! Bertahanlah, Jack, aku akan menarikmu—“
“Tidak, Kak Ted, Kak Hein, tolong jaga dia untukku ya.”
“APA MAKSUDMU!”
“Kami menyayangimu, jangan keras kepala lagi atau kau
akan menyulitkan pacarmu.”
“A-apa?! Hal aneh apa lagi yang sedang kau bicarakan!”
“Papa dan Mama ingin sekali bertemu dengan pacarmu,
walaupun waktu itu aku tidak mengerti, tapi sekarang aku tau maksud mereka. Maafkan
aku, sebagai seorang adik seharusnya aku juga bisa membantu menyeleksi pacar
yang layak untuk Kakakku. Tapi, aku rasa hal itu tidak akan pernah terjadi ....”
“A-apa-apaan sih, Jack?! Ini semua tidak lucu,
bertahanlah, aku akan menarikmu!”
“Sampai jumpa, Kak Jess. Baik-baik, ya?” Jack pun melepas
paksa tangan Jess yang berada di pergelangan tangannya.
“Tidak! Jangan lakukan itu, Jack! Aku peringatkan kau!”
“Aku akan mengawasimu dari sana ... dengan Papa dan Mama
....”
“TIDAAAK!”