
‘Kriing, kriing!’
Jessie mematikan alarm yang berada di meja sedang sebelah kasurnya. Perlahan, ia membangkitkan tubuhnya dan menatapi alarm bulat itu.
“Masih jam 5 pagi, ya? Ah ... tidur lagi aja, ah ...” Jessie kembali merebahkan tubuhnya.
‘Tok, tok, tok!’
Setelah mendengar suara ketukan itu, kedua mata Jessie spontan terbuka lebar. Dengan cepat ia berlari dari kamarnya.
***
“Rein!” seru Jessie setelah pintu apartemennya terbuka lebar.
“Whoa, santai, Jess. Ini aku, Hein, bukan Rein,” ledek Hein dengan seringaian khasnya.
“Ih! Hein! Kau mengganggu jam tidurku! Pulang sana!” usir Jessie seraya berbalik dan bergegas untuk menutup pintu apartemennya.
“Ey! Jess! Mentang-mentang diskors ... enak ya bisa nambah jam tidur lagi!” gerutu Hein seraya menahan pintu apartemen Jessie agar tidak tertutup.
“Hoam! Serius, Hein! Mau apa kau kemari? Sekarangkan masih jam 5 lewat!”
“Santai, Jess, kau bisa membangungkan seluruh penghuni di apartemen ini!” timpal Hein seraya melirik ke kiri dan kanan, berharap tidak ada yang berjalan keluar dan memaki mereka.
“Jawab pertanyaanku kalau begitu!”
“Haih! Kau ini, coba saja kalau tadi Rein yang mengetuk pintu, pasti dia tidak akan mengganggu jam tidurmu, kan?!”
Wajah Jessie mendadak panas. “A-apa maksudmu?! Tentu saja tidak! Sudah pasti aku akan mengomelinya!”
Hein langsung menyipitkan matanya. “Benarkah?” tanyanya ragu.
“Grr ... kau mau cari masalah denganku?!”
“Whoa, whoa, whoa. Tentu saja tidak, Jess! Aku hanya kepikiran sesuatu. Mungkin ini bisa jadi suatu alasan Rein kabur dari apartemenmu!” ujar Hein.
Jessie langsung memasang wajah serius. “Apa maksudmu?”
“Kau ingat pembicaraan kita semalam? Tentang ingin menguji tingkat kegilaannya selama seminggu ini?”
“Oh! Benar juga!”
“Kau bilang dia ada di dalam, kan? Aku rasa dia mendengarkan pembicaraan kita, apalagi waktu itu kita bilang akan membawanya ke rumah sakit jiwa kalau-“
“Kalian bilang begitu padanya?!” potong Ted yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat tangga sana.
“Ted!” seru Jessie dan Hein bersamaan.
“Aku benar-benar tidak habis pikir! Tega sekali kalian berbicara seperti itu padanya!”
“T-tenang dulu, Ted! Kau hanya salah paham!” ujar Jessie seraya berjalan mendekati Ted.
“Tetap disana, Jess! Aku tau dia memang orang yang aneh. Tapi, tidakkah kalian merasa sedikit kasihan padanya?”
“Ted, tenangkan dirimu dulu, Bung! Mari kita bicarakan ini baik-baik. Kau dengarkan? Seperti kata Jess, ini hanya salah paham!” sela Hein.
Jessie hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Perlahan, kata-kata Ted barusan benar-benar menusuk hatinya. Ia sama sekali tidak bermaksud untuk mengantar Rein ke rumah sakit jiwa. Bahkan berpikir untuk meninggalkannya saja disana tidak pernah terlintas dibenaknya.
Hein memandangi Jessie yang terdiam. Dilihatnya wanita itu mulai meremas erat bagian bawah kemeja putih yang dikenakannya. “Ted, aku rasa kau harus memberikan kami waktu untuk menjelaskannya terlebih dahulu.”
“Aku sudah pernah merasakannya, diberikan bantuan tanpa pamrih oleh sekelompok orang yang sangat baik. Dan bagiku, orang-orang seperti mereka itu sangatlah langka. Kami sekeluarga bahkan bertanya-tanya, apa yang bisa kami lakukan untuk membalas jasa mereka. Dan kalian tau apa jawaban mereka? Mereka hanya berpesan pada kami, ‘selalulah berbuat baik, bantulah orang yang memang membutuhkan bantuan, bantuan yang kita berikan tidak harus berupa nilai namun niat dari ketulusan hati kita masing-masing dan jangan mengharapkan imbalan apapun’. Apa kalian percaya? Apa kalian pernah bertemu dengan orang-orang seperti mereka?”
“Ted ... kami hanya bercanda waktu itu, kami benar-benar tidak tau kalau dia mungkin akan mendengarkan kami,” ucap Jessie setelah membisu beberapa menit yang lalu.
“Benar, Ted. Aku yakin, Rein pasti pergi karena suatu alasan. Bisa saja dia memang sudah berniat untuk pergi sejak awal. Namun gagal karena Jessie mengunci di dalam,” tambah Hein.
“Maafkan kami, Ted. Aku, aku janji, aku akan mencarinya!” ucap Jessie.
Ted menggeleng pelan. “Tidak, jangan meminta maaf padaku. Aku yang salah, seharusnya sejak awal aku langsung membawanya ke rumah, tapi aku malah berpikir dia akan menambah pengeluaran keluargaku nantinya. Aku, aku, aku sama buruknya dengan mereka.”
Hein langsung merangkul bahu Ted. “Hei, hei ... jangan menangis, Bung. Setidaknya, kita masih berusaha untuk mencarinya, kan? Kita masih lebih baik dari mereka, oke? Huss, sudah, tenanglah ...” Hein menepuk-nepuk pelan punggung Ted.
Tubuh Jessie mendadak bergetar hebat. Ia memandang kedua telapak tangannya yang tak berhenti gemetaran. “T-teman-teman, aku rasa kalian harus segera kembali ... sebentar lagi kalian harus ke sekolah, kan?”
Hein mengangguk, masih menenangkan Ted. “Kau baik-baik saja, kan, Jess?”
Jessie mengangguk pelan, menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya. “Y-ya! Aku baik-baik saja. Aku percayakan Ted padamu.”
Ted mengangkat wajahnya, memandangi Jessie yang kini sudah berdiri dihadapannya. Jessie berusaha untuk tersenyum. “Jangan khawatir, Ted. Kita akan menemukannya. Aku pasti akan menemukannya.”
Ted memalingkan wajahnya. “Maaf, aku seharusnya tidak mengatakan hal-hal itu.”
Jessie menggeleng pelan. “Hein, bawa Ted bersamamu, ya. Berhati-hatilah!”
“Oh ... percayakan saja padaku!” balas Hein ceria.
Jessie tersenyum, lalu beranjak menuju apartemennya. Namun, langkah terhenti saat Ted memanggilnya.
“Tenang saja, Ted. Kita tidak seburuk mereka, kok,” ucap Jessie, seraya menutup pintu apartemennya.
Ted masih tertegun. Hein yang berdiri di sampingnya pun membangunkannya dari lamunannya. “Ayo, Bung! Kita harus pulang dan berganti seragam sekolah kita.”
Ted mengangguk pelan. Hein kembali merangkul Ted. “Kau ini pria, bukan sih, Ted? Masa begitu saja langsung nangis!” ledek Hein.
“M-maaf! A-aku kelepasan!”
“Aduh, makanya jangan sering nonton drama!”
“A-aku tidak menonton drama! Tapi, ibuku dan adik-adikku yang memaksaku untuk menonton!” elak Ted.
Hein spontan tertawa lepas. “Terpaksa atau terbawa? Terbawa nuansa film itu beda loh sama terpaksa.”
“Beneran terpaksa kok!”
Kedua suara bising sahabatnya mulai terdengar samar-samar. Jessie yang duduk di balik pintu apartemennya, kembali menatap kedua telapak tangannya. “Kenapa, kenapa tubuhku masih gemetaran begini? Itukan sudah 8 tahun yang lalu ...” gumam Jessie seraya menggigit bawah bibirnya.
“Tidak, tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku, aku harus kuat! Oh, iya! Hm, sarapan apa yang enak ya?” Jessie pun bangkit dan bergegas menuju dapur.