
Aku sudah menceritakan semua yang terjadi pada Jessie.
Jessie berusaha keras menyemangatiku. Aku sangat lega sudah bercerita
dengannya. Dia adalah wanita yang unik. Setiap kali bersama dengannya, ada
sensasi aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya, bahkan dengan Selene
sekalipun. Aku senang karena dia memiliki pemikiran yang sama denganku. Walaupun
terkadang ada perbedaan pemikiran, semuanya tetap akan berakhir dengan mulus
tanpa ada perdebatan panjang dan juga perkelahian. Dia adalah wanita yang baik
dan perhatian, tak hanya itu, aku bisa melihat dirinya yang begitu menyayangi
kedua sahabatnya.
Berbeda dengan hidupku, hidupnya sungguh keras. Ditinggal
sendiri oleh orang-orang terdekatnya dalam usia muda. Aku bahkan tidak bisa
membayangkan kalau hal itu terjadi padaku. Dia adalah wanita yang kuat, dia
berusaha keras untuk tidak menunjukkan sisi lemahnya. Walaupun, mungkin dia
lebih sering menunjukkannya padaku.
Aku kagum sekaligus iri padanya. Walaupun aku seorang
pria, aku tetap dihantui oleh rasa takut. Aku takut aku gagal menyelamatkan
ayahku. Aku takut karena kebodohanku, aku akan kehilangan ayahku
selama-lamanya. Tapi, Jessie ... mereka, para manusia. Mereka membuatku sangat
kagum, bagiku mereka jauh lebih kuat dibandingkan denganku, aku ... aku juga
ingin memiliki pemikiran yang sama seperti mereka, pemikiran akan ‘pada
akhirnya semua orang juga akan meninggal, bisa melepaskan mereka, dan tidak
dihantui oleh rasa takut, rasa sedih akan kehilangan yang berkepanjangan, rasa
bersalah’.
Mungkin inilah kekurangan kami, karena darah ras yang
mengalir dalam tubuhku inilah yang membuatku menjadi seseorang yang pengecut. Kami
bisa hidup beribu-ribu tahun, tidak perlu takut dan cemas akan penuaan dini. Kami
mempunyai kemampuan regenerasi saat terkena luka ringan. Tapi, aku tau ras kami
juga bisa meninggal. Ledakan dan wabah penyakit ... itulah kelemahan ras kami,
ras timeless.
***
“Sudah sebulan juga ya sejak hari itu,” gumam Rein.
“Kau bilang sesuatu?” tanya Jessie heran.
“Ah ... tidak ada. Bagaimana, Gerold?”
Gerold menggeleng pelan. “Tampaknya Dunan belum menerima
pesan yang kami kirimkan ke sana.”
“Begitu ya ...” lirih Rein.
Jessie memegangi pundak Rein. “Tenanglah, kau harus
percaya dengan mereka, dengan bantuan teknologi canggih mereka, aku yakin kau
akan menemukan penawar itu!”
Rein berusaha tersenyum. “Iya, kau benar.”
“Tenanglah, Pangeran Rein. Aku yakin setelah Dunan menerima
pesan itu, dia akan segera membuatkan gulungan berisi letak penawar itu. Kami
sudah mengirimkan pesawat mini khusus dengan kecepatan penuh untuk menjemput
gulungan itu,” jelas Gerold.
Rein spontan menganga lebar. “Apa ada yang seperti itu?”
“Haha ... percaya atau tidak. Kami sudah mengirimkannya,
Pangeran.”
Rein menggeleng tak percaya. “Luar biasa.”
“Terima kasih, Pangeran.”
Jessie spontan tertawa pelan dan memukul lengan Rein
pelan. “Kau ini ....”
“Hehe ... kalau begitu, kami akan pamit pulang, Gerold. Aku
akan menunggu kabar baik lainnya darimu.”
“Baik. Setelah ada kabar baik, aku akan langsung
mengirimu pesan. Berhati-hatilah, Pangeran.”
“Iya! Terima kasih banyak, Gerold.”
“Tak masalah.”
Rein dan Jessie pun berjalan keluar dari gedung kerja
Gerold. Kedua orang itu masih memandangi gedung besar itu dari luar.
“Aku ... masih tidak bisa mempercayai hal ini.”
Jessie kembali tertawa ringan. “Percaya saja padaku, ok? Aku
yakin ini akan berhasil.”
Rein memandangi wanita di sebelahnya itu dan tersenyum
lembut. “Terima kasih, kalau bukan karena usulanmu, mungkin sekarang aku sudah
tidak tau lagi harus bagaimana.”
Jessie menarik tangan Rein dan memegangi telapak
tangannya dengan erat. “Aku sudah bilangkan? Aku akan berusaha sebisaku untuk
membantumu, jadi kalau kau ada masalah apapun, jangan sungkan untuk
menceritakannya padaku.”
Rein membalas dekapan tangan Jessie dengan erat. “Iya,
aku tau aku bisa mengandalkanmu, Jess. Terima kasih, ya.”
Jessie tersenyum. “Terima kasih kembali!”
Tiba-tiba ponsel Jessie berdering. “Tu—tunggu dulu, Rein.
Aku harus mengangkat ponselku.”
“Oh ... ok.”
“Halo, Hein? Ada apa?”
“Jeesss!”
Sudut bibir Jessie yang sedari tadi terangkat kini
berubah menjadi datar. “Hein? Kau kenapa? Halo?”
“Jess! Apa Rein bersama denganmu?!”
“Ted? Iya ... Rein bersama denganku. Kenapa? Kalian baik-baik
saja?”
“Oh ... syukurlah! Tetaplah bersama dengan Rein, Jess!”
“Hei ... ada apa ini, Hein?”
Jessie bisa mendengarkan suara rusuh dari ponselnya. “Halo?
Kalian berdua mendengarkanku? Kalian sebenarnya ada di mana sih?”
“Jangan ke Central City, Jess! Apapun yang terjadi jangan
melewati wilayah itu!”
“Kenapa, Ted? Hei ... bisa tidak kalian berdua itu
ngomongnya sedikit lebih jelas?” gerutu Jessie kesal.
“GROAAAHH!”
Netra Jessie membulat kaget. Suara aneh dari ponsel itu
hampir merusak gendang telinganya. “Hein! Ini tidak lucu! Kalian sedang
bermain-main di Game Center, bukan?!”
Dari ponsel, Jessie kembali mendengar suara rusuh,
teriakan dan isakan yang bercampur aduk. Kerutan di kening Jessie semakin
tercetak dengan jelas.
“Tolong, Jess. Jangan kemari. Pergilah sejauh mungkin! Lewati
rute lain!”
“Ted?! Hei! Apa yang sedang terjadi di sana?!”
“GROAAAH!”
‘Tut!’
“Hei! Halo? Halo? Hein, Ted?! Halo!”
“Ada apa, Jess?” tanya Rein heran.
“Rein! Kita ... kita harus segera ke Central City,
sekarang!”
“Ba—baik.”
***
Terlihat begitu banyak mobil yang berlalu dengan
kecepatan penuh, bahkan kendaraan online yang dipesan oleh Jessie tidak mau
mengantar mereka lebih dekat ke sana.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?”
“Aduh, Non. Bapak dengar sih, katanya ada monster
menyerupai naga yang tiba-tiba menyerang di daerah sana.”
“Naga?” ulang Rein.
“Iya, Tuan.”
“Ka—kalau begitu, di sini saja tak apa. Terima kasih,”
ucap Jessie seraya membayar bapak itu.
“Eh? Non! Nona mau ke sana?! Di sana berbahaya sekali!”
Jessie tak menghiraukannya dan langsung berlari turun.
“Te—terima kasih banyak, Pak. Kami permisi,” pamit Rein
***
“Jess! Jessie!” panggil Rein seraya menarik pergelangan
tangan Jessie.
“Rein! Kau dengar apa yang barusan dibilang oleh Bapak
itu, kan?”
“Jessie, tidak mungkin ada naga di sini, bahkan Gerold
sudah pernah memberikanku pelajaran tentang itu.”
“Aku tau. Tapi, bagaimana kalau seandainya itu memang
benar? Hein, Ted, mereka berdua terjebak di sana!”
“Tenang dulu, Jess, tenang. Kita akan mengecek ke sana,
oke? Aku mau kau berjanji padaku untuk tidak melepaskan tanganku, mengerti?”
Jessie mengangguk pelan.
“Baiklah, ayo, kita ke sana.”
***
Suasana di Central City kini sangat kacau, aspal di
jalanan banyak yang retak dan hancur. Beberapa mobil terhempas dan terbakar,
orang-orang berlarian dan berteriak ketakutan. Gedung-gedung mengalami
kerusakan, dinding retak, hingga kaca pecah berserakan. Yang paling mengagetkan
Rein dan Jessie adalah sesosok naga mayat hidup yang berterbangan di area gedung
pusat perbelanjaan paling besar di sana.
“Tidak mungkin ...” gumam Rein.
“Na—naga ... itu naga, kan?” tanya Jessie tak percaya.
Dari hadapan mereka, terlihat pasukan mayat hidup yang
mulai mengambil alih wilayah Central City itu.
“Apa itu?!” teriak Jessie kaget.
“Undead ... kenapa ada yang seperti ini juga di sini?”
gumam Rein.
“Rein ... bagaimana ini?” tanya Jessie mulai gemetaran.
“Kita harus pergi, Jess.”
“A—apa?! Tidak! Aku tidak bisa membiarkan makhluk-makhluk
itu memangsa kedua sahabatku!”
“Tapi, kita tidak bisa melakukan apa-apa di sini, pasukan
mereka lebih banyak!”
“Pasti ada ... pasti ada cara lainnya!”
“Jess ...”
“Tolong! Aku mohon, Rein! Aku tidak mau kehilangan mereka
berdua juga!” sela Jessie.
Rein menghela nafas pelan. “Baiklah. Tetaplah di
belakangku. Kita akan menerobos mereka dan masuk ke pusat perbelanjaan.”
“Terima kasih ... Rein.”
“Fokus dan tetaplah bersamaku, Jess.”
“Baik!”
***
Rein mulai mengayunkan pedangnya dan berusaha menerobos
pasukan mayat hidup itu. Jessie yang bersembunyi di belakangnya perlahan
menatap ke gedung pusat perbelanjaan.
“Tunggu aku, Hein, Ted.”
‘Traang!’
“Mereka ... juga bersenjata!” seru Rein tak percaya.
‘Sreet! Sreet!’
‘Jleb!’
“REIN!”
“Tak apa, ini hanya luka gores kecil, aku bisa
menanganinya. Tetaplah di belakangku. Kalau ada yang berusaha mendekatimu,
langsung bilang padaku, oke?”
“Baik! Berhati-hatilah!”
‘Traang!’
“Mereka ... tidak bisa mati,” gumam Rein saat mendapati
pasukan-pasukan yang baru saja dikalahkan olehnya bangkit kembali.
“GROAAH!” Naga mayat hidup itu kini berada tepat di
hadapan Rein.
“Kyaa!”
“Sial! Dia menyadarinya! Jessie! Kau bisa berlari secepat
mungkin?”
“Ke—kenapa?”
“Segera masuk ke dalam gedung itu dan carilah mereka!”
“Ta—tapi, bagaimana denganmu, Rein?!”
“Aku bisa menangani mereka, percaya padaku, Jess. Cepat dan
masuklah!”
“Berjanjilah kau akan selamat, Rein!”
“Aku janji. Pergilah!”
“Baik!” Jessie pun berlari secepat mungkin dan berusaha
menghindari setiap pasukan mayat hidup.
Setelah melihat Jessie masuk dengan selamat ke dalam
gedung pusat perbelanjaan, Rein kembali memfokuskan netranya ke naga mayat
hidup di hadapannya.
“Aku tidak tau kau berasal dari mana, tapi ... yang aku
tau, di sini bukanlah tempatmu! Hya!”
***
Jessie terus berlari seraya menekan-nekan ponselnya. “Ayolah,
Hein. Angkat.”
“Huaa! Mama!”
Jessie menghentikan langkahnya dan mendapati seorang
gadis kecil yang menangis tepat di bawah eskalator.
“Hei ... kemarilah, Gadis Manis.”
Gadis kecil itu menatapi Jessie, namun enggan menerima
uluran tangannya.
“Jangan khawatir, Kakak akan membantumu mencari mamamu,
oke? Kemarilah.”
Gadis kecil itu mengangguk pelan dan menerima uluran
tangan Jessie. Mereka pun segera bergegas menuju lantai 2.
Setelah beberapa menit berputar-putar, akhirnya Jessie
berhasil mengembalikan gadis kecil itu pada kedua orangtuanya yang berada di
lantai 4. Di sana, Jessie dapat melihat begitu banyak orang yang ketakutan dan
menangis.
“Permisi, Pak. Apakah semua pengunjung sudah berada di
sini?” tanya Jessie pada security yang berjaga di sana.
“Masih ada beberapa yang terjebak di atas, Dek. Ada juga
yang terjebak di dalam lift.”
“Oh ... begitu ya,” ucap Jessie seraya membuka ponselnya
kembali.
“Nomor yang
dituju sedang sibuk.”
“Hein, Ted, kalian ada di mana?” Jessie pun kembali bergegas menuju lantai berikutnya.
"Dek?! Adek mau ke mana?! Lebih baik menunggu di sini saja!" tegur security.
"Ah ... maaf, Pak. Tapi, kedua sahabat saya tidak ada di sini, saya harus segera menemukan mereka," jelas Jessie.
"Tapi, tetap saja berbahaya, Dek. Lebih baik Adek menunggu saja, anggota Bapak yang lainnya juga sedang mencari pengunjung lainnya. Semuanya juga pada akhirnya akan berkumpul di sini."
"Kalau begitu, saya akan membantu mencari."
Tak hanya security, beberapa pengunjung yang ada di sana pun sedikit kaget dengan pernyataan Jessie. Gadis kecil yang barusan dipertemukan dengan kedua orangtuanya mendekati Jessie.
"Kak ... Kakak," panggilnya seraya menarik-narik pelan pakaian Jessie.
Jessie pun berjongkok dan tersenyum lembut padanya. "Iya, Gadis Manis?"
"Terima ... kasih, terima kasih sudah membantu Michele."
"Tak masalah, Michele."
Gadis Kecil itu melepaskan kalung lucky clover yang dikenakannya dan memberikannya pada Jessie. "Semoga ... Kakak bisa bertemu dengan sahabat-sahabat Kakak."
Jessie menerima kalung itu dan mengusap pelan kepala gadis kecil di hadapannya itu. "Terima kasih, ya, Michele," ucap Jessie seraya tersenyum kecil.
Setelah mengenakan kalung itu, Jessie melambai pelan pada Michele. Sebelum melangkah terlalu jauh, Jessie bisa mendengar gadis kecil itu memanggilnya lagi.
"Hm?" sahut Jessie seraya berbalik.
"Siapa ... nama Kakak?"
"Jessie ..." jawab Jessie tanpa menghilangkan senyuman itu dari wajahnya, setelah itu Jessie pun bergegas dan mulai menjauh dari hadapan mereka semua.