Vermillion

Vermillion
Chapter 38 : Pasukan Mayat Hidup



Aku sudah menceritakan semua yang terjadi pada Jessie.


Jessie berusaha keras menyemangatiku. Aku sangat lega sudah bercerita


dengannya. Dia adalah wanita yang unik. Setiap kali bersama dengannya, ada


sensasi aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya, bahkan dengan Selene


sekalipun. Aku senang karena dia memiliki pemikiran yang sama denganku. Walaupun


terkadang ada perbedaan pemikiran, semuanya tetap akan berakhir dengan mulus


tanpa ada perdebatan panjang dan juga perkelahian. Dia adalah wanita yang baik


dan perhatian, tak hanya itu, aku bisa melihat dirinya yang begitu menyayangi


kedua sahabatnya.


Berbeda dengan hidupku, hidupnya sungguh keras. Ditinggal


sendiri oleh orang-orang terdekatnya dalam usia muda. Aku bahkan tidak bisa


membayangkan kalau hal itu terjadi padaku. Dia adalah wanita yang kuat, dia


berusaha keras untuk tidak menunjukkan sisi lemahnya. Walaupun, mungkin dia


lebih sering menunjukkannya padaku.


Aku kagum sekaligus iri padanya. Walaupun aku seorang


pria, aku tetap dihantui oleh rasa takut. Aku takut aku gagal menyelamatkan


ayahku. Aku takut karena kebodohanku, aku akan kehilangan ayahku


selama-lamanya. Tapi, Jessie ... mereka, para manusia. Mereka membuatku sangat


kagum, bagiku mereka jauh lebih kuat dibandingkan denganku, aku ... aku juga


ingin memiliki pemikiran yang sama seperti mereka, pemikiran akan ‘pada


akhirnya semua orang juga akan meninggal, bisa melepaskan mereka, dan tidak


dihantui oleh rasa takut, rasa sedih akan kehilangan yang berkepanjangan, rasa


bersalah’.


Mungkin inilah kekurangan kami, karena darah ras yang


mengalir dalam tubuhku inilah yang membuatku menjadi seseorang yang pengecut. Kami


bisa hidup beribu-ribu tahun, tidak perlu takut dan cemas akan penuaan dini. Kami


mempunyai kemampuan regenerasi saat terkena luka ringan. Tapi, aku tau ras kami


juga bisa meninggal. Ledakan dan wabah penyakit ... itulah kelemahan ras kami,


ras timeless.


***


“Sudah sebulan juga ya sejak hari itu,” gumam Rein.


“Kau bilang sesuatu?” tanya Jessie heran.


“Ah ... tidak ada. Bagaimana, Gerold?”


Gerold menggeleng pelan. “Tampaknya Dunan belum menerima


pesan yang kami kirimkan ke sana.”


“Begitu ya ...” lirih Rein.


Jessie memegangi pundak Rein. “Tenanglah, kau harus


percaya dengan mereka, dengan bantuan teknologi canggih mereka, aku yakin kau


akan menemukan penawar itu!”


Rein berusaha tersenyum. “Iya, kau benar.”


“Tenanglah, Pangeran Rein. Aku yakin setelah Dunan menerima


pesan itu, dia akan segera membuatkan gulungan berisi letak penawar itu. Kami


sudah mengirimkan pesawat mini khusus dengan kecepatan penuh untuk menjemput


gulungan itu,” jelas Gerold.


Rein spontan menganga lebar. “Apa ada yang seperti itu?”


“Haha ... percaya atau tidak. Kami sudah mengirimkannya,


Pangeran.”


Rein menggeleng tak percaya. “Luar biasa.”


“Terima kasih, Pangeran.”


Jessie spontan tertawa pelan dan memukul lengan Rein


pelan. “Kau ini ....”


“Hehe ... kalau begitu, kami akan pamit pulang, Gerold. Aku


akan menunggu kabar baik lainnya darimu.”


“Baik. Setelah ada kabar baik, aku akan langsung


mengirimu pesan. Berhati-hatilah, Pangeran.”


“Iya! Terima kasih banyak, Gerold.”


“Tak masalah.”


Rein dan Jessie pun berjalan keluar dari gedung kerja


Gerold. Kedua orang itu masih memandangi gedung besar itu dari luar.


“Aku ... masih tidak bisa mempercayai hal ini.”


Jessie kembali tertawa ringan. “Percaya saja padaku, ok? Aku


yakin ini akan berhasil.”


Rein memandangi wanita di sebelahnya itu dan tersenyum


lembut. “Terima kasih, kalau bukan karena usulanmu, mungkin sekarang aku sudah


tidak tau lagi harus bagaimana.”


Jessie menarik tangan Rein dan memegangi telapak


tangannya dengan erat. “Aku sudah bilangkan? Aku akan berusaha sebisaku untuk


membantumu, jadi kalau kau ada masalah apapun, jangan sungkan untuk


menceritakannya padaku.”


Rein membalas dekapan tangan Jessie dengan erat. “Iya,


aku tau aku bisa mengandalkanmu, Jess. Terima kasih, ya.”


Jessie tersenyum. “Terima kasih kembali!”


Tiba-tiba ponsel Jessie berdering. “Tu—tunggu dulu, Rein.


Aku harus mengangkat ponselku.”


“Oh ... ok.”


“Halo, Hein? Ada apa?”


“Jeesss!”


Sudut bibir Jessie yang sedari tadi terangkat kini


berubah menjadi datar. “Hein? Kau kenapa? Halo?”


“Jess! Apa Rein bersama denganmu?!”


“Ted? Iya ... Rein bersama denganku. Kenapa? Kalian baik-baik


saja?”


“Oh ... syukurlah! Tetaplah bersama dengan Rein, Jess!”


“Hei ... ada apa ini, Hein?”


Jessie bisa mendengarkan suara rusuh dari ponselnya. “Halo?


Kalian berdua mendengarkanku? Kalian sebenarnya ada di mana sih?”


“Jangan ke Central City, Jess! Apapun yang terjadi jangan


melewati wilayah itu!”


“Kenapa, Ted? Hei ... bisa tidak kalian berdua itu


ngomongnya sedikit lebih jelas?” gerutu Jessie kesal.


“GROAAAHH!”


Netra Jessie membulat kaget. Suara aneh dari ponsel itu


hampir merusak gendang telinganya. “Hein! Ini tidak lucu! Kalian sedang


bermain-main di Game Center, bukan?!”


Dari ponsel, Jessie kembali mendengar suara rusuh,


teriakan dan isakan yang bercampur aduk. Kerutan di kening Jessie semakin


tercetak dengan jelas.


“Tolong, Jess. Jangan kemari. Pergilah sejauh mungkin! Lewati


rute lain!”


“Ted?! Hei! Apa yang sedang terjadi di sana?!”


“GROAAAH!”


‘Tut!’


“Hei! Halo? Halo? Hein, Ted?! Halo!”


“Ada apa, Jess?” tanya Rein heran.


“Rein! Kita ... kita harus segera ke Central City,


sekarang!”


“Ba—baik.”


***


Terlihat begitu banyak mobil yang berlalu dengan


kecepatan penuh, bahkan kendaraan online yang dipesan oleh Jessie tidak mau


mengantar mereka lebih dekat ke sana.


“Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?”


“Aduh, Non. Bapak dengar sih, katanya ada monster


menyerupai naga yang tiba-tiba menyerang di daerah sana.”


“Naga?” ulang Rein.


“Iya, Tuan.”


“Ka—kalau begitu, di sini saja tak apa. Terima kasih,”


ucap Jessie seraya membayar bapak itu.


“Eh? Non! Nona mau ke sana?! Di sana berbahaya sekali!”


Jessie tak menghiraukannya dan langsung berlari turun.


“Te—terima kasih banyak, Pak. Kami permisi,” pamit Rein


***


“Jess! Jessie!” panggil Rein seraya menarik pergelangan


tangan Jessie.


“Rein! Kau dengar apa yang barusan dibilang oleh Bapak


itu, kan?”


“Jessie, tidak mungkin ada naga di sini, bahkan Gerold


sudah pernah memberikanku pelajaran tentang itu.”


“Aku tau. Tapi, bagaimana kalau seandainya itu memang


benar? Hein, Ted, mereka berdua terjebak di sana!”


“Tenang dulu, Jess, tenang. Kita akan mengecek ke sana,


oke? Aku mau kau berjanji padaku untuk tidak melepaskan tanganku, mengerti?”


Jessie mengangguk pelan.


“Baiklah, ayo, kita ke sana.”


***


Suasana di Central City kini sangat kacau, aspal di


jalanan banyak yang retak dan hancur. Beberapa mobil terhempas dan terbakar,


orang-orang berlarian dan berteriak ketakutan. Gedung-gedung mengalami


kerusakan, dinding retak, hingga kaca pecah berserakan. Yang paling mengagetkan


Rein dan Jessie adalah sesosok naga mayat hidup yang berterbangan di area gedung


pusat perbelanjaan paling besar di sana.


“Tidak mungkin ...” gumam Rein.


“Na—naga ... itu naga, kan?” tanya Jessie tak percaya.


Dari hadapan mereka, terlihat pasukan mayat hidup yang


mulai mengambil alih wilayah Central City itu.


“Apa itu?!” teriak Jessie kaget.


“Undead ... kenapa ada yang seperti ini juga di sini?”


gumam Rein.


“Rein ... bagaimana ini?” tanya Jessie mulai gemetaran.


“Kita harus pergi, Jess.”


“A—apa?! Tidak! Aku tidak bisa membiarkan makhluk-makhluk


itu memangsa kedua sahabatku!”


“Tapi, kita tidak bisa melakukan apa-apa di sini, pasukan


mereka lebih banyak!”


“Pasti ada ... pasti ada cara lainnya!”


“Jess ...”


“Tolong! Aku mohon, Rein! Aku tidak mau kehilangan mereka


berdua juga!” sela Jessie.


Rein menghela nafas pelan. “Baiklah. Tetaplah di


belakangku. Kita akan menerobos mereka dan masuk ke pusat perbelanjaan.”


“Terima kasih ... Rein.”


“Fokus dan tetaplah bersamaku, Jess.”


“Baik!”


***


Rein mulai mengayunkan pedangnya dan berusaha menerobos


pasukan mayat hidup itu. Jessie yang bersembunyi di belakangnya perlahan


menatap ke gedung pusat perbelanjaan.


“Tunggu aku, Hein, Ted.”


‘Traang!’


“Mereka ... juga bersenjata!” seru Rein tak percaya.


‘Sreet! Sreet!’


‘Jleb!’


“REIN!”


“Tak apa, ini hanya luka gores kecil, aku bisa


menanganinya. Tetaplah di belakangku. Kalau ada yang berusaha mendekatimu,


langsung bilang padaku, oke?”


“Baik! Berhati-hatilah!”


‘Traang!’


“Mereka ... tidak bisa mati,” gumam Rein saat mendapati


pasukan-pasukan yang baru saja dikalahkan olehnya bangkit kembali.


“GROAAH!” Naga mayat hidup itu kini berada tepat di


hadapan Rein.


“Kyaa!”


“Sial! Dia menyadarinya! Jessie! Kau bisa berlari secepat


mungkin?”


“Ke—kenapa?”


“Segera masuk ke dalam gedung itu dan carilah mereka!”


“Ta—tapi, bagaimana denganmu, Rein?!”


“Aku bisa menangani mereka, percaya padaku, Jess. Cepat dan


masuklah!”


“Berjanjilah kau akan selamat, Rein!”


“Aku janji. Pergilah!”


“Baik!” Jessie pun berlari secepat mungkin dan berusaha


menghindari setiap pasukan mayat hidup.


Setelah melihat Jessie masuk dengan selamat ke dalam


gedung pusat perbelanjaan, Rein kembali memfokuskan netranya ke naga mayat


hidup di hadapannya.


“Aku tidak tau kau berasal dari mana, tapi ... yang aku


tau, di sini bukanlah tempatmu! Hya!”


***


Jessie terus berlari seraya menekan-nekan ponselnya. “Ayolah,


Hein. Angkat.”


“Huaa! Mama!”


Jessie menghentikan langkahnya dan mendapati seorang


gadis kecil yang menangis tepat di bawah eskalator.


“Hei ... kemarilah, Gadis Manis.”


Gadis kecil itu menatapi Jessie, namun enggan menerima


uluran tangannya.


“Jangan khawatir, Kakak akan membantumu mencari mamamu,


oke? Kemarilah.”


Gadis kecil itu mengangguk pelan dan menerima uluran


tangan Jessie. Mereka pun segera bergegas menuju lantai 2.


Setelah beberapa menit berputar-putar, akhirnya Jessie


berhasil mengembalikan gadis kecil itu pada kedua orangtuanya yang berada di


lantai 4. Di sana, Jessie dapat melihat begitu banyak orang yang ketakutan dan


menangis.


“Permisi, Pak. Apakah semua pengunjung sudah berada di


sini?” tanya Jessie pada security yang berjaga di sana.


“Masih ada beberapa yang terjebak di atas, Dek. Ada juga


yang terjebak di dalam lift.”


“Oh ... begitu ya,” ucap Jessie seraya membuka ponselnya


kembali.


“Nomor yang


dituju sedang sibuk.”


“Hein, Ted, kalian ada di mana?” Jessie pun kembali bergegas menuju lantai berikutnya.


"Dek?! Adek mau ke mana?! Lebih baik menunggu di sini saja!" tegur security.


"Ah ... maaf, Pak. Tapi, kedua sahabat saya tidak ada di sini, saya harus segera menemukan mereka," jelas Jessie.


"Tapi, tetap saja berbahaya, Dek. Lebih baik Adek menunggu saja, anggota Bapak yang lainnya juga sedang mencari pengunjung lainnya. Semuanya juga pada akhirnya akan berkumpul di sini."


"Kalau begitu, saya akan membantu mencari."


Tak hanya security, beberapa pengunjung yang ada di sana pun sedikit kaget dengan pernyataan Jessie. Gadis kecil yang barusan dipertemukan dengan kedua orangtuanya mendekati Jessie.


"Kak ... Kakak," panggilnya seraya menarik-narik pelan pakaian Jessie.


Jessie pun berjongkok dan tersenyum lembut padanya. "Iya, Gadis Manis?"


"Terima ... kasih, terima kasih sudah membantu Michele."


"Tak masalah, Michele."


Gadis Kecil itu melepaskan kalung lucky clover yang dikenakannya dan memberikannya pada Jessie. "Semoga ... Kakak bisa bertemu dengan sahabat-sahabat Kakak."


Jessie menerima kalung itu dan mengusap pelan kepala gadis kecil di hadapannya itu. "Terima kasih, ya, Michele," ucap Jessie seraya tersenyum kecil.


Setelah mengenakan kalung itu, Jessie melambai pelan pada Michele. Sebelum melangkah terlalu jauh, Jessie bisa mendengar gadis kecil itu memanggilnya lagi.


"Hm?" sahut Jessie seraya berbalik.


"Siapa ... nama Kakak?"


"Jessie ..." jawab Jessie tanpa menghilangkan senyuman itu dari wajahnya, setelah itu Jessie pun bergegas dan mulai menjauh dari hadapan mereka semua.