
Jari-jemari Rein perlahan menyusuri setiap bingkai yang tersusun rapi di atas lemari kayu di dalam kamarnya. Di setiap bingkai, terdapat foto Jessie, baik dari Jessie yang masih kecil hingga yang sekarang.
“Ah ... ini kan, foto mereka? Jadi mereka sudah berteman sejak kecil? Seperti aku dan Selene, ya?” batin Rein tersenyum tipis menatapi sebuah bingkai yang menunjukkan foto Hein, Jessie, dan Ted kecil.
Rein meletakkan kembali bingkai itu dan beralih pada bingkai lainnya. “Apa ini ... kedua orangtuanya?” Rein meletakkan kembali bingkai itu pada posisi semula.
Tiba-tiba selembar foto yang ternyata terselip di belakang bingkai orangtua Jessie itu terbang keluar. Rein mengutip lembaran itu. “Kenapa yang ini tidak dibingkai juga? Eh?”
Di foto itu, Rein bisa melihat Jessie yang masih berusia belasan tahun dengan seorang anak laki-laki yang seusia dengannya atau mungkin lebih muda. Mereka tampak sangat akrab. “Apa ini juga teman dekat lainnya?”
Pintu kamar Rein tiba-tiba terbuka, Jessie langsung masuk dan menarik lembar foto itu secara paksa. Rein sontak terkejut. “M-maaf, aku ... tidak bermaksud-“
“Tak perlu!” potong Jessie sembari meletakkan foto itu kembali dan memandangi Rein. “Ehem. Bagaimana? Apa kau nyaman di kamar ini?”
“Yah. Kamar ini sangat nyaman.”
“Baguslah. Karena kalau kau bilang tidak, juga sudah tidak ada kamar lainnya! Haha ...”
Rein tersenyum kecil. Jessie berjalan melewati Rein dan membuka tirai yang menutupi jendela. “Kalau panas, kau bisa membuka jendelanya juga.”
Rein mengangguk pelan. “Baik.”
Jessie membuka jendela itu dan sedikit memajukan wajahnya. Merasakan angin sejuk di sore hari yang menampar lembut pipinya. “Kemarilah ....”
Rein mengikuti perintahnya dan sudah berdiri di sebelahnya. Rein bisa merasakan sensasi yang menyejukkan. Angin sore nan sejuk dan kencang itu bahkan hampir mengacak-acak rambut merah milik Rein.
Terdengar suara tawa pelan, Rein perlahan menatap wanita yang berdiri di sampingnya itu. Jessie kini tersenyum lembut padanya. Tangan wanita itu bahkan menyelipkan beberapa helai rambut Rein ditelinganya. “Enak, kan?”
Rein membalas senyuman wanita itu. “Iya.”
Jessie tertegun. Jari-jemarinya perlahan membelai pipi Rein. Tanpa disadari, tubuhnya bergerak maju dengan sendirinya. Jarak antara wajah mereka kini hanya beberapa centimeter.
‘Ting Tong!’
Jessie dan Rein spontan menjauhkan tubuh mereka masing-masing.
“A-aku akan membuka pintu!”
“Y-ya ...” Rein mengalihkan pandangannya keluar jendela, sementara Jessie sudah berlari keluar dari kamar Rein.
“A-ada apa ini? A-aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya ...” Rein memejamkan matanya. Semburat merah tipis mulai menghiasi wajahnya.
***
Jessie sudah berdiri di depan pintu apartemennya, namun tidak berniat sedikitpun untuk membukanya.
“A-a-apa yang kupikirkan!” batin Jessie. Perlahan, Jessie memegangi sebelah dadanya, merasakan jantungnya yang mulai berdegup kencang.
“AH! APA YANG TERJADI PADAKU!” teriak Jessie dalam hati.
Setelah mengatur pernafasannya, Jessie membuka pintu apartemennya. Sekuat mungkin, Jessie berusaha mempertahankan ekspresi juteknya.
“Apa?!” bentak Jessie langsung saat mendapati Hein dan Ted yang tengah berdiri di hadapannya.
“Yo, Jess! Bagaimana setengah harimu dengan ‘Pria Aneh’ ini?” tanya Hein menyeringai.
“Buruk!”
“S-sudahlah. Ini, Jess! Aku membawakan makanan untukmu dan Rein. Aku sudah menceritakannya pada kedua orangtuaku. Kau tau, ibuku panik setengah mati! Ibuku takut kalau Rein akan macam-macam padamu! Tapi, aku yakin, Rein tidak akan melakukan hal gila seperti itu! Jadi, aku berusaha menjelaskan semuanya pada ibuku!” cerita Ted bersemangat.
Jessie terdiam. Otaknya kembali memutarkan memori setengah menit barusan. “Ahh! Akulah yang sepertinya akan macam-macam padanya!” batin Jessie frustasi.
“Siapa yang tau? Rein kan seorang pria?” ledek Hein sembari menyipitkan kedua matanya pada Jessie.
Jessie menelan ludah. “A-aku juga tidak akan selengah itu!” ujar Jessie.
Wajah Jessie kini semerah buah tomat. Ted sampai bergidik ngeri. “J-jess? K-kau tak apa?” tanya Ted pelan, takut salah melontarkan pertanyaan.
“Ya! Mood ku sedang tidak baik!” seru Jessie yang sebenarnya sedang berusaha menahan rasa malunya.
“Ah ... apa karena Rein? Kalau iya, aku akan membawa Rein ke tempatku, ayahku bilang itu bukanlah ma-“
“Tidak!” potong Jessie, membuat Ted dan Hein sama-sama mengangkat sebelah alis mata mereka. “Bukan karena Rein, oke?! Dia cukup tenang dan tidak banyak berbicara ngasal untuk saat ini,” lanjut Jessie.
“Jadi? Kau tidak masalah kalau dia ada ditempatmu?” tanya Hein yang masih memegangi pipinya.
“Tidak.”
“Tumben?” ledek Hein yang mendapat langsung mendapat tatapan tajam dari Jessie.
Hein spontan mengangkat kedua tangannya. “Tapi, tak apa sih, Jess. Ayahku sebenarnya mau-mau saja menampung Rein di rumah,” ujar Ted.
“Tak usah, Ted. Aku bisa mengurusnya. Ehem. Maksudku, aku akan menyuruhnya membersihkan apartemenku saat aku sedang bekerja.”
“Oh ... jadi itu kenapa kau mau mempertahankannya? Hm ... boleh juga! Licik juga kau, Jess!” ucap Hein sembari tertawa pecah.
Jessie melipat kedua tangannya dan tersenyum bangga. “Jelas!”
“Ya sudah, kalau begitu kami pamit dulu. Titipkan salamku pada Rein! Sampai jumpa besok di sekolah!” ucap Ted.
“Baiklah. Akan kusampaikan. Bilangkan terima kasihku pada tante juga, ya!”
“Oke!”
“Dah!”
Jessie menutup pintu apartemennya, lalu beranjak menuju meja makan di dapur. “Tetap tenang, Jessie! Tetap tenang! Anggap saja tidak terjadi apa-apa barusan!” batin Jessie menyemangati dirinya setelah meletakkan bungkusan berisi makan malamnya itu.
***
Selama makan malam, baik keduanya tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Bahkan, setelah mereka selesai mencuci piring mereka masing-masing, tak ada yang berniat untuk membuka topik pembicaraan.
Di depan kamar Rein, Jessie menghentikan niatnya untuk mengetuk pintu kamarnya. “Kenapa jadi gerogi, sih?! Ketuk dan ucapkan selamat malam, Jessie! Tapi, aku tidak bisaa!” debat Jessie pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba pintu kamar Rein terbuka, ekspresi wajah Rein tampak sama kagetnya.
“A-ada apa?” tanya Rein.
“Ah ... aku ... eh, itu! Selimutnya ada di dalam lemari bagian atas!”
“Oh ... baiklah. Terima kasih, tapi di atas kasur memang sudah ada selimut,” ujar Rein tersenyum tipis.
“Oh! K-kalau begitu, selamat malam!” Jessie langsung bergegas ke kamarnya.
“M-malam ...” jawab Rein telat.
Di kamar Jessie, Jessie sudah menghempaskan dirinya di atas kasur dan menyelimuti dirinya.
“Malunyaa! Kenapa sih denganku hari ini! Sial sekali tampaknya!”
Jessie memeluk erat guling kesayangannya. Pikirannya kembali melayang ke momen tadi sore. “Kyaa! Pokoknya aku harus tidur! Lupakan semuanya, Jessie!”
***
Rein memandang keluar jendela, merasakan angin malam yang dingin. Perlahan Rein mengangkat wajahnya dan menatap ke langit. Matanya membulat besar.
“I-ini kan ... kenapa langit malam di sini juga terlihat begitu indah? Cahaya biru ... semuanya terlihat lebih jelas daripada di sana. Apa jangan-jangan ... inilah Planet Biru yang disebut-sebut oleh kaumku? Tempat cahaya biru itu berasal?”