
Di ruang bimbingan konseling,
“Ibu tidak tau harus memberikan arahan, masukan dan pelajaran apa lagi pada kamu, Nak. Kamu selalu saja ... tidak, bahkan hampir setiap harinya membuat onar!” seru Bu Guru BK.
Jessie terdiam. Enggan berkontak mata dengan Bu Guru BK yang duduk dihadapannya itu.
“Kamu kan udah mau lulus. Kenapa sih ga mencari kegiatan positif lainnya aja? Belajar bareng mungkin, kalau jenuh kamu boleh mengembangkan bakat kamu di bidang ekstrakuliker ataupun grup-grup seni baik musik, gambar, menari, bukankah itu lebih bagus daripada mencari gara-gara dengan anak orang?”
Jessie masih terdiam. Namun, tangannya mulai memainkan pena-pena yang tersusun rapi dalam kaleng kreatif itu.
“Kamu dengar omongan Ibu ga sih, Jess?” tanya Bu Guru BK yang keningnya mulai berkerut.
“Dengar ....”
“Ya sudah! Kamu tentuin sendiri, mana yang bagus untuk kamu. Ibu rasa kalaupun Ibu ngomong lebih panjang lebar lagi, kamu juga ga bakal respon apa-apa, iya, kan?”
Jessie sedikit memanyunkan bibirnya.
“Itu kenapa bibirnya dimonyong-monyongin gitu? Ga suka dinasehatin sama Ibu?!”
“E-enggak, enggak kok. Jessie kan ga bilang kayak gitu, Ibu ....”
“Ibu tau apa yang kamu hadapi, Jess. Lebih daripada semua guru yang ada disini. Itulah kenapa Ibu masih memaklumi kamu. Tapi, kamu ga bisa bikin itu sebagai alasan untuk menindas adik-adik kelas kamu. Oke, mungkin karena mereka teman sekelasnya. Tapi, bagaimana pendapat siswa-siswi lainnya pada kamu? Bagaimana pandangan mereka terhadap kamu?”
Jessie mengepalkan kedua tangannya. Kepalanya perlahan menunduk.
“Lihat Ibu, Jess. Ibu tau hidup kamu pasti berat sekali. Tapi, kamu harus ingat. Kita ini makhluk sosial, kamu suatu hari nanti pasti butuh orang lain dan orang lain juga nantinya bakal butuh kamu. Kalau pandangan mereka ke kamu saja sudah buruk. Bagaimana mereka mau memperdulikan kamu?”
“Aku sudah punya orang-orang yang lebih peduli padaku dibandingkan mereka. Mereka tidak lebih dari sampah masyarakat.”
“Jess! Ayo dong! Kamu ga bisa berpikir seperti itu! Kamu harus lebih dewasa, Nak! Rubah pola pikir kamu! Tidak semua manusia itu bisa kamu sama ratakan.”
Jessie memutar bola matanya. “Terserah, Ibu. Aku tetap pada pandanganku sendiri.”
Bu Guru menghela nafas pasrah. “Yaudah kalau itu keputusan kamu. Mau tak mau Ibu akhirnya harus mengeluarkan surat skorsing untuk kamu selama seminggu. Kamu harus belajar memperbaiki sikap kamu dulu di rumah. Anak-anak mungkin masih takut kalau melihatmu bergentayangan di area sekolah,” timpal Bu Guru seraya menuliskan sesuatu pada selembar kertas.
***
Hein memaju-mundurkan jari telunjuknya pada Kayla, memberi kode agar wajahnya sedikit lebih maju padanya. Kayla mengangguk dan mendekatkan wajahnya, begitu juga dengan Hein.
“Kau kenapa tiba-tiba kepo dengan urusan Jessie, hah?” tanya Hein datar.
Kayla spontan memundurkan wajahnya. “Hein! Cepatlah! Sebagai ketua kelas! Aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi pada anggota-anggota dalam kelasku! Kalau memang rumor tentang Jessie itu selama ini hanya hoaks. Aku benar-benar sudah gagal menjadi seorang ketua kelas!” jelasnya.
“Wow. Kau benar-benar ketua kelas yang pengertian,” puji Ted sembari menepuk-nepuk tangannya.
“Norak seperti biasanya,” timpal Hein.
Kayla yang baru saja menebar pesona dengan mengibas pelan rambutnya, langsung menggeram kesal.
“Heiin!”
“Baiklah, baiklah. Begini ceritanya ....”
Ted dan Kayla mulai memasang wajah serius. “Tapi, aku sarankan kau buka kupingmu dengan lebar dan dengarkan semua perkataanku dengan baik, ya!” perintah Hein, membuat Kayla langsung terjatuh dari bangkunya.
“Apa-apaan?! Langsung saja ke inti permasalahannya!” teriak Kayla yang sudah bangkit berdiri.
“Ya, aku hanya mau berjaga-jaga sih. Yang namanya gosipkan awalnya datang karena salah mendapatkan informasi. Aku juga takutnya nanti telingamu salah menangkap kalimatku,” balas Hein santai.
“Cepatlah! Langsung ke intinya!” seru Kayla kesal.
Pintu kelas mereka terbuka, terlihat Jessie yang berjalan masuk dan menghampiri mereka.
“Jess!” panggil Hein.
“Grr ... Heiin!” teriak Kayla.
“Jess, apa yang terjadi?” tanya Ted yang sudah bangkit dari bangkunya.
Jessie menepuk pelan pundak Ted. “Aku diskors seminggu. Sial, wanita itu pandai juga memainkan perannya,” gerutu Jessie, lalu menatap Kayla dengan heran.
“Apa?” tanya Kayla yang sama herannya.
“Kau ngapain di bangkuku?” tanya Jessie datar.
“Eh? Oh! N-nah, duduklah,” ucap Kayla seraya menepi dari bangkunya.
Jessie menghela nafas pelan. “Tak usah, aku cuma mau ngambil tas doang. Duduklah,” ucap Jessie setelah mengambil tasnya.
“Tapi, sebentar lagi kita akan ujian. Kalau kau diskors, darimana kau bisa mendapat materi pembelajarannya?” tanya Kayla.
Jessie menaikkan sebelah alis matanya. “Sejak kapan kau jadi peduli seperti ini, Bawel?”
Kayla menggembungkan pipinya. “Memangnya tidak boleh? Aku kan ketua kelas!”
“Ya, ya, ya. Lagian, sejak kapan aku belajar.”
Hein langsung bangkit berdiri dan mengangkat sebelah telapak tangannya pada Jessie. Jessie pun membalas dengan menepukkan sebelah telapak tangannya pada Hein.
Kayla menepuk jidatnya dan menggeleng-geleng pelan. “Seriously, guys? Aku tidak bercanda.”
“Kami juga~” balas Hein bangga.
“Maaf kalau mereka memancingmu lagi,” ucap Ted tersenyum kecil.
“Tak apa, ini bukan sekali dua kalinya mereka memancing amarahku.”
Jessie menyeringai. “Ya sudah, kalau begitu aku akan pulang, selamat bersenang-senang dengan teori pelajarannya, brothers!” pamit Jessie seraya meninggalkan kelas.
“Anak itu ...” gerutu Kayla. Tiba-tiba, Kayla langsung menyodorkan jari telunjuknya pada Hein. “Kau! Kau masih berhutang cerita padaku!” omelnya.
“Baik, baik. Duduk dulu dengan tenang,” jawab Hein santai seraya kembali duduk di bangkunya.
Kini mereka berdua sudah duduk sesuai dengan instruksi Hein. Hein kembali memajukan wajahnya, menggunakan jari-jemari dari kedua tangannya sebagai tumpuan dagunya. Dengan tatapan tajam, Hein kembali memulai ceritanya.
“Baiklah. Sebelum memulai, aku akan memberitahukan instruksi penting lainnya-“
“Heiin! Bicara seperti itu lagi, aku akan langsung menghajarmu!” seru Kayla geram.
“Haha! Baik-baik! Jadi, begini. Waktu kecil itu, Jessie-“
“Anak-anak! Cepat kembali ke bangkunya masing-masing. Jam istirahat sudah selesai,” ucap Bu Guru yang sudah berada di depan.
“Ahh!” teriak Kayla histeris, setelah mendengar tawa laknat dari si pencerita, Hein.
Ted menggeleng pelan. “Kau suka sekali mengganggunya, ya?”
“Biarin. Anggap saja balasan karena sudah menyebut kita ini orang tidak berguna sebelumnya,” jawab Hein sembari menyeringai puas.