
Sesuatu itu mulai mengerumuni Jessie. Jessie tak bisa
menemukan celah untuk keluar. Tubuhnya mulai gemetaran, ia tak berhenti
memandangi sesuatu yang kini berjarak beberapa centimeter dihadapannya.
“Groaaa ....”
Jessie menggeleng, air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
“Tidak, ini tidak mungkin. Yang seperti ini ... hanya ada difilm-film! Mungkin,
mungkin aku sedang terjebak diantara para pemain. Mungkin ... aku sudah
mengganggu syuting mereka.” Jessie melihat tangan sesuatu itu mulai mendekat
pada wajahnya, sembari memejamkan matanya.
‘SRING!’
Jessie merasa seperti disiram oleh sesuatu ... sesuatu
yang bau amis dan pekat. Perlahan, Jessie membuka matanya dan mendapati darah
segar disekujur tubuhnya.
“AHH!” teriak Jessie histeris.
“Jess!” Rein langsung menarik tubuh wanita itu ke dalam
dekapannya.
“Rein ...? Rein!”
“Apa yang kau lakukan?! Aku kan sudah menyuruhmu menunggu
di dalam!”
“Apa yang terjadi?! Siapa ... siapa mereka?” Jessie
memutar pandangannya ke sekeliling dan mendapati tubuh sesuatu itu tergeletak
di mana-mana dengan darah pekat yang berceceran dari tubuh mereka.
“Aku juga tidak tau. Tapi, yang pastinya, mereka mirip
dengan ras kalian, namun lebih berbahaya. Kita harus segera kembali, aku sudah
membersihkan beberapa area jalan keluar.”
Jessie mengangguk dan menggenggam erat tangan Rein.
Mereka berdua pun bergegas keluar dari ruangan itu. Ternyata, di depan ruangan
sudah ada beberapa makhluk yang sama seperti di dalam ruangan sedang menunggu
mereka.
“Ini tidak akan mudah. Jess, tetaplah di belakangku,” perintah
Rein.
Jessie mengangguk dan segera bersembunyi di belakang
Rein. Saat makhluk itu mulai bergerak maju, Rein dengan cepat menggores
tubuh-tubuh makhluk itu dengan pedangnya.
Jessie tertegun. Ia masih tak percaya akan apa yang
barusan dilihat olehnya. Semua ini benar-benar nyata ... seperti waktu itu.
Seharusnya, seharusnya Rein datang lebih awal.
“Jess? Jess? Kau tak apa?” Rein terlihat khawatir saat
Jessie tak menjawab panggilannya.
Jessie tersentak. “Ah ... aku, aku tak apa.”
Rein tersenyum lega. “Baguslah.”
Jessie baru saja berniat untuk membalas senyuman pria
itu. “Rein, awas! Belakangmu!” serunya.
Rein spontan berbalik dan makhluk itu langsung
menancapkan tiang besi tepat di bahu kiri Rein.
“Rein!”
‘SRING!’
Makhluk itu terbelah menjadi dua. Rein menyimpan kembali
pedangnya dan perlahan mencabut tiang besi yang tertancap di bahunya.
‘TANG!’
“Kau, kau terluka, Rein!” seru Jessie seraya menutupi
luka yang ada di bahu Rein dengan tangannya.
“Tak apa, tenang saja.”
“Bagaimana aku bisa tenang! Darahnya tak mau berhenti
mengalir! Kau bisa mati kehabisan darah!” seru Jessie, tanpa sadar air matanya
ikut mengalir membanjiri pipinya. Ini sudah kedua kalinya ia menangis dihadapan
pria ini.
“Jess ....”
“Kalian selalu menyuruhku untuk tenang, tenang, dan
tenang! Kalau sudah seperti ini! Aku mana mungkin bisa tenang! Aku, aku harus
bagaimana ...” Jessie terus menekan luka di bagian bahu Rein, ia sudah tak
peduli lagi kalau pria ini melihat air matanya mengalir dengan deras.
Rein perlahan membuka sarung tangan hitam yang
dikenakannya. Setelah itu, ia mulai mengusap lembut kedua mata wanita
dihadapannya itu.
“Untuk apa kau menangis? Aku kan sudah bilang ... tenang
saja.”
Kedua mata Jessie membulat kaget. Luka di bahu Rein kini
tertutup sempurna, tidak ada bekas luka dan sedikitpun. “B-bagaimana mungkin?”
“Aku sudah pernah bilangkan padamu? Kalau hanya luka
kecil, aku masih bisa menyembuhkannya dengan kemampuan regenerasiku.”
“H-hah?” Jessie masih tak percaya, ia bahkan kembali
menekan bahu Rein yang seharusnya terluka. Namun, sekarang, bahu itu terlihat
sangat mulus. Jessie tak berhenti mengerjapkan matanya.
“T-tapi, b-bagaimana bisa? K-kau, kau kan manusia seperti
kami? Aku, aku saja tidak bisa melakukan hal seperti itu. I-ini, luka di jari
telunjukku saja masih belum tertutup, t-tapi-”
Rein membawa Jessie kembali ke dalam pelukannya, perlahan
ia mengelus lembut rambut wanita itu, berusaha untuk menenangkannya.
“Percaya atau tidak, aku memang bukan dari planet ini,
Jess. Aku tidak pernah berbohong padamu sejak awal. Aku bukan dari ras manusia
seperti kalian.”
Jessie meremas erat pakaian Rein. “Jangan khawatir, aku
akan melindungimu,” ucap Rein pelan.
Jessie terkejut akan perkataan Rein barusan, akhirnya ia
sudah tak bisa membendung air matanya lagi. Di detik berikutnya, tangisan
Jessie pun mulai pecah. Rein sedikit kaget, namun, ia perlahan tersenyum lembut
dan kembali mengelus pelan rambut wanita itu.
“Seharusnya, seharusnya kau datang lebih awal ... Rein!
Huaa!”
***
‘Tok, tok, tok!’
‘Tok, tok, tok!’
“S-siapa?”
“Ini aku, Rein.”
“Rein! Apa kau bertemu dengan Jessie?! Dia tadi keluar
untuk mencarimu!” teriak Ted dari balik pintu.
“Tenang saja, Jessie bersamaku.”
Pintu kamar itu terbuka, Ted terlihat lega saat mendapati
dua orang itu dihadapannya.
“T-tunggu dulu, kenapa dengan pakaianmu, Jess?!” seru Ted
kaget saat menyadari perubahan warna pada pakaian yang dikenakan Jessie.
Jessie tak menjawab. Ia perlahan menarik pelan pakaian
Rein. “Aku akan menjelaskannya setelah kita keluar, yang terpenting sekarang
kita harus bergegas, keadaan disini sudah lumayan aman.”
“Oh, aku mengerti! Aku akan membopong Hein!” Ted pun
kembali masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian, mereka berempat berhasil keluar
dari rumah sakit itu. Sirine mobil polisi mulai terdengar dan rumah sakit itu
mulai ditutupi oleh garis pembatas polisi.
Mereka berempat memandangi gedung rumah sakit itu dari
seberang jalan. Beberapa orang mulai menatapi mereka dengan tatapan aneh. Ted
yang menyadari hal itu perlahan berdehem.
“Aku rasa, kita harus segera menjauh dari sini.”
Ketiga orang itu memandanginya dengan tatapan heran.
“Apa kalian tidak sadar kalau beberapa orang yang baru
berlalu lalang sedari tadi menatapi kalian berdua? Aku tidak akan heran kalau
mereka merasa aneh pada Rein, tapi kalau denganmu, Jess. Pakaianmu benar-benar
terlihat kacau sekali. Kau seperti baru habis syuting film zombie,” jelas Ted
yang langsung mendapat tawa pecah dari Hein.
“Aku baru mau mengatakan hal itu,” timpal Hein.
“Pangeran?”
Rein mengalihkan pandangannya dan mendapati Gerold yang
berada di dalam mobilnya di depan mereka.
“Gerold!”
“Apa yang kau lakukan disini?”
“Ceritanya sangat panjang, maaf merepotkanmu lagi, apa
boleh kau membiarkan kami menumpang?”
“Oh, silahkan masuk kalau begitu.”
“Terima kasih! Ayo, semuanya, masuklah ke dalam!”
Ketiga orang itu hanya mengangguk pelan dan mulai menaiki
mobil van hitam itu.