Vegas Online

Vegas Online
Ch 9 - Sebuah Cara



Robert tertawa puas saat ia meninggalkan Aslan yang telah dimanfaatkan olehnya, Robert tersenyum senang lalu ia menambahkan kecepatan terbangnya karena sudah tidak sabar untuk mengambil Dragon Rose.


"Sebentar lagi...hanya tinggal sebentar lagi aku akan menjadi ksatria terkuat di Benua Tagran."


Robert tersenyum senang hingga akhirnya ia sampai di Vaughan Hill. Vaughan Hill tidak berbeda jauh dari bukit yang lainnya, hanya saja ada sebuah aura menyeramkan yang menyelimuti bukit tersebut.


Tubuh Robert sedikit bergetar saat merasakan aura tersebut, ia menelan ludahnya lalu berjalan perlahan sambil mencari Dragon Rose.


Robert merasakan sebuah aura yang lebih menakutkan daripada aura tadi mengarah pada suatu tempat, ia pun segera pergi ke sumber aura tersebut.


Hingga akhirnya Robert menemukan sebuah pohon raksasa yang memiliki duri besar dan mengeluarkan aura yang begitu menakutkan bahkan Robert sampai berkeringat dingin saat merasakan aura tersebut.


"Pohon ini..." Robert menatap pohon raksasa tersebut.


"Tidak salah lagi jika dipuncak pohon ini terdapat Dragon Rose, tapi bagaimana caranya aku untuk pergi keatas sana?" Robert mengelus dagunya sambil melirik kesekitar, berharap ia akan menemukan sesuatu untuk memanjat pohon tersebut.


Robert terus mencari cara untuk memanjat namun setelah beberapa menit mencari cara, ia tetap tak menemukan caranya juga.


"Sepertinya aku memang harus memanjat dengan cara biasa."


Robert melompat ke salah satu duri pohon tersebut lalu ia melompat lagi ke duri yang lebih tinggi, ia mengulangi hal tersebut sampai ia sudah sampai ditengah-tengah pohon tersebut.


Robert sudah sangat kelelahan karena terus melompat ditambah dengan aura yang semakin kuat.


Hanya tinggal beberapa langkah lagi Robert sudah sampai awan, ia menggelengkan kepalanya karena pohon tersebut sangat tinggi.


"Jika dipikir-pikir lagi, pohon ini seperti pohon mawar raksasa."


Robert pun segera melompat lagi, beberapa menit berlalu akhirnya ia sudah hampir sampai di puncak pohon. Ia dapat melihat sebuah bunga berwarna merah raksasa dipuncak.


"Ternyata benar, ini adalah pohon mawar raksasa. Kalau begitu bunga itu adalah Dragon Rose, tapi bagaimana caraku untuk mengambilnya?"


Robert berpikir jika ia harus pergi ke ke bunga tersebut untuk mengetahui caranya, setelah sampai dibunga raksasa tersebut Robert melihat seekor kera yang cukup besar sedang duduk sambil menutup mata disana.


Robert mendekati kera tersebut dan saat ia sudah berjarak beberapa meter lagi kera tersebut membuka matanya, mata kera tersebut berwarna merah darah yang dapat membuat siapa saja yang melihatnya menjadi ketakutan.


"Gyahahaha, setelah sekian lama akhirnya ada seorang manusia juga yang datang kemari. Bersiaplah untuk menjadi santapanku." Kera tersebut melesat kearah Robert.


Robert segera mengambil pedangnya lalu memasang kuda-kuda untuk bersiap menyerang kera tersebut.


Saat mereka berdua hendak bertarung, tiba-tiba ada seseorang yang turun dari langit sambil berteriak.


***


Seketika amarah Aslan memuncak saat melihat kepergian Robert, ia berdecak kesal lalu segera mencari cara lain untuk pergi ke Vaughan Hill.


Aslan mengacak rambutnya saat ia tak menemukan cara juga namun tiba-tiba ia mendengar suara ledakan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Aslan pun segera pergi ke tempat tersebut, saat berada ditempat tersebut Aslan melihat seorang wanita yang sedang memegang sebuah bazooka.


"Artemis?"


Artemis menoleh dan ia melihat Aslan, ia menghela nafas lalu ia mendekati Aslan.


"Mengapa kau bisa berada disini?" Artemis bertanya dengan nada ketus.


Aslan sedikit kebingungan dengan sikap Artemis namun ia tidak memperdulikan hal tersebut, ia pun segera menceritakan pada Artemis alasannya berada ditempat tersebut.


"Setahuku, untuk pergi kesana kau harus mendapatkan sebuah sepatu terbang yang terdapat dibawah bukit tersebut."


"Aku sudah mendapatkannya namun seseorang mencuri sepatu tersebut dariku."


Artemis melebarkan matanya saat tahu Aslan sudah mengambil sepatu tersebut, Artemis terkejut karena ia sudah pernah melawan penjaga sepatu tersebut yang tak lain adalah Rain dan hasilnya ia kalah telak.


Artemis sangat kebingungan dan banyak pertanyaan dibenaknya namun ia segera membuang pikiran tersebut jauh-jauh.


"Aku sedang memikirkan cara untuk pergi kesana karena aku memiliki sebuah misi untuk mengambil sebuah bunga disana."


"Hei, kau tidak sedang berpikir kotor 'kan?" Artemis mundur beberapa langkah.


"Cih, aku tidak berpikiran seperti itu. Aku menemukan sebuah ide untuk pergi kesana dengan bantuanmu."


"Dengan bantuanku?" Artemis menunjuk dirinya sendiri.


Aslan pun mengangguk lalu ia menarik tangan Artemis, Artemis yang ditarik tangannya menjadi merona, ia pun segera memalingkan wajahnya.


Aslan mengajak Artemis untuk pergi ke tempat yang pernah ingin dijadikan sebagai tempat Aslan untuk terbang.


"Aku ingin pergi kesana dengan cara kau menembakan sebuah peluru meriam padaku dan aku akan melesat kesana dengan bantuan peluru tersebut."


"Tapi artinya kau akan terkena damage juga dan perlu kau tahu satu peluru meriamku berdamage 5000."


"Saat kau menembak, aku akan meminum potion terus menerus agar tidak mati."


"Tapi Aslan, secara hukum fisika kau tidak bisa pergi kesana karena jarak yang terlalu tinggi."


Aslan menatap Artemis lalu ia menepuk bahu Artemis dan berkata, "Aku membenci fisika dan perlu kau ketahui aku selalu mendapatkan nilai nol saat ujian fisika." Aslan menunduk sendu membuat Artemis menjadi merasa bersalah.


"Di dunia ini tidak ada yang mustahil jika kita mencobanya bersungguh-sungguh, aku tidak peduli dengan hukum fisika atau hukum-hukum lainnya, yang aku pedulikan saat ini adalah pergi kesana."


Artemis mangangguk lalu ia merubah senjatanya menjadi sebuah meriam. Aslan bersiap dengan meminun potion sebanyak-banyaknya lalu Aslan pun melompat dan Artemis segera menembak Aslan.


Aslan pun segera terpental dan HPnya pun seketika turun drastis, segera saja Aslan meminum potion lagi sebanyak-banyaknya agar ia tidak mati.


Artemis menghela nafas saat melihat Aslan yang telah melesat, "Kau memang membenci fisika tapi kau sangat mencintai matematika, Rudi." Artemis tersenyum lalu ia meninggalkan tempat tersebut.


Aslan hanya tinggal 200 meter lagi namun tiba-tiba kecepatan melesat Aslan menurun, Aslan berdecak kesal ia segera berpikir untuk menaikan kecepatannya lagi namun tiba-tiba ada sebuah cahaya putih muncul didepan Aslan.


Sesosok pria tua muncul dari cahaya tersebut, pria tua tersebut adalah Rain, orang yang pernah memberikan Aslan Flying Boots.


"Kukira aku sudah dapat pergi dengan tenang, tapi sepertinya ada seseorang yang sangat ceroboh disini."


Aslan berdecak kesal, "Untuk apa kau datang disaat aku sedang seperti ini?"


"Aku akan membantumu untuk pergi kesana karena aku khawatir jika bunga tersebut jatuh ke tangan yang salah maka akan terjadi kekacauan di dunia ini."


Sebelum Aslan membuka mulutmya, Rain segera menendang bokong Aslan dan membuat Aslan melesat dengan sangat cepat ke arah Vaughan Hill.


"Semoga selamat sampai tujuan." Setelah itu tubuh Rain bercahaya dan ia pun menghilang.


Aslan berteriak sekencangnya hingga ia mendarat disebuah bunga raksasa, ia mengelus bokongnya yang telah ditendang tadi.


Aslan melirik kesekitar dan terkejut saat melihat Robert dan seekor kera besar bermata merah.


Aslan dapat melihat bahwa mereka berdua sedang ingin bertarung, ia pun segera pergi ke tempat mereka berdua.


"Kau jangan menyerangnya! Biarkan aku saja, karena aku memiliki sebuah dendam padanya." Aslan menunjuk pada kera tersebut.


Mendegar perkataan Aslan membuat Robert menjadi geram, ia pun segera melesat ke arah Aslan.


Aslan pun tak tinggal diam, ia juga mengambil pedangnya dan melesat ke arah Robert. Aslan menangangkat pedangnya pada Robert namun sebelum pedang tersebut mengenai Robert sebuah tombak menancap tepat pada jantung Robert, Robert pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Aslan menatap tajam kera tersebut, "Sudah kubilang agar aku saja yang membunuhnya!"


---


**Halo semua


Saya mau ngasih tau bahwa VeO akan update setiap hari jika itu gak ada halangan sih.


Udah itu aja sih, oh ya ditunggu like, vote, comment dan favoritenya.


Sekian, Terima kasih**.