
Gedung yang dipakai untuk markas Guild Death Fire memiliki empat tingkat, di lantai yang paling dasar adalah lobby dan sekaligus tempat untuk mengambil misi guild.
Lantai dua dari gedung tersebut adalah sebuah tempat beristirahat para anggota setelah menyelesaikan misi, tempat tersebut juga terdapat berbagai hiburan yang menarik untuk melepas penat.
Kemudian adalah lantai tiga, lantai tiga digunakan untuk rapat para anggota guild atau rapat para petinggi guild.
Yang terakhir adalah lantai empat, lantai empat ini tidak berisi apa-apa hanya terdapat ruangan ketua dan wakil ketua guild.
Aslan telah berkeliling gedung tersebut bersama Kurt, ia cukup terpukau karena keindahan interior gedung tersebut.
Kini Aslan dan Kurt telah berada di lantai empat yang hanya berisikan sebuah ruangan. Aslan cukup tertarik dengan ruangan tersebut dan ingin memasukinya.
Langsung saja Kurt menahan Aslan untuk masuk karena itu adalah tindakan yang kurang sopan walaupun Ryan tidak pernah melarang siapa saja untuk masuk.
"Aku sangat penasaran dengan ruangan itu mungkin lebih baik aku meminta izin pada Ryan terlebih dahulu."
"Kau tidak bisa melakukan itu, karena ruangan itu bukan hanya milik ketua, tetapi milik wakil ketua juga."
Aslan mengerutkan dahinya dan ia mengangguk saat melihat bahwa di lantai tersebut hanya ada satu ruangan saja.
"Tunggu, wakil ketua kita berjenis kelamin apa?"
"Wakil ketua berjenis kelamin perempuan."
Aslan melebarkan matanya, "Bukankah itu sedikit...." Perkataan Aslan segera terpotong oleh ucapan Kurt.
"Benar, kami pernah berpikir bahwa ketua dan wakil ketua memiliki suatu hubungan karena mereka sangat dekat, namun itu semua terbantahkan saat ketua menyampaikan bahwa dirinya akan segera menikah dan ternyata bukan wakil ketualah calon istrinya."
Aslan mengerutkan dahi, "Apa mereka berdua saudara?" Kurt hanya mengangkat kedua bahunya.
Mereka pun memilih untuk pergi ke lantai dua karena di sana akan diadakan sebuah pesta penyambutan untuk Aslan, sebenarnya Aslan menolak acara penyambutan dirinya, namun Ryan tetap memaksa dirinya membuat Aslan harus menerimanya.
Sepanjang perjalanan turun, Kurt menceritakan Aslan tentang guild mereka. Kurt mengatakan bahwa Guild Death Fire berada di posisi kedua di Kekaisaran Chirin, namun mereka berada di posisi ketujuh belas di benua Tagran.
Sebuah pertanyaan muncul di benak Aslan tentang guild yang menduduki posisi pertama di Kekaisaran Chirin. Saat Aslan bertanya hal tersebut raut wajah Kurt berubah menjadi sedikit geram.
"Guild itu bernama Black Demon dan ketua guild mereka bernama Hirens."
Mendengar hal tersebut Aslan sedikit terkejut, ia tak menyangka bahwa Hirens adalah ketua dari guild nomor satu di Kekaisaran Chirin.
Melihat reaksi Aslan, Kurt sangat yakin bahwa Aslan sudah mengenal Hireafns. Kurt pun meminta Aslan, namun hal tersebut segera ditolak oleh Aslan.
"Kenapa aku harus menjauhinya? Menurutku Hirens adalah orang baik, jadi untuk apa aku menjauhinya?"
"Kau harus tahu bahwa Hirens adalah orang paling brengsek yang pernah aku temui. Hirens memengaruhi orang yang menurutnya memiliki kebencian untuk bertambah masuk ke dalam lubang kebencian."
Aslan melebarkan matanya saat mendengar hal tersebut, ia sangat tidak percaya dengan ucapan Kurt, namun instingnya mengatakan bahwa Kurt berkata jujur.
Melihat keraguan Aslan, Kurt hanya bisa menghela napas panjang, "Kau mungkin tidak percaya, tetapi suatu saat nanti kau akan melihat yang kebusukan orang itu."
Aslan mengangguk dan pada saat yang bersamaan mereka sudah sampai di lantai dua, di sana sudah ramai para player yang menjadi anggota Guild Death Fire.
Di sana juga sudah ada sebuah panggung yang tidak terlalu besar dan di atas panggung tersebut sudah ada seseorang yang sedang bersiap untuk membawakan acara.
Tak lama kemudian acara pun di mulai, sang pembawa acara meminta Aslan untuk naik ke panggung untuk memperkenalkan dirinya.
Dengan sedikit gugup Aslan memperkenalkan dirinya sendiri, ia sedikit takut karena dahulu setelah ia memperkenalkan dirinya, ia akan ditertawai dan dihina.
Pikiran Aslan salah besar karena orang-orang yang berada di sana bersorak dan menyambut Aslan dengan penuh suka cita.
Perasaan hangat menyelimuti dirinya, rasanya ia ingin meneteskan air mata bahagia, sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan tersebut.
Aslan tersenyum lalu ia turun, segera saja para anggota guild mengerumuninya untuk berkenalan dengan Aslan. Aslan tersenyum dan menanggapi mereka semua dengan senang.
Setelah selesai melakukan hal tersebut, Aslan melirik ke sekitar untuk mencari Kurt dan ia menemukan Kurt berada di pojokan sedang bersama Ryan.
"Astaga, apa jangan-jangan mereka berdua...."
Aslan segera menggelengkan kepalanya, i tak ingin berpikir negatif tentang kedua orang tersebut.
Aslan pun segera menghampiri mereka berdua.
"Sekarang kau sudah resmi menjadi bagian dari kami, Aslan." Ryan menepuk bahu Aslan.
Aslan pun ikut tersenyum namun tiba-tiba Aslan merasakan seseorang melesat ke arahnya, ia pun berbalik namun tidak ada siapa pun yang sedang melesat ke arahnya.
Aslan berbalik lagi dan alangkah terkejut ia saat di depannya sudah ada seorang wanita dengan dua buah katana di pinggangnya.
Wanita tersebut memperhatikan Aslan dari atas sampai bawah, lalu ia menatap mata Aslan membuat Aslan sedikit salah tingkah.
Wanita tersebut tersenyum lalu mencubit pipi Aslan, "Kau sangat pintar memilih, Ryan. Anggota baru kita ini sangat tampan bahkan aku langsung terpesona olehnya."
Wanita tersebut melepaskan cubitan di pipi Aslan, "Namamu Aslan bukan? Perkenalkan namaku Viona, wakil ketua dari Guild Death Fire."
Aslan terkejut lalu ia menunduk hormat pada Viona, Viona segera meminta Aslan untuk bersikap biasa saja padanya dan tiba-tiba pandangan semua anggota terarah pada Viona lalu mereka menunduk hormat pada Viona.
Viona menggembungkan pipinya, "Sudah kukatakan pada kalian untuk tidak terlalu formal saat ada diriku?"
Semua orang mengangguk lalu mereka melanjutkan acara penyambutan Aslan hingga saat Kurt diminta untuk naik ke atas panggung.
Aslan sedikit bingung, "Mengapa Kurt naik ke atas panggung?"
Mendengar ucapan Aslan, Viona segera menjawabnya, "Kurt akan menampilkan ke ahliannya."
Aslan ingin bertanya lagi karena belum mengerti, namun sebuah suara merdu terdengar. Aslan segera melirik ke atas panggung dan ternyata Kurt sedang bernyanyi sambil bermain gitar.
Semua orang terhanyut dengan lagu yang dibawakan oleh Kurt, mereka semua tersenyum senang. Setelah Kurt bernyanyi, acara penyambutan Aslan pun berakhir.
***
Alexa sedang berada di Kekaisaran Triksa, tepatnya ia sedang berada di dalam sebuah istana yang berbeda pada umumnya.
Di hadapan Alexa ada seorang goblin berbadan besar dengan sebuah mahkota di kepalanya.
"Setelah sekian lama tidak bertemu ternyata kau sudah menjadi Goblin King, Hugo."
Hugo menatap tajam Alexa, ia sedikit kesal dengan wanita tersebut karena datang secara tiba-tiba.
"Untuk apa kau kemari? Aku tidak ingin berurusan dengan salah satu pemilik kekuatan Peace Knight."
"Santai sedikitlah Hugo! Aku kesini hanya ingin memberitahumu bahwa sudah ada orang yang terpilih dan apa kau masih ingat dengan tugasmu?"
"Tenang saja aku masih ingat dengan tugasku."
Alexa menatap Hugo dengan tatapan tak percaya membuat Hugo semakin geram. Melihat Hugo yang sedikit geram membuat Alexa tertawa kecil.
"Aku ini memang seorang goblin, tapi sebagai satu dari delapan belas pembimbing orang terpilih, aku akan menyelesaikan tugasku. Aku telah berjanji pada beliau dan janjiku tidak akan pernah kulanggar."
"Hahaha, aku percaya padamu, tapi masih ada satu hal yang ingin aku tanyakan, yaitu tentang aliansi kegelapan."
Hugo menaikkan alisnya saat mendengar hal tersebut, "Mereka sempat mengajakku bergabung juga, namun aku menolaknya karena mereka ingin menguasai dunia ini."
"Apa kau memiliki informasi tentang mereka?"
"Cih, mengapa kau tidak menanyakan pada Thomas saja? Sejauh yang kutahu hanya Thomaslah yang bisa memberikan informasi yang sangat akurat."
Alexa menghela napas, "Thomas sedang bertapa sehingga aku tidak berani mengganggunya."
"Baiklah, yang aku tahu ada tiga orang yang membentuk aliansi tersebut, tapi aku masih tidak mengetahui identitas mereka. Tujuan mereka membuat aliansi adalah untuk menguasai dunia ini dan membebaskan yang mereka sebut Dewa Kehancuran dari sebuah segel."
"Dewa Kehancuran?" Seketika mata Alexa melebar, "Apa yang mereka maksud adalah orang itu?"
Hugo menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu tapi ada kemungkinan yang mereka maksud adalah orang itu."
Alexa pun menghela napas lalu ia pamit pada Hugo, ia segera menggunakan kekuatan teleportasinya untuk pergi dari sana.
"Gyahahaha, orang terpilih aku menunggu kedatanganmu, gyahahaha." Suara tawa Hugo menggema di seluruh istana membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi ketakutan.
---
Jangan lupa like, vote, comment dan favorite.
-/./.-./../- -/.-//-.-/.-/.../../....//