
Di sebuah hutan yang berada di Kekaisaran Blaking. Seorang gadis tengah dikejar-kejar oleh dua orang bertopeng yang tak lain adalah Topeng Merah dan Topeng Ungu.
Gadis tersebut berusaha lari sekencang mungkin, namun rantai-rantai mengikat kakinya sehingga membuat gadis itu tersungkur.
"Kau sangat kejam! Tak seharusnya kau memperlakukan seorang gadis seperti itu." Topeng Ungu memandang Topeng Merah dengan geram.
Topeng Merah langsung menatap Topeng Ungu dengan tatapan dinginnya. Tanpa menghiraukan Topeng Ungu, ia segera pergi ke tempat gadis tersebut tersungkur.
"Apa yang kau inginkan dariku?!" Gadis tersebut berteriak lirih menahan sakit akibat tersungkur tadi.
Topeng Ungu segera menjawab gadis tersebut, "Kami hanya ingin menjadikanmu sandera agar nenekmu mau membantu kita dengan kekuatannya, Putri Velia."
Gadis tersebut melebarkan matanya, ia tak menyangka jika kedua orang di hadapannya ini mengetahui identitasnya sebagai seorang putri salah satu kerajaan yang ada di Kekaisaran Blaking.
"Topeng Merah, Cepatlah! Aku masih memiliki misi untuk membunuh seseorang."
Topeng Merah pun langsung mengikat Putri Velia menggunakan rantainya, namun tiba-tiba sesuatu melesat ke arahnya dan memotong rantai milik Topeng Merah.
Sesuatu tersebut menancap di pohon, keduanya terkejut saat melihat apa yang memotong rantai milik Topeng Merah.
"Daun? Sebuah daun bisa memotong rantai milikmu." Topeng Ungu berkata sambil mencabut daun tersebut dan seketika daun tersebut hancur.
Topeng Ungu segera berbalik saat merasakan sesuatu ke arahnya, ternyata puluhan daun sedang melesat ke arahnya.
Topeng Ungu segera menghindari daun tersebut satu persatu karena jika ia menggunakan senjata sekalipun tak akan bisa menghentikan daun-daun tersebut.
"Kau cukup pintar juga, Nona." Seseorang muncul dari balik semak-semak, orang itu memiliki wajah yang sangat tampan dengan rambut berwarna biru tua.
"Di usiamu itu seharusnya kau berdandan di rumah, tetapi kau malah bermain dengan darah." Pria itu tersenyum tipis sambil memandang Topeng Ungu.
Topeng Ungu menggertakkan giginya, dengan dua belati yang terhunus ia melesat maju ke arah pria tersebut.
Pria tersebut menaikkan alisnya lalu berjalan santai ke salah satu pohon sambil menghindari setiap serangan Topeng Ungu.
Kemudian pria tersebut mematahkan salah satu ranting pohon tersebut dan mengayunkannya ke arah Topeng Ungu.
Tepat sebelum serangan itu mengenai Topeng Ungu, Topeng Merah sudah menahan serangan pria tersebut dengan rantainya, namun naas rantai tersebut langsung hancur saat terkena ranting pria tersebut.
Dengan menggunakan rantainya, Topeng Merah menarik Topeng Ungu sebelum pria tersebut memberikan serangan lagi. Topeng Ungu menjadi geram dan hendak kembali menyarang pria tersebut, namun Topeng Merah menghentikannya.
"Aku mengenal pria itu, ia dikenal sebagai Ksatria Ranting Zagi. Apa pun yang disentuhnya bisa menjadi kuat, yang aku tahu tidak ada yang pernah bisa mengalahkannya. Kita bukan tandingannya untuk saat ini." Topeng Ungu ternganga saat mendengar Topeng Merah berbicara panjang lebar karena biasanya Topeng Merah hanya berbicara seadanya saja.
"Ah, gelar itu terlalu berlebihan untukku. Aku masih terlalu lemah jika dibandingkan dengan Meish."
Tanpa berkata-kata lagi, Zagi langsung menyerang Topeng Merah yang posisinya paling dekat dengannya.
Karena terlalu terkejut dengan pergerakan Zagi yang tiba-tiba, Topeng Merah terkena beberapa serangan Zagi hingga membuat HP-nya tersisa setengah lagi.
Topeng Ungu tak bisa membiarkan rekannya itu lebih terluka lagi, ia menggunakan kecepatan seorang Assasin untuk pergi ke belakang Zagi lalu mengayunkan belatinya, namun tinggal beberapa jengkal lagi belati itu sampai, Zagi menghilang dari pandangan Topeng Ungu.
Sebuah pukulan keras mengenai punggung Topeng Ungu sehingga membuatnya tersungkur ke arah Putri Velia. Karena sangat kesal dengan Topeng Ungu, Putri Velia yang tak bisa bergerak langsung mengumpatinya.
"Kau!" Sangat geram dengan Putri Velia, Topeng Ungu mengayunkan belatinya ke arah Putri Velia sebelum sebuah ranting menahannya.
Seringai lebar terpampang jelas di wajah Zagi, ia pun menendang Topeng Ungu hingga tubuh gadis tersebut menabrak Topeng Merah.
"Persetan dengan misi kita! Topeng Ungu, mari kita pergi!" Keduanya pun pergi dengan cepat takut Zagi akan mengejar mereka.
Zagi yang tak berniat mengejar mereka langsung melangkah ke arah Putri Velia, ia menatap putri itu dengan tatapan tajam. Yang ditatap pun bergidik ketakutan, ia merasakan dingin di punggungnya.
Seketika rantai itu hancur berkeping-keping. Putri Velia yang sudah bisa bergerak lagi melompat kegirangan dan melupakan rasa takut pada Zagi sebelumnya.
Zagi menghela napas lalu ia menepuk pundak sang putri, seketika Putri Velia terkejut dan mematung di tempat.
"Kau tidak perlu takut denganku! Aku ini orang baik, tapi aku juga tidak yakin dengan itu."
Putri Velia merasa bingung, ia tak tahu harus percaya atau tidak. Sebelum gadis itu memutuskan pilihannya, Zagi mengeluarkan sebuah peluit dan meniupnya.
Seekor burung yang cukup besar muncul dan terbang ke arah mereka, satu hal yang membuat Putri Velia terkejut adalah burung itu diselimuti oleh api yang membara.
"Itu...Phoenix," gumam Putri Velia sekaan tidak percaya dengan makhluk yang sedang menuju ke tempatnya tersebut.
"Ah, itu bukan Phoenix. Itu hanya burung yang terbakar." Ucapan Zagi tersebut membuat Putri Velia menganga.
Zagi pun tersenyum kecil. Saat burung itu sudah berada di dekatnya, ia dengan gerakkan tiba-tiba menggendong tubuh Putri Velia menggunakan tangan kirinya dan tangan kanannya memegang kaki burung tersebut.
Segera Zagi memerintahkan burung tersebut pergi ke istana, burung itu pun pergi ke istana dengan cepat.
"Mengapa kita tidak duduk di punggungnya saja? Aku sedikit merasa tidak nyaman dengan posisi ini." Putri Velia bertanya pada Zagi.
"Aku bisa saja duduk di punggungnya karena pet atau mount tidak akan pernah melukai tuannya, tetapi saat ini aku bersamamu. Apa kau ingin mati terbakar oleh apinya?"
Putri Velia mengangguk, namun sebuah pertanyaan muncul di benaknya, "Sejak kapan kau tahu jika aku adalah putri? Seingatku aku tidak pernah menyebut diriku adalah seorang putri."
"Apa kau lupa jika kedua orang bertopeng itu menyebut dirimu putri dan aku tahu kau seorang putri karena kau adalah keturunannya..."
Walaupun tak mengerti dengan perkataan Zagi, ia mengangguk dan tanpa disadarinya mereka sudah sampai di ibu kota Kerajaan Fugian.
Seluruh NPC dan player yang melihatnya langsung terpana, mereka tak pernah percaya bisa melihat seekor Phoenix terbang di ibu kota.
Mereka terbang sampai mereka melihat istana. Putri Velia segera meminta Zagi untuk menurunkannya di gerbang istana, namun Zagi menolak dan ia malah memerintahkan burungnya terbang melewati istana.
Burung tersebut menabrak salah satu jendela istana, ternyata jendela tersebut adalah jendela yang ada di ruang singgasana. Orang-orang yang berada di sana terkejut, termasuk sang ratu yang sedang duduk di singgasananya.
Saat mereka melihat Putri Velia sedang bersama dengan orang yang tidak dikenal, para prajurit segera mengangkat senjatanya dan perlahan mereka maju ke arah Zagi.
Zagi menghela napas, "Aku hanya ingin mengembalikannya pada kalian dan tidak melukainya."
Sang ratu yang bernama Olivia bangkit sambil menatap tajam Zagi, "Siapa kau? Kau datang bersama cucuku dan menggunakan hewan legendaris, Phoenix."
Seringai terbit di wajah Zagi, ia mengeluarkan beberapa helai daun dan melemparnya ke arah Olivia. Karena daun-daun itu sangat cepat membuat Olivia tak sempat menghindarinya dan membuat dirinya terpenggal.
Semua orang yang berada di sana sangat terkejut tak terkecuali Putri Velia dengan kejadian yang sangat tiba-tiba itu.
Di saat semua orang terkejut, tubuh Olivia bercahaya terang dan kepala yang terpenggal tadi kembali menyatu dengan tubuhnya.
"Sialan kau! Walaupun aku abadi tetap saja mati itu sangat menyakitkan. Lalu untuk apa kau melakukan itu? Apa kau memang berniat membunuhku?” tanya Olivia
"Aku hanya ingin membuktikan saja, apa benar kau adalah murid Peace Knight."
"Siapa sebenarnya dirimu? Hanya sejumlah orang saja yang mengetahui hal itu."
Tak menjawab pertanyaan Olivia, Zagi malah membuka perban yang mengikat tangan kirinya. Ia pun menunjukkan tato segi lima di punggung tangan kirinya.
"Tanda itu...kau keturunan guruku."