
Terkejut dan marah, kedua emosi ini di rasakan oleh orang tua Rudi saat melihat seseorang yang baru saja datang tersebut. Ayah Rudi segera bangkit lalu menghampiri orang itu.
"Mengapa kau ada di sini anak sialan?!"
Orang tersebut adalah Romi, ia tak menjawab pertanyaan ayahnya tersebut. Ayah Rudi menjadi geram, ia mengepalkan tinju dan melayangkan tinju tersebut pada Romi.
Dengan cepat Rudi menahan tangan ayahnya tersebut, "Ayah, tolong jangan sakiti kakak!"
"Cih, dia bukan kakakmu lagi!” Ayah Rudi membentak anaknya.
Senyuman merekah di wajah Romi, ia segera menepuk bahu adiknya dan memintanya untuk duduk, Rudi menghela napas lalu kembali ke tempat duduknya.
"Ayah, aku kesini bukan untuk mencari masalah, tapi aku kesini adalah untuk wanita itu." Romi menunjuk Vivi.
Vivi sebelumnya memang mengetahui masalah Romi, ia sedikit gemetar saat dirinya di tunjuk oleh Romi, sifat tomboinya seketika hilang begitu saja.
Ayah Rudi melebarkan matanya, "Apa yang kau inginkan dari dia?!"
"Aku hanya ingin meminjamnya sebentar saja."
Ayah Rudi semakin geram, namun istrinya segera menenangkan Ayah Rudi. Ibu Rudi meminta suaminya dan Romi untuk duduk dan membicarakannya dengan kepala dingin.
"Kalian jangan marah dulu! Aku ini sudah berubah berkat adikku ini. Aku sudah tidak memperkosa gadis lagi, tapi aku masih memiliki dendam pada kelompok kriminal itu."
"Aku tidak percaya kau sudah berubah, Romi." Ayah Rudi menggelengkan kepalanya.
Romi tersenyum kecut, "Terserah kalian percaya atau tidak, tapi aku datang ke sini hanya untuk meminjam Vivi sang gamers jenius."
Vivi mengerutkan dahi, "Apa yang kau butuhkan dari diriku?"
"Sebentar, aku akan jelaskan dulu tentang yang terjadi. Tadi kalian sedang membicarakan Hurub Corp dan sejauh yang ku ketahui Hurub Corp bukan hanya perusahaan properti biasa namun mereka juga sebagai penadah, tempat jual beli manusia dan pengedar narkoba, kelompok kriminal yang sangat ku benci sering membeli narkoba di sana."
Wajah Rudi kembali memucat, ia sedikit takut jika mantan sahabatnya itu terjerumus ke dalam hal yang salah.
"Mereka mengumpulkan anggota melalui game yang sedang populer saat ini, game itu bernama Vegas Online. Dari informasi yang kudapat, kau adalah player terkuat kedua di game itu."
Rudi sangat terkejut saat mengetahui itu, ia sungguh tak menyangka bahwa adik sepupunya ini adalah player terkuat kedua.
"Lalu apa hubungannya dengan diriku?"
"Mereka membentuk sebuah guild yang bernama Black Demon dan aku ingin kau menghentikan mereka merekrut anggota baru lagi!"
Nama guild yang di sebut oleh Romi membuat Rudi semakin terkejut, "Tunggu, artinya teman-temanku sudah masuk ke dalam guild itu."
"Apa kau tahu sesuatu tentang guild itu?" Romi bertanya pada Rudi.
"Aku tahu, aku bermain Vegas Online dan aku juga mengenal ketua guild itu."
"Jadi begitu." Romi mengangguk, "Baiklah aku minta pada kalian untuk sebisa mungkin menghalangi guild itu dalam merekrut anggota!"
Kemudian Romi berdiri dan ia hendak pergi namun ayahnya segera menghentikan Romi, Ayah Rudi menanyakan bagaimana cara Romi bisa masuk ke dalam rumah padahal di rumah tersebut di jaga ketat.
Romi berbalik menghadap ayahnya, "Hahaha, aku melewati jalan rahasia yang kubuat bersama Rudi saat kami masih kecil." Romi berbalik lagi, "Baiklah aku harus pergi, kalian berdua tolong urus dari dunia game dan aku akan mengurus dari dunia nyata!"
Romi pun keluar dari rumah orang tuanya tersebut. Setelah Romi tidak terlihat, Rudi mengalihkan pandangannya pada Vivi.
Sungguh Rudi masih sangat tidak menyangka bahwa wanita di depannya ini adalah player terkuat kedua.
Tatapan Rudi membuat Vivi merasa tidak nyaman, ia segera menatap tajam Rudi membuat Rudi mengalihkan pandangannya.
"Kau bilang kau mengenal ketua guild itu." Pertanyaan Vivi di balas anggukan oleh Rudi, "Di mana markas guild itu?"
"Apa kau tidak mengetahui guild itu? Padahal guild itu adalah guild nomor 1 di Kekaisaran Chirin."
"Kekaisaran Chirin? Pantas saja aku tidak tahu, Kekaisaran Chirin adalah tempat bagi para pemula sehingga aku tidak peduli dengan apa pun di sana, tapi sekarang aku harus pergi ke sana. Yang benar saja." Vivi menghela napas malas.
"Aku tahu itu, tapi kau harus pergi ke sana. Markas guild itu ada di Kota Srinblue, ibu kota dari Kekaisaran Chirin."
Dengan malas Vivi mengangguk, ia memberitahu Rudi bahwa dirinya akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai karena ia sedang berada di Kekaisaran Triksa.
Karena sudah tidak ada kepentingan lagi, Rudi pun berniat untuk pulang ke rumahnya namun orang tua Rudi menahan dirinya.
"Aku menyuruhmu ke sini bukan hanya untuk membahas itu saja tapi aku ingin Vivi tinggal di rumahmu."
"Apa...!?" Rudi dan Vivi berteriak bersamaan.
"Hahaha, sudahlah jangan terlalu terkejut seperti itu! Ayah menyuruh Vivi tinggal di rumahmu karena ayah dan ibu akan pergi ke luar negeri lusa nanti."
Rudi dan Vivi mengangguk pasrah, Rudi pun segera membantu membereskan barang-barang Vivi.
Setelah selesai membereskan barang-barang Vivi, mereka berdua segera pergi dari rumah orang tua Rudi.
"Baiklah, aku yang akan menyetir." Rudi mengambil kunci mobil tersebut dari Vivi.
Sebelum Rudi membuka pintu mobil tersebut, Vivi segera menghalanginya dan mengambil kembali kunci mobil miliknya.
"Ini mobil milikku jadi aku yang akan menyetirnya." Vivi segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.
Rudi duduk di sebelah Vivi, ia memiliki firasat buruk mengenai ini. Vivi menyeringai lalu menginjak pedal gas mobil tersebut.
***
Sebuah mobil melesat dengan cepat di jalanan, terdapat dua orang di dalamnya dan salah satunya berteriak dengan kencang.
Orang tersebut adalah Rudi, ia berteriak sejak Vivi menjalankan mobil tersebut. Rudi berteriak karena Vivi mengendarai mobil seperti seorang pembalap.
"Hei, pelankan sedikit laju mobilnya! Jika kita tertilang bisa merepotkan." Rudi berteriak pada Vivi.
"Tenang saja, aku telah memilih jalan yang tidak ada polisi sehingga kita akan aman."
"Kau tahu dari mana jika jalan yang kita lewati tidak ada polisi?"
"Aku mengetahuinya dari paman."
Rudi sedikit geram pada ayahnya karena memberitahu hal seperti ini pada Vivi.
"Sudahlah! Lagi pula dengan seperti ini kita bisa lebih cepat sampai dan sebentar lagi kita akan memasuki kota tempat tinggalmu."
Beberapa saat kemudian mereka sampai di kota tempat tinggal Rudi, namun Vivi membawa mobilnya ke arah yang salah.
"Hei, seharusnya kita pergi ke jalan itu." Rudi menunjuk jalan yang benar.
"Aku merasa lapar dan dengar-dengar ada sebuah restoran enak di sekitar sini."
"Vivi, aku memiliki prinsip untuk tidak makan di restoran. Jadi, aku tidak ingin makan di restoran."
"Oh ayolah, aku tidak menerima penolakan."
Dengan pasrah Rudi menyetujui hal itu, mereka pun pergi ke restoran yang di maksud.
Sesampainya di sana, Rudi menolak untuk masuk namun karena paksaan dari Vivi membuatnya pasrah.
Saat memasuki restoran tersebut, Rudi hanya bisa menghela napas sambil menundukkan kepalanya.
Hingga ia menabrak seorang wanita berkaca mata dan membuat sebuah bungkusan yang dibawa wanita tersebut terjatuh.
"Ah maaf, aku tidak melihat ke depan tadi."
Rudi mengambil bungkusan milik wanita tersebut dan mengembalikannya. Wajah wanita tersebut menjadi sedih saat melihat isi bungkusan tersebut.
"Ada apa? Apa isinya rusak?" Wanita tersebut mengangguk lalu memperlihatkan is bungkusan tersebut.
Ternyata isi bungkusan tersebut adalah sebuah jus namun jus tersebut sudah tumpah di dalam plastik.
Rudi meminta maaf pada wanita tersebut dan berniat menggantinya, wanita itu menjadi senang sampai ia menyadari bahwa ia kenal dengan pemuda di depannya.
"Ru...Rudi?"
Rudi memiringkan kepalanya, "Apa kita saling mengenal?"
"Ah, tidak...kita tidak saling mengenal." Wanita tersebut berbohong pada Rudi.
'Mengapa wajahnya tidak begitu asing?' batin Rudi.
"Hei, apa kau hanya ingin berdiri di situ saja?" Vivi memanggil Rudi sambil berteriak membuat seisi restoran tersebut melirik ke arahnya namun Vivi tidak peduli dengan itu.
Rudi mengajak wanita tersebut untuk duduk bersamanya dan Vivi, wanita tersebut tidak menolak bahkan ia merasa senang.
Tatapan tanya dari Vivi menyambut Rudi saat sampai di meja yang telah di pilih oleh Vivi, Rudi pun menjelaskan maksud dirinya membawa wanita tersebut.
"Oh iya, namaku Alisa. Maaf karena telah merepotkan kalian."
"Seharusnya aku yang meminta maaf karena telah menumpahkan minumanmu. Aku akan ganti jus itu."
Rudi memanggil pelayan lalu memesan beberapa makanan untuknya dan Vivi tak lupa juga ia memesan sebuah jus untuk Alisa.
Setelah beberapa lama akhirnya pesanan mereka datang, Alisa yang telah menerima jusnya segera pamit pada Rudi dan Vivi.
Mereka pun makan dengan lahap hingga makanan mereka habis, setelah itu mereka segera pulang ke rumah Rudi.