
Beberapa minggu kemudian, perang antara Guild Death Fire dan Guild Black Demon akan dimulai. Semua sorot mata tertuju pada pertarungan tersebut karena pertarungan tersebut melibatkan Nibi yang tak lain adalah player terkuat pertama.
Beberapa hari yang lalu, Aslan juga membantu Amazon untuk menghambat Hirens merekrut anggota baru. Aslan sempat mengajak Amazon untuk bergabung dengan guildnya, namun Amazon menolak dengan dalih tidak berminat untuk masuk ke dalam guild.
Saat ini dua guild yang siap berperang tersebut berada di sebuah tanah lapang yang tak jauh dari Kota Srinblue.
Di garis depan pasukan musuh sudah ada Nibi dan Hirens serta para petinggi guild lainnya, Hirens juga telah memiliki job baru tingkat Menengah.
Sementara itu di sisi Guild Death Fire, garis depan di isi oleh Ryan, Viona dan Artemis. Aslan sendiri berada di sayap kanan bersama Kurt disampingnya.
Setelah segala persiapan selesai, masing-masing ketua guild maju beberapa langkah. Tiba-tiba dinding pelindung tranparan muncul dan menutupi kedua guild tersebut.
[Mode perang guild diaktifkan]
[Guild Death Fire (220 player) V.S Guild Black Demon (285 player)]
[Peraturan: Setiap player yang sudah berada di dalam pelindung tidak dapat keluar atau pun sebaliknya. Guild dinyatakan menang saat pihak lawan menyerah atau saat jumlah lawan kurang dari 10 player.]
[Perang akan di mulai]
[3]
[2]
[1]
Teriakkan perang terdengar dari segala penjuru, bersamaan dengan itu kedua guild mulai bentrok.
Ryan langsung berhadapan dengan Hirens, ia menggunakan pedang besarnya untuk menyerang Hirens. Hirens pun tak mau kalah, ia menggunakan skill-skill bertahannya untuk menghindari serangan Ryan.
Sementara itu, pasukan Guild Black Demon langsung menguasai jalan pertempuran karena Nibi yang tanpa lelah mengahabisi musuh-musuh di depannya.
Nibi menggunakan sayapnya untuk bergerak dengan cepat. Bagaikan malaikat maut, Nibi mengahabisi musuh-musuhnya hanya dalam satu kali tebasan hingga peluru-peluru mengenai dirinya.
Segera ia mencari sumber serangan tersebut dan ternyata Artemis lah yang menembakinya dengan pistol.
"Akulah yang akan menjadi lawanmu." Ucap Artemis sambil menembak Nibi lagi dengan perubahan senjata tingkat 2 nya itu.
Nibi segera mengehempaskan peluru tersebut menggunakan sayapnya, ia menatap sinis Artemis lalu menerjang ke arahnya.
Sebelum Nibi sampai ke tempat Artemis, Viona menghadang Nibi lalu menarik Nibi ke tanah membuat Nibi jatuh tersungkur.
"Apakah hanya ini kemampuan dari player nomor 1? Sungguh mengecewakan!" Viona tersenyum mengejek pada Nibi.
"Maaf, aku belum bermain dengan serius, Nona. Setelah ini aku pastikan kau mendapatkan pelayanan yang layak dariku." Nibi berkata sambil mengeluarkan auranya, seketika beberapa orang yang berada di sekitar Nibi jatuh bertekuk lutut.
Namun aura tersebut tak berpengaruh pada Artemis dan Viona karena mereka berdua memiliki item untuk menghadang aura.
"Aku sudah bosan terkena kemampuanmu itu." Artemis mengubah senjata menjadi Bazooka lalu menembak Nibi.
Ledakan tercipta membuat orang-orang pergi dari area pertarungan Artemis, Viona dan Nibi. Debu menutupi area ledakkan dan setelah debu tersebut hilang Nibi masih tegap berdiri sambil memasang senyum liciknya.
"Mainanmu itu tidak bisa membuatku terluka, Nona."
Dengan pedang terhunus Nibi melesat dengan cepat ke arah Viona dan Artemis, serangan-serangan Nibi layangkan ke arah mereka berdua.
Viona menahan setiap serangan Nibi dengan dua katananya, namun tali-tali hitam keluar dari bayangan Nibi dan mengikatnya.
"Kau yang terlebih dahulu." Nibi mengangkat pedangnya, namun baru saja ia ingin mengayunkan pedang, tiba-tiba tanah diselimuti dengan es.
"Ada apa ini." Nibi mencari sumber kekuatan tersebut.
Aslan dan Kurt melakukan kombinasi serangan yang sangat mengerikan, sehingga membuat para player musuh menjauhi mereka.
Namun seorang pria malah datang menghampiri mereka dengan seringai terpampang jelas di wajahnya.
"Aku terpukau dengan kombinasi kalian, tetapi sangat disayangkan karena kalian adalah pihak musuh. Bersiaplah mati di tombakku."
Pria tersebut memainkan tombaknya dengan sangat hebat lalu membuat kombinasi Aslan dan Kurt hancur seketika. Tak berhenti di situ saja, pria tersebut langsung menyerang Aslan dengan tombaknya.
Aslan segera memerintahkan Alpha dan Beta yang berada di kedua bahunya untuk menyerang pria tersebut. Alpha dan Beta membesar lalu menyeruduk pria tersebut, pria tersebut segera menahan cula kedua badak tersebut dengan tombaknya.
Tanpa membuang waktu lagi, Aslan menekan Elite Fire Core lalu mengarahkan pedangnya pada pria tersebut. Api menyembur keluar dari ujung Penta Sword ke arah pria tersebut.
"Api kecil seperti ini tidak bisa membakarku." Pria tersebut mengarahkan tombaknya ke arah Aslan lalu api yang lebih besar keluar dari ujung tombaknya dan menerjang api milik Aslan.
Bukan hanya melawan api milik Aslan, api itu juga membakar Alpha dan Beta hingga mereka berdua masuk ke dalam tato di tangan Aslan.
Aslan menggertakkan giginya, "Siapa sebenarnya kau?"
"Ah, aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Jacky, wakil ketua dari Guild Black Demon."
Saat mereka berdua berbincang, Kurt diam-diam hendak mengeluarkan skillnya. Jacky melihat pergerakkan Kurt yang mencurigakan segera melemparkan tombaknya pada Kurt.
Kurt terkejut dengan kedatangan tombak tersebut dan segera memutuskan dua senar gitarnya. Senar-senar tersebut segera menangkap tombak Jacky, namun tiba-tiba tombak Jacky terbakar dan ikut membakar senar-senar gitar Kurt.
"Sepertinya aku akan mencoba teknik ini." Aslan bergumam sambil menekan Elite Water Core dan Elite Wind Core. Setelah itu, ia menancapkan pedangnya ke tanah, "Membekulah."
Dalam radius 100 meter seluruh tanah diselimuti es, Jacky yang berada di dekat Aslan ikut membeku.
"Kurt, sisanya tergantung padamu." Kata Aslan dengan napas yang terengah-engah karena telah kehabisan mana.
Kurt mengangguk lalu memetik salah satu senar gitarnya, muncul not balok lalu menyerang Jacky. Hal itu dilakukan Kurt berulang kali sampai Jacky tewas di tempat.
"Aku akan...." Belum sempat Aslan menyelesaikan kalimat, sebuah aura yang begitu kuat menekan semua orang disana.
Untungnya Aslan memiliki Gamma yang saat ini sedang bertengger di atas kepalanya. Tak berselang lama, Nibi datang dari langit sambil menatap Aslan.
"Kenaikan levelmu terlalu menakutkan, aku yakin jika kau memiliki Gemini Ring milikku. Sekarang karena itu adalah milikku cepat kembalikan padaku!"
'Sial! Kenapa saat manaku habis orang ini malah datang,' batin Aslan.
Aslan tak barkata apapun pada Nibi, seketika ia teringat dengan Leo Ring. Segera saja ia mengeluarkan cincin itu lalu memakainya.
Aslan merasakan kekuatan dalam tubuhnya meningkat drastis, HP dan MP-nya kembali penuh. Sambil menggengam erat Penta Sword Aslan berjalan ke arah Nibi.
"Cih, kau pikir saat dirimu menggunakan cincin itu kau bisa mengalahkanku." Setelah berkata seperti itu, tubuh muncul tanduk di dahi Nibi.
Sayapnya pun bertambah lebar serta aura yang dikeluarkan tubuhnya pun semakin kuat. Seluruh bola matanya berwarna hitam pekat dan membuat siapa saja yang melihatnya menjadi ketakutan.
"Gyahahaha, bunuh...bunuh...bunuh." Nibi pun melesat ke arah Aslan.
Sambil menelan ludahnya, Aslan memasang kuda-kuda untuk bersiap menyambut serangan Nibi.
Namun sebelum Nibi sampai, sebuah tinju besar melayang ke arahnya dan membuat Nibi terpental beberapa meter.
"Nibi, lawanmu adalah aku." Seorang raksasa muncul di antara Nibi dan Aslan.
Semua orang menghentikan pertarungan masing-masing saat melihat raksasa tersebut.
"Tak kusangka jika kekuatan sang monster pembelah langit telah kembali." Viona bergumam sambil menatap lekat raksasa tersebut.