
Seorang pria dengan jaket berwarna hitam memasuki sebuah ruangan, di dalam ruangan tersebut ada seorang pria paruh baya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Menyadari kedatangan seseorang, pria paruh baya tersebut mendongakkan kepalanya. Ia mengerutkan dahinya saat melihat pria yang tak lain adalah anaknya sendiri.
"Ada urusan apa kau kemari, Romi?" Ayah Rudi bertanya dengan nada malas.
"Aku hanya ingin meminta bantuanmu saja, Ayah." Pria yang tak lain adalah Romi berkata sambil duduk di sofa yang ada di sana.
Ayah Rudi menaikkan alisnya sambil tersenyum kecil, "Kau pikir aku sudi membantumu? Jadi, sekarang pergi dari ruanganku!"
Tanpa membalas Ayahnya, ia langsung mengeluarkan beberapa foto dan menaruhnya tepat di hadapan sang ayah.
"Ini adalah bukti-bukti kejahatan dari Hurub Corp. Aku ingin kau melaporkannya ke polisi, karena jika aku yang melaporkannya maka sama saja aku datang ke kandang harimau."
Ayah Rudi mengangguk saat mengingat bahwa anaknya ini sudah banyak melakukan kejahatan.
"Baiklah, aku mau melakukan itu, tetapi apa keuntungan yang aku dapatkan jika aku membantumu?"
"Tentu saja kau akan terkenal karena berhasil mengungkap kejahatan Hurub Corp dan perusahaanmu juga akan ikut terkenal. Selanjutnya kau pasti tahu bukan apa yang terjadi?"
Ayah Rudi tersenyum, ia tahu apa keuntungan yang bisa didapatkannya. Segera ia mengambil semua bukti-bukti tersebut lalu beranjak pergi keluar ruangannya.
Tepat saat ia sampai di pintu, ia menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Romi.
"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam kantorku? Kau tahu sendiri jika penjagaan di kantor ini sangat ketat, kecuali kau masuk melewati jalan rahasia." Mendengar kalimat terakhir ayahnya tersebut membuat Romi tersenyum.
Senyum Romi tersebut membuat Ayah Rudi mengetahui sesuatu, "Jangan-jangan kau menggunakan jalan rahasia itu...tunggu jalan rahasia itu hanya aku yang tahu saja."
"Apa kau sudah lupa jika kaulah yang memberitahuku saat kau bilang padaku jika aku akan menjadi penerus perusahaan ini?"
Ayah Rudi ternganga saat mendengar penuturan Romi tersebut, ia langsung teringat dengan hal tersebut.
"Tak kusangka jika aku sudah begitu tua sehingga banyak hal yang kulupakan." Ayah Rudi tersenyum kecut.
"Akhirnya kau menyadari hal itu. Baiklah, aku akan pergi." Romi pun berlalu melewati ayahnya.
Sesampainya di luar, ada seseorang yang menggunakan masker berwana hitam dan jaket berwarna hitam sehingga hanya menampakkan bagian mata saja.
Romi mengerutkan dahinya saat melihat orang itu, ia seperti mengenalnya. Setelah mengingat-ingat beberapa saat dan tidak ada hasil, Romi pun pergi meninggalkan orang itu.
"Romi, kau akan kujadikan anjing yang setia pada tuannya." Orang itu menyeringai di balik maskernya lalu pergi dari sana.
***
Tubuh seluruh anggota Guild Black Demon bercahaya, tanpa terkecuali Nibi juga. Mereka sangat kebingungan dengan apa yang terjadi pada diri mereka.
Aslan yang melihat itu segera menurunkan pedangnya yang sempat hampir menebas Nibi, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Rasa penasaran semua orang terjawab saat satu persatu anggota Guild Black Demon berubah menjadi partikel cahaya.
"Mereka logout? Ah, tidak. Mereka dikeluarkan paksa dari luar." Tepat setelah Aslan berkata seperti itu, tubuh Nibi juga ikut berubah menjadi partikel cahaya.
Sebuah notifikasi muncul saat semua pasukan Guild Black Demon telah menghilang.
[Selamat kepada Guild Death Fire telah memenangkan perang ini]
[Guild Level Up]
[Penghalang dihilangkan]
Di saat itu juga semua anggota Guild Death Fire yang tersisa bersorak gembira. Yang berada di dunia nyata akibat tewas dalam perang pun ikut bergembira juga.
Aslan tersenyum senang, namun ia masih bingung saat melihat langit masih gelap. Aslan segera mencoba beberapa cara untuk menghentikan skill itu, tetapi tetap tidak bisa.
"Berapa kali pun kau mencoba kau tetap tidak akan bisa menghentikannya karena kau menggunakan kekuatan kelima Penta Sword saat 12 Zodiac Ring belum terkumpul semua." Tengkorak Penta Sword berbicara pada Aslan.
"Memang apa akibatnya jika aku tidak menghentikan kemampuan ini?"
"Sebentar lagi kau akan tahu." Setelah tengkorak tersebut berkata seperti itu, Level Aslan menurun satu level setiap detiknya.
"Sial! Cepat katakan bagaimana cara aku menghentikankannya."
Tak menjawab Aslan, tengkorak tersebut malah tertawa terbahak-bahak, "Baiklah, kau harus mati di tebas oleh Penta Sword. Oh iya, kau juga akan kehilangan 30 levelmu dan jika di tambah dengan kehilangan levelmu sekarang mungkin kau akan kehilangan lebih dari 40 level."
Belum sempat Aslan menjawabnya, Penta Sword sudah terlepas dari genggamannya dan langsung menebas leher Aslan.
[Anda terkena critical hit]
[Anda dikeluarkan dari permainan]
[Tidak bisa login selama 3 jam]
[Level berkurang 48]
Setelah itu pandangan Aslan menjadi buram dan tubuhnya berubah menjadi partikel cahaya, Penta Sword yang masih melayang di udara pun ikut berubah menjadi partikel cahaya seperti Aslan.
Bersamaan dengan itu langit menjadi terang kembali, semua orang yang melihat kejadian itu tak tahu harus bagaimana. Ryan menghela napas, ia sangat tahu penyebab Aslan menjadi seperti itu karena dulu ia juga pernah sepertinya.
"Menggunakan kekuatan yang belum kita kuasai sama halnya dengan bunuh diri," gumam Ryan.
Tak lama kemudian Viona dan Artemis datang menghampirinya, "Apa kau baik-baik saja?" Viona bertanya pada Ryan.
"Aku menjadi sangat baik saat kita memenangkan perang ini." Ryan menjawab dengan senyuman lebar.
Semantara Artemis memandang tempat Aslan tewas karena pedangnya sendiri, "Apa yang sebenarnya terjadi pada Aslan?"
Ryan yang mendengar hal itu segera menjawab Artemis, "Dia menggunakan kekuatan yang belum ia kuasai sebelumnya sehingga membuat dirinya jadi seperti itu."
"Apa itu kekuatan khusus dari jobnya seperti milikmu itu?" tanya Viona.
"Bukan, itu adalah kekuatan yang sama seperti milik Artemis. Kekuatan kuat yang ada pada senjata, harus kalian tahu jika setiap job tingkat Special memiliki dua kemampuan khusus."
"Hmm...jadi seperti itu." Artemis dan Viona mengangguk, namun tiba-tiba mata Artemis membulat, "Jadi, Aslan memiliki job tingkat Special...Sejak kapan?"
Memang sebelumnya Aslan tidak pernah memberitahu siapa pun tentang jobnya ini, namun pengamatan Ryan yang dibantu oleh Viona membuat mereka tahu, jika Aslan memiliki job tingkat Special walau tak tahu lebih jelas tentang job yang dimiliki Aslan.
"Sudahlah, mari kita merayakan kemenangan kita." Ryan segera pergi ke tempat pasukannya berkumpul lalu diikuti oleh Viona dan Artemis.
***
Rudi hanya bisa tersenyum kecut saat tahu dirinya kehilangan 48 level, di sampingnya sudah ada Vivi yang tertawa terbahak-bahak saat Rudi memberitahunya hal itu.
Merasa sangat kesal, Rudi memilih pergi menonton televisi. Baru saja Rudi duduk di sofa, ia sangat terkejut saat melihat ayahnya sedang diwawancarai karena berhasil membongkar kejahatan Hurub Corp.
Di sana juga di jelaskan bahwa polisi Indonesia bekerja sama dengan beberapa polisi luar negri untuk menangkap para anggota Hurub Corp yang berada di luar negri.
"Jadi, seperti itu. Polisi mengeluarkan paksa para anggota Hurub Corp yang masih di dalam permainan, tetapi mengapa malah ayah yang melaporkannya? Bukankah seharusnya Kak Romi."
"Bodoh! Jika Kak Romi yang melaporkannya ke polisi maka dia juga akan ditangkap. Apa yang dilakukan pria itu sudah sangat bagus, tetapi mengapa adiknya ini sangat bodoh?" Vivi berkata dengan nada meledek.
"Apa kau ingin merasakan tinjuku!?" Rudi bangkit dari duduknya sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Jangan pikir hanya karena kau pernah memenangkan turnamen Kung-fu beberapa kali kau bisa melukaiku." Setelah berkata seperti itu, Vivi menarik tangan Aslan lalu membantingnya ke lantai, "Asal kau tahu saja, kehidupanku di Amerika cukup keras, Rudi."
Vivi mengepalkan tinjunya lalu ia segera melayangkan tinju tersebut ke tubuh Rudi, namun belum sempat tinju itu sampai, bel rumah Rudi berbunyi.
Vivi menghela napas lalu pergi membukakan pintu, dilihatnya seorang tukang pos yang sedang membawa sebuah surat di tangannya.
"Permisi, dengan Rudi?"
"Benar itu saya." Vivi baru saja membuka mulutnya, namun Rudi langsung menjawab tukang pos tersebut.
"Ini ada surat untuk Anda." Tukang pos tersebut memberikan surat tersebut pada Rudi. Setelah itu, tukang pos tersebut pun pergi dari sana.
Rudi menutup pintu lalu duduk di sofa sambil membuka surat tersebut diikuti oleh Vivi di sampingnya.
Rudi menaikkan alisnya saat selesai membaca isi surat tersebut, "Acara reuni sma pada minggu depan? Setelah beberapa tahun akhirnya diadakan juga acara ini. Aku pasti akan datang."
Rudi meletakan surat itu di atas meja lalu masuk ke dalam kamarnya, ia langsung merebahkan dirinya dan seketika tertidur lelap.
Vivi yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Saat melihat siapa yang meneleponnya, Vivi menjadi sangat senang.
"Akhirnya kau meneleponku juga. Apa kau tidak tahu sudah betapa rindunya aku pada suaramu itu?" Vivi berkata dengan wajah yang merona, ia menjadi lebih bahagia saat mendengar jawaban dari seseorang di telepon tersebut.
**ARC 1 END – PEACE KNIGHT ASLAN
***
Halo semua!!!
Akhirnya arc 1 selesai juga, maaf ya kalo masih ada kekurangan dari novel ini.
Saya minta kritik dan sarannya agar saya bisa berkembang lagi dan supaya novel ini juga semakin baik lagi kedepannya.
Saya juga mau minta maaf karena tidak bisa update teratur, semoga di arc 2 nanti saya bisa update lebih teratur lagi.
Sekian, terima kasih.
Note : Vegas Online akan kembali update tanggal 9 November 2020**.