
Mendengar kakek tersebut ingin bercerita, Aslan pun segera duduk di sebelah kakek tersebut.
"Tapi sebelum aku bercerita, aku ingin mengenalkan diriku dahulu. Namaku Aztec, murid yang paling dipercaya oleh Peace Knight."
Aslan tidak terlalu terkejut karena ia telah memperkirakan hal tersebut dan ternyata tebakannya benar.
Aztec menaikkan alisnya, "Sepertinya kau tidak terlalu terkejut, Anak Muda."
"Aku sudah memperkirakan hal tersebut. Oh iya, aku ingin menanyakan banyak hal padamu tapi sepertinya lebih baik kau bercerita tentang Peace Knight dahulu."
"Baiklah, aku akan mulai kisahnya. Nama asli Peace Knight adalah Zen...."
Zen sering dikucilkan sejak kecil karena ia berasal dari ras Manusia walaupun ia lahir di desa ras Elf yang tidak lain adalah sekutu manusia.
Hal tersebut terjadi karena Zen yang lahir sebagai ras Manusia namun kedua orang tuanya bukan berasal dari ras Manusia.
Orang tua Zen keduanya berasal dari ras Elf yang seharusnya anaknya pun menjadi ras Elf namun Zen tidak.
Para warga desa tersebut menyangka bahwa Zen adalah anak dari hasil hubungan terlarang ibunya dengan seorang manusia namun hal tersebut langsung dibantah oleh Ayah Zen karena selama ini Ibu Zen selalu berada disampingnya.
Para tetua ras Elf pun ikut membantah hal tersebut karena menurut mereka jika memang benar Zen adalah anak dari hubungan terlarang maka seharusnya Zen menjadi ras Half-Elf bukan ras Manusia murni.
Para tetua ras Elf mengatakan bahwa Zen adalah anak terkutuk yang hanya lahir satu juta tahun sekali dan akan membawa kesialan pada orang-orang di sekitarnya.
Saat itulah Zen mulai dikucilkan, Zen hanya bisa tersenyum kecut saat semua orang mulai menghindarinya.
Di saat semua orang menghindari Zen hanya kedua orang tuanya lah yang masih memberikan kasih sayang pada Zen.
Suatu ketika saat Zen sudah menginjak masa remaja, ia melihat seorang pria paruh baya yang sangat tampan dan mengeluarkan sebuah aura yang menambah kesan tampan pada dirinya.
Pria paruh baya tersebut tersenyum pada Zen lalu mengisyaratkan pada Zen untuk mengikutinya dan tanpa berpikir panjang Zen pun segera mengikuti pria tersebut.
Zen berhenti mengikuti saat pria tersebut membuat sebuah portal, Zen segera berbalik dan berniat kabur karena khawatir dirinya akan diculik namun suara pria tersebut menghentikan langkahnya.
"Jika kau kabur maka kau akan menyesal. sudah ikuti saja aku! Akan kupastikan kau pulang dengan selamat."
Setelah berdebat dengan pikirannya, akhirnya Zen memutuskan untuk menerima ajakan pria tersebut lalu ia masuk ke dalam portal tersebut.
Saat masuk ke dalam portal tersebut, Zen dapat melihat bahwa dirinya sedang berada di sebuah istana yang cukup membuatnya terpana.
Pria yang membawa Zen tadi segera mengajak Zen ke sebuah ruangan dan ternyata di ruangan tersebut sudah ada seorang pria tua yang sedang duduk di singgasananya.
Pria yang membawa Zen tadi segera berlutut di hadapan sang pria tua, "Hamba telah membawa manusia yang kau maksud, Yang Mulia Dewa Semesta."
Zen langsung terkejut," De...Dewa Semesta?" Zen menatap tidak percaya pria tua yang berada di hadapannya ini.
Dewa Semesta adalah dewa dari segala dewa dan ia merupakan penguasa alam semesta, namun ia sedikit tidak peduli dengan bumi dan mungkin hanya beberapa kali saja ia membantu bumi, termasuk kali ini.
"Hohoho, baru pertama kali aku melihat tatapan seperti itu dari seorang manusia lemah sepertimu." Suara tersebut diiringi dengan sebuah aura yang sangat menekan Zen.
Zen pun segera berlutut dan memohon ampun pada Dewa Semesta. Dewa Semesta tersebut tersenyum kecil saat melihat hal tersebut.
"Zen, apa kau tahu alasan dirimu dibawa kemari?"
"Tentu tidak, Yang Mulia Dewa Semesta."
Dewa Semesta pun segera menjelaskan bahwa Zen adalah manusia yang memiliki darah dari seluruh ras ditubuhnya.
Zen sedikit bingung lalu segera saja Dewa Semesta menjelaskan bahwa Zen memiliki leluhur dari seluruh ras. Entah disengaja atau tidak tapi seluruh leluhur Zen menikah dengan pasangan yang berbeda ras, baik itu ras cahaya ataupun ras kegelapan.
Namun pernikahan berbeda ras tersebut terhenti pada orang tua Zen yang menikah sesama ras.
"Jika begitu mengapa Hamba menjadi ras Manusia?"
"Karena itu sudah takdirmu, Zen."
Zen mengangguk lalu Dewa Semesta segera menjelaskan bahwa dirinya ingin menjadikan Zen sebagai ksatria perdamaian yang akan membuat perdamaian di muka bumi.
"Maaf Yang Mulia, tapi setahu hamba yang namanya perdamaian itu tidak pernah ada."
Zen menghela napas, "Hamba tidak ingin menjadi seorang ksatria, hamba paling benci jika harus bertarung dan membunuh makhluk lainnya."
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk bertarung, aku hanya memintamu untuk membuat perdamaian dengan kebaikan hatimu dan gelarmu sebagai ksatria hanya sebagai penyeimbang saja."
Zen mulai memikirkan perkataan Dewa Semesta, ia masih ragu namun perkataan Dewa Semesta selanjutnya membuatnya sedikit mendapat pencerahan.
"Membuat perdamaian memang cukup sulit namun yang lebih sulit adalah menjaganya dan jika kau ingin menjaga perdamaian maka kau harus memiliki kekuatan."
Zen memejamkan matanya lalu ia membuka mata sambil mengangguk dengan mantap. Dewa Semesta pun tersebut lalu ia mengangkat tangan kanannya.
Seketika tubuh Zen pun bercahaya dan ia merasakan kekuatan yang besar sedang mengalir dalam tubuhnya.
"Selamat kau telah menjadi Peace Knight, kau juga mendapatkan kemampuan penyegelan dan dapat menyegel apa saja. Ah, ini juga untukmu."
Dewa Semesta menggerakkan tangan kanannya lalu muncul sebilah pedang yang terdapat sebuah tengkorak di antara bilah dan gagang pedang tersebut.
"Namanya Penta Sword, jaga pedang itu dan buatlah perdamaian dengan pedang itu."
Zen segera mengambil pedang tersebut, ia melihat pedang tersebut dan mengayunkannya. Zen tersenyum senang lalu ia dipulangkan kembali oleh Dewa Semesta.
***
Aslan mengangguk saat mendengar kisah Peace Knight, ia sejak tadi terus menyimak semua yang dikatakan oleh Aztec.
"Sudah cukup, aku hanya bisa menceritakan sampai itu saja dan saat kau menjadi Peace Knight baru aku melanjutkan ceritaku."
Aslan mengangguk, "Dari yang kudengar tadi, Peace Knight Zen memiliki kemampuan untuk penyegelan, apa usia Viktor disegel olehnya?"
"Jadi kau sudah sedikit mengerti, tapi bukan hanya Viktor saja yang usianya disegel namun seluruh murid Peace Knight termasuk aku."
Aslan sedikit terkejut, "Berapa lama kau hidup? dan mengapa Peace Knight harus menyegel usia murid-muridnya?"
"Hahaha, aku sudah lupa berapa lama aku hidup dan untuk alasan guru menyegel usia kami adalah demi Peace Knight selanjutnya."
"Jadi artinya demi diriku."
"Benar, para murid Peace Knight berjumlah 27 dan kami dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 9 pemegang kekuatan Peace Knight dan delapan belas pembimbing orang terpilih."
"9 pemegang kekuatan Peace Knight dan 18 pembimbing orang terpilih?"
"Untuk saat ini kau tidak perlu tahu mereka semua dan yang pasti aku ini adalah satu dari delapan belas pembimbing orang terpilih, aku dan tujuh belas lainnya harus menyelesaikan misi terlebih dahulu jika ingin mati."
Aslan mengangguk ragu, ia sedikit pusing karena mendapatkan banyak informasi yang hanya beberapa saja yang masuk ke otaknya.
Aslan pun pamit pada Aztec dan ia pun kembali ke markas guildnya.
Sesampainya di sana ternyata sudah ada Viona yang tengah menunggu dirinya.
"Huh, kemana saja dirimu? Aku sudah menunggumu sejak tadi," ucap Viona dengan sedikit ketus.
"Jika kau menungguku mengapa kau tidak memberiku pesan saja agar aku dapat kembali lebih cepat?" Aslan sedikit kesal pada wakil ketuanya tersebut.
Viona menepuk dahinya karena melupakan hal sepele seperti itu, ia pun menghela napas lalu menjelaskan pada Aslan mengapa dirinya sampai menunggu Aslan.
"Aku ingin mengajakmu menjalankan misi tingkat A, apa kau ingin ikut?"
Senyum merekah di wajah Aslan, "Tentu aku mau."
"Baiklah, besok pagi kita berkumpul di lantai tiga untuk membicarakan misi ini dan besok juga kita akan pergi menjalankan misi."
Aslan mengangguk lalu ia memilih untuk pergi ke pasar untuk membeli perbekalan agar besok ia telah siap untuk menjalankan misi.
---
Haloo Hika di sini.
Jangan lupa like, vote, comment and favorite.